Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Di tempat masing-masing


__ADS_3

Wiki, wajahnya sampai merah saat melihat sesuatu dari pantulan kaca ruangan Byan. Ia telah mengusik ungkapan tali kasih Byan dengan Maureen. Ia sudah mau keluar lagi dari ruangan Byan tapi sebuah suara tegas menghentikannya.


“Ehm! Ada apa?” Byan bersuara dengan keras.


“Mohon maaf, tuan. Saya mau mengabarkan, kalau direksi menunggu tuan di ruang rapat.” Wiki bersuara dengan takut-takut.


“Bawa berkas yang ada di Riswan, kita ketemu di ruang rapat sepuluh menit lagi,” titah Byan kemudian.


“Baik, tuan.” Wiki segera pergi dan menuruti perintah Byan.


“Kenapa sepuluh menit lagi? Gak kelamaan nyuruh mereka nunggu sepuluh menit?” tanya Maureen seraya mengusap bibir Byan yang memiliki noda lipstick miliknya.


“Gak masalah. Lagi pula aku harus menenangkan adikku dulu,” jawab Byan sambil mengusap sesuatu di bawah perutnya yang berdiri tegak.


“Astaga! Bisa-bisanya kamu kayak gitu pas di kantor.” Maureen segera mundur beberapa langkah menjauh dari Byan.


“Masalahnya bukan sedang dimana, tapi sama siapa. Harusnya kamu bertanggung jawab, Mo.” Byan dengan wajahnya yang pasrah. Kedua tangannya masih menutupi perut bawahnya.


“Ish dasar. Udah sana ke kamar mandi, siram badan dulu." Maureen segera keluar dari ruangannya dan meninggalkan Byan.


“Terus kamu mau kemana?” Byan dengan tatapanya yang nestapa, mengikuti arah gerak Maureen yang salah tingkah.


“Mau ketemu anak PA,” sahutnya seraya merapikan penampilannya di depan kaca.


“Oh iya, ini surat pengunduran diriku.” Maureen juga menaruh surat mengunduran dirinya di atas meja Byan lalu pergi begitu saja.

__ADS_1


“Astaga, ternyata seorang Maureen juga bisa gak bertanggung jawab begini,” keluh Byan.


Baru beberapa detik pintu ruangannya tertutup, sekarang terbuka lagi. Maureen menghampirinya.


“Awas kalau selama aku gak ada kamu jajan di luar. Aku giniin nanti!” Maureen dengan gerakan mematahkan pensil imajinernya di hadapan Byan.


“Astaga! Ya enggak lah. Kan udah aku bilang, dia bangun kalau lagi sama kamu doang.” Byan meringis ketakutan melihat ancaman Maureen.


“Terserah, pokoknya awas aja kalau kamu macam-macam.” Wanita itu masih mengomel sampai ke luar pintu yang kemudian di tutup.


“Bisa-bisanya adiknya bangun padahal cuma ciuman.” Sambil berjalan menjauh dari ruangan Byan, Maureen menggelengkan kepalanya tidak mengerti.


*****


Siang ini, dua orang itu memiliki agenda masing-masing. Byan rapat dengan direksi terkait gossip yang saat ini sedang berhembus. Sementara Maureen menemui teman-teman PA nya yang ada di ruangan khusus.


Byan juga memberitahukan kalau hari ini, Edwin sedang memenuhi panggilan dari pihak kepolisian terkait kasus proyek sembilan tahun lalu. Suasana yang semula tegang untuk Byan, sekarang berbalik arah menjadi tegang untuk orang-orang yang ada di ruangan ini. Suasana pun menjadi gaduh karena masing-masing tidak habis pikir dengan apa yang terjadi pada Edwin.


Byan bisa tersenyum lega. Kasus Edwin dan antek-anteknya yang korupsi ternyata menjadi trending pertama di ruangan ini di banding kasusnya dengan Maureen. Untuk beberapa saat Byan memang sengaja mengalihkan perhatian orang-orang diruangan ini sebelum ia siap untuk menjawab semua pertanyaan tentang ia dan Maureen.


Di ruang berbeda, Maureen di tatap sendu oleh enam orang PA.


“Kak Maureen beneran mau pergi?” tanya Melda setelah mendapat kabar pengunduran diri Maureen dari perusahaan.


Kabar ini memang cepat sekali tersebar. Padahal baru pagi tadi Maureen menyampaikan surat pemberitahuan ke direktur umum selain pada Byan sebagai direktur utama.

__ADS_1


“Iya. Aku resign dari sini.” Hanya itu jawaban Maureen seraya tersenyum kecil pada enam orang yang pernah menjadi rekan satu profesinya.


Melda segera mendekat dan memeluk Maureen dengan erat.


“Padahal aku belum mengucapkan terima kasih atas bantuan Kak Maureen karena udah bebasin aku dari laki-laki brengsek itu tapi kakak udah mau pergi aja.”


Melda menangis dalam pelukan Maureen. Setelah mendengar kabar kalau Edwin sedang dipanggil kepolisian, Melda benar-benar bisa bernafas lega. Seperti yang ia dengar dari Wiki kalau Edwin kemungkinan akan di tuntut dengan tuntutan kurungan delapan belas tahun. Waktu yang sangat lama dan pantas diterima oleh laki-laki itu.


“Aku yang harusnya berterima kasih sama kamu, Mel. Kamu udah banyak bantu aku. Aku pernah menempatkan kamu di posisi yang hampir membuat kamu terjebak tapi kamu dengan senang hati membantuku. Terima kasih ya.” Maureen mengusap-usap punggung Melda dengan lembut.


“Itu bukan apa-apa kak. Aku seneng bisa bantu kakak. Setelah kakak pergi, mungkin aku juga akan resign.” Melda terdengar putus asa.


“Kenapa?” Maureen melerai pelukannya dari Melda lantas menatap wajah sendu Melda.


“Aku gak mau jadi PA lagi kak, trauma aku. Lagi pula, aku gak gitu trampil sebagai PA. Mungkin sebaiknya aku nyari pekerjaan lain yang lebih kena dengan passionku.”


Maureen mengangguk paham. Pasti sangat berat posisi Melda selama ini.


“Aku memang pernah bilang sama Riswan, kalau kamu gak seharusnya jadi PA. Karena itu aku ngerekomendasiin kamu jadi tim auditor internal perusahaan ini. Karena aku pikir, kamu lebih mumpuni di bidang itu. Tapi kalau kamu merasa kamu gak bisa lagi kerja di sini, ya itu hak kamu. Aku gak bisa maksa.”


“Jadi auditor?” Melda langsung terlonjak. Maureen mengangguk mengiyakan.


“Kalau itu aku mau kak. Aku ngerasa jiwa detective ku terpanggil. Kalau jadi auditor, aku gak akan jadi resign.” Pikiran Melda berubah dengan cepat. Sepertinya Melda begitu menyukai pekerjaan seperti ini.


“Okey, kalau kamu mau. Nanti aku bilang Riswan. Aku harap, kamu bisa bantu perusahaan ini agar terhindar dari tikus-tikus nakal yang suka nyuri keju.”

__ADS_1


“Siap Kak, aku mau!” Melda langsung melakukan hormat singkat. Teman Melda yang lainnya ikut senang mendengar keputusan Melda untuk tidak keluar dari perusahaan ini.


****


__ADS_2