
Kantor pengacara Anggoro menjadi tempat yang didatangi oleh sepasang kekasih yang akan berpisah juga Riswan dan Wiki. Mereka tengah duduk berhadapan dengan para pengacara itu. Tidak ada maksud lain yang ingin dilakukan oleh Maureen selain mengembalikan segala sesuatu yang tidak seharusnya menjadi miliknya.
Selembar surat pernyataan Maureen serahkan pada pihak pengacara, berikut lampiran lain untuk menguatkan pernyataannya. Kertas yang berada di dalam map berwarna coklat itu langsung di baca oleh tiga orang bergantian.
“Anda yakin dengan keputusan Anda, nyonya?” tanya Hendrik, pengacara kepercayaan Anggoro.
“Ya, saya sangat yakin.” Wanita bermata bulat itu menyahuti penuh percaya diri.
Tiga orang itu berdiskusi beberapa saat dan Maureen duduk dengan tenang. Semantara Byan masih gelisah, memandangi wanita yang begitu berani membuat keputusan besar dalam hidupnya.
“Nyonya, perlu saya beritahukan terlebih dahulu, dengan surat pernyataan ini berarti Anda mengakui kalau pernikahan Anda dengan tuan Anggoro tidak sah. Konsekuensinya adalah, Anda kehilangan hak Anda sebagai pemegang saham perusahaan ini sebesar sepuluh persen dan itu dikembalikan ke pewaris yang sah yaitu tuan Byantara sebagai putra dari tuan Anggoro. Anda hanya berhak atas saham sebesar lima persen yang tuan Anggoro berikan atas nama nyonya Maureen sebelum Anda berdua menikah. Anda sudah memahami konsekuensi tersebut?” Hendrik menatap Maureen dengan lekat, berusaha meyakinkan wanita dihadapannya.
“Sudah, saya sudah sangat paham dengan konsekuensi itu. Lagi pula, saya merasa kalau saya memang tidak berhak atas saham sebagai istri itu. Saya juga tidak ingin menjadi penguasa di Anggoro corp. Jadi saya mengembalikan lagi saham itu pada orang yang memang seharusnya menjadi pemilik sah dari semua peninggalan tuan Anggoro.” Jawaban wanita cerdas itu begitu. Ia menoleh Byan yang sedang memandanginya lantas tersenyum kecil.
Hendrik berbicara dengan tiga dua orang disampingnya. Hanya beberapa saat saja sampai kemudian keduanya terangguk yakin.
“Baik, dengan begitu, walaupun masa peralihan ini masih tersisa satu bulan sampai dengan waktu penetapan hak waris, tapi kami bisa simpulkan bahwa sepenuhnya hak waris ini jatuh kepada tuan muda. Orang yang dipilih oleh tuan Anggoro dan Anda, nyonya.”
“Benar, saya menyetujui itu.” Maureen menjawab dengan tegas.
Saat itu juga semua dokumen waris yang ada di pengacara dibacakan dihadapan Maureen dan Byan. Banyak simpulan hukum yang harus mereka pahami dari keputusan yang diambil Maureen. Byan dan Maureen sama-sama menandatangani surat persetujuan tanpa rasa ragu sedikitpun.
Harus Maureen akui kalau perasaannya terasa sangat tenang. Ia seperti tidak memiliki beban apapun lagi dipundaknya. Ia bisa bernafas lega tanpa pikiran yang rumit dan penuh siasat. Seperti ini harusnya menjalani hidup. Tanpa ada rasa kecewa dan terpaksa. Dalam hatinya ia mengucapkan banyak terima kasih pada sosok Anggoro yang ada dipikirannya.
Selesai dengan semua berkas itu, Byan dan Maureen berjabat tangan. Begitu juga dengan para pengacara. Mereka Bersiap untuk pulang, sampai kemudian salah satu pengacara menahan langkah mereka.
__ADS_1
“Sebentar tuan, ada satu hal lagi yang harus saya sampaikan pada Anda,” ucap Hendrik pada Byan.
“Iya, ada apa?” Byan berbalik menghadap laki-laki itu.
Hendrik berjalan menghampiri Byan, lalu memberikan sebuah amplop.
“Tuan Anggoro menitipkan ini pada saya. Beliau meminta saya memberikan surat ini pada Anda saat semua kesepakatan resmi dibuat,” terang laki-laki berambut klimis itu.
Mata bulat Byan memandangi amplop putih itu. Diatasnya jelas ada tulisan Anggoro yang menuliskan namanya dengan tulisan tegak bersambung.
“Terima kasih.” Byan menerima amplop itu dengan perasaan yang tidak menentu. Apa yang ingin Anggoro sampaikan lewat surat ini?
****
Gallery, menjadi tempat yang Byan tuju sebagai tempat pelarian dan merenung. Ditemani beberapa kaleng soda dan suara merdu milik Olivia Rodrigo yang sedang menyanyikan lagu Drivers Lisence di pemutar musiknya, Byan membaca kembali surat dari Anggoro. Ini kali keenam Byan membaca surat yang ia terima dari pengacara Anggoro. Jantung Byan selalu berdenyut lembut setiap kali melihat kalimat pertama yang ditulis Anggoro untuknya.
Pertanyaan yang sederhana tapi berhasil membuat matanya berkaca-kaca. Sudah sangat lama ia tidak pernah mendengar pertanyaan ini dari Anggoro. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali mendengar pertanyaan itu. Pertanyaan syarat makna yang seringkali membuat beban dihatinya terasa luruh.
Haruskah Byan menjawab baik, sementara ia sedang tidak baik-baik saja? Byan melanjutkan membaca surat itu, otaknya merefleksikan kalau Anggoro sedang duduk di depannya dengan gayanya yang kaku dan tegas.
“Byan, Papah sadar, semuanya tidak lagi sama setelah kita kehilangan Mamahmu yang pergi karena kesalahan Papah."
"Papah sungguh merasa bersalah karena telah melakukan kesalahan itu. Papah sadar, kalau sebuah permintaan maaf tidak akan bisa mengembalikan keutuhan hati kamu yang sudah Papah hancurkan. Tapi sungguh, Papah mohon maaf atas segala kesalahan Papah selama ini. Bukan hanya sebagai seorang suami dari Mamahmu, tapi juga sebagai seorang ayah yang telah gagal membahagiakan dan membanggakan putranya. Papah sungguh menyesal Byan….”
Di paragraph berikutnya tulisan Anggoro mulai goyah. Tidak sama dengan paragraph pertama walau karakter tarikan tangannya masih sama. Bisa Byan bayangkan kalau saat itu mungkin Anggoro sedang menahan rasa sakit atau rasa tidak nyaman, tapi bersikukuh melanjutkan pesannya.
__ADS_1
“Entah kapan kamu bersedia membaca surat ini. Entah seperti apa kondisi kamu saat melihat tulisan ini. Tapi yang jelas, sudah pasti Papah tidak ada lagi di dunia ini. Papah sudah menempuh perjalanan panjang untuk menemui Mamahmu dan meminta maaf padanya. Papah akan mengakui kalau selamanya, hanya Mamahmu yang menjadi satu-satunya istri buat Papah”
“Byan, kamu dan Mamahmu adalah dua harta Papah yang tidak pernah bisa dinilai dengan apapun. Kamu harapan terbesar Papah walau pada akhirnya Papah masih sangat egois karena meminta kamu untuk meneruskan apa yang Papah tinggalkan, meski kamu tidak menginginkannya.”
“Dengan segala kerendahan hati Papah memohon, tolong jaga Anggoro Corp untuk mereka yang masih bertahan di sana dan melakukan pekerjaannya sebaik yang mereka bisa. Jangan ulangi kesalahan Papah Byan, Papah pernah melakukan kesalahan besar karena mengingkari dan menyembunyikan sebuah kesalahan yang terjadi di Anggoro corp. Papah mengabaikan rasa sedih seseorang. Seorang anak yang saat ini menuntut pertanggungjawaban Papah atas kematian kedua orang tuanya.”
“Papah takut Byan, Papah takut jika anak itu tidak memaafkan Papah. Papah takut jika anak itu masih sangat membenci Papah. Papah juga takut jika kamu berhadapan dengan anak itu dan dia mengusik hidup kamu. Sungguh, Papah mencemaskan banyak hal.”
“Maureen, nama anak yang papah buat menjadi yatim piatu. Jika kamu kelak bisa berbicara baik-baik dengan dia, tolong sampaikan permintaan maaf Papah. Silakan kalau dia mau menuntut Anggoro corp tapi tolong jangan dihancurkan. Anggoro corp bukan hanya hidup Papah tapi hidup banyak orang.”
“Maureen juga Papah tipu. Papah bilang kalau Papah menikahinya padahal Papah tidak pernah benar-benar menikahi dia. Papah hanya berusaha menebus kesalahan Papah dan melindunginya dari orang-orang yang mungkin akan sadar kalau mereka terancam dengan keberadaan gadis itu."
”Byan, kalau kamu berhadapan dengan Maureen, tolong jangan terlalu keras padanya. Karena walaupun dia terlihat kuat, hatinya terlampau rapuh. Tolong bantu papah untuk menjaga dia. Paling tidak, anggap dia sebagai keluarga. Jangan membencinya, karena Papah lah yang membuat dia menderita. Sejatinya, kemarahan Maureen terhadap keluarga kita adalah kesalahan Papah.”
“Nak, jaga dirimu baik-baik. Hiduplah dengan bahagia. Anggoro corp Papah dirikan karena Papah ingin memberi kebanggan untuk Mamahmu. Jadi, tolong jaga baik-baik.”
“Dan satu hal yang ingin Papah tegaskan, Papah sangat menyayangimu. Tolong maafkan Papah.”
Air mata Byan lolos menetes begitu saja di atas secarik kertas yang ia genggam dengan gemetar. Semakin lama tulisan Anggoro semakin tidak jelas karena ditulis dengan tangan gemetar. Entah berapa lama Anggoro bertahan setelah menulis surat ini hingga laki-laki itu menghembuskan nafasnya untuk terakhir kali. Rasanya, ia menyesal karena tidak ada disamping Anggoro saat laki-laki itu sendirian.
Benar yang pernah Maureen katakan di awal perjumpaan mereka, “Jangan merasa diri kalian keluarga dari Mas Anggoro karena pada saat ia membutuhkan kalian, kalian tidak ada didekatnya. Kalian membiarkannya sendirian dan kesepian dan sekarang kalian bersikap seolah kalian lah yang paling berhak atas apa yang dia wariskan. Apa kalian waras?”
Byan terisak, ia menangis sesegukan sambil memukul-mukul dadanya yang sesak. Ia bisa membayangkan bagaimana sakit dan takutnya Anggoro saat itu tapi tidak ada yang menemaninya selain Maureen. Bukankah ia seharusnya sangat berterima kasih pada wanita yang telah menjaga ayahnya dan menemaninya hingga menghembuskan nafas untuk terakhir kali?
Akh sial, Byan sangat menyesal. Andai Byan bisa mengulang waktu, ia tidak akan sekeras ini menghakimi seseorang terlebih darahnya mengalir di tubuh yang kekar lagi kokoh. Sayangnya, sebesar apapun penyesalan Byan, saat ini ia hanya bisa menyesali semuanya. Menyesali kesalahan yang pernah ia buat dan tidak pernah bisa ia perbaiki.
__ADS_1
****