
“Selamat pagi tuan dan nyonya,” seorang pelayan menyapa Maureen dan Byan yang baru keluar dari kamar dalam waktu yang bersamaan. Mereka sudah tampak rapi dengan pakaian kerja masing-masing.
“Pagi,” dua orang itu menyahuti bersamaan dan menatap satu sama lain.
Setelah menyapa, pelayan itu turun dengan membawa gelas-gelas kotor yang semalam digunakan oleh Byan dan Maureen saat menikmati kopi bersama.
“Apa penampilanku cukup rapi sebagai direktur utama?” Byan penasaran dengan pendapat ibu tirinya. Ia sedikit merentangkan tangannya lalu berputar tiga ratus enam puluh derajat di hadapan Maureen.
Maureen tidak lantas menjawab, ia mendekat pada Byan dan memperhatikan penampilan Byan baik-baik.
“Apa dasimu polos semua?” Maureen memandangi dasi yang tergantung di leher Byan.
“Aku hanya memiliki beberapa baju kerja dan dasi yang polos. Ada satu atau dua mungkin dasi yang bermotif, tapi aku gak tau apa itu cocok atau nggak. Memangnya dasinya harus bermotif?” Byan balik bertanya.
“Kamu seorang pelukis, harusnya jiwa senimu terhadap penampilan juga tinggi.” Komentar Maureen sambil menatap Byan beberapa saat.
“Aku memang tidak terlalu memperhatikan penampilan.” Byan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sambil tersenyum kelu.
“Bagiku pakaian yang paling nyaman itu kos oblong dan jeans. Kalau terkena cat lukispun tidak masalah.” Imbuhnya.
“Ya, aku tidak menyalahkan rasa nyamanmu. Tapi posisimu sekarang sebagai seorang direktur di Anggoro corp, paling tidak kamu harus bisa memantaskan diri secara penampilan karena kamu akan menjadi sorotan banyak orang.” Timpal Maureen.
“Kenapa harus paling tidak? Apa ada paling bagusnya?” Byan mengerutkan dahinya tidak paham.
“Paling bagusnya adalah, kamu juga paham dengan pekerjaanmu. Bisa mengatur pekerjaan secara mandiri dan tahu apa yang harus dilakukan.” Jawaban Maureen memang selalu lugas.
“Jangan mengejekku, aku baru dua hari jadi direktur. Jangan buat mentalku break dance.” Byan beralasan dengan sesungguhnya.
“Wah, kamu kan sudah berniat menempati posisi direktur utama di Anggoro corp sejak pertama kamu datang. Aku pikir kamu sudah sangat siap, termasuk menguasai seluk beluk yang ada di perusahaan. Ingat, learning by doing itu tidak berlaku saat kamu sudah jadi direktur. Resiko kegagalannya terlalu tinggi. Kamu akan lebih banyak mengira-ngira di banding berpikir rasional. Dan ada milyaran uang yang kamu kendalikan termasuk kelangsungan hidup para pekerja.”
“Kamu yakin kalau kamu mampu menjadi direktur hanya dengan menggunakan ilmu taksir dan rabaan?” urai Maureen dengan tatapan lekat pada Byan.
“Astaga, kamu membuat nyaliku menciut. Apa harus segamblang itu mengkritik orang?”
Byan mulai merasa ketar ketir karena mendengar ucapan Maureen yang memang benar adanya. Ia tidak menguasai apapun di perusahaannya selain beberapa ilmu baru yang diajarkan Maureen semalam.
__ADS_1
“Baguslah kalau kamu sadar.” Maureen menjawab dengan santai.
“Mau terima kritikan itu juga salah satu cara agar kamu bisa berpikir terbuka. Jangan sampai orang lain mengatur pola pikirmu sehingga kamu hanya menjadi direktur boneka. Itu akan merugikan banyak orang, termasuk kamu. Jadi, dahulukan skill mu bukan ego dan ambisimu.”
“Sekarang, masuklah. Aku akan memperbaiki penampilanmu yang hanya bernilai 40 ini.” Maureen menunjuk dasi yang tergantung di dada Byan.
“Astaga, kamu memang menyebalkan.” Gerutu Byan, tapi tetap saja ia menurut untuk masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaiannya.
Di atas meja kecil, Maureen menaruh barang-barangnya. Sementara Byan melepas pakaiannya, Maureen mengobrak-abrik isi lemari Byan dan mencari baju yang sesuai untuk bos barunya. Ada beberapa kemeja di sana, dengan warna gelap yang terlihat membosankan. Maureen menciumnya sebentar, ternyata benar, bau almari jelas tercium.
Ia mengeluarkan semua kemeja Byan dan satu kemeja ia pisahkan. Celana kerja Byan juga ia keluarkan semuanya dan hanya memilih satu yang paling cocok dengan jas dan dasi yang Byan punya.
Byan memperhatikan kepiawaian Maureen dalam memadupadankan pakaian untuknya. Wanita ini memang memiliki selera yang berkelas. Ia tidak hanya mampu memadukan warna, ia juga mengecek jenis kain yang nanti akan melekat di tubuh Byan, nyaman atau tidak digunakan saat memimpin rapat nanti.
Menakjubkan, kemampuan Maureen sebagai personal assistant ternyata bukan isapan jempol belaka. Dia memang mahir menaklukan pekerjaannya.
Satu stel baju sudah Maureen dapatkan, sebelum menoleh ia melihat pantulan sosok Byan di kaca, yang bertelanjang dada di belakangnya.
“Masuklah ke kamar mandi, jangan berganti pakaian di hadapanku. Aku bukan hanya PA-mu, aku juga ibu tirimu.” Ucap Maureen seraya memalingkan wajahnya dari cermin itu.
Di dalam kamar mandi Byan mulai mengenakan pakaiannya. Sedikit tersenyum karena pakaian yang dipilihkan Maureen membuatnya terlihat gagah. Kharismanya sangat jauh berbeda dengan penampilan ia sebelumnya.
Sementara di luar sana, Maureen masih mengumpulkan baju Byan yang akan dicuci ulang agar tidak bau lemari. Semuanya harus terlihat segar dan tidak kusam.
Suara daun pintu yang terbuka, membuat Maureen menoleh. Ia melihat sosok Byan yang gagah, keluar dari kamar mandi. Ia memperhatikan dengan seksama penampilan bos sekaligus putra tirinya. Ini lebih baik dari penampilan Byan sebelumnya. Hanya saja, simpul dasinya tidak terlalu rapi.
“Bagaimana?” Byan memerlukan pendapat Maureen.
“Kurang rapi. Kemarilah.” Maureen meminta Byan mendekat dan berdiri di depan cermin.
“Lihat, simpul dasi seperti ini tidak terlihat rapi. Masih ada bagian dasi yang menggulung. Dan saat kamu melepasnya, akan kesulitan.” Ucap Maureen yang berdiri di samping Byan dan memandangi dada Byan dari pantulan kaca.
“Aku menggunakan simpul yang aku tau. Mana tau kalau ternyata ada banyak jenis simpul dasi.” Byan beralasan.
Maureen tidak menimpali. Ia hanya melihat jam di tangannya dan sudah cukup siang. Ia membalik tubuh Byan menghadapnya lantas mereka berdiri berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.
__ADS_1
Ia mengurai kembali simpul dasi Byan dan mengulang membuat simpul yang baru yang lebih rapi. Byan bisa melihat tangan Maureen yang begitu telaten dan mahir membuat simpul hingga dengan mudah menarik ulur simpul itu tepat di lehernya tanpa rasa tercekik.
Lagi, Byan tersenyum dalam hati. Wangi tubuh Maureen yang berkelas ini memang sangat nyaman untuk di endus. Salahkah kalau ia ingin berlama-lama dekat Maureen? Juga rambutnya yang sedikit bergelombang dan berkilauan saat terkena cahaya lampu. Bagaimana bisa wanita ini merawat dirinya dengan sangat baik?
Kulih wajahnya yang mulus juga terlihat jelas di depan mata Byan. Ia memakai sedikit pewarna di kelopak matanya yang terlihat menarik saat ia menutup dan membuka mata. Pipinya juga bersemu kemerahan, terlihat sangat manis dan menggemaskan. Juga bibirnya yang berwarna terang,
Sial! Kali ini Byan memilih memalingkan wajahnya. Ia menggigit kuat-kuat bibirnya sendiri agar tidak berpikir sembarangan. Ia sadar, magnet ibu tirinya terlalu kuat menarik apa saja yang berada di dekatnya. Pantas saja Wisnu sampai bilang kalau yang dia butuhkan hanya Maureen. Rupanya sahabatnya telah tergila-gila pada sosok ibu tirinya.
Haruskah ia menyesal karena mengenalkan Wisnu pada Maureen?
Bulu kuduk Byan tiba-tiba meremang saat usapan tangan Maureen begitu lembut mengusap dadanya. Bukan untuk apa-apa, hanya sekedar merapikan kemeja yang sudah melekat sempurna di tubuh Byan.
Rasanya ia ingin bergidik geli, tapi ia menahannya hingga memejamkan matanya beberapa saat.
“Menunduk sedikit.” Pinta Maureen.
Beruntung Byan cukup sadar hingga langsung patuh. Ia kembali memejamkan matanya saat jaraknya begitu dekat dengan leher Maureen yang putih dan jenjang. Ia mengintip sedikit dan terlihat denyut nadi carotis di lehernya berdetak lembut. Berwarna sedikit kehijauan, kontras dengan kulitnya yang putih.
Astaga, godaan apa ini?
Beberapa sisiran lembut diberikan Maureen di rambut Byan. Ia sedikit mengubah gaya rambut Byan yang sebelumnya. Kurang kelimis menurutnya.
“Nanti sore, kita ke salon. Kita harus merapikan rambutmu. Selain itu kita juga akan pergi berbelanja untuk membeli beberapa perlengkapanmu. Warna kemejamu terlalu usang untuk seorang yang memiliki jabatan direktur utama.” Urai Maureen seraya menegakkan kembali kepala Byan. Ia menangkup kedua sisi wajah Byan, membuat laki-laki itu bisa merasakan lembut dan hangatnya tangan Maureen. Matanya berkedip berulang kali saat melihat wajah Maureen yang begitu enak di pandang.
“Okey, udah selesai. Sekarang kamu lebih terlihat sebagai direktur, bukan karyawan yang tugasnya lembur mulu.” Ledek Maureen seraya membalik tubuh Byan menghadap kaca.
Byan kaget sendiri melihat penampilannya saat ini. Ia terlihat cocok dengan semua yang ditata oleh tangan telaten Maureen.
“Waw.” Hanya itu suara yang kemudian terdengar. Ia masih mengagumi sosok dirinya yang gagah sementara Maureen sudah lebih dulu keluar kamar dan pergi ke ruang makan.
“Perempuan itu memang Ajaib.” Puji Byan di belakang Maureen.
Adakah perempuan yang lebih baik dari dia?
****
__ADS_1