Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Brangkas apa group?


__ADS_3

Ini adalah kali pertama Byan masuk dan menggunakan ruang kerja Anggoro untuk ia bekerja. Meeting yang dilaksanakan secara virtual, membuat Byan harus berada di tempat yang representative.


Maureen sudah menyiapkan semuanya. Sebuah laptop yang menyala dan link aplikasi yang sudah terhubung dengan orang-orang yang mengikuti meeting dari kantor. Juga materi rapat yang sudah disiapkan dan tinggal share screen saja dengan orang-orang yang mengikuti rapat kali ini.


Kursi kebesaran Anggoro di ruang kerjanya, terlihat layak untuk di duduki oleh Byan. Sementara Maureen duduk di sampingnya, siap untuk mencatat apa saja yang dibahas selama rapat. Riswan yang saat ini berperan sebagai moderator dan mengatur lalu lintas rapat virtual.


Sejak dimulai, rapat ini berjalan santai. Departemen humas sebagai presenter, mulai memaparkan materi yang harus mereka sampaikan.


“Pembangunan ruko di area perumahan sudah selesai di bangun. Kami akan memulai proses pemasaran sesuai rencana kerja kami sebelumnya. Berikut adalah jadwal promosi dan media yang kami gunakan untuk mengiklankan project ini.”


Kepala departemen promosi menampilkan halaman materi yang menunjukkan langkah strategis yang akan digunakan untuk mempromosikan produk mereka. Media-media yang digunakan memang sesuai dengan trend zaman di era digital.


“Tolong putar contoh pemasaran lewat content video di media sosial,” pinta Byan.


“Baik tuan.” Kepala departemen memutar video yang akan mereka iklankan.


Byan menyimak betul isi video yang berdurasi sekitar lima belas detik itu dan membuat tertarik. Ada beberapa video yang durasinya lebih panjang dan detail. Menurutnya detail dan mudah dipahami.


“Okey, apa video ini di upload menggunakan akun media sosial milik perusahaan?” Byan semakin penasaran dengan cara kerjanya.


“Benar tuan,”


“Okey. Saya punya masukan. Untuk videonya, kita coba di pasarkan tidak hanya melalui akun milik perusahaan. Video yang durasinya pendek, bisa di publish di akun milik semua staf tentunya yang berhubungan dengan perusahaan. Misal di status aplikasi messanger para karyawan.”


“Karena setiap orang di perusahaan ini pasti memiliki circle pertemanan atau kekerabatan di luar sana, jadi supaya promisinya aktif, selama satu minggu masa promosi, semua staf ikut mempromosikan,” urai Byan dengan terperinci.


Kepala departemen itu mengangguk paham, begituppun dengan Riswan sang moderator.


“Ada masukan?” Byan bertanya pada Maureen yang duduk di sampingnya.


“Tidak, langkah Anda sudah tepat,” sahut Maureen.


Harus ia akui kalau Byan mulai memahami ritme pekerjaan di perusahaannya. Pemikirannya juga adaptive dengan perkembangan zaman dan teknologi saat ini.


“Baik tuan, kami akan coba merealisasikan masukkan tuan.” Kepala departemen itu mengangguk patuh pada Byan.


Byan tersenyum bangga karena buah pemikirannya bisa membantu perkembangan perusahaan.


Proses diskusi pada meeting kali ini tidak terlalu lama. Masing-masing sudah memahami tujuan promosi yang akan dilakukan. Mereka hanya bisa berharap agar ruko yang akan dipasarkan bisa laku dengan cepat.

__ADS_1


Rapat selama satu jam, berjalan dengan lancar. Saat Maureen memereskan semuanya, Byan baru memperhatikan kondisi ruangan ini. Ruangannya sangat luas juga rapi, mencerminkan kepribadian Anggoro yang tidak menyukai ruangan yang sempit dan terlalu padat.


Sembilan tahun lalu, sebelum Byan pergi keluar negeri, ruangan ini tidak selengkap sekarang. Dinding ruanganpun polos dan tidak ada wallpaper yang menjadi penghias ruangan. Semuanya terlihat lebih berkelas dan Byan yakin ini hasil karya tangan Maureen.


Meskipun demikian, foto-foto yang menghiasi dinding tidak ada yang berubah. Foto Anggoro masih tetap menjadi foto dominan di ruangan ini. Ada juga foto Byan muda dengan kedua orang tuanya yang lengkap dan tentu saja foto Anggoro beserta Ruwina, Edwin dan mendiang kakek Byan, saat mereka masih muda.


Yang tidak terpasang adalah foto pernikahan Maureen dengan Anggoro. Maureen memang tidak memajangnya karena ia merasa tidak perlu. Pernikahan mereka hanya dua hari. Tidak ada kesan yang harus mereka simpan dan diabadikan.


“Ada yang kamu perlukan?” tanya Maureen saat melihat Byan hanya mematung, memperhatikan seisi ruangan.


Byan menggeleng. Dengan kursi rodanya ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Rak buku menjadi sudut yang Byan hampiri, ia mengambil satu buku yang sejak dulu diam-diam ia baca.


“Mau kopi atau teh?” Maureen merasa itu cocok untuk menemani Byan.


“Kopi.” Byan menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku yang ada di tangannya.


Maureen segera pergi ke dapur untuk membuatkan kopi untuk Byan. Ia juga merasa kalau Byan perlu waktu untuk menjalin kedekatan dengan ruangan ini.


Meninggalkan Byan seorang diri, Maureen memilih pergi untuk membuat minuman. Para pelayan baru selesai menghabiskan mie ayam yang dibelikan Maureen.


“Nyonya, terima kasih mie ayamnya. Sangat enak,” ungkap salah satu pelayan saat melihat kedatangan Maureen ke dapur.


“Sama-sama. Syukurlah kalau kalian menikmatinya,” timpal Maureen. Ia mengambil sebuah cangkir untuk membuat kopi.


“Tidak perlu, kalian lanjutkan saja pekerjaan kalian.”


“Baik, Nyonya.”


Sambil membuat kopi, Maureen tampak melamun. Sebenarnya bukan hanya Byan yang merasa ada kenangan tersendiri dengan ruang kerja Anggoro, Maureen pun sama. Ia masih mengingat saat Anggoro tiba-tiba mengambil satu bundle dokumen yang ada di tangannya lalu menukarnya dengan selembar kertas.


“Jangan kamu hancurkan, aku bisa memberi penawaran yang lebih baik untukmu,” ujar Anggoro kala itu.


Ia mengambil dokumen yang ada di tangan Maureen dan segera memasukkannya ke dalam brangkas. Lalu menguncinya hingga saat ini. Kalau mengingat dokumen itu, perasaan Maureen jadi sesak sendiri. Ia belum selesai membaca semua isi dokumen itu tapi Anggoro sudah lebih dulu merebutnya. Andai ada kesempatan, Maureen ingin membaca dokumen itu hingga tuntas.


Dokumen yang memberi ia pilihan untuk mengubah takdirnya atau menggali rasa sakitnya di masa lalu.


Brangkas itu juga yang saat ini di pandangi Byan. Ia sudah bertanya pada Riswan, apa passcode kunci brangkas ini tapi Riswan mengatakan tidak tahu. Jujur, Byan tidak percaya sepenuhnya kalau Riswan tidak mengetahui apapun. Keberadaannya yang tidak pernah diusik oleh siapapun termasuk Ruwina dan Edwin juga statusnya sebagai orang kepercayaan Anggoro pasti memegang kunci atas banyak hal . Pria ini tentu memiliki rahasia yang ia simpan dan membuatnya aman berada di manapun.


“Apa saja isi brangkas ini?” setelah tidak memberitahu passcodenya, kali ini pertanyaan Byan berubah. Mungkin saja ia memiliki peluang untuk mengetahui rahasia kelam Anggoro satu per satu.

__ADS_1


“Hanya tuan Anggoro yang mengetahuinya, Tuan.” Jawaban yang sama yang Riswan berikan untuk pertanyaan yang berbeda.


Sepertinya pria ini memang memilih bungkam dan tidak mengungkapkan apapun.


Byan menatap Riswan beberapa saat sambil berpikir, apa yang bisa ia lakukan untuk membuat Riswan berbicara? Ia yakin, sekalipun ia memaksa, Riswan tidak akan bicara begitu saja.


Di tengah usahanya untuk membuat Riswa berbicara, Byan melihat layar ponsel Maureen yang sering sekali menyala, menunjukkan notifikasi. Maureen memang tidak menderingkannya tapi layarnya yang begitu sering menyala, membuat Byan penasaran untuk mengeceknya.


Ia mengambil ponsel itu dan memandangi layarnya. Ada sebuah group yang diikuti Maureen dan memiliki notifikasi pesan lebih dari seribu, yang belum di baca. Beberapa pesan terakhir yang terbaca oleh Byan adalah,


“Maureen kemana yaa? Kok gak ada komen?” tulis satu orang yang lansung menghilang tertipa tulisan lain.


“Dia bilang Y aja gue udah bahagia,” timpal pesan lainnya.


“Maureen, Moo.. Mo jalan gak sama gue?” ada satu orang yang begitu berani menulis kalimat ajakan itu di group.


“Cieee … cieee….”


“Berani lo anjir.”


“Gue bilangin sama bos lo kalau lo pengkhianat bangsa.”


“Siap-siap hp lo di hack direktur IT.”


“Hahahahaha … mudur lo, saingan lo berat.”


Dan masih banyak chat lainnya yang terbaca oleh Byan dan membuat matanya melotot. Alih-alih penasaran dengan isi brangkas, Byan lebih penasaran dengan perbincangan di group staf ini. Ia segera menoleh Riswan dan menatapnya dengan tajam.


“Kamu gabung di group staf?” tanya Byan dengan serius.


“Mohon maaf, group staf apa tuan?” Riswan bingung sendiri.


Byan tidak menjawab, ia hanya menunjukkan layar ponsel Maureen yang terus menyala.


“Alamak….” Batin Riswan. Kenapa Maureen harus masuk ke group itu lagi?


Apa ia harus mengulang apa yang ia lakukan empat bulan lalu? Melakukan sweeping fans pada siapapun yang membicarakan nyonya mudanya.


Jangan sampai itu terjadi lagi.

__ADS_1


****



__ADS_2