
Mengakhiri panggilan dari Maureen seperti mengakhiri sebuah pertemuan. Ada ketakutan di hati Byan kalau mungkin ia tidak akan bertemu lagi dengan ibu tirinya.
Kenapa harus ada perasaan seperti ini? Bukankah sejak awal ia menginginkan Maureen pergi dari Anggoro corp? Bukankah harusnya ia senang karena pada akhirnya ia bisa mengungguli Maureen dan membuatnya menyerah?
Harusnya ia merasa bahagia dan lega tapi nyatanya ia malah merasa takut dan gelisah.
“Permisi, Tuan. Dokter Faisal sudah datang. Beliau akan memeriksa kondisi kaki Tuan.” Suara Riswan membuyarkan pikiran Byan.
“Oh ya, suruh temui aku di kamar,” sahut Byan kemudian.
“Baik, Tuan.” Riswan pergi memanggilkan dokter Faisal sementara Byan pergi ke kamarnya.
Ia berusaha turun dari kursi roda, bertumpu pada satu kakinya saja lalu bergerak sedikit demi sedikit ke tengah kasur, seperti yang pernah diajarkan Maureen.
Ia menunggu beberapa saat sambil memandangi canvas putih yang rasanya ingin ia gambari.
“Selamat malam, Tuan muda.” Suara khas milik dokter Faisal terdengar di mulut pintu.
“Malam dok, dilakan masuk.” Byan menegakkan tubuhnya, menyambut kedatangan dokter itu.
“Terima kasih. Gimana nih kabarnya sekarang, apa kakinya masih terasa sangat sakit atau ada kesemutan?” dokter Faisal duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Byan.
“Sakitnya sesekali saja, gak ada kesemutan sama sekali. Ada sedikit saja rasa gatal. Tapi sepertinya sudah membaik setelah tadi kaki saya minum kopi.”
Byan melirik kesal pada Melda yang berdiri di samping Riswan. Gadis itu tidak berani mengangkat wajahnya sedikitpun saat sadar telah membuat gips Byan basah gara-gara kopi yang ia tumpahkan.
“Hahahahaha … kalau sudah bisa bercanda seperti ini sih, sepertinya sudah sembuh ya.” Dokter Faisal berkomentar.
Byan hanya tersenyum kecut karena menurutnya tingkah Melda tidaklah lucu, melainkan mengesalkan.
“Apa ada obat yang bisa membuat saya bisa segera berlari?” tantang Byan dengan kesal. Kondisinya yang seperti ini benar-benar menyiksa.
“Memangnya Tuan muda mau lari kemana?” pelan-pelan dokter Faisal membuka perban Byan dan melihat gipsnya. Khawatir air kopi itu masuk ke dalam celah gips.
“Ya, kemana saja. Saya merasa sangat terikat.” Byan dengan sikapnya yang skeptis.
“Izin saya periksa dulu yaa, mungkin saya harus membuka dulu gipsnya.”
“Silakan,” Byan menimpali dengan dingin.
Ia memperhatikan dokter Faisal yang melakukan pekerjaannya. Membuka gips sedikit demi sedikit dengan berbagai alat. Semakin lama kaki Byan terlihat semakin jelas. Kakinya berwarna kemerahan seperti iritasi.
__ADS_1
“Anda punya alergi, Tuan?” Dokter Faisal memperhatikan kaki Byan yang kemerahan dan sedikit bengkak.
“Ya, saya alergi seafood.” Sahutan Byan terdengar tegas, membuat Melda semakin menundukkan kepalanya.
“Kalau terhadap zat-zat tertentu? Selain makanan tentunya.”
“Saya kurang tau,”
Dokter Faisal mengangguk paham.
“Saya coba bebat kaki tuan dengan elastic perban dulu yaa, karena sepertinya kulit tuan cukup sensitive terhadap bahan gips. Tapi tolong tetap minimalisir pergerakan di jari ini. Usahakan agar posisinya terganjal dengan baik. Lusa, kita akan coba rontgen ulang, semoga penyembuhannya cepat,” terang dokter Faisal.
“Baik dok, terima kasih.”
Kaki Byan mulai di bungkus elastic perban. Rasanya lebih nyaman di banding memakai gips yang terkadang terasa gatal tapi tidak bisa ia garuk. Paling tidak, jari kaki yang lainnya masih bisa bergerak.
Selesai pemeriksaan, Byan kembali beristirahat. Ia pergi ke taman belakang untuk membuat lukisan.
“Untuk sementara, jangan ganggu Tuan muda. Kamu boleh pulang dulu. Kalau perlu apa-apa, nanti saya hubungi,” ujar Riswan pada Melda. Sepanjang hari ini, entah sudah berapa kali gadis ini menangis. Sepertinya Meldapun butuh menyegarkan dirinya agar lebih siap menghadapi Byan esok hari.
Cat air sudah berada di dekat Byan dan kuas mulai ia goreskan di atas permukaan canvas. Entah gambar apa yang dibuat Byan karena belum ada bentuk yang jelas. Tapi, dengan melukis, Byan terlihat lebih tenang dan stabil emosinya. Sepertinya ini istirahat terbaik untuknya.
“Anda mau kopi, Tuan?” tanya Riswan yang berdiri di belakang Byan.
Riswan mengangguk patuh sebelum kemudian pergi meninggalkan Tuan mudanya.
Suasana malam yang sepi, membuat Byan benar-benar merasa sendirian. Hanya warna-warna di paletnya yang menemaninya saat ini. Lampu taman yang menyala indah juga membantu ia membuat lukisan.
Semakin lama, lukisan Byan semakin berpola. Kalau diperhatikan dengan seksama, lukisan abstrak itu menggambarkan sebuah wajah. Ya, wajah yang sedang dirindukan Byan.
Ia tersenyum kecil melihat wajah itu. Ia jadi teringat perbincangan siang tadi dengan Maureen. Tepatya perbincangan yang seperti menjadi kalimat perpisahan untuk mereka.
Hati Byan, terasa gamang. Untuk mengusir rasa gundah, ia mengambil ponselnya dan mencari nama Maureen. Bukan pesan text yang ia kirimkan, melainkan pesan suara.
“Kamu lagi dimana? Apa udah tidur?” pesan suara itu dikirim Byan pada Maureen.
Ia menunggu beberapa saat sampai Maureen mendengarkan pesannya dan berharap membalasnya. Baru beberapa detik ia mengirimkan pesan suara itu tapi rasanya sudah sangat lama. Ia sampai berpikir kalau Maureen mungkin marah.
Notifikasi pesan masuk yang terdengar membuat Byan terhenyak, ia sangat yakin kalau Maureen yang membalas pesannya.
Benar bukan, saat Byan melihat layar ponselnya, senyumannya langsung terbit.
__ADS_1
“Aku sedang makan malam di luar.” Maureen membalas pesannya, tidak hanya dengan tulisan tapi juga dengan sebuah gambar tepi pantai yang berkilauan karena cahaya lampu.
“Pemandangannya bagus. Apa makananya enak?” Byan penasaran. Pesan suara itu Kembali ia kirimkan.
“Enak, tapi kamu gak akan suka karena ini makanan laut.” Maureen membalasnya sambil tersenyum membuat Dita ikut memperhatikannya.
Setelah membalas pesan, Maureen melanjutkan makan tapi tidak selahap tadi.
“Apa itu tuan muda?” penasaran rasanya kalau tidak bertanya.
Maureen mengangguk. “Dia lagi gabut,” sahut Maureen yang berusaha menyembunyikan senyumnya dihadapan Dita.
“Kakak yakin dia lagi gabut?” Dita balik bertanya. Dari pesan suara yang samar ia dengar, rasanya pria itu bukan gabut. Karena orang gabut tidak ada yang suaranya mendalam seperti itu.
“Ya. Selain gabut dia juga manja. Udah kepala tiga tapi masih suka merengek.” Maureen menaruh kembali sendoknya dan meneguk minumannya. Perutnya mendadak kenyang setelah berbalas pesan dengan Byan.
“Aku rasa, dia bukan gabut. Tapi, dia kangen sama kakak.” Dita berujar dengan usil, ia bahkan tersenyum meledek pada Maureen.
“Mana ada! Aku ibu tirinya, Ta. Gak ada anak tiri yang kangen sama ibu tirinya. Yang ada juga sebel dan gedek.” Maureen menimpali dengan penuh percaya diri.
Dita hendak menimpali tapi keburu ada pesan masuk dari Byan dan di dengar oleh keduanya.
“Apa alergi seafood bisa sembuh? Aku juga mau makan seafood di tepi pantai seperti itu? Sepertinya menyenangkan apalagi kalau ada yang nemenin.”
“Aku disini sendirian. Walaupun bukan seafood yang aku makan, tapi aku merasa kalau tenggorokanku bengkak dan mulai sesak.”
Setelah kalimat itu, Maureen dan Dita saling menoleh. Dita tersenyum penuh arti tapi Maureen segera memalingkan wajahnya yang bersemu kemerahan.
“Itu terlalu special untuk disebut sebagai perhatian seorang anak tiri,” komentar Dita yang membuat Maureen menahan senyumnya. Entah mengapa jantungnya harus berdebar kencang setelah mendengar penuturan Byan beberapa saat lalu.
Maureen tidak lantas menjawab. Ia memilih beranjak dan membawa minuman yang belum ia habiskan.
“Kamu mau ikut?” tawar Maureen sambil menujuk dengan sudut matanya, orang-orang yang sedang berpesta di tepi pantai. Mereka asyik menari di bawah alunan musik rege.
“Kuys, gas!”
Dita langsung bersemangat. Ia mengikat rambutnya tinggi-tingi, menunjukkan leharnya yang jenjang. Lantas melempar jaket yang semula ia pakai dan berjalan melenggak-lenggok menuju tepi pantai.
Sementara Maureen masih dengan tampilan sebelumnya, cukup tertutup karena menggunakan outer dan rambutnya dibiarkan tergerai. Ia tidak terbiasa membiarkan orang lain melihat lehernya utuh, terkecuali satu orang yang pernah melihatnya, yaitu Byan.
****
__ADS_1