Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Apa harus berbalik arah?


__ADS_3

“Apa urusanmu sudah selesai?” suara Byan menyapa Maureen yang baru pulang setelah bertemu Wisnu.


Byan sebenarnya tahu apa yang sudah dilakukan Maureen diluaran sana. Tapi karena sempat kehilangan jejak wanita itu beberapa saat, ia penasaran hal lain apa yang sudah dilakukan Maureen tanpa sepengetahuannya. Entah berbelok kemana gadis itu, yang jelas Byan sampai rumah lebih dulu.


“Bukan urusanmu.” Timpal Maureen. Ia mengacuhkan begitu saja laki-laki yang sedang main catur seorang diri.


“Memang bukan urusanku.” Byan beranjak dari tempatnya setelah berhasil menskak raja warna putih oleh kuda warna hitam. Permainannya selesai sesaat setelah Maureen datang.


Ia berjalan di samping Maureen lalu mempercepat langkahnya. Ia berbalik berjalan mundur demi bisa melihat ekspresi Maureen setelah menolak seseorang. Ekspresinya biasa saja padahal Wisnu yang ia kenal sangat digilai para wanita.


“Tapi masalahnya aku penasaran.” Lanjut Byan yang berusaha mengintip wajah Maureen dan sedikit membungkuk.


“Berhenti menggangguku, aku tidak sedang ingin berdebat.” Maureen mendorong menjauh wajah Byan yang mendekat padanya dan ingin melihat ekspresi kesalnya.


Byan bisa mencium tangan Maureen yang wangi.


“Kasar sekali.” Decik Byan yang tersenyum meledek.


“Kamu makan siang dimana?” Byan masih bertanya karena penasaran.


“Aku sedang diet.” Maureen mendelik kesal.


Baru tadi Wisnu membuatnya risih dengan mendekatinya dan kali ini anak tirinya malah terus menempel seperti anak kucing yang mencari perhatian.


“Makanlah, jangan sampe sakit. Kalau kamu sakit, itu akan memudahkanku untuk menyingkirkanmu.” Bujuk Byan yang mengemasnya menjadi ancaman.


Di anak tangga paling bawah langkah mereka terhenti. Maureen menatap Byan dengan kesal karena ucapan anak tirinya ini benar. Kalau ia sakit, Byan akan lebih mudah menyingkirkannya. Akh, ia tidak bisa membiarkan ini terjadi.


“Mana yang kamu pilih, ayam goreng, telur balado, dendeng, eemmm apalagi tadi ya?” Byan memberi pilihan karena ia yakin Maureen memikirkan perkataannya.


Maureen tidak menimpali melainkan hanya berlalu pergi menuju ruang makan. Byan tersenyum kecil melihat ibu tirinya patuh pada ucapannya. Memang harus ada trik tersendiri untuk memaksa Maureen menuruti keinginannya.


Benar saja, menu yang disebutkan Byan tadi ada di antara menu yang tersaji di meja makan.


“Oh iya, udang. Aku lupa menyebutnya karena aku tidak menyukainya.” Byan masih berbicara tentang makanan.


Maureen tidak menanggapi, ia lebih memilih mengambil sedikit nasi dengan lauk yang cukup lalu mulai makan menggunakan sendok dan garpunya.


“Ckckck… perilakumu tidak hidup bersih dan sehat. Tanganmu kotor dari luar dan tidak cuci tangan. Entah ada berapa juta kuman yang nanti masuk ke mulutmu dan menggerogoti usumu.” Komentar Byan saat Maureen baru menyuapkan satu suapan pertama. Ia berbicara seolah Maureen adalah anak kecil yang harus ia ajari.


Maureen seolah tidak peduli, ia mengambil ayam goreng dengan tangan polos lalu memakan ayam goreng itu di hadapan Byan sambil mendelik kesal.


Byan terkekeh, Maureen memang suka membuat hal mudah menjadi rumit dan mengesalkan.


“Jangan mengeluh kalau nanti sakit perut.” Pesan Byan.


Benar saja, sore itu Maureen tidak henti bolak balik ke kamar mandi karena terus terusan buang air. Perutnya melilit tidak tertahan dan ia sudah sangat lemas kekurangan cairan.

__ADS_1


“Akh sial, ucapan anak menyebalkan itu malah jadi kenyataan.” Maureen memegangi perutnya sambil membungkuk dan kembali ke toilet.


Bunyi-bunyian tidak menyenangkan terdengar bergaung di kamar mandi.


“Aduuhh ini gimana sih aku mencret gak berhenti-berhenti?” Maureen menopang dahinya yang mulai pusing. Tenaganya seperti terkuras karena kehilangan cairan. Sepertinya ini terakhir kali ia bersemedi di kamar mandi karena perutnya yang perih mulai membaik setelah isi perutnya terbuang tanpa sisa.


Selesai bersemedi di kamar mandi, Maureen memilih membaringkan tubuhnya di sofa. Sudah satu gelas besar air ia teguk tapi tidak lantas menghapus dahaganya. Ia masih ingin minum tapi tubuhnya terlalu lemas.


“Tok tok tok!”


Suara ketukan di pintu membuyarkan pikiran Maureen. Alih-alih beranjak untuk membuka pintu, ia lebih memilih menyahutinya.


“Masuklah.” Ucap Maureen. Ia mengira salah satu pelayannya yang masuk.


Tapi ternyata, seorang laki-laki yang masuk dan tidak lain adalah Byan.


Byan melihat sekeliling kamar Maureen yang sunyi dan dingin. Wanita itu tidak berbaring di atas kasurnya melainkan di atas sofa.


“Ada apa?” tanya Maureen yang membalik tubuhnya membelakangi Byan. Malas melihat wajah anak tirinya yang pasti datang hanya untuk meledeknya.


“Aku dengar perutmu sakit. Mau aku panggilkan dokter?” tawarnya. Ia duduk di kursi kecil yang biasa digunakan Maureen untuk duduk di depan meja riasnya.


“Nggak perlu, nanti juga sembuh.” Timpal Maureen. Ia sangat membenci obat dan hal medis lainnya. Bau ruangan rumah sakit saja sudah membuat kepalanya pusing.


“Kalau begitu, minum obat ini. Kamu bisa dehidrasi karena banyak keluar cairan.” Saran Byan. Ia menyodorkan dua gelas air dan satu tablet obat di atas pisin. Satu gelas air terlihat lebih keruh dari gelas satunya.


Maureen tidak lantas mengambil obat dan minum yang disodorkan Byan. Ia menatap Byan dengan waspada.


“Kenapa kamu melakukan ini?” tanyanya ragu sambil berbalik.


Byan tersenyum kecil, ternyata Maureen sangat mencurigainya.


“Ya anggap aja aku sedang balas budi. Ya walaupun budi gak salah apa-apa.” Sahut Byan asal.


Ia tidak mungkin memberitahu Maureen kalau sebenarnya ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Maureen.


“Gak lucu.” Decik Maureen.


Ia tidak melanjutkan rasa curiganya dan langsung bangun untuk mengambil obat serta minum yang disodorkan Byan. Ia menaruh tablet obat itu di lidahnya, sedikit meringis saat ia bisa mengecap rasa pahit yang membuatnya ingin muntah.


“Kayak anak kecil aja, langsung telan!” provokasi Byan.


Maureen mendelik kesal dan ia pun segera meneguk air minumnya. Nafasnya sedikit terengah setelah ia berhasil menelan obatnya.


“Minum yang ini juga, ini cairan elektrolit.” Tunjuk Byan pada gelas satunya.


“Elektrolit?” Maureen menatap tidak percaya.

__ADS_1


“Iyaa, ini berfungsi menjaga keseimbangan cairan di tubuhmu. Cobalah.” Byan memberikan gelas itu langsung ke tangan Maureen.


Ragu Maureen menerimanya. Mencicipnya sedikit, “Emmmhh!! Air apa ini, rasanya tidak enak.” Protes Maureen tidak suka.


“Obat emang gak ada yang enak. Lanjutkan aja dulu supaya cepet sembuh.” Paksa Byan tidak ingin mendengar penolakan.


Dengan malas Maureen meminum cairan oralit yang manis dan asin itu.


Byan dengan sabar menemani Maureen menelan obatnya. Ia memperhatikan seisi kamar Maureen yang sepi dan dingin. Kamarnya sangat rapi, yang berantakan hanya sofa yang Maureen tempati saja. Tempat tidurnya bahkan masih dipenuhi kelopak mawar kering dengan kelambu yang terpasang rapi mengelilingi tempat tidur itu. Kerapihan ini membuat Byan penasaran.


“Kamu gak tidur di ranjang?” Byan memutuskan untuk bertanya.


Maureen ikut menatap ranjang yang tidur yang tidak pernah ia tempati.


“Ranjang itu ranjang pengantin, bukan ranjang seorang janda.” Sahut Maureen dengan enteng sambil membaringkan tubuhnya.


“Maksudmu, selama ini kamu tidak tidur di sana?” Byan menatap Maureen tidak percaya.


“Kamu mengharapkan jawaban apa?” Maureen balik bertanya.


Byan hanya tersenyum kecil. “Kamu akan tetap membiarkan ranjangmu seperti ini? Sampai kapan?”


“Aku tidak punya kewajiban untuk menjawabmu.” Timpal Maureen dengan dingin.


Mendengar jawaban Maureen, Byan menatap wanita itu lekat lalu mendekat. Maureen sudah waspada lebih dulu melihat Byan yang mendekat. Ia pikir, berduaan di dalam kamar seperti ini akan membuat Byan melakukan hal tidak senonoh terhadapnya. Tapi siapa sangka, anak tirinya malah menaruh tangannya di dahi Maureen, berniat memeriksa suhu ibu tirinya.


“Keras kepalamu tidak berkurang hanya karena sedang mencret. Ckckck… menakjubkan.” Ucap Byan dengan senyum meledek.


Beberapa saat mereka saling bertatapan. Walau ucapan Byan menyebalkan tapi Maureen tidak menyangka kalau Byan bisa perhatian juga padanya. Rasanya ia hampir terrenyuh oleh perlakuan Byan yang bahkan menyelimuti Maureen hingga ke batas dada. Tapi kemudian ia sadar kalau Byan adalah musuhnya. Tidak seharusnya ia menganggap istimewa perhatian Byan. Mungkin saja laki-laki itu sedang mencari celah untuk semakin menjatuhkannya.


“Istirahatlah beberapa hari, sampai pulih. Jangan memaksakan diri ke kantor. Tenanglah, aku tidak akan memuat rencana jahat saat kamu tidak ada.” Ucap Byan tanpa terduga.


Beberapa saat Maureen tercenung mendengar ucapan anak tirinya. Tapi kemudian ia menepis tangan Byan yang ada di dahinya.


“Pergilah, aku tidak butuh perhatianmu.” Tegas Maureen kemudian.


“Okey, lagi pula aku tidak betah berlama-lama diam di kamar yang dingin begini.” Timpal Byan seraya beranjak dari tempatnya dan bergidik enggan.


Maureen tidak lagi menimpali, ia membiarkan Byan keluar dari kamarnya.


Setelah pintu tertutup, ia ikut mengecek suhu dahinya, ternyata tidak demam tapi kenapa tubuhnya terasa gerah?


Akh entahlah, Maureen lebih memilih menaikkan selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya, hanya ujung rambutnya saja yang masih terlihat.


“Sial! Gerah banget.” Dengusnya yang gelisah di dalam selimut.


*****

__ADS_1


__ADS_2