Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Tawaran kepada teman


__ADS_3

Rapat dengan manajemen resmi di gelar. Cukup kisruh karena sebagian besar orang tidak setuju dengan keputusan Byan, terutama pihak yang pro dengan kontraktor. Mereka saling beradu argument dan mengumpulkan asumsi satu sama lain hingga rapat manajemen ini membentuk dua kubu yang berlawanan.


“Aku tidak setuju! mana mungkin kamu bisa membuat keputusan seperti ini? Keputusanmu akan mempermalukan pihak kontraktor Byan. Mereka bisa saja memutus kerjasama dengan kita dan pada akhirnya semua project akan gagal.” Edwin yang paling keras menentang.


“Benar Tuan, kita sudah bekerja sama dengan perusahaan ini selama lebih dari dua puluh tahun. Mana mungkin kita malah menjatuhkan kolega kita hanya karena kesalahan satu orang?” seseorang ikut berkomentar dan Maureen mencatat setiap nama yang berada di pihak Edwin.


“DIAM!!!” Byan mulai meradang, membuat Maureen ikut terhenyak.


Seisi ruangan pun hening seketika setelah mendengar suara Byan.


“Selama kita berdiskusi, kalian terus membicarakan masalah mempermalukan pihak kontraktor tapi tidak ada satupun yang mempermasalahkan kondisi keluarga korban. Apa sebenarnya yang kalian lihat dari masalah ini? Apa kalian pikir ini kesalahan korban?” Byan berbicara dengan lantang. Tatapannya tajam menyapu semua pandangan yang tertuju padanya hingga orang-orang itu tertunduk malu.


Kecuali Edwin, ia hanya memalingkan wajahnya. Ia sangat percaya kalau kemampuan Byan tidak setinggi kemampuannya dalam menyelesaikan masalah ini.


“Di kasus ini, kalian terus membicarakan masalah keteledoran pegawai proyek. Apa kalian sudah tau penyebab kecelakaan ini? Apa kalian juga sudah melihat denah dari rumah yang dibangun?” Byan menunjukkan denah pembangunan rumah itu termasuk penampang saluran air dan listrik yang seharusnya di buat.


Semua pasang mata fokus menatap layar yang menampilkan denah rumah yang menjadi tempat kejadian.


“Perhatikan yang saya lingkari. Di sini jelas bahwa, listrik di lantai satu dan dua tidak seharusnya di sambung seperti ini.” Byan juga menunjukkan gambar sambungan listrik yang menjadi asal mula terjadinya arus pendek.


“Tapi dengan alasan efisiensi, pihak kontraktor memerintahkan semua lantai satu dan dua memggunakan instalasi seperti ini.”


“Naasnya, pegawai kontraktor yang terkena arus tegangan tinggi saat panel di nyalakan. Tapi apa kalian juga pernah berpikir, bagaimana kalau akibat keteledoran semacam ini malah membuat semua unit rumah ini terbakar?"


"Mungkin tidak hanya satu nyawa yang melayang tapi banyak nyawa. Siapa yang akan di salahkan? Apa pria yang sudah menjadi mayat ini? Tidak bukan?!” kalimat Byan cukup kasar untuk menampar dewan manajemen yang menentang keputusannya. Mereka semua bungkam tidak berani menyela dan berkomentar.


“Kejadian yang sama pernah terjadi sembilan tahun lalu. Dimana seseorang meninggal atas insiden yang sama. Tidak ada laporan seperti apa kelanjutan masalah ini. Tidakkah kalian melihat kalau pihak kontraktor abai dengan masalah seperti ini? Siapa yang seharusnya malu dengan membiarkan masalah besar seperti ini. Siapa?!” Byan sampai menggebrak meja membuat Maureen ikut terhenyak.


Jantungnya berdebar kencang saat Byan membuatnya terpaksa mengingat kembali semua kejadian itu. Mata Maureen sampai berkaca-kaca saat melihat kemarahan Byan yang seolah mewakili perasaannya. Tanpa disadari, pria itu telah menyentuh relung hati terdalamnya. Maureen luluh atas usaha Byan menentang semua anggota manajemen yang semula mengecilkan usahanya.


“Permintaan maaf itu tidak sulit. Akui saja kalau mereka telah melakukan kesalahan dan kita jangan membelanya dengan alibi apa pun. Kejadian ini sudah terjadi dua kali yang berarti, mereka tidak ada perbaikan.”


“Permintaan maaf tidak akan membuat kita terlihat rendah di hadapan orang lain tapi akan membuat kita merasa lebih tenang.”


“Saya tidak masalah jika karena permintaan kita ini, pihak kontraktor ingin memutus kerja sama dengan kita. Kerugian kita tidak akan seberapa di banding beban moril yang harus kita tanggung pada keluarga korban."


"Mereka tidak menuntut apapun selain permohonan maaf dan pengakuan atas kesalahan yang telah dilakukan perusahaan tempat keluarga mereka mencari nafkah.”


“Apa yang sulit, hah? Mereka bahkan tidak bersedia melangkahkan kaki ke rumah yang sedang berduka. Dimana hati nurani kalian? Tidakkah kalian membayangkan jika kalian berada di posisi mereka?”


Suara Byan mulai melemah, ia memang tengah terbawa perasaannya. Sementara itu Edwin mulai gelisah. Dan satu orang memilih keluar dari ruang rapat ini, yaitu Maureen.


Ia tidak bisa lebih lama lagi berada di ruangan dengan orang-orang yang tidak satu pemikiran dengannya. Maka ia memutuskan untuk pergi. Membiarkan Byan menyelesaikan apa yang seharusnya ia selesaikan. Maureen sendiri butuh waktu untuk menenangkan dirinya.


****


Setelah rapat berakhir, Melda mendapat panggilan dari Maureen. Seniornya itu mengajak Melda untuk minum kopi di salah satu café.

__ADS_1


“Kak, sorry nunggu lama.” Melda datang dengan senyumnya yang ceria. Ia begitu tergesa-gesa.


Ia langsung menarik kursi dan duduk di hadapan Maureen.


“Aku juga belum lama kok, pesen aja dulu.” Maureen menyahuti dengan santai.


“Okeeyy!” Melda begitu semangat. Ia mengangkat tangannya dan seorang pelayan menghampirinya.


Kopi favoritnya pun ia pesan beserta makanan ringan lainnya.


“Aku belum makan siang, jadi nyemilnya banyak,” aku Melda setelah memesan beberapa menu.


“Gak masalah. Pekerjaan kita kadang bikin kita gak sempet ngurus diri kita sendiri.”


“Iyaa, bener kak. Apalagi tuan Edwin itu kolokan, susah aku ngikutinnya.” Pintu curhat telah di buka.


Maureen tersenyum kecil mendengar curhatan Melda yang polos ini.


“Gimana kemaren pas jadi PA dirut, ada kesulitan gak?”


“Ya ampuun kak, aku stress banget. Gilaaa banyak banget kerjaannya. Aku sampe bingung. Perasaan aku ngafalin semua info dari kakak, tapi tetep aja ada yang terlewat. Aku kena omel terus.”


“Pokoknya beda banget deh sama tuan Edwin. Dia sih asalkan maunya diturutin, udah aman. Kerjaan dia juga gak banyak-banyak amat. Jadi aku bisa santai, hehehe…”


“Tapi jangan bilang direktur umum ya kak, nanti gaji aku di potong lagi gara-gara banyak makan gaji buta.” Melda berbisik lirih.


“Enggak lah, aku juga paham. Ritme kerja setiap atasan kan beda. Tergantung cara dia ngatur kerjaannya. Ngatur kerjaan itu seni, gak bisa disamaratakan apalagi dengan jabatan yang berbeda.” Maureen berkomentar dengan bijak.


Tidak lama pelayan datang membawakan makanan Melda. Matanya langsung membulat, hijau semua.


“Ya udah, makan dulu. Kamu sampe keringet dingin gitu karena lapar.” Maureen mendekatkan tissue pada Melda.


“Hehehe, iya Kak.” Melda tersenyum kelu. Ia pun mulai melahap makanannya sambil sesekali mengecek ponselnya.


Beberapa chat di terima dari Edwin namun ia mengabaikannya beberapa saat. Sementara itu, Maureen sibuk dengan tabletnya. Ia tidak terlalu suka berbicara saat sedang makan. Ia ingin menghargai waktu Melda bersama makanannya agar makannya terasa nikmat.


“Jadi ada apa nih Kak Maureen ngajak ketemu?” setelah makan Melda baru berbicara.


“Udah selesai makannya?” Maureen menaruh tabletnya di dalam tas.


“Ya, udah. Kenyang banget malah. Makasih Kak Maureen udah traktir aku.” Melda mengelap bibirnya yang sampai belepotan.


“Sama-sama."


"Ngomong-ngomong, kamu lagi sibuk gak Mel?” tiba-tiba saja Maureen bertanya dengan serius.


“Nggak lah Kak. Aku lagi santai sekarang. Semua kerjaan juga udah selesai. Ini wa dari bos cuma minta beliin cake aja buat nyonya besar. Amaaann, bisa aku beliin nanti sore. Buat malem ini kok,” terang Melda.

__ADS_1


Maureen mengangguk paham.


“Aku mau minta tolong sama kamu, bisa?”


“Boleh dong, Kakak mau minta tolong apa?” Melda begitu semangat menyahuti.


Maureen tersenyum kecil lantas mengirimkan sebuah foto pada Melda.


“Kancing apa ini kak?” Melda mengernyitkan dahinya tidak mengerti.


“Kancing baju atau jas sepertinya. Aku mau minta tolong kamu untuk mengecek apa kancing itu punya Mas Edwin atau bukan. Bisa?” Maureen menatap Melda dengan lekat.


Melda terdiam beberapa saat, wajahnya berubah tegang.


“Aku harus masuk ke kamarnya?” kali ini ia terlihat takut.


Maureen mengangguk dengan yakin.


“Aku gak bisa.” Melda menjawab dengan cepat.


Maureen terlihat tenang saja. Ia meneguk tehnya dengan elegan lantas menyentuh tangan Melda yang mengepal.


“Mel, aku tau kamu memiliki telinga yang baik dan bisa mendengarkan banyak hal dari ruang kerja itu. Kenapa tidak kamu gunakan juga tangan kamu, mata kamu, kaki kamu dan semua hal yang ada di tubuh kamu?”


Pertanyaan Maureen begitu mendalam membuat Melda waspada. Sepertinya Melda sadar kalau Maureen mengetahui banyak hal tentang dirinya. Tentang ia yang suka menguping setiap pembicaraan Edwin dengan siapapun itu.


“Kak Maureen mengancamku?” pertanyaannya benar-benar penuh selidik.


“Nggak. Buat apa aku ngancam kamu. Justru aku minta bantuan kamu. Emang aku terlihat lagi mengancam ya?” Maureen balik bertanya.


Melda tidak lantas menjawab, ia lebih memilih meneguk kopinya untuk melegakan tenggorokannya dan menghilangkan kegundahannya.


“Apa yang aku dapetin kalau aku bantuin Kak Maureen?” berganti Melda yang bertanya.


Maureen melepaskan genggaman tangannya dari Melda lalu tersenyum tipis.


“Kebebasan kamu,” jawab Maureen seraya menarik kerah baju Melda untuk menutupi berkas kemerahan di lehernya.


Maureen yakin, keringat Melda pun bukan karena wanita ini datang dengan tergesa-gesa atau karena ia kelaparan. Pasti karena alasan yang lebih mengerikan dari itu. Terlebih ia pernah melihat Edwin yang melecehkan Melda dengan mengusap bokong wanita itu, atau mengusap senzual punggung Melda. Satu kenyataan lagi yang pernah dilihat Maureen adalah, mereka pernah masuk ke hotel dan memesan satu kamar. Saat itu Maureen melihat dengan jelas wajah Melda yang begitu ketakutan dan gugup.


“Mau aku bebaskan atau kamu mau bertahan karena mulai menikmatinya?” Maureen kembali bertanya.


Cepat-cepat Melda memegang tangan Maureen dengan erat dan kepalanya menggeleng pelan. Dari sorot matanya ia meminta banyak pertolongan.


“Kabari aku lewat telepon, jangan lewat pesan,” ujar Maureen pada akhirnya seraya mengusap kepala Melda dengan sayang.


Wanita itu hanya mengangguk sambil berusaha menahan tangisnya. Tanpa ia sadar ternyata Maureen memperhatikannya dan sekarang ingin membantunya dari semua intimidasi Edwin. Apa salahnya jika kemudian ia membantu Maureen untuk satu hal kecil ini, pikirnya.

__ADS_1


Tanpa Melda tahu, perkara kancing bukanlah hal kecil bagi seorang Maureen.


****


__ADS_2