Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Frekuensi yang sama


__ADS_3

Hari ini perban di kaki Byan mulai di lepas. Satu bulan sudah kaki itu diperlakukan lebih istimewa di banding kaki satunya. Walau belum seratus persen pulih tapi Byan sudah bisa berjalan dengan normal tanpa perlu menggunakan alat bantu gerak.


Ia bisa menapakkan kakinya dengan sempurna tanpa ada perasaan was-was. Hanya saja ia belum boleh menggunakan kaki itu secara berlebihan semisal untuk bermain bola.


“Coba lo cewek, apalagi Maureen, pasti gue godain,” ledek Wisnu yang hari ini mengantar Byan ke dokter.


“Dih, godain apa?” Byan menatap Wisnu dengan tidak mengerti. Ucapan Wisnu terkadang memang absurb. Padahal sahabatnya sedang meringis kesakitan.


“Gini.” Wisnu mendekat pada seorrang perawat perempuan yang menjadi assistant dokter Faisal.


“Kakinya sakit gak dek?” Wisnu bertanya pada perawat tersebut.


“Nggak,” perawat itu tersipu malu.


“Bisa jalan?”


“Bisa.”


“Yuk kapan?!” imbuhnya dengan muka tengil.


“Hahahaaha…" Dokter Faisal yang lebih dulu tertawa melihat tingkah Wisnu sementara perawat itu tersipu malu dengan wajah yang merona.


“Maaf ya dok, mau jadi pelawak tapi gak kesampean dia,” ucap Byan sambil menggaruk keningnya yang sebenarnya tidak gatal. Memalukan saja pikirnya.


“Haahahha… lucu kok lucu. Lumayan itu, trend anak sekarang.” Dokter Faisal berusaha membesarkan hati Wisnu.


“Loh, dokter tau kalau ini lagi ngetrend?” Wisnu jadi penasaran.


“Tau dong. Saya kan up to date kalau masalah yang kayak gini. Liat di aplikasi ini kan?” dokter Faisal menunjukkan layar ponselnya yang memuat sebuah aplikasi hiburan yang sedang hype saat ini.


“Lah, iyaa. Saya kira dokter gak liat begituan.” Berganti Wisnu yang menggaruk kepalanya gatal.


“Udah lucunya setengah, basi lagi,” ledek Byan, pelan namun masih bisa di dengar oleh tiga orang lainnya.


“Yeee, namanya juga usaha. Masalah hasil ya gimana entar. Daripada diem mulu kagak ada usaha?” Wisnu menyenggol lengan Byan dengan sengaja.


Byan hanya mendengus karena ucapan Wisnu barusan seperti mengena di hatinya dan membuat pemilik hati yang patah itu tidak bisa berkata-kata.

__ADS_1


"Gue kan bukan gak usaha, justru ini tuh usaha terbaik gue." Ada yang tersindir rupanya.


“Hhaahaha... okey, saya izin sampaikan edukasi untuk kaki Anda ya, Tuan.” Dokter Faisal berusaha memecah keheningan beberapa saat ini.


“Silakan,” sahut Byan. Ini lebih baik di banding mendengarkan celotehan Wisnu yang tidak penting.


“Baik, untuk kondisi kakinya sudah membaik walau tetap saja belum boleh melakukan aktivitas berlebih. Kurangi resiko benturan pada kaki agar tulang kaki bisa menyambung dengan sempurna. Kalau kesandung cinta boleh,” goda dokter Faisal.


“Eh pak dokter sama priknya sama saya. Tapi dia lagi gak bisa digodain pak, lagi mode silent and waiting.” Wisnu menimpali. Ia berusaha menggoda sahabatnya yang sedang di fase itu. Lebih pendiam dan tidak banyak bicara.


“Hahhaaha… oh begitu yaa. Rupanya kita bisa bikin duet, duo prik.”


“Haahahahaha…” Dokter Faisal dan Wisnu sama-sama tertawa. Sepertinya frekuensi candaan mereka sama.


Tapi Byan hanya terdiam dengan pikiran bingung. Entah di mana letak lucunya pembicaraan kedua orang ini.


“Baik, saya teruskan yaa….” sambungnya lagi.


“Ini ada suplemen untuk Anda. Diminum sehari sekali, di pagi hari setelah makan. Fungsi adalah untuk mempercepat penyembuhan kaki Anda. Tapi pastikan Anda banyak minum karena efek sampingnya, sisa metabolismenya bisa mengendap di ginjal. Jadi berhati-hatilah,” pesan dokter Faisal.


“Baik dok,” sahut Byan.


“Ya.”


Byan menjabat tangan dokter Faisal yang terulur. Berdo’a saja semoga Ia tidak bertemu lagi dengan dokter ini dalam artian kondisinya benar-benar sehat.


Sekembali dari dokter Faisal, Byan memutuskan untuk pulang ke gallery. Setelah pulang dari project pembangunan beberapa minggu lalu, Byan memilih untuk sering pulang ke gallery-nya. Ia melakukan banyak hal di sini dan Wisnu dengan setia menemaninya. Semua ini ia lakukan demi menghindari pertemuan yang menyesakkan dengan Maureen.


Maureen, wanita yang hingga detik ini masih selalu membuat jantungnya berdebar kencang karena perasaannya yang tidak pernah bisa ia tahan. Hanya ini cara satu-satunya yang bisa ia lakukan untuk membuatnya seolah tidak peduli pada Maureen. Yaitu menghindar dan pura-pura tidak memiliki perasaan apapun pada wanita itu.


“Lo kenapa sih?” tanya Wisnu tiba-tiba. Ia melihat Byan lebih pendiam di banding sebelumnya. Seperti banyak hal yang coba ia tahan dan sembunyikan.


Sekedar informasi, saat ini mereka masih berada dalam perjalanan menuju gallery. Wisnu yang menyetir dan Byan duduk di kursi penumpang.


“Gak kenapa-kenapa.” Byan mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Memandangi kendaraan yang melaju pelan di lajur kiri. Seperti pikirannya yang sering kali melambat, terfokus hanya pada Maureen.


“Gak kenapa-kenapa apanya? Hampir sebulan ini sikap lo banyak berubah By. Gue rasa sih bukan karena masalah kerjaan, tapi masalah hati.” Wisnu sedikit berbisik di ujung kalimatnya.

__ADS_1


Byan tidak menimpali tapi hembusan nafasnya yang berat seolah menegaskan kalau ia sedang tidak baik-baik saja.


“Menurut lo, gimana kalau gue balik lagi ke Amerika?” tanya Byan tiba-tiba.


“Hah, gimana?” nyaris saja Wisnu menginjak pedal rem dalam-dalam.


Byan mengusap kepalanya yang selalu pening lalu membentur-benturkannya pada jok yang ia sandari.


“Lo kayaknya perlu curhat ya? Kita nyari café dulu lah.” Wisnu membanting stir ke kiri dan mempercepat laju kendaraannya menuju café terdekat.


Mereka mengambil tempat yang cukup private dan tidak terlalu banyak orang berlalu lalang. Wisnu mengerti kalau sahabatnya sedang butuh privacy.


“Jadi gimana?” tanya Wisnu setelah minuman pesanan mereka di antar. Ia sudah tidak sabar mendengar cerita sahabatnya.


“Gue pikir, apa sebaiknya gue balik lagi ke Amerika?” Byan bertanya pada Wisnu dan pada dirinya sendiri.


“Alasannya?” Wisnu menuntut jawaban.


“Jangan bilang lo lagi dijodohin ke salah satu perempuan sama oma dan om lo.” Sambung Wisnu lagi dengan cepat. Biasanya hal seperti ini yang membuat penerus satu-satunya dari keluarga kaya dan masih lajang.


Byan menggeleng. Ia mengambil segelas minuman lalu meneguknya perlahan.


“Masalah perempuan?” ini dugaan Wisnu yang kedua. Ia tidak terlalu sabar menunggu respon Byan yang dirasa terlalu lama.


Hembusan nafas kesal kembali terdengar yang berarti membenarkan tebakannya.


“Perempuan mana yang bikin lo sampe segalau ini dan mikir buat balik ke Amerika? Bukannya lo punya alasan kuat kenapa lo mau balik lagi ke sini?”


Pertanyaan Wisnu berikutnya membuat Byan lebih galau. Byan masih belum menimpali. Ia malah memilih memesan minuman beralkohol untuk menghilangkan rasa sakit di kepalanya. Ia minum beberapa teguk hingga kepalanya terasa pusing dan berat.


“Gue cinta sama dia tapi prinsip dia terlalu kuat. Padahal gue juga tau kalau dia juga punya perasaan yang sama buat gue.” Satu kalimat itu lolos terucap dari mulut Byan yang setengah mabuk.


“Siapa?” Wisnu semakin penasaran. Karena selama ini Byan belum pernah membicarakan masalah perempuan.


Byan hanya tersenyum kecil lalu terkekeh. Lisannya nyaris saja menyebut nama itu tapi saat melihat Wisnu yang menatapnya penasaran, logikanya seperti menahan mulutnya untuk berbicara. Akhirnya ia hanya menggeleng dan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Bibirnya tersenyum tapi hatinya menangis.


“Mabok lo kayak waktu gue patah hati sama Maureen. Lo yang sabar, gue tau itu berat.” Wisnu menepuk-nepuk lengan Byan untuk menyemangati sahabatnya. Tanpa ia tahu bahwa wanita yang membuat Byan seperti ini adalah wanita yang sama, Maureen.

__ADS_1


****


__ADS_2