
“Hari ini, persingkat jadwalku, aku ingin pulang cepat.” Kalimat itu diucapkan Byan dalam perjalanan menuju kantor. Ia duduk di belakang, sibuk mengurus dasinya yang sulit rapi sementara Riswan fokus dengan setirnya.
“Semua hal yang tidak penting, kamu skip aja. Kalau ada yang bisa dijadwalkan ulang, kamu jadwalkan ulang. Pokoknya aku mau sore ini sudah ada di rumah dan memeriksa kondisi Maureen.” Itu kalimat kedua yang diucapkan Byan sambil melempar dasi yang membuatnya putus asa.
“Berapa banyak meeting kita hari ini? Dengan manajemen saja kan?” Byan mengambil tablet di sampingnya dan memeriksa agenda ia hari ini.
Byan sengaja ingin mengurus pekerjaannya berdua saja dengan Riswan tanpa perlu melibatkan Melda yang selalu membuatnya pusing dan marah-marah.
“Heh, Riswan, apa kamu mendengarku?” Byan bertanya dengan kesal. Sejak tadi ia terus mengoceh tapi Riswan hanya terdiam.
“I-iya tuan. Saya mendengarkan.” Lihat, ia juga gelagapan.
“AWAS!!” seru Byan saat melihat sepeda motor yang tiba-tiba melintas di depan mereka.
Ckkiiittt!!!!
Rem pun di injak dalam-dalam oleh Riswan hingga menyisakan bekas kehitaman di aspal.
“ASTAGA! Kamu gak memperhatikan jalanan?!” Byan berseru dengan kesal. Tubuhnya sampai terdorong dan kepalanya membentur jok depan.
Hampir saja Riswan menabrak pengendara motor yang saat ini mengacungkan jari tengahnya ke arah Byan sambil memaki tanpa kata-kata. Hanya gerakan bibirnya saja yang terlihat jelas.
"Ma-maafkan saya tuan." Riswan tertunduk dalam. Ia sungguh kehilangan pikirannya beberapa saat karena terus memikirkan Maureen.
"Menepi!" perintah Byan. Ia tidak bisa memaksa Riswan melanjutkan perjalanannya dalam kondisi seperti ini.
"Baik tuan." Riswanpun menurut saja. Ia segera menepikan mobilnya dan berdiam diri beberapa saat.
"Ada apa sebenarnya dengan hari ini? Maureen tiba-tiba sakit dan kamu, tiba-tiba bertingkah aneh. Kalian membuatku bingung!" keluh Byan yang kesal. Belum hilang rasa cemasnya pada Maureen, Riswan malah menambahnya.
"Maafkan saya tuan," lagi, Riswan hanya bisa meminta maaf.
"Hah, sudahlah. Kamu minum dulu supaya pikiranmu lebih fokus," titah Byan. Ia memberikan waktu pada Riswan untuk menanangkan dirinya.
__ADS_1
Sambil menunggu Riswan tenang, Byan mengecek agendanya. Sepertinya ia harus mempelajarinya sendiri daripada terus bertanya pada Riswan yang pikirannya sedang entah dimana.
****
Tiba di kantor, Riswan langsung menemui Edwin di ruangannya. Laki-laki itu sedang tertawa terbahak-bahak dengan seseorang lewat sambungan telepon.
"Okey, jadi secara hukum, bisa ya. Dan tidak menyalahi?" laki-laki itu bertanya pada seseorang di sebrang sana.
"Keluar, " titah Riswan pada Melda yang menyambutnya. Melda hanya mengangguk, tidak berani membantah.
"Iyaa, yang penting begitu saja. Aku tidak mau ada masalah ke depannya. Jadi tolong, segera hubungi aku kalau ada perubahan lainnya." Edwin masih berbicara dengan seseorang di sebrang sana. Namun postur tubuhnya sudah lebih tegak saat melhat Riswan berdiri dihadapannya dengan tatapan tajam.
"Iya, nanti aku hubungi lagi." Edwin memilih mengakhiri panggilan itu. Sepertinya bertanya akan arti tatapan Riswan yang begitu menyebalkan, jauh lebih penting.
"Ada apa?" Edwin turun dari singgasananya dan menunjuk sofa yang biasa ia duduki dengan Riswan.
"Saya mau meminta dokumen itu, tuan." Riswan berbicara langsung pada intinya.
"Dokumen apa yang kamu maksud? Aku tidak memiliki dokumen apapun." Edwin dengan sikapnya yang santai sambil menyeruput kopi buatan Melda.
"Jangan menudingku! Tindakanmu sangat tidak tau diri Riswan!" Edwin mulai meradang. Ia berdiri mensejajari laki-laki paruh baya yang menatapnya dengan kesal.
"Saya tidak menuding. Saya tahu persis, hanya kita berdua yang tahu tentang dokumen itu. Saya tidak melakukan apapun pada dokumen itu, maka sudah pasti Anda yang melakukannya karena Anda ingin menyembunyikan sesuatu." Riswan dengan ucapannya yang lugas.
Edwin tidak menimpali, ia hanya tersenyum sinis seraya beranjak menghampiri Riswan.
"Kenapa kamu sangat menginginkan dokumen itu? Dokumen itu hanya berisi project gagal yang tidak ada artinya." Edwin berbisik di telinga Riswan.
"Atau kamu ingin menunjukkan dokumen itu pada orang lain? Pada dewan direksi, misalnya? Untuk apa, toh tuan mudamu sudah menduduki posisi yang seharusnya. Mau kamu pake buat apa dokumen itu? Buat menjatuhkanku? Hahahahaha... tidak ada kerjaan!" lagi Edwin bertanya. Karena menurutnya dokumen itu sudah tidak ada artinya.
"Jadi Anda mengakui kalau Anda menyimpan beberapa bagian dari dokumen itu?" Riswan tidak putus asa.
Edwin yang semula tersenyum sinispun kini mulai menatap Riswan dengan kesal.
__ADS_1
"Kalau iya, memang kenapa? Kan sudah aku bilang, dokumen itu tidak artinya. Mas Anggoro saja sudah menganggap project itu gagal. Mau kamu sampaikan ke direksipun tidak akan menghasilkan apapun. Atau kamu mau cari muka depan direksi, gitu?" tantang Edwin.
"Kalau tidak penting, kenapa nggak om kasih aja sama Riswan? Kenapa harus om sembunyikan?" sebuah suara terdengar di mulut pintu.
Riswan dan Edwin sampai terhenyak karena suara iitu milik Byan. Entah sejak kapan Byan ada di sana dan mendengar perbincangan mereka.
"Tu-tuan," Riswan terlihat sangat terkejut melihat keberadaan Byan yang tiba-tiba.
"Waah, ada apa ini? Kenapa sangat tegang. hah?"
Byan berjalan mendekat, menghampiri Riswan dan Edwin, dua laki-laki yang menatapnya dengan panik. Sepertinya, kecurigaan Byan terbukti kalau tidak fokusnya Riswan karena laki-laki itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Beruntung ia memutuskan untuk mengikuti Riswan sehingga ia bisa mendengar kalau memang ada yang sedang disembunyikan oleh dua orang ini.
"Dokumen apa sih yang kalian bahas?" Byan menatap Riswan dan Edwin bergantian.
"Bu-bukan dokumen apa-apa. Hanya dokumen tidak penting sekitar sembilan tahun lalu. Itupun projectnya gagal dan papahmu sudah menutup project itu." Edwin berusaha terlihat tenang walau Byan bisa melihat jelas laki-laki itu tengah gelagapan, panik.
"Oh ya? Seperti apa dokumen itu? Aku juga penasaran ingin melihatnya." Byan terlihat santai saja. Namun, Ia bersikeras meminta dokumen itu pada Riswan dan Edwin.
"Hahahaha, kamu tidak usah melihatnya. Itu dokumen tidak penting. Masih banyak dokumen lain yang harus kamu pelajari. Riswan bisa menunjukkan dokumen-dokumen yang lebih penting lagi. Contohnya mega project apa saja yang sudah di buat Anggoro corp. Iya kan Riswan?" Edwin yang panik, bertanya pada Edwin.
Riswan tidak menjawab, ia terdiam seribu bahasa.
Melihat sikap Edwin dan Riswan yang bersebrangan, Byan semakin curiga. Kalau tidak penting, kenapa Edwin bersikeras tidak mau memberikannya?
"Baiklah, kalau begitu aku akan membuat surat penggeledahan berkas lama. Sepertinya tidak repot, aku bisa menyuruh assistant om untuk membuatnya lalu aku akan dengan senang hati menandatanganinya." Byan mengancam dengan elegan.
"Ti-tidak perlu Byan. Kamu tidak perlu menggeledah dokumen Om hanya karena ingin melihat dokumen itu." Edwin semakin gelagapan dan bingung. Di sisi lain, tatapannya begitu sinis pada Riswan yang hanya mematung. Ia tidak bisa membiarkan Byan melakukan penggeledahan pada dokumen miliknya karena itu berarti akan membuka kotak pandora yang selama ini ia simpan.
"Okey. Kalau gitu, bawakan dokumen itu dengan lengkap ke mejaku sepuluh menit lagi. Aku tidak suka menunggu," tegas Byan. Ia menepuk bahu Riswan kemudian berlalu pergi.
"Akh, sial! ini Gara-gara kamu Riswan!" dengus Edwin dengan kesal.
"Mau kamu apakan sebenarnya dokumen itu? Kamu bikin repot saja." Edwin masih menggerutu sambil berjalan menuju brankasnya.
__ADS_1
Riswan tidak menjawab tapi sepertinya ini memang saatnya Byan pun tahu apa yang terjadi sembilan tahun lalu.
*****