Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Usaha di pagi hari


__ADS_3

Canggung, perasaan itu yang saat ini Maureen rasakan. Ia memang tidak ingin memikirkan ucapan Byan kemarin malam, tapi keharusan ia bertemu dengan Byan dan mengurus semua kebutuhan laki-laki itu membuat Maureen mengingat lagi ucapan Byan yang menurutnya menggelitik.


Bayangkan saja, dia bilang kalau dia menyukai Maureen.


“Yang bener aja. Gila kali tuh anak.” Umpat ibu tiri dengan kesal.


Mau tidak peduli tapi kalimat itu jelas dikatakan oleh Byan dan hasilnya saat ini Maureen merasa sangat canggung.


Ia berjalan mondar mandir di depan kamarnya, mengecek ponselnya beberapa kali. Semakin siang, tapi Byan belum mengiriminya pesan. Apa dia bisa mengurus dirinya sendiri?


“Akh, kenapa aku jadi frustasi gini?” Maureen bertanya pada dirinya sendiri.


Dulu saat ia kuliah, banyak sekali laki-laki yang mengejarnya. Tapi Maureen tidak ambil pusing. Ia bebas untuk mengungkapkan penolakannya tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Tapi sekarang, keharusan bertemu Byan setiap hari membuat Maureen tidak bisa dengan mudah mengungkapkan perasaannya. Ia sulit untuk bersikap biasa-biasa saja karena ungkapan Byan semalam terlalu emosional dan terasa menyentuh hatinya.


“Astaga Maureeeeeennnnn, kenapa kamu harus segelisah ini?” Maureen terduduk beberapa saat di atas sofanya sambil menangkup wajahnya. Ia masih berusaha untuk mengendalikan perasaan dan sikapnya agar terkesan biasa saja.


“Tring!” sebuah pesan masuk menyadarkan Maureen dari keterpakuannya.


Cepat-cepat ia mengecek pesannya karena ia pikir mungkin pengirimnya adalah Byan. Sayangnya, prediksinya meleset. Melda lah yang mengirimkan pesan adanya.


“Pagi kak Maureen, ini Melda.” Maureen menghembuskan nafasnya lega.


Saat berkirim pesan pribadi, Melda memang memanggilnya kakak karena ia adalah adik kelas Maureen saat kuliah. Panggilannya akan berbeda saat mereka bertemu di kantor.


“Aku mau nginfoin, hari ini tuan Edwin mau ketemu tuan muda, katanya ada yang harus di bahas. Agenda tuan muda kosong jam berapa kak? Aku minta tag waktu yaa ….” Dua kalimat itu yang disampaikan Melda pada Maureen.


Maureen tidak lantas membalas pesan Melda, ia terebih dahulu mengecek agenda Byan di tabletnya. Ada satu rapat yang harus dihadiri Byan, sisanya mengejar deadline ajuan project yang harus ia setujui.


“Tuan muda ada rapat pagi ini. Aku agendakan setelah makan siang ya Mel,” balas Maureen.


“Siap kak, makasih banyak. Nanti aku infoin ke tuan Edwin.”


Maureen membalasnya dengan lambang jempol, emot yang beberapa waktu lalu sering dikirimkan Wisnu padanya.

__ADS_1


Benar saja, pada akhirnya Maureen memang harus bisa bersikap professional. Ia memutuskan untuk menemui Byan di kamarnya, khawatir pria itu belum bersiap dan malah kesiangan.


Tiga ketukan terdengar di pintu kamar Byan. Pria itu masih memandangi isi lemarinya yang mendadak penuh pagi ini.


“Saya, Maureen.” Ucap Maureen di depan pintu.


“Masuklah,” Byan menimpali. Ia masih memikirkan baju mana yang harus ia kenakan pagi ini.


Bayangan Maureen pun terlihat di mulut pintu. Ia mengangguk sopan pada Byan yang menolehnya sejenak.


“Aku ada rapat penting kan, pagi ini?” tanpa di diga Byan langsung bertanya tentang pekerjaan.


“Benar, agendanya jam sembilan pagi dengan pihak kontraktor pembangunan perumahan elite.” Terang Maureen dengan lugas.


Ia pun berusaha menyesuaikan dirinya karena sepertinya Byan sudah tidak ingin membahas masalah semalam. Anggap saja ia melantur karena kelelahan.


“Biar saya bantu,” Maureen mendekat pada Byan dan berdiri di depan lemari. Ia memilih kemeja, celana dan jas juga dasi yang cocok untuk Byan kenakan.


“Rapatnya di area pembangunan jadi sebaiknya Anda mengenakan pakaian yang nyaman dan mudah menyerap keringat.” Maureen menggantung satu stel baju untuk Byan di luar lemari.


“Silakan pakai dulu bajunya.” Maureen memberikan kemeja pada Byan untuk dikenakan. Pria itu sudah memakai kaos dalam, berbeda dengan kemarin yang masih bertelanjang dada. Sepertinya ia pun mencoba mengendalikan sikapnya dihadapan Maureen.


Pria bertubuh jangkung itu masuk ke ruang ganti dengan membawa kemeja dan celana kerjanya sementara jasnya masih ada di tangan Maureen, tengah ia beri parfum.


Tidak lama sampai kemudian Byan keluar dan menunjukkan penampilannya yang segar.


Maureen kembali mendekat, menghampiri Byan untuk memakaikan dasi. Ia sedikit berjinjit untuk menyesuaikan tinggi badannya dengan Byan. Tinggi tubuh mereka yang cukup jauh membuat Hells Maureen tidak cukup untuk mengimbangi tinggi Byan. Dengan sedikit berjinjit wanita bermata coklat itu cukup bisa menyesuaikan tingginya.


Dasi dikalungkan dan dibuat simpul dengan cepat. Tidak banyak perbincangan dan Byan lebih memilih melihat ke arah lain. Bukan hanya Maureen yang merasa canggung, pria ini pun sama.


Berganti jas yang dipakaikan Maureen lalu ia rapikan.


“Siang ini tuan Edwin mau bertemu Anda. Sepertinya ada yag hendak beliau bicarakan. Saya sudah mengatur janji selepas jam makan siang di kantor.” Ucap Maureen.


Tidak lupa ia memakaikan jam tangan di tangan kiri Byan.

__ADS_1


“Persiapkan materi tentang pembangunan resort di Bali, ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan sama om Edwin.” Timpal Byan sekali lalu mengambil sisir dan merapikan rambutnya yang masih setengah kering.


“Baik. Sarapan Anda sudah siap, Anda bisa segera turun.” Tandas Maureen yang kemudian mengangguk sopan dan keluar lebih dulu dari kamar Byan.


“Astagaaaa, pembicaraan macam apa ini?” gerutu Byan yang tidak suka dengan kondisi ini.


****


Baik sarapan ataupun perjalanan menuju kantor, semuanya hening. Riswan sampai memperhatikan dua orang itu dari kaca spion tengahnya. Entah apa yang terjadi pada ibu dan anak tiri ini hingga mereka memilih menyibukkan dirinya masing-masing.


Maureen mencari-cari kesibukan dengan tab-nya sementara Byan menonton film kartu jepang dengan suaranya yang cukup keras. Dua orang itu saling lirik saat gadis di film jepang itu menangis. Suaranya terdengar tidak pantas untuk didengar bersama-sama seperti ini.


Cepat-cepat Byan mempercepat adegan menangis itu dan menonton bagian yang lain agar tidak mengganggu fokus Riswan dan Maureen.


Tiba di kantor, mereka langsung menuju ruang kerja Direktur Utama. Sang PA menyiapkan materi sementara Direktur Utama mempelajari dokumen yang harus ia setujui.


“Tuntutan apa yang para kontraktor minta saat ini?” tiba-tiba saja Byan bertanya.


Maureen segera mengambil beberapa berkas dan menaruhnya di meja Byan.


“Mereka meminta agar GL dikeluarkan periodic. Sepertinya bahan bangunan yang terus meroket naik membuat mereka kesulitan untuk mendapat suntikan dana. Saya sudah menghubungi direktur keuangan dan ada sekitar delapan persen yang bisa dicairkan lebih awal oleh para kontraktor. Dengan catatan, kualitas bahan bangunan harus sama dengan yang mereka sebutkan dalam perjanjian kerjasama.”


“Kita akan memeriksanya secara langsung, itu alasan mengapa saya menyarankan agar meeting dilakukan di area pembangunan.” Tutur Maureen dengan rinci. Ia juga menunjukkan angka yang tadi ia sebutkan sesuai arahan dari direktur keuangan.


“Iya, kita bisa memberikan nilai ini untuk mereka. Aku juga gak mau project ini terhenti di tengah jalan. Aku takut kalau kita tidak memenuhi permintaan kita, bangunannya malah dibikin miring seperti Menara pisa.” Ledek Byan, sambil mengingatkan Maureen akan ledekannya sebelumnya.


Maureen tercenung beberapa saat, ia sadar benar kalau yang diulang Byan adalah kalimatnya tempo hari. Ia ingin tertawa tapi kemudian menahannya. Ia tidak ingin tebing pemisah antara profesionalitas dan pribadi yang sudah ia bangun, malah kembali luruh hancur.


“Baik tuan.” Hanya itu sahutan Maureen yang membuat Byan gagal tertawa.


“Akh, menyebalkan!” dengus Byan dalam hati.


*****


__ADS_1


__ADS_2