
“Pagi kak Maureen,” sapa sebuah suara yag tidak asing di telinga Maureen.
Maureen segera menoleh dan tersenyum pada personal assistant Edwin yang bernama Melda.
“Pagi Mel,” sahutnya.
“Kak Maureen tumben banget mampir ke sini.” Melda duduk di sofa yang menghadap pada Maureen. Saat ini mereka tengah berada di ruang personal Assistant.
Ruangan ini memang disedikan untuk para personal assistant yang ada di perusahaan. Biasanya mereka berbincang hangat di sini, saling bertukar informasi tentang jadwal kegiatan para pimpinanya atau sekedar untuk melepaskan penat karena lelah dengan pekerjaan. Ruangan ini lengkap, selain ada tempat tidur ukuran king size, ada mini pantry juga ada toilet, loker dan lemari yang aman untuk menyimpan barang-barang mereka.
Tapi sayangnya, padatnya pekerjaan para personal assistant membuat mereka jarang punya waktu untuk berkumpul bersama. Komunikasi mereka lebih sering lewat ponsel di banding bertemu langsung. Hanya sesekali saja mereka bertemu tanpa sengaja seperti ini.
“Iya, ada yang harus aku ambil.” Maureen mencari sesuatu di dalam lokernya, sebuah flashdisk tepatnya.
“Gimana kabar pak bos, aku denger kejadian kemaren dramatis banget. Tim kuasa hukum mau nuntut kontraktor soal kelalaian. Benera gak sih kak?”
Melda beranjak menuju pantry kecil yang ada di ruangan itu. Sekedar untuk membuatkan teh untuk Maureen. Sudah lama mereka tidak berbincang akrab.
“Iya, tuntutan itu dari pengembang. Tapi tuan muda melarangnya. Dia berpikir kalau dia gak kenapa-napa juga. Lagian kalau nantinya ada proses hukum, yang ada malah bakal ngehambat pembangunan. Kita harus nyari kontraktor baru dan semuanya di mulai dari ol lagi. Jadi setelah mereka menyampaikan permohonan maaf secara resmi, tuan muda udah gak memperpanjang masalah itu lagi.” Terang Maureen.
Untuk beberapa saat ia ikut duduk di sofa, sepertinya ia perlu merehatkan dirinya dan berbincang dengan Melda.
Memang seakrab ini dua gadis PA andalan perusahaan. Dengan latar belakang satu almamater yang sama, membuat mereka cukup dekat. Mungkin itu yang membuat Melda begitu percaya pada Maureen.
“Iya sih, aku setuju. Tapi kakak tau gak, kemaren tuh banyak yang ketar ketir tau.” Melda berpindah duduk ke samping Maureen.
“Ketar ketir apa?” Maureen jadi ikut penasaran. Rupanya ada gossip yang tidak ia ketahui di perusahaan ini.
__ADS_1
“Nih, kemaren mas Ilyas ngedit video CCTV waktu kakak sama pak Bos di area kontruksi. Sama dia di edit pake slow motion dan di kasih sound lagu korea. Terus sama dia di upload ke group kan. Liat deh, hasilnya aesthetic dan bikin baper.”
Melda menunjukkan sebuah video pada Maureen. Video saat Byan berusaha melindungi Maureen yang hampir terkena pintu yang roboh.
Pengedit sengaja memperbesar bagian video yang menangkap ekspresi Byan dan Maureen saat mereka bertatapan dan Byan memeluk Maureen dengan tujuan melindunginya.
“Aaaakkkk, bikin baper kan kak? Kak Maureen gugup gak sih kemaren di peluk gini sama pak bos ganteng?” mata Melda benar-benar antusias menunggu respon Maureen yang kebingungan.
“Baper apanya, yang ada bahu aku sakit kena ujung pintu yang ambruk.” Aku Maureen dengan sesungguhnya.
“Hahahahaha … aduk kasian.” Melda mengusap-usap bahu Maureen dengan lembut.
“Tapi beneran loh kak, banyak staf cowok yang baper liat video ini. Aneh banget kan. Staf cewek juga ada sih yang baper ngebayangin mereka jadi kak Maureen yang dipeluk sama big bos kita."
"Tapi bapernya staf cowok lebih parah, mereka sampe bilang di group, makin susah aja katanya deketin kakak kalau udah kayak gini.” Melda menyenggol lengan Maureen dengan tujuan menggodanya.
“Cieee gugup!” Melda menggodanya lagi. Maureen lupa kalau ia sudah mengajarkan adik kelasnya respon orang saat gugup dan tersudut. Ya persis seperti yang dilakukan Maureen saat ini.
“Gak usah lebay, aku sama pak bos gak ada hubungan apa-apa. Murni kerjaan. Lagian dia anak tiri aku.” Maureen mengingatkan Melda dan dirinya pada status ia dan Byan.
“Iya, kata mas Ilyas dan temen-temennya, nanti ada reborn-nya sangkuriang dan dayang sumbi. Ya itu, kak Maureen sama pak bos. Hahahahaha ….” Puas sekali Melda tertawa meledek seniornya.
“Jangan ngaco kamu.” Maureen hanya mendelik kesal dengan senyum tertahan.
“Iya, iyaa… tapi ngomong-ngomong, kak Maureen emang gak ada niatan nyari cowok gitu? Di kantor ini kan banyak high quality jomblo. Direktur IT aja masih jomblo dan katanya pernah ngirim bunga ya, waktu valentine tahun lalu?” lagi Melda menyenggol lengan Maureen dengan sengaja.
“Tau dari mana kamu?” Maureen menatap Melda tidak mengerti.
__ADS_1
“Ya tau lah. Orang PA nya yang beliin bunga sama coklat buat kakak terus dia upload di group. Tujuannya sih buat bikin sadar para staf kalau saingan mereka itu seorang direktur IT. Katanya hp mereka bisa di retas kalau berani macam-macam sama kak Maureen. Di kabarkan sampe sekarang dia masih nungguin kakak.”
“Kakak gak tau kan?”
Melda menatap Maureen dengan serius.
Maureen menggeleng, ternyata banyak hal dan banyak sudut pandang orang yang ia tidak tahu di belakang sana. Mungkin karena ia terlalu fokus dengan pekerjaan sehingga jarang memikirkan beriak emosi yang terjadi di kantor ini.
“Makanya, suruh siapa keluar dari group, jadi gak tau update terbaru kan? Kakak juga gak tau kalau masih banyak pejantan yang ngincer kakak setelah bos kita sebelumnya wafat. Gak tau berapa orang yang patah hati waktu tau kakak nikah sama pak bos. Dan sekarang, malah ada bos baru yang bikin baper juga. Mana ganteng dan keren lagi. Makin susah deh mereka yang mau deketin kakak.” Melda menuntaskan kalimatnya di akhiri dengan senyuman.
“Kalian ada-ada aja. Jangan kebiasaan gosipin hal yang kayak gitu. Nanti kalau orangnya tau, bisa gak enak lo. Apalagi kalau yang tahunya pak bos kita.” Maureen berpesan.
Ia jadi mengingat bagaimana dulu Anggoro yang berreaksi tegas pada setiap laki-laki yang mendekati Maureen. Hal itu juga yang membuat Maureen keluar dari group itu, karena Anggoro membaca beberapa pesan yang membahas tentang Maureen. Termasuk gossip kalau Maureen menggoda Anggoro. Riswan lah yang saat itu kerepotan meredam semua gossip yang ada di perusahaan ini.
Kisah cinta direktur utama dengan personal assistantnya yang menggemparkan perusahaan dan berlangsung cukup lama.
“Tapi, kalau semisal ada yang deketin kakak lagi, kakak mau gak? Sekarang kan kakak udah sendiri.” Selidik Melda. Ia sengaja bertanya karena ada banyak titipan dari para pejantan yang ingin mendekati Maureen.
“Aku gak lagi mikirin itu Mel, nggak dulu untuk sekarang.” Jawaban Maureen terdengar tegas.
“Sampe kapan? Kakak masih berkabung?” Melda semakin penasaran.
Maureen tidak lantas menjawab. Ia malah memainkan gelas di tangannya, menangkup sisinya dan membuat telapak tangannya hangat.
Sampai kapan? Ia pun tidak pernah tahu.
Mungkin sampai apa yang harus ia selesaikan di perusahaan ini benar-benar selesai dan ia bisa pergi dengan tenang, meninggalkan semua kesibukan dan kepenatan yang tidak pernah ia duga akan sememuakkan ini.
__ADS_1
****