Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Anak tiri lucknut


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju kantor, Byan dan Maureen masih membahas masalah pekerjaan. Mereka akan melakukan pertemuan dengan investor yang berniat menarik investasinya dari perusahaan. Pertemuan di jadwalkan sebelum makan siang, sehingga masih ada waktu beberapa jam untuk mengajarkan Byan cara berbicara dengan investor itu.


Riswan yang mengemudikan mobil, ikut menyimak pembicaraan tuan dan nyonyanya.


“Apa mereka gak akan nyari tau, berapa kerugian kita?” pertanyaan Byan ini menjadi kegelisahannya sepanjang malam.


Semakin ia memahami penjelasan Maureen, semakin banyak ketakutan yang muncul dipikirannya.


“Ya, mereka mungkin akan mencari tahu, tapi kan data valid tetap ada di kita. Sekalipun mereka tahu, mungkin hanya untuk konsumsi mereka saja tapi tidak menjadi pertimbangan mereka. Karena yang mereka perlu tahu hanya, berapa keuntungan dan kerugian yang akan mereka dapatkan kalau memilih pergi atau mempertahankan kerjasama dengan kita.” Sahut Maureen.


“Investasi mereka, akan mendanai project konservasi pulau yang akan kita buat menjadi destinasi wisata. Seperti halnya Maldives, kita akan membuat tempat wisata yang berkelas.


"Konsep dari pulau ini mirip dengan pengembangan project pulau di Korea hanya saja kita akan melibatkan warga lokal yang sudah kita lokalisir dan mereka akan membuka pasar untuk memenuhi kebutuhan kita dan wisatawan yang datang.”


“Beberapa wisatawan yang jatuh cinta pada pesona pulau itu mungkin akan tertarik untuk menetap di sana dan kita akan menentukan, mana unit yang for sale dan mana yang rent only.” Tegas Maureen.


“Okey, aku paham. Kalau kita menyoroti point ini, akan membuat mereka melihat keuntungan investasi yang lebih besar, bukan begitu?” Byan menunjuk satu angka yang dilingkari Maureen.


“Exactly! Seperti itu cara kerjanya.” Maureen sampai menjentikkan jari melihat Byan begitu memahami penjelasannya.


Sepertinya trah darah bisnis Anggoro memang mengalir deras di tubuh putra semata wayangnya. Hal ini yang membuat Byan begitu cepat mencerna penjelasan Maureen.


Keduanya bisa bernafas lega, sepertinya mereka siap dengan pertemuan siang ini.

__ADS_1


Byantara Ethan Anggoro, name desk itu kini terpajang di atas meja direktur utama. Ada beberapa tumpukan berkas yang harus Byan setujui dan pelajari. Sebagai bonus, Maureen juga menyiapkan secangkir kopi untuk menemani Byan bekerja.


“Kamu biasa makan kudapan apa?” tanya Maureen dengan sebuah tab di tangannya.


“Kudapan? Aku tidak pernah mengatur kudapan.” Sahut Byan apa adanya.


“Aku hanya tau, harus ada kopi dan rokok untuk menemaniku melukis. Itu saja.” Imbuhnya.


“Kalau begitu, kamu harus mengubah kebiasaanmu. Kamu harus makan tepat waktu dengan menu yang beragam dan ada waktu untuk snacking. Itu sangat diperlukan karena kamu akan memikirkan banyak hal dan itu menguras energi.” Maureen mencatat beberapa hal di tabnya.


“Maksudmu, aku harus berhenti merokok?” Byan mulai tidak terima. Ini salah satu kebiasaan yang menyenangkan untuknya.


“Iyaa, itu kebiasaan tidak sehat, Byan.” Tegas Maureen.


“Kita akan menggantinya dengan aktifitas lain.” Sahut Maureen dengan cepat.


“Kita? Aktifitas lain?” tanya Byan dengan senyum tertahan dan dahi terkerut. Ia juga menunjuk Maureen dan dirinya bergantian. Entah mengapa ada hal bodoh yang melintas di pikirannya. Kalian tahu?


“Pikirmu aktivitas lain itu apa?!” Maureen memukul berkas di hadapan Byan hingga bosnya itu terlonjak kaget.


“Bukan apa-apa.” Byan segera memalingkan wajahnya.


“Ya apalagi aktivitas yang dilakukan bersama-sama untuk mengurai rasa asam di mulut.” Batin Byan yang masih berusaha mengendalikan isi kepalanya yang travelling.

__ADS_1


“Permen, aku akan menyiapkan permen untukmu. Perment mint bisa membantu kamu untuk mengurangi rasa asam dimulut karena kebiasaan merokok.”


“Selain itu, kamu juga harus mengatur pola makanmu. Nanti malam, kamu akan bertemu dengan dokter Faisal. Dia akan memeriksa kondisi kesehatanmu. Kalau perlu ada medical check up, sebaiknya kamu mengikutinya. Pola hidupmu yang sebelumnya sangatlah tidak sehat.”


Pada kalimat terakhirnya, Maureen memelankan suaranya. Ia jadi teringat pada Anggoro yang meninggal dunia karena melewatkan medical check up terakhirnya. Mendiang suaminya itu terlalu exciting menyusun setiap detail pernikahannya dengan Maureen, hingga ia mengabaikan kesehatannya sendiri.


“Ya, kamu atur saja jadwalnya. Aku akan mengikuti.” Byan langsung setuju.


“Okey. Ada beberapa pemeriksaan yang mungkin harus mengambil darah. Kamu tidak takut jarum kan?” selidik Maureen. Biasanya yang sok jago seperti Byan ini, memiliki ketakutan yang tidak penting.


“Ngapain takut, jarum kecil doang. Aku punya jarum yang lebih besar.” Timpal si anak tiri mencandai ibunya.


“PLAK!” satu pukulan di daratkan Maureen di lengan kiri Byan.


“Astaga! Kamu memukulku. Apa salahku, aku menjawab apa adanya.” Kilah Byan sambil mengusap lengannya yang di pukul keras oleh Maureen.


Tapi Maureen tidak menjawab, ia lebih memilih pergi setelah mengacungkan jari tengahnya pada Byan.


“Hahahaha… lagian dia serius mulu. Dasar ibu tiri strike!” Byan terkekeh melihat tingkah Maureen.


“Dasar anak tiri lucknut.”  Gumam Maureen di balik pintu sana. Ia sudah malas meladeni Byan yang mulai keluar gilanya. Lebih baik ke pantry dan membuat secangkir teh untuk meredakan stressnya.


“Akh, kepalaku sangat pusing melihat tingkah anak itu.” Gerutu Maureen.

__ADS_1


****


__ADS_2