Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Pertemuan terakhir


__ADS_3

Sejak Riswan datang ke rumah itu, ia melihat tatapan kosong dan penuh kemarahan dari wanita bernama Renita itu. Tangan Riswan sampai gemetar saat ia menaruh tas hitam besar di atas meja yang berisi ratusan juta uang sebagai uang duka seperti yang disarankan oleh Edwin.


“Kamu datang sebagai utusan kontraktor atau Anggoro?” ketegasan pertanyaan Renita sama persis dengan ketegasan Maureen setiap kali bertanya. Setiap ia melihat Maureen, maka ia seperti sedang berbicara dengan Renita.


“Saya datang atas nama pribadi, Nyonya.” Riswan berujar dengan tenang. Ia memang diperintahkan datang oleh Edwin namun ia tidak berani menyebut nama Anggoro, karena tuan besarnya itu tidak bersalah dan tidak tahu apa pun.


“Wah, rupanya kamu merasa sangat berduka melihat apa yang terjadi pada suamiku sampai kamu datang seorang diri. Apa itu karena kamu tau bahwa suamiku meninggal bukan karena kecelakaan?” pertanyaan Renita penih selidik dan tajam membuat Riswan sulit berkata-kata.


“Aku pikir, perusahaan suamiku tidak akan bersikap seperti ini. Mereka hanya tahu cara mendapatkan keuntungan tanpa memperdulikan nyawa para pekerjanya.” Renita menunjukkan sebuah tumpukan berkas hasil penyelidikannya. Semua hal yang berhubungan dengan kematian suaminya, ada dalam berkas itu.


“Apa Anggoro tahu ini?” ia menepuk berkas itu di hadapan Riswan.


Riswan tidak lantas menjawab. Ia berusaha menenangkan dirinya terlebih dahulu.


“Saya memahami benar kalau Nyonya sangat berduka atas kehilangan suami yang Anda cintai. Namun, saya perlu memberitahukan kalau saat ini kasus ini sudah di tutup dan di anggap sebagai sebuah kecelakaan. Saya harap, Nyonya bisa menerima putusan ini.” Riswan berujar dengan tenang. Rangkaian kalimatnya sama persis dengan yang diarahkan Edwin.

__ADS_1


Laki-laki itu berpesan, agar Riswan mengikuti arahannya. Jangan sampai melakukan kesalahan karena akan membahayakan posisi tuan besarnya yang sangat ia hormat yaitu, Anggoro. Maka dengan berani ia mengatakan semua ini pada Renita.


“Maksudmu, pencarian faktaku semuanya sia-sia?” Renita bertanya dengan lirih.


Riswan tertunduk, entah harus bagaimana ia menjelaskan ini pada Renita.


“Tim kuasa hukum Anda pun menyampaikan kalau mereka berhenti mendampingi Anda untuk menuntut pihak perusahaan kontraktor dan Anggoro Corp.”


“Apa kamu bilang?!” satu kalimat itu berhasil membuat keberanian Renita terkumpul untuk menyerang Riswan. Ia mencengkram kerah coat Riswan dengan erat dan tatapannya yang tajam seperti ingin menguliti isi kepala Riswan.


“Hey, lihat ini brengsek! Yang kalian lakukan adalah sebuah kelalaian! Bukan kecelakaan!” Renita mengambil berkas yang ia punya lalu melemparkannya ke wajah Riswan.


“Saya minta maaf Nyonya. Tapi kasus ini sudah ditutup dan Anda tidak memiliki bukti yang kuat untuk menuntut pihak kontraktor ataupun Anggoro corp.” Riswan tetap dengan usahanya berbicara tegas pada Renita.


“PLAK!!”

__ADS_1


Renita menampar Riswan hingga wajah laki-laki itu berpaling. Tidak hanya itu, ia juga mencengkram kembali kerah coat Riswan dengan sangat erat, sampai pembuluh darah di jarinya terlihat dan satu kancing Riswan terlepas.


“Kalian sudah mempermainkan nyawa seseorang yang bekerja dengan sungguh-sungguh untuk kalian. Kalian bahkan pergi satu per satu di saat kalian melihat dengan jelas kalau ada kesalahan di sini.”


“Apa sulitnya mengakui kesalahan kalian? Apa kalian merasa kalau posisi kalian terlalu tinggi hingga tidak boleh ada angin kencang yang berhembus dan akan memporak porandakan kalian? Sebesar itukah ego kalian untuk sekedar meminta maaf dan mengakui kesalahan kalian?” ucapan Renita begitu jelas dan penuh penekanan juga senyum simpulnya yang terlihat sinis menyeringai.


“Saya minta maaf nyonya, secara pribadi. Dan secara korporasi, kami menghaturkan turut berduka cita.” Hanya kalimat itu yang Riswan ucapkan.


Renita terkekeh dengan mata bulatnya yang merah dan basah. Bisa terlihat dengan jelas kalau wanita itu sangat kecewa dan putus asa.


“Pergilah, aku sudah tidak mau berbicara dengan orang-orang bebal seperti kalian lagi. Pergilah! Enyahlah dari hadapanku!!” seru Renita di ujung kalimatnya.


Riswan tidak menimpali. Dengan berat hati ia beranjak dari tempatnya lalu mengangguk sopan pada Renita. Renita menanggapinya dengan senyuman sinis. Lantas pria itu pergi dan setengah jam dari itu, ia mendaptkan kabar kalau Renita memilih mengakhiri hidupnya.


Bisakah ia mencegah kejadian itu jika ia tidak menuruti perintah Edwin?

__ADS_1


****


__ADS_2