Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Bahagianya Maureen


__ADS_3

“Kayaknya kamu seneng banget?” Byan bertanya saat melihat Maureen yang sedari tadi tidak henti tersenyum. Wajahnya tampak begitu bahagia tanpa Byan tahu alasannya.


“Gak apa-apa.” Maureen memalingkan wajahnya dari Byan dan senyuman itu tetap terlihat.


“Ehm!” Maureen juga berdehem untuk meminimalisir perasaan yang membuncah saat ini.


“Aku melihatnya Maureen. Apa kamu sangat senang karena akan pergi ke luar negeri dan meninggalkanku?” Byan menaruh sendok dan garpu di tangannya. Selera makannya mendadak hilang karena melihat Maureen begitu senang. Ia sangat terganggu dengan cara Maureen yang senyum-senyum sendiri itu. Seperti dunianya lebih mengasyikan tanpa Byan.


“Mana mungkin aku gak seneng. Aku mau healing ke luar negeri. Udah gratis, gak usah mikirin kerja, belum lagi tempat yang mau aku datangi pun sangat indah. Aku pasti kerasan tinggal di sana. Iya kan?” cicit Maureen seraya mencondongkan tubuhnya dan tersenyum. Mata kanannya berkedip genit pada Byan.


Sejujurnya yang membuat wanita cantik ini sangat senang adalah karena ia bisa menyelesaikan satu per satu masalah yang dihadapinya. Semua terasa melegakan, lebih menyenangkan dibanding membayangkan akan pergi ke luar negeri. Akan tetapi, sekali ini saja ia ingin menggoda Byan, mengetahui perasaan Byan yang sebenarnya.


“Astaga.”


Byan mendengkus kesal. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Selera makannya sudah benar-benar hilang padahal harusnya ini menjadi makan siang yang menyenangkan untuk pasangan kekasih ini. Ia pernah tidak tahu, kapan lagi mereka bisa makan bersama? Delapan bulan kah? Membayangkan waktu sepanjang itu, sudah membuat Byan benar-benar kesal.


“Jangan berangkat besok. Undur saja satu minggu lagi.” Byan berucap dengan kesal. Ia meneguk minumannya lalu menaruh gelasnya dengan kasar di atas meja.


“Dih, apaan. Orang Riswan udah beli tiketnya. Dia ngasih aku maskapai dan kelas penerbangan terbaik. Kata Riswan perjalanan dua puluh empat jam itu lama, jadi semuanya harus nyaman supaya aku bisa menikmati perjalananku. Akh, aku udah gak sabar.” Maureen ikut menaruh sendok dan garpunya lalu menopang dagunya dengan tangan kanan sambil membayangkan perjalanan menyenangkan itu.


Byan tidak menimpali. Ia mengambil ponselnya lalu menghubungi Riswan.

__ADS_1


“Jam berapa penerbangan Maureen?” Byan bertanya sambil tetap menatap Maureen. Maureen segera mencondongkan tubuhnya ke arah Byan, menunjukkan rasa ingin tahunya. Dengan matanya yang bulat dan penuh binar ia menatap Byan penasaran. Byan sampai memalingkan wajahnya karena kesal dengan ekspresi itu. Ralat, dengan alasan Maureen berekspresi seperti itu.


“Kenapa sepagi itu? Apa gak ada penerbangan yang agak siangan?” protes Byan saat Riswan menjawab jam sepuluh pagi.


“Ya sudah.” Byan berujar dengan kesal saat mendengar Riswan mengatakan kalau penerbangan besok hanya ada satu penerbangan. Hah, Byan tidak punya pilihan lain selain menyetujui keberangkatan Maureen.


“Gimana? Jam berapa besok aku akan berangkat?” Maureen masih menunggu kabar menyenangkan itu dari Byan.


Byan tidak langsung menjawab, melainkan meneguk kembali minumnya sampai benar-benar habis. Ia perlu menenangkan dirinya.


“Astagaaaa, mau jawab aja lama banget. Mending aku nelpon Riswan.” Maureen mengeluh sendiri. Seorang Maureen yang sat set sat set, tidak terbiasa dengan seorang Byan yang banyak berpikir.


“Waah, ternyata Riswan udah ngirim tiketnya. Penerbangan jam sepuluh pagi. Berarti aku harus berangkat dari rumah jam delapanan. Ya, jam delapan.”


“Ya supaya gak macet. Kamu kan tau itu jam kerja orang-orang. Daripada kena macet, ya lebih baik aku nungggu di bandara. Bisa sarapan dulu di sana.” Maureen terlihat begitu bersemangat dan itu menyebalkan untuk Byan. Ia mulai menyesal merekomendasikan Finlandia sebagai negara tujuan kekasihnya. Harusnya yang dekat saja, semisal Bogor. Kalau dia rindu kan bisa lebih mudah.


“Kamu benar-benar semangat Mo? Kamu gak lupa kan kalau kamu mau ninggalin aku?” wajah Baby By terlihat sendu.


“Iyaa, aku gak lupa. Kan tadi kamu sendiri yang bilang kalau kamu mau ngasih aku waktu. Delapan bulan malah. Itu kamu sendiri loh yang bilang, bukan aku. Aku yakin, delapan bulan itu waktu yang sangat cukup untuk kita membenahi diri kita masing-masing. Mungkin saja dengan berkenalan dengan orang-orang baru, banyak pemahaman baru yang masuk ke kepalaku.” Wanita cantik itu sudah membayangkan banyak hal yang akan ia lakukan nanti, di negri orang sana.


“Maksudnya berkenalan dengan orang-orang baru gimana? Siapa yang mau kamu ajak berkenalan?” Byan mulai waspada. Padahal tadi pagi ia sangat dewasa menasihati Maureen tapi sekarang, nyalinya menciut saat kekasihnya mengatakan kalau ia akan berkenalan dengan banyak orang. Apa didalamnya termasuk kaum adam?

__ADS_1


“Ya penduduk setempat lah. Aku baca di artikel online, penduduk asli Finlandia disebut Suomalaiset, secara genetic dan budaya mereka adalah suku Nordik. Orang Finlandia itu sangat menghargai egalitarianism. Bahasa mereka netral gender dan cenderung tidak terobsesi dengan gelar dan lebih suka merendah. Orang Finlandia juga dikenal pendiam dan sopan tetapi mereka juga orang yang hangat dan tulus. Waah, ini sangat cocok buat aku. Aku yakin, dalam satu dua hari aku bisa berkenalan dengan banyak orang, baik laki-laki ataupun perempuan.” Gambaran suasana di sana dengan begitu menyenangkan dibenak wanita muda ini.


“Perempuan saja, jangan kenalan sama laki-laki.” Byan langsung mengultimatum.


“Dih, mana boleh pilih-pilih gender? Kalau mau hidup bahagia itu, jangan suka pilih-pilih temen. Setiap orang itu bisa memberi masukan positif buat kita. Lagi pula aku kan terbiasa dengan banyak laki-laki disekitarku dan selama ini aman-aman aja tuh. Cuma kamu doang yang bikin aku kelewatan.” Bibir merah itu mengerucut kesal dengan alasan yang ia buat masuk akal.


Byan tidak menimpali, ia hanya memandangi Maureen. Jujur, ia sangat cemburu dengan semua isi pikiran yang ada dikepala kekasihnya. Andai ia bisa meralat kata-katanya dan mengatakan bahwa ia tidak ingin wanitanya pergi sejauh itu apalagi dengan waktu yang cukup lama. Akan tetapi, melihat Maureen yang begitu bersemangat membuat Byan tidak tega melarangnya. Mungkin saja benar yang dikatakan Maureen kalau perpisahan sementara mereka bisa semakin menguatkan hubungan mereka dan membuat mereka semakin dewasa.


Lalu bagaimana dengan para laki-laki yang mungkin akan mendekati Maureen? Bisakah ia mengendalikan Maureen agar tidak memiliki perasaan pada laki-laki lain? Apalagi di luar negeri cara hidupnya bebas. Bagaimana kala....?


“Kok ngelamun? Udah makannya?” Suara lembut wanita bermata bulat itu menyadarkan Byan yang pikirannya sudah sampai di Finlandia lebih dulu.


“Udah.” Jawabannya terdengar lemah. Tentu saja makannya sudah selesai karena ia sudah tidak berselera.


“Ya udah, ayo kita ke kantor pengacara. Aku mau segera menyelesaikan semuanya.” Maureen sudah beranjak lebih dulu dengan sling bag yang ia sampirkan di bahu kanan. Wanita ini memang dominan otak kiri. Rasional dan tidak terlalu peka. Tidak peka dengan perasaan lelakinya yang remuk redam.


“Iya.” Byan terpaksa mengikuti maunya Maureen. Mereka berjalan bersisian dan tanpa ragu wanita cantik itu melingkarkan tangannya di lengan sang lelaki. Ia juga menyenderkan kepalanya di lengan kokoh itu.


“Tangan kamu nyaman, bikin betah. Aku pasti kangen,” cicit Maureen sambil tersenyum kecil.


Byan membalasnya dengan sebuah kecupan lembut di kepala Maureen, tapi setelah itu mulutnya terbuka lebar seolah ingin memakan kepala wanita ini.

__ADS_1


Argh! Laki-laki jangkung itu gemas sendiri. Hah, Byan terkadang memang semenakutkan itu.


****


__ADS_2