
Hembusan angin begitu lembut, menggoyangkan dedaunan yang mulai rapuh dan menua hingga akhirnya gugur dan berjatuhan. Warnanya yang sudah berubah jingga, membuat daun itu tak lagi punya kekuatan untuk melekat dan membersamai sebatang ranting kecil yang tetap kokoh meski banyak daun yang sudah tumbuh lalu berguguran lagi. Ia tetap tegak, setia menunggu bakal tunas daun lain tumbuh hingga kembali gugur dan terus berulang entah untuk berapa lama ia bertahan melihat sebuah pertemuan dan perpisahan yang terjadi disekitarnya.
Selembar daun jatuh di atas kertas polos yang sedang digambari Maureen kecil. Ia tengah membuat sebuah penampang bangunan dengan pensilnya yang lancip. Daun yang masih menyimpan butiran air itu membasahi buku gambar Maureen, membuat gadis cantik itu merengut kesal.
“Yaaahhh, gambarku basah deh…” keluh Maureen dengan kesal.
Ia yang semula tengkurap dengan sebuah bantal yang menyangga dadanya, sekarang bangkit duduk sambil mengibas-ngibas buku gambarnya yang terkena air.
“Ish, harusnya aku gak bikin gambar di bawah pohon, jadinya gini kan.” Maureen kesal sendiri dengan apa yang terjadi padanya.
“Mo, sayang… makan dulu Nak. Makanannya udah matang nih,” panggil Renita yang sedang membakar daging dan seafood di atas pembakaran sederhana.
Hari ini, Maureen di ajak piknik oleh kedua orang tuanya. Mereka ingin menikmati waktu bersama setelah beberapa hari ini Malik disibukkan oleh banyaknya proyek pekerjaan di luar kota.
“Iya, Mah.” Maureen berseru menjawab panggilan Renita. Ia tidak lantas beranjak, masih di tempatnya, berusaha mengusap dengan hati-hati bulir air yang membasahi buku gambar miliknya. Ia tidak mau bulir air itu merobek gambarnya
“Mas, panggilin Momo dong, ini dagingnya sama udangnya udah mateng.” Renita meminta bantuan pada sang suami yang baru kembali dari mobil setelah membawa beberapa perlengkapan berkemah.
“Okey, aku panggilin. Dia kalau udah sama buku gambar, pasti lupa sama apapun,” komentar Malik. Ia menaruh beberapa barang bawaannya di dekat Renita.
“Iyaa, mirip sama Mas. Anak Mas banget pokoknya.”
“Hahahaha… iyalah. Anak aku banget.” Malik berujar dengan bangga. Tidak lupa ia mengecup pucuk kepala Renita sebelum pergi menghampiri putri kesayangan mereka.
__ADS_1
Renita tersenyum senang, Malik memang perhatian. Mungkin itu yang membuat Maureen selalu merindukan papahnya.
“Hey, anak papah kok masih sibuk aja sih?” Malik duduk di samping Maureen, sedikit mengintip buku gambar putrinya.
“Ini Pah, buku gambar aku basah, kena air dari daun. Padahal aku udah susah-susah bikin gambarnya.” Maureen masih kesal dengan apa yang ia alami.
“Coba Papah liat, siapa tau masih bisa diperbaiki.” Malik mengambil alih buku gambar Maureen. Gadis itu menatap Malik dengan lekat. Pria itu melingkarkan tangannya untuk memeluk Maureen dan melihat gambar itu bersama-sama.
“Oo ini di lapnya pake tisue bagusnya. Boleh Papah tau ini gambar apa?” Malik terlihat penasaran.
“Ini gambar Gedung Pah. Nanti aku mau bangun Gedung kayak gini. Buat aku, Mamah sama Papah,” cicit Maureen dengan ceria.
“Waahh, ini bagus. Momo beneran mau jadi arsitek kalau udah besar nanti?”
“Waahh hebat anak Papah. Gambarnya bagus. Ini sih udah kayak gambar arsitek sungguhan.” Malik memuji Maureen dengan sungguh. Ia mengecup kepala Maureen beberapa kali.
“Makasih Pah. Tapi ini kena air dari daun, padahal aku udah gambar hati-hati. Eh malah rusak begini. Kan ngeselin.” Maureen jadi teringat kembali pada kekesalannya.
“Eemm, sedih ya anak Papah?” Malik menatap Maureen dengan sendu dan gadis itu mengangguk.
“Daripada Momo sedih, gimana kalau kita buat gambar yang baru. Walaupun air dari daun tadi merusak gambar Momo, tapi itu bukan alasan Momo untuk menyerah. Dengan rusaknya gambar tadi Momo jadi bisa membuat gambar lain. Mungkin saja malah lebih bagus kan?”
“Momo juga harus tau, kalau kita gak bisa selamanya mengandalkan sesuatu yang memayungi kita. Kadang sesekali kita harus berdiri di bawah terik matahari atau di bawah sebuah payung atau mungkin tempat lain yang bisa membuat Momo melihat sesuatu dengan cara yang lain. Jadi Momo akan banyak referensi. Papah yakin, denagn begitu, gambar yang Momo buatpun akan berbeda hasilnya. Gimana?”
__ADS_1
Maureen terdiam beberapa saat, mencoba mencerna ucapan Malik yang menurutnya masuk akal.
Kata-kata Malik itupun masih berdengung di pikiran Maureen hingga saat ini. Gadis yang terduduk di lantai dengan bersandar pada ranjang, sementara kedua kakinya ia lipat lalu ia peluk dengan erat, seperti tengah mengenang masa-masa indahnya bersama kedua orang tuanya.
Sudah sangat lama kenangaan itu berlalu. Tapi rasa bahagianya masih terasa sampai sekarang. Maureen tidak pernah bisa melupakan setiap panggilan sayang yang diucapkan oleh kedua orang tuanya karena setiap panggilan itu yang menjadi satu-satunya kenangan manis yang tersisa dan masih ia miliki.
Malam ini, Maureen benar-benar tidak bisa memejamkan matanya. Ia masih memandangi foto keluarganya dan foto Anggoro yang bersanding dengan dirinya di hari pernikahan. Semua ingatan masih berputar dikepalanya. Baik itu ingatan tentang kedua orang tuanya ataupun tentang Anggoro.
“Kesalahan saya karena tidak menyadari kalau perusahaan besar ini pun bisa melakukan kesalahan. Lebih salah lagi ketika saya ingin memperbaiki sesuatu yang sebenarnya sudah tidak bisa diperbaiki. Tapi kali ini, saya sungguh meminta belas kasihan kamu. Saya bersedia memberikan posisi terbaik untuk kamu di perusahaan ini, anggaplah sebagai penebusan rasa bersalah saya tapi saya mohon, jangan di hancurkan.”
Kalimat permohonan Anggoro pun kembali terngiang di telinganya. Permohonan yang tulus setelah lelaki tua itu tahu bahwa karena sebuah kelalaian, Maureen kehilangan orang tuanya. Baru hari ini ia mengetahui semuanya, ketika semuanya sudah terlambat untuk diperbaiki.
Apa ini yang Malik maksud dengan melihat sesuatu dari tempat dan sudut pandang yang berbeda?
"Tring," sebuah pesan masuk menghapuskan semua lamunan Maureen. Tertulis nama Byan yang muncul di layar ponselnya. Hanya sepintas ia membaca pesan Byan sebelum kemudian menghilang.
"Kamu udah tidur? Aku baru pulang dari rumah Oma. Beliau titip salam untukmu."
Maureen tidak membacanya, entah apa pesan Byan berikutnya. Satu notifikasi lagi muncul dan selintas terbaca.
"Mimpi yang indah ya...." Pesan itu yang terbaca berikutnya.
Maureen tetap tidak membuka pesan itu. Ia malah terisak sambil menunduk sedih. Sesungguhnya ia memang butuh teman bercerita tapi ia belum bisa bercerita saat ini. Mungkin nanti, saat ia sudah lebih tenang.
__ADS_1
****