
Ada plester yang terpasang di dagu Byan sebagai mahakarya atas luka yang dibuat olehnya sendiri. Karena keteledorannya saat mencukur jambangnya, ia malah terluka oleh pisau cukur. Beberapa kali ia memperhatikan luka di dagunya dan rasanya begitu menyebalkan. Plester ini membuat penampilannya terlalu soft padahal ia ada meeting pagi ini.
“Apa mereka akan menertawakanku karena aku memakai plester bergambar princess?” Byan mulai tidak percaya diri dengan penampilannya sendiri.
Maureen memang sengaja memberi Byan plester bergambar princess yang biasa ia pakai. Ia ingin memberi efek jera pada bosnya yang selalu bersikap serampangan.
“Memangnya ada yang berani menertawakan seorang direktur utama?” Maureen balik bertanya.
“Ya dihadapanku mungkin tidak tapi di belakangku bisa jadi.”
“Buat apa kamu memikirkan orang-orang yang hanya berani tertawa di belakangmu? Bukankah sudah jelas mereka tertinggal di belakangmu?” Maureen balik bertanya pada Byan.
“Hah, jawabanmu selalu menyenangkan dan menyebalkan di waktu yang bersamaan.” Byan menghembuskan nafasnya kasar.
“Maksdumu?” Maureen balik bertanya.
“Ya, menyenangkan karena secara tidak langsung kamu mengatakan kalau banyak orang yang tidak berani bertingkah macam-macam di depanku karena aku unggul. Tapi, menyebalkan karena itu berarti masih ada orang yang tidak menyukaiku dan menggunjingku di belakang.”
“Memangnya kamu mau semua orang menyukaimu?”
“Ya, paling tidak ada satu orang yang harus sangat menyukaiku. Itu sudah cukup.” Mata kanan Byan berkedip genit pada Maureen. Ia juga menatap netra bening milik Maureen yang mengerjap kaget. Pria ini sudah berani berbicara seperti ini. Berbicara di depan Riswan yang saat ini menjadi sopir mereka.
Apa coba yang ada dipikiran Riswan saat ini?
“Deduksi yang aneh,” decik Maureen seraya menyilangkan tangannya di depan dada.
Ia memalingkan wajahnya dari Byan dan memilih melihat ke luar jendela. Tapi Byan masih bisa melihat pantulan wajah Maureen dari kaca. Bibirnya berusaha menahan senyum. Ini melegakan bagi Byan.
Byan menyandarkan tubuhnya ke jok, lalu memiringkan kepalanya ke bahu Maureen.
“Apa kamu memakai perona pipi yang terlalu banyak?” bisik Byan.
“Enggak, emang kenapa?” Maureen segera menoleh membuat mereka bertatapan dalam jarak yang cukup dekat.
Byan tersenyum kecil, “Rona wajahmu cantik.” Byan memuji tanpa rasa ragu.
Maureen tidak menimpali, ia segera memalingkan lagi wajahnya dari Byan lalu menatap lurus ke depan sana dengan perasaan yang bergemuruh.
“Maureen,” panggil Byan. Ia menyandarkan kepalanya semakin nyaman di bahu Maureen yang tidak beranjak.
“Hem,” sahutan pendek itu yang didengar Byan.
“Aku butuh teman untuk menemaniku melewati rasa takut dan malu. Bisakah kamu menemaniku menemui keluarga korban?” tanya Byan tiba-tiba.
“Untuk apa?” Maureen langsung waspada dan itu bisa dilihat jelas oleh Byan.
“Aku, ingin menemui mereka sebagai seorang pribadi yang turut merasakan duka mereka. Bukan sebagai direktur Anggoro corp. Hanya saja, aku merasa, aku butuh seseorang untuk menguatkan dan menyemangatiku. Bisakah kamu menempati posisi orang tersebut?” tanya Byan.
Telunjuknya dengan sengaja menyentuh telunjuk Maureen yang sedang bersidekap. Maureen menatap telunjuknya yang disentuh Byan dan membuatnya merasakan desiran yang tidak biasa. Bukan hanya karena niat baik Byan yang didengarnya tapi karena ada perasaan yag seolah bangkit walau sudah susah payah ia tahan.
__ADS_1
Maureen menelan salivanya kasar-kasar. Dadanya bergemuruh saat melihat tatapan Byan yang hangat dan menembus jantungnya. Ia tidak bisa lagi berkata-kata selain mengatakan,
“Ya, aku akan menemanimu,” ucapnya dengan penuh kesungguhan.
Byan tersenyum tipis. “Terima kasih,” ucapnya dengan sungguh. Maureen hanya mengangguk kecil dan membiarkan Byan menyandarkan kembali kepalanya di bahu Maureen lalu memejamkan matanya.
Byan begitu menikmati suasana menuju kantor kali ini. Terlebih saat ia mendengar hembusan nafas kasar Maureen yang berusaha mengurai rasa gundahnya. Tapi semakin lama, hembusan nafasnya semakin tenang. Sepertinya Maureen mulai menemukan rasa nyamannya.
****
Setelah rapat, Byan benar-benar mengajak Maureen untuk menemui keluarga korban. Ia melepaskan semua atribut yang menunjukkan kalau ia adalah seorang direktur utama sebuah perusahaan besar.
Hanya mengenakan kemeja yang digulung hingga ke tangan dan jas serta dasinya Byan taruh di ruang kerjanya. Maureen memakaikan topi pada Byan setelah mengguyar rambutnya yang kelimis karena pomade.
Penampilan Byan seperti ini terlihat lebih santai. Ia terlihat seperti seorang pelukis bukan seorang direktur utama dari Anggoro corp. Maureen yakin, Byan akan lebih bisa diterima kedatangannya oleh keluarga korban.
“Udah siap?” tanya Maureen. Wanita itupun sudah melepaskan blazernya dan mengikat rambutnya tinggi-tinggi. Sederhana sekali penampilannya.
“Ya, aku sudah siap.” Byan membuang nafasnya kasar sekaligus membuang keraguan untuk menemui keluarga korban.
Tanpa menunggu lama, mereka segera turun dari mobil. Jalanan yang kecil dan hanya muat untuk pengendara motor, membuat mereka memilih berjalan kaki. Bendera kuning masih terpasang di depan gang, beberapa bunga papan juga terpajang di sepanjang jalan menuju rumah.
Maureen dan Byan meneruskan langkahnya sampai kemudian mereka tiba di depan sebuah rumah yang sederhana. Beberapa orang masih terlihat melakukan aktivitasnya di rumah itu. Maureen memperhatikan dari jarak yang cukup dekat, seorang anak tengah bermain-main dengan kelerengnya. Anak laki-laki dengan perkiraan usia sekitar enam tahun.
“Permisi adek,” sapa Maureen yang bersikap seramah mungkin. Anak kecil itu memandangi Maureen beberapa saat. Asing menurutnya.
Ia segera berlari masuk ke dalam rumah.
“Kenapa teriak-teriak?” suara seorang wanita terdengar jelas. Mungkin karena ukuran rumah mereka yang tidak terlalu besar sehingga suara biar terdengar dengan cukup jelas.
“Ada orang di luar bawa bunga.” Jawaban anak itupun masih bisa didengar oleh Byan dan Maureen.
Tidak berselang lama, seorang wanita berkerudung hitam datang menghampiri Byan dan Maureen.
“Selamat siang ibu,” Maureen menyapa wanita yang masih sarungan dengan baju daster sebagai atasan.
“Iya, selamat siang. Ada perlu apa ya?” Wanita itu menatap Maureen dan Byan dengan waspada.
“Ibu mohon maaf mengganggu waktunya. Benar ibu dengan ibu Nani?”
Byan sampai menoleh kaget karena Maureen tahu nama wanita ini.
“Iya, saya ibu Nani. Kalian berdua siapa ya?”
“Saya Maureen dan ini Byan. Kami rekan kerja pak Rusli. Boleh kami berbincang dengan ibu?” pinta Maureen dengan santun.
Byan ikut mengangguk sopan pada wanita bernama Nani itu.
“Boleh, silakan masuk.” Wanita itu membukakan pintu pagarnya.
__ADS_1
Maureen dan Byan di ajak masuk. Saat melewati pintu rumah, seketika ada rasa ngeri yang menyergap perasaan Maureen. Ingatan akan kematian seorang ibu yang tergantung di tiang rumahnya langsung mengisi pikiran Maureen.
Maureen sempat oleng dan hampir jatuh, beruntung Byan sigap dengan memegang tangan Maureen dengan erat.
“Kamu gak apa-apa?” Byan terlihat khawatir, karena sebelumnya kondisi Maureen baik-baik saja.
“Aku baik-baik aja,” timpal Maureen.
Ia melepaskan genggaman tangannya dari Byan lalu duduk berhadapan dengan Nani. Ia tersenyum kecil pada wanita yang memiliki pandangan kosong itu. Rasa kehilangan masih jelas terlihat di matanya.
“Ibu, kami turut berduka cita atas meninggalnya pak Rusli,” ucap Maureen seraya memberikan bucket bunga lili sebagai bentuk ungkapan berduka cita pada keluarga yang ditinggalkan.
“Terima kasih Mba,” Nani tampak terharu, ia menyusut air matanya dengan helaian kerudung yang menutupi dadanya.
“Dari kantor bapak, baru mba dan mas yang datang. Saya pikir tidak ada yang peduli dengan kepergian suami saya.” Nani terisak, air matanya lolos menetes.
Maureen menatap ibu itu dengan nanar, perasaan yang dirasakan wanita itu jelas pernah dirasakan oleh Maureen.
“Kami mohon maaf atas keterlambatan kami menemui ibu. Kepergian pak Rusli, juga duka bagi kami, Bu.”
“Beliau sudah bekerja sama dengan kami lebih dari sepuluh tahun, tentu bukan waktu yang sebentar untuk membuktikan kalau pak Rusli sudah menjadi bagian dari kami.” Kalimat itu mulus terucap dari bibir Maureen.
Wanita itu bahkan menggenggam tangan Nani dengan erat, penuh empati.
“Iya mba, saya melihat suami saya selalu semangat kalau mau berangkat kerja. Perlengkapannya selalu lengkap karena dia sadar kalau ia berdekatan dengan bahaya."
"Dia juga cerita, akhir-akhir ini dia mendapatkan project yang sangat besar dari perusahaan bernama Anggoro corp. Dia juga selalu bilang sama anak saya, kalau anak saya harus belajar yang rajin supaya suatu waktu bisa menjadi orang hebat dan memberikan pekerjaan pada banyak orang, bukan menjadi kuli seperti suami saya.” Wanita itu kembali menangis tersedu-sedu. Memeluk putranya yang ada di sampingnya.
Maureen ikut bersimpati. Ia mengusap kepala anak itu dengan penuh rasa sayang.
“Pak Rusli telah banyak membantu kami, Bu. Walau pekerjaannya terlihat kecil tapi bagi kami sangat bermakna. Untuk hal itu kami mengucapkan banyak-banyak terima kasih karena ibu dan keluarga berkenan memberikan izin dan dukungan semangat pada bapak untuk tetap bekerja sepenuh hati bersama kami.”
“Kami tau Bu, kedatangan kami ke sini tidak bisa mengembalikan sosok Pak Rusli yang menjadi pondasi di rumah ini. Tapi besar harapan kami, agar kami bisa membantu mengurangi kesedihan ibu dan putra ibu.”
Nani menangis sejadinya. Ia memeluk Maureen dengan erat. Maureen bisa merasakan rasa kehilangan dan kebingungan yang menghinggapi keluarga kecil ini. Untuk beberapa saat, Maureen membiarkan wanita itu menangis dalam rangkulannya. Setidaknya sampai bebannya terasa lebih ringan.
Byan yang duduk di samping Maureen, sampai tidak bisa berkata-kata. Ia melihat dengan jelas ketulusan yang Maureen berikan melalui setiap ucapan dan tatapannya pada wanita yang baru dikenalnya beberapa saat.
Semula ia berpikir kalau saat ia datang mungkin keluarga korban akan memakinya. Tapi ternyata, Maureen berhasil membalik keadaan. Suasana tegang itu berubah menjadi suasana haru. Maureen sangat tepat membaca perasaan keluarga korban.
Apa yang Byan liat sekarang, seolah menjadi pembuktian atas ucapan Maureen beberapa hari lalu.
“Walaupun mereka kehilangan tulang punggung keluarga mereka, yang menghidupi seisi rumah mereka, tapi yang mereka butuhkan bukan hanya uang kita. Mereka butuh perhatian, mereka butuh dukungan moril bukan hanya sekedar uang yang membuat mereka merasa diperlakukan sebagai pengemis.”
Andai saja Byan mengabaikan ucapan Maureen saat itu, mungkin ia tidak akan pernah bertemu dengan kondisi seperti ini. Kondisi dimana setiap orang memiliki pandangan yang berbeda atas sebuah kehilangan orang yang mereka cintai.
“Maureen, apa kamu memang semenakjubkan ini?” batin Byan tanpa bisa mengalihkan pandangannya dari ibu tiri yang pernah dimusuhinya.
****
__ADS_1