Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Kewaspadaan oma


__ADS_3

“Apa kamu bilang? Byan menjadi direktur utama?” tanya Ruwina dengan dahi terkerut. Keterkejutan itu ditunjukkan Ruwina setelah mendapat kabar dari Edwin.


“Iya mah. Hari in Byan resmi di lantik.” Edwin tampak begitu senang menceritakan hal ini.


“Kok bisa? Memangnya si Maureen gak menghalangi kalian? Apa dia gak ngelakuin apa-apa buat mempertahankan posisi direktur utama?” dengan kursi rodanya Ruwina mendekat pada Edwin. Ia masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


“Entahlah. Aku melihat dia malah tersenyum sambil bertepuk tangan. Mungkin dia udah disadarkan.” Edwin mengenang bagaimana ekspresi Maureen siang tadi.


Ruwina tampak berpikir beberapa saat, menurutnya ada yang janggal dengan Maureen. Ia sangat yakin kalau Maureen tidak mungkin menyetujui penetapan direktur utama begitu saja, terlebih yang di pilih adalah Byan.


“Kenapa? Apa mamah gak percaya?” Edwin balik bertanya.


“Iya, ini terlalu aneh. Dia begitu mengincar pucuk pimpinan Anggoro corp tapi sekarang dia nyerah gitu aja. Mamah yakin, wanita itu punya maksud terselubung.” Ruwina tetap dengan isi pikirannya yang dipenuhi kecurigaan.


“Mamah jangan khawatir, aku udah minta Byan untuk makan malam bersama, nanti kita tanya langsung sama Byan, mungkin dia tau alasan kenapa perempuan itu tiba-tiba setuju agar Byan menjadi pucuk pimpinan.” Urai Edwin. Ia pun sebenarnya masih ragu, tapi euphoria mendengar Byan jadi direktur utama jauh lebih terasa dan menghilangkan waspadanya terhadap Maureen.


“Ya udah, kita tunggu Byan ngasih penjelasan. Mamah sangat yakin kalau ini hanya siasat perempuan licik itu.” Tegas Ruwina.


“Iya, nanti kita tanya Byan ya. Sekarang kita makan malam dulu. Pelayan udah buatin makanan yang enak buat mamah.” Edwin mendorong kursi roda Ruwina menuju ruang makan.


“Jangan suruh mereka masak daging lagi, mamah kerepotan makannya. Gigi mamah banyak yang udah goyang.”


“Iyaaa, mah. Sekarang posisi Direktur utama ada di tangan Byan. Kita bebas mengontrol kekuasaan perusahaan sepenuhnya. Byan itu gak ngerti apa-apa."

__ADS_1


"Mamah harus percaya, tidak lama lagi semua akan ada di tangan kita. Saat kita berhasil menguasai semua harta kekayaan Anggoro, kita bisa mendapatkan apapun yang kita mau."


"Untuk gigi mamah nanti kita ganti dengan gigi berlian. Sekarang kita nikmati dulu aja yang ada.” Mereka menuju ruang makan dengan rasa puas membayangkan Anggoro corp akan berada dalam genggaman mereka.


Makan malam baru di mulai dan suara Byan sudah terdengar di pintu.


“Malam oma, om.” Sapa Byan dengan wajahnya yang sumeringah. Ia duduk di tempat biasanya Anggoro duduk.


“Malam. Kamu keliatannya seneng banget.” Sindir Ruwina, saat melihat wajah Byan yang segar.


“Iya oma, aku sedang berusaha menikmati apa yang aku capai sekarang.” Aku Byan.


“Posisi direktur?” tebak Ruwina.


Byan tersenyum kecil sebelum menjawab pertanyaan Ruwina. Ia mengambil nasi dan lauk serta Bersiap dengan sendok dan garpu di tangan kanan dan kirinya.


Mendengar jawaban Byan, Ruwina menaruh kembali sendok dan garpunya. Ia menatap Byan dengan seksama.


“Bagaimana cara kamu membuat wanita itu setuju kamu yang menjadi direktur utama?” Ruwina dengan rasa penasarannya yang tinggi.


“Tidak oma, bukan aku yang minta. Tapi justru dia sendiri yang menyuruhku.” Byan kembali tersenyum lega saat berhasil memperoleh sesuatu dengan begitu mudah tanpa pertikaian.


“Kamu serius?” Ruwina menatap Byan tidak percaya.

__ADS_1


“Ya!” Byan mengangguk pasti dengan senyum terkembang.


“Lalu apa posisi wanita itu sekarang?” Edwin penasaran dan ikut bertanya.


“Assistantku. Personal assistant. Dia tidak lagi punya jabatan apapun di perusahaan selain personal assistant.” Jawab Byan dengan senyum penuh kemenangan.


“Personal assistant?” Ruwina memenggal dua kata yang Byan ucapkan, Byan menganggukinya.


“Kamu tau kalau posisi itu lebih bahaya dari posisi dia sebelumnya?” Ruwina langsung meninggikan suaranya.


“Hah, bahaya gimana? Dia gak punya kewenangan untuk memutuskan apapun selain atas persetujuanku. Apa yang berbahaya oma?” Byan dengan pikirannya yang realistis.


“Tentu saja bahaya. Kamu lupa, sebelum dia menikah dengan papahmu dan menguasai semuanya, posisi dia sebagai apa?” Ruwina menatap Byan dengan tajam. Ia ingin cucunya sadar.


“Aku tau oma. Tapi kali ini berbeda oma. Aku bukan Anggoro, mana mungkin aku menurut begitu saja dengan semua permintaan Maureen.”


“Asal oma tau, yang meminta aku menjadi direkturpun adalah Maureen. Hal ini dilakukan karena ada investor yang meragukan pimpinan Anggoro corp dan ingin menarik investasinya. Dia menyarankan ide ini agar kita tidak rugi. Kita sebenarnya di untungkan dengan rasa memiliki dia yang terlalu tinggi terhadap perusahaan.”


“Dan ini salah satu keuntungannya, dia sendiri yang memintaku untuk menjadi direktur tanpa kita harus berdebat kusir seperti sebelumnya.” Urai Byan dengan penuh kebanggan.


Ruwina tidak lantas menimpali. Ia menatap Byan dengan lekat. Baginya, mata Byan terlalu berbinar setiap kali menyebut nama Maureen. Tapi kali ini, ia tidak bisa melakukan apapun. Ia masih harus terus mengawasi apa yang akan dilakukan Maureen kemudian. Ia yakin, wanita itu tidak hanya akan duduk diam saja.


Ruwina terlihat begitu gelisah, sementara Byan terlihat begitu menikmati makan malamnya. Dan Edwin, hah laki-laki itu hanya memandangi dua orang dihadapannya dengan pikiran yang bingung melihat perdebatan mereka yang menurutnya tidak perlu dilakukan.

__ADS_1


Yang terpenting sekarang, Byan adalah pemegang pucuk pimpinan. Ia yang memiliki kuasa sepenuhnya atas perusahaan.


****


__ADS_2