
“You okey?” tanya Wisnu yang baru datang setelah mendapatkan telepon dari Byan. Ia datang dengan tergesa-gesa setelah mendengar Byan menangis sesegukan saat menghubunginya. Saat ini pun Byan masih terduduk di salah satu sudut sofa sambil memegangi kaleng keempat dari minuman bersoda yang menemaninya.
Pria itu tidak menyahuti apapun, hanya melamun dengan tatapan kosong. Wisnu duduk di samping Byan yang menatap jauh keluar jendela sana. Kendaraan masih terlihat belalu lalang dan ada beberapa orang yang melintas dengan berjalan kaki.
“Lo liat apa sih? Emang di luar ada cewek cakep?” Wisnu ikut melihat keluar jendela sana. Tatapan Byan yang terlalu fokus membuat ia penasaran.
“Akh, itu sih emak-emak pulang arisan. Ngapain lo liatin?” decik Wisnu tidak habis pikir.
Byan tetap tidak menimpali. Hanya matanya saja yang berkedip lemah. Kehadiran sang sahabat, cukup bisa mengusir rasa sepi yang menyelimuti jiwanya.
“Lo pegang surat apaan sih?” Wisnu semakin penasaran. Ia mengambil surat itu dari tangan Byan dan Byan tidak menolaknya.
“Weh!! Sorry, sorry. Gue pikir suratnya boleh gue liat.” Wisnu segera mengembalikan surat itu ke atas pangkuan Byan saat tahu itu surat wasiat dari Anggoro. Lalu duduk dengan tegak di samping Byan dan sesekali melirik sahabatnya yang membisu. Byan tetap tidak memberikan respon, karena ia hanya ingin ditemani.
"Hemh, baru kali ini gue ngerasa pegel liat orang diem aja," keluh Wisnu yang kembali mengintip surat dari Anggoro.
“Bro, gue penasaran ini. Boleh gue liat kan, bro?” Pria berkulit coklat ini sudah tidak bisa lagi mengendalikan perasaannya..
Byan hanya menghembuskan nafasnya kasar, tidak ada penolakan.
“Diam berarti iya.” Wisnu memutuskan untuk mengambil kembali surat itu lalu membacanya. Entah berapa menit Wisnu membacanya, yang jelas sangat cepat. Mungkin karena ia membaca surat tanpa perasaan atau nilai calistungnya terlalu excellent.
“Noh, bokap lo bilang jangan musuhin Maureen. Anggap dia keluarga lo. Elo sih, pake bikin siasat buat dia segala. Kasian tau, anak orang. Mana cantik dan seksi lagi. Kenapa bokap lo gak nitipin dia ke gue aja sih?” Wisnu berbicara sendiri.
“Lo simpen baik-baik surat ini. Suatu saat yang kayak begini bakal jadi hal yang bikin emosional. Kalo lo lagi kangen, anggap aja lo lagi ngomong sama bokap lo. Kalo lo lagi kesel sama Maureen, anggap aja bokap lo yang ngingetin. Iya gak?”
“Dia mau pergi.” Akhirnya Byan bersuara.
“Siapa? Bokap lo kan emang udah pergi. Kenapa lo baru sadar?” aneh pikir Wisnu, untuk apa mencemaskan orang yang sudah jelas tidak ada di dunia ini.
“Maureen.” Nama itu yang disebut Byan dengan penuh perasaan.
“Hah, maksud lo Maureen mau pergi?” Wisnu langsung tersadar.
__ADS_1
Byan mengangguk lemah. Ia sudah tidak punya tenaga.
“Ya udah, bagus kan? Lo gak usah capek-capek mikirin cara nyingkirin dia. Dia pergi dengan sendirinya.”
“Mau kemana dia? Ke kutub utara apa selatan? Biar gue susul. Lo anteng-anteng aja, kan udah gak ada pengganggu di hidup lo. Lo nikmati hidup lo sebagai tuan muda kaya raya yang nanti banyak ceweknya. Sementara Maureen, hidup bahagia sama gue. Bah! Keren gak tuh? Kita semua happy ending.” Wisnu sampai bertepuk tangan karena girang.
Byan segera menoleh Wisnu dengan tatapan tajam.
“Kenapa lo?” Wisnu mengernyitkan dahinya dengan bingung. Kaget melihat sikap Byan.
“Gue gak mau dia pergiiiii….” Tiba-tiba Byan merengek manja sambil memeluk Wisnu.
“Dih dih dih, kenapa ini si any^^ng? Heh, geli Byan!” Wisnu berusaha melepaskan diri dari pelukan Byan. Bulu kuduknya mendadak meremang saat Byan berusaha masuk ke pelukannya.
“Akkhh, itu ingus lo brengsek! Lo pikir gue kabone? Eh kanebo! Sana lo, jangan mewek begini sama gue.” Wisnu mendorong-dorong kepala Byan agar menjauh. Tetapi Byan tidak melepaskannya. Pelukannya malah semakin erat dan ia menangis dengan sesungguhnya.
"Sejak kapan kanebo jadi lap ingus?" Byan masih tetap menyusutkan cairan hidungnya ke baju Wisnu.
"Sejak lo bertingkah menjijikan kayak gini. Ini baju mahal anj^^ng, gue beli di Singapore." Rasanya Wisnu ingin menangis, tidak terima bajunya dikotori Byan.
“Lo ngomong apaan sih?" Wisnu mendorong kepala Byan hingga mendongak.
"Ada yang aneh sama bac^tan lo. Lo suka sama emak tiri gak jadi, lo?” Wisnu menegakkan tubuh Byan dan menatap wajahnya yang merah serta penuh air mata.
Byan mengangguk. “Gue cinta sama dia. Gue gak bisa jauh-jauh dari dia. Apalagi semalem gue baru....“ Byan baru sadar dan urung melanjutkan kalimatnya.
“Brengsek lo anjir! Lo tidur sama dia?” Wisnu langsung meradang. Ia mendorong tubuh Byan menjauh sampai jatuh terlentang di sofa.
“Dia bilang, akkhh Byaan… mana tahan gue kalau sekarang harus jauh sama dia apalagi bayangin muka dia pas lagi...“
“Gak, dia gak boleh bilang akh di depan laki-laki lain selain gue!” Byan tiba-tiba panik dan gelisah. Ia berjalan mondar mandir sambil mengacak rambutnya sendiri.
BUG!
__ADS_1
Sebuah bogem mentah ditinjukan Wisnu pada sahabatnya hingga Byan jatuh terlentang di sofanya.
“Eling lo anjir!” seru Wisnu dengan kesal.
“Gue gak bisa eling. AARRGGHHHH gue gak bisaaa!!!!!” Byan berteriak di tempatnya sambil mengacak rambut hingga berantakan.
“Eh si Najis! Gila lo yak! Lo sadar gak sih kalau lo baru aja bikin gue patah hati? Harusnya gue yang gak terima dan teriak-teriak. Apalagi lo cerita habis akh akh akh sama dia. Sinting lo ya?! Sableng emang, gak ada eling-elingnya.” Wisnu mengomel kesal seorang diri.
“Ini gara-gara lo Nu, gara-gara lo ngutuk gue suka sama Maureen. Akhirnya Maureen bikin gue kayak orang gila. Lo yang brengsek!” Byan tetap menyalahkan Wisnu.
“Eh sialan lo emang. Udah nikung gue, sekarang nangis-nangis depan gue. Pake cerita habis begituan lagi. Temen sinting lo emang!” Wisnu mengomeli Byan dengan kesal.
"Bodo amat! Pokoknya gue cinta sama Maureen dan gak mau dia suka sama cowok lain." Pemuda kacau balau itu berujar dengan tegas.
"Hah, sialan lo emang!" Wisnu melempar bantal sofa pada sahabatnya dan laki-laki itu tidak bergeming. Duduk tegak di tempatnya.
Pada akhirnya mereka sama-sama terdiam dan sama-sama patah hati.
“Awas lo kalo sampe lo nyakitin dia. Gue bakalan embat dia langsung. Terus gue pamerin sama lo!” ancam Wisnu.
Byan tidak menimpali. Ia masih mengumpat tidak jelas karena memberi Maureen ide pergi ke Finlandia.
"Si Melda jomlo gak?" Sempat-sempatnya ia bertanya. Sepertinya pria bermata sipit ini memang pandai mencari peluang.
"Jomblo kali, tapi lo siap-siap aja dia agak oon. Gak pinter kayak Maureen gue." Masih saja Byan bertingkah sombong.
"Cewek cantik kan biasanya emang suka agak oon. Gak apa-apalah. Yang penting dia ada di sini gak kayak Maureen yang pergi ninggalin lo. Rasain! Makanya jangan pamer!" Puas sekali Wisnu meledek Byan.
"Nanti juga dia balik. Kalo gak balik gue susul." Byan sudah bertekad.
Wisnu hanya tersenyum mendengar ocehan sahabatnya. "Brengsek lo emang!" Satu sikutan diterima dari Wisnu.
Laki-laki itu pasrah rubuh dan terlentang di sofa.
__ADS_1
****