
Sebuah kursi roda melaju menuju kamar Maureen. Siapa lagi penggunanya kalau bukan Byantara yang masih mengalami cedera pada kaki kanannya. Ia hendak menghampiri Maureen yang sepertinya masih sangat kesal setelah perdebatan beberapa saat lalu.
Seperti yang dikatakan Riswan bahwa nada suara Maureen sudah naik dan turun satu oktaf saat berdebat dengannya. Ia merasa menyesal karena telah membuat wanita ini marah untuk satu hal yang sebenarnya hanya kesalahpahaman. Padahal siang ini Maureen pasti sangat lelah menuruti semua permintaan Byan yang kekanakan. Perkara Adit dan Dita lah yang membuat Maureen akhirnya kesal dan pergi begitu saja dari ruang kerja Angoro.
Berbekal rasa bersalah itu, Byan menyusul Maureen ke kamarnya. Ia mengetuk daun pintu yang sedikit terbuka. Dari tempatnya berada, Byan bisa melihat Maureen yang sedang membuka-buka koper dan menyiapkan keperluan untuk ia bawa ke luar kota.
Wanita itu akan pergi untuk pekerjaan penting yang perlu diawasi dan ditinjau secara langsung.
Sadar diperhatikan, Sorot mata Maureen beralih ke arah pintu, ia mendengus kesal saat ternyata yang ada di depan pintu adalah Byan. Pria bertubuh jangkung itu tersenyum kaku menampakkan rasa bersalahnya.
“Boleh aku masuk?” ia bertanya dengan ragu.
Maureen tidak menjawab, melainkan terus melanjutkan sesi berkemas yang belum selesai.
Byan dengan inisiatifnya yang tinggi segera masuk. Ia merasa harus meminta maaf pada ibu tirinya.
"Maaf untuk kejadian tadi," ucap Byan dengan perasaan bersalah.
Maureen mendelik kesal, ia tetap mengemas bajunya dengan gerakan tangan yang kasar.
"Pikiranmu selalu aneh-aneh dan tidak beralasan. Sangat menyebalkan!" timpal Maureen.
"Aku tau, karena itu aku minta maaf,"
Maureen tidak lagi menimpali.
“Kamu beneran mau pergi ngecek pulau konservasi?” Byan memandangi Maureen dari tempatnya. Raut muka Maureen yang dingin seolah menegaskan kalau ia sedang benar-benar marah.
“Apa aku harus mengabaikan permasalahan di sana dan berdiam diri di sini?” Maureen balik bertanya. Kalau sudah seperti ini, fix, Maureen benar-benar kesal.
“Tentu kita gak bisa ngebiarin itu. Penyimpangan sekecil apapun harus diselesaikan.” Byan menjawab dengan diplomatis. Ia sadar, seperti ia tidak bisa menahan Maureen untuk tidak pergi.
Maureen tersenyum kecut mendengar ucapan bos sekaligus anak tirinya.
“Aku akan pergi dengan staf departemen pengembangan bernama DITA!" nama rekannya di sebut dengan tegas.
__ADS_1
"Okey." Byan mengangguk.
"Kami akan berada di sana paling cepat sekitar tiga hari dan paling lama tergantung kondisi di sana. Aku udah ngirim semua agenda kegiatanmu seminggu ke depan pada Melda, dia yang akan menjadi PA kamu selama aku pergi.”
Maureen berbicara sambil memasukkan beberapa baju ke dalam kopernya. Menatanya dengan rapi berdasarkan jenis baju dan fungsinya. Pakaiannya di dominasi oleh warna tanah.
Sekali lalu ia mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu.
“Kontak Melda udah aku kirim ke nomor kamu, kamu bisa menghubungi dia kapanpun. Saat ini dia PA mas Edwin tapi karena kegiatan mas Edwin tidak terlalu banyak dan jarang ke kantor, jadi dia akan lebih fokus mengurusi kamu.”
Maureen menaruh kembali ponselnya dan menatap Byan yang hanya memandanginya yang sedang laporan.
“Apa ada yang kurang jelas?” Maureen bertanya pada laki-laki yang hanya termangu itu.
“Kamu tinggal dimana selama berada di sana?” Byan menunjukkan kecemasannya. Perasaannya sedang tidak karuan karena mendengar Maureen akan pergi dalam waktu yang lama.
“Aku akan tinggal di sebuah penginapan yang tidak jauh dari pulau itu. Waktu tempuh perjalanan dari pulau tempat aku tinggal ke daerah konservasi adalah sekitar empat puluh lima menit dengan perahu. Cukup dekat dan perjalanannya aman.”
Byan mengangguk paham tapi hatinya menggeleng cemas. Bisakah ia meminta Maureen untuk tidak pergi?
“Mana mungkin aku bertingkah kekanakan,” gumam Byan yang masih bisa di dengar oleh Maureen. Rupanya pria itu tidak sadar dengan tingkahnya atau mungkin sadar tapi hanya ia tunjukkan pada Maureen.
“Ada lagi yang kamu perlukan sebelum aku pergi?” Maureen menatap Byan dengan lekat, tidak ingin ada interupsi tiba-tiba dengan alasan yag tidak jelas.
Byan menggeleng, “Saat ini cukup,” sahutnya pelan.
“Aku akan pergi dengan penerbangan pertama besok pagi sekitar jam setengah tujuh. Kalau ada yang kamu perlukan, kabari aku sampai sore ini. Karena mulai nanti malam, tugas PA akan berpindah pada Melda.”
Byan mengangguk lemah, sangat lemah. Seperti semua tenaganya hilang, ikut pergi bersama Maureen.
“Bisakah kamu mengubah air mukamu? Kamu menatapku seperti aku akan pergi perang.” Wanita cantik itu merasa risih dengan tatapan penuh kecemasan yang ditunjukkan Byan. Sejak kapan laki-laki itu bisa berekspresi seperti itu.
Byan tidak menimpali, ia hanya mengusap wajahnya dengan kasar dan mengembuskan nafasnya pelan.
“Silakan lanjutkan berkemas, aku mau pergi ke kamar,” pamitnya dengan lemah.
__ADS_1
“Perlu aku antar?”
Byan menggeleng, ia memutar kursi rodanya menghadap pintu kamar.
“Jangan lupa makan malam. Aku akan menunggu di balkon,” pesannya sebelum laki-laki itu pergi.
“Iya,” sahut Maureen yang menghembuskan nafasnya lega setelah melihat kepergian Byan keluar dari kamarnya.
Ia pergi untuk menutup pintunya rapat-rapat, bergegas membereskan semua barang-barangnya lalu membaringkan tubuhnya yang lelah di atas sofa. Satu kakinya bahkan masih terjuntai ke lantai. Ia angkat perlahan dan terlentang memandangi langit-langit kamar di atas kepalanya.
Mata bulat itu terpejam, helaan nafasnya coba ia atur. Ia bermeditasi beberapa saat sambil mengingat apa saja yang terjadi hari ini. Perubahan sikap Byan terhadapnya menjadi hal terbesar yang mengisi pikirannya. Terlebih saat ia melihat tatapan tidak rela yang Byan tunjukkan padanya.
“Itu anak kenapa sih?” Maureen bertanya pada dirinya sendiri. Beberapa mimik muka yang ditunjukkan Byan terlalu mengganggunya.
“Apa dia terlalu sedih dan kesal karena kakinya sakit?” rasa bersalah itu kembali timbul di hati Maureen.
Andai Byan tidak berusaha menolongnya, mungkin anak tirinya itu akan baik-baik saja.
“Hah, harusnya aku tidak bersikap sedingin itu dan lebih bersabar menghadapi tingkahnya. Saat ini kondisi dia lebih sulit dari aku.”
Mauren mulai menyesali tindakannya beberapa saat lalu. Harusnya ia bisa lebih bersabar. Tapi sikap Byan dan Anggoro terlalu jauh bersebrangan. Anggoro yang terkesan sangat overprotective padanya dan Byan yang terkesan sangat, apa ya?
Maureen kesulitan mendefinisikaannya.
“Sabar Byan, kamu akan segera sembuh. Setelah itu kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau.” Maureen berusaha menenangkan dirinya dan sosok Byan yang ada dipikirannya. Baru kali ini ia memikirkan benar tingkah dan ekspresi yang ditunjukkan Byan.
Laki-laki random yang saat ini sedang terdiam di depan jendela kamarnya dan memandangi mural yang ia buat di dinding kolam renang.
“Maaf kalau aku terlalu bertingkah. Aku hanya ingin mendapatkan perhatian lebih. Aku juga gak tau untuk alasan apa.” Byan bergumam sendirian di tempatnya. Ia membayangkan sosok Maureen yang ada dipikirannya dan menatapnya dengan ekspresi tidak mengerti.
Ada yang bisa menjabarkan perasaan Byan saat ini?
Andai Maureen tahu apa yang sedang Byan rasakan.
****
__ADS_1