
Apartemen Greenleaves lantai 6 menjadi tempat yang dituju Edwin. Ia sudah berdandan rapi khas anak muda meski usianya tidak muda lagi. Ia berusaha mengimbangi sosok gadis yang akan ia temui malam ini.
Tifani, nama gadis yang pagi tadi menghubunginya. Mereka berjanji akan bertemu. Sebuah jamuan sudah disiapkan wanita seksi itu demi memanjakan Edwin.
“Ting tong!” suara bell terdenger di pintu.
Tifani yang sedang menyiapkan makanan di meja tamu, segera beralih untuk membuka pintu. Ia merapikan rambutnya beberapa saat lalu menurunkan bajunya agar dua tonjolan seksi itu terlihat semakin jelas. Terpampang indah hingga setengahnya dan menunjukkan belahan yang rapat. Parfum ia semprotkan di sekelilingnya. Setelah siap, ia mengintip celah di pintu. Benar, itu laki-laki yang sedang ia tunggu.
“Welcome,” sambut wanita itu seraya tersenyum manis pada Edwin.
“Hay.” Edwin tersenyum penuh pesona. Wanita yang berdiri dihadapannya benar-benar memanjakan matanya. Sosoknya yang cantik dan menarik, tidak berbeda jauh dari saat mereka bertemu terakhir kali.
Mereka berangkulan beberapa saat, menyatukan pipi kiri dan kanan bergantian.
“Bagaimana kabarmu?”
“Baik Mas. Masuklah, kita berbincang di dalam.” Tifani membuka pintu apartemennya lebar-lebar. Apartemen yang dibelikan Luky sang pemilik Club.
“Waahh, aku benar-benar merasa tersanjung. Apartemennya sangat indah dan nyaman.”
Edwin dibuat terpukau dengan pemandangan di dalam ruangan ini. Berbagai furnitur cantik dan artistik menghiasi setiap sudut ruangan.
“Terima kasih. Lain kali, sering-seringlah mampir ke sini,” tawar Tifani.
__ADS_1
Ia duduk lebih dulu dan di susul oleh Edwin.
“Aku terkejut mendapat undangan untuk mampir kesini. Sampai tidak menyangka kalau yang mengundangku adalah seorang gadis cantik,” puji Edwin seraya mengusap rambutnya yang sudah rapi dan kelimis. Ia tersenyum pada Tifani yang tengah menuangkan anggur merah untuknya.
“Mas bisa aja. Aku sebenarnya udah lama pengen menghubungi Mas, tapi takut ganggu.” Wanita itu memberikan satu gelas anggur untuk Edwin.
“Nggak ganggu lah. Sekalipun aku sibuk, waktuku akan selalu ada untukmu.” Edwin meneguk minumannya tanpa mengalihkan pandangannya dari Tifani.
“Oh ya? Aku sungguh terharu.” Jemari lentik Tifani mulai berani mengusap paha Edwin yang membuat laki-laki itu menegakkan tubuhnya.
“Kamu selalu menyenangkan Tifani.” Edwin mencondongkan tubuhnya pada Tifani lalu mengecup pipi kanan Tifani.
“Karena mas spesial,” gadis itu membalas. Ia mendekatkan tubuhnya pada Edwin lalu bersandar di dada laki-laki itu. Rasanya ia ingin mengulang malam yang panas bersama Edwin tempo hari.
Tanpa di duga, Tifani mengambil tangan Edwin dan ia sentuhkan ke dadanya yang sintal.
“Aku udah menyiapkan jamuan yang lebih nikmati dari sekedar minuman ini. Kalau mas mau mencicipinya boleh. Hanya saja, ada satu hal yang harus aku beritahukan terlebih dahulu pada mas.” Tifani tersenyum menggoda pada Edwin.
“Aku menunggu. Baik itu jamuan yang lebih spesial ataupun hal yang ingin kamu beritahukan padaku.” Edwin memberikan sedikit remasan di benda sintal yang sedang di sentuhnya.
“Ah,” Tifani melenguh sambil menggigit bibirnya lalu tersenyum menggoda pada pria hidung belang dihadapannya.
Tanpa berlama-lama, Edwin menarik leher jenjang Tifani lalu meraup bibir Tifani dengan bibirnya. Mereka berdecapan, saling bertukar saliva untuk waktu yang cukup lama. Tangan Edwin mulai nakal, ia bergeriliya menyusuri punggung Tifani lalu melepas kaitan transparan yang menutupi punggung mulus Tifani. ******* keduanya semakin dalam dan berhasrat hingga Edwin mendorong tubuh Tifani untuk tidur terlentang di atas sofa lalu menindihnya.
__ADS_1
“Tunggu sebentar,” desah Tifani saat bibir Edwin mulai menyusur leher jenjangnya.
“Kenapa?” Edwin menatap wajah Tifani dengan kecewa. Wajahnya sudah memerah berbalut gairah.
“Berjanjilah padaku kalau mas akan membuat Maureen hancur.” Tiba-tiba saja Tifani meminta hal itu.
“Ada apa dengan janda Anggoro itu?” terpaksa Edwin menarik tubuhnya menjauh dari Tifani. Mendengar nama itu, jauh lebih menarik di banding menikmati tubuh Tifani.
“Dia memiliki hubungan spesial dengan putra tirinya. Hancurkan dia dengan gosip itu,” ucap Tifani seraya tersenyum tipis.
“Kamu punya bukti?” Edwin tampak penasaran.
“Tentu saja ada. Tapi, berjanji dulu padaku kalau mas akan melakukan apa yang aku minta.”
“Jangan khawatir, soal janji aku ahlinya dalam menepati,” ucap Edwin, sekali lalu menjatuhkan kembali tubuhnya di atas tubuh Tifani.
“Akh, Mas...” Tifani melenguh manja saat tangan Edwin begitu leluasa menjamah dadanya dan menarik paksa sabuk pengaman dadanya hingga terburai di hadapannya. Dengan semangat ia menggagahi Tifani hingga mereka sama-sama tenggelam dalam gairah yang tidak tertahan.
Andai Tifani tahu, kalau dalam bayangan Edwin saat ini bukan sedang bercinta dengannya melainkan dengan wanita yang tadi ia sebut namanya. Hasratnya semakin menggila karena imajinasinya bertambah liar tentang Maureen. Terlebih saat wanita dalam rengkuhannya ini mengatakan kalau Maureen memiliki hubungan spesial dengan keponakannya.
Mana bisa ia biarkan begitu saja.
*****
__ADS_1