Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Ronda


__ADS_3

“NYONYAAA!!!”


Seorang pelayan berteriak histeris saat melihat Maureen jatuh ke dalam kolam lalu tenggelam. Ia berlari terbirit-birit dari lantai dua menuju kolam renang karena merasa ada yang tidak beres dengan nyonya mudanya.


“Ada apa?” Riswan menghadang langkah pelayan itu di depan tangga. Ia dan Byan baru pulang setelah ada urusan di luar.


“Nyonya, Tuan. Nyonya muda sepertinya jatuh ke kolam renang.” Pelayan itu terihat panik.


“APA?!!!” Byan dan Riswan sama-sama berseru kaget.


Tanpa menunggu lama, Byan segera berlari menuju taman belakang. Ia berlari dengan sangat cepat untuk melihat kondisi Maureen secara langsung.


Benar saja, tubuh Maureen tenggelam di kolam renang dengan kedalaman dua meter setengah. Ada gelembung udara yang keluar dan menunjukkan kalau Maureen sedang tenggelam.


Tanpa menunggu lama, Byan segera melompat ke dalam kolam dengan pakaiannya yang masih lengkap. Hanya jas saja yang ia lempar ke sembarang arah. Ia berenang mendekati Maureen yang tidak sadarkan diri. Dengan rasa panik yang membuncah ia segera membawa tubuh Maureen ke tepian. Mengangkatnya lalu membaringkannya di tepi kolam renang.


“Maureen! Hey, Maureen!” Byan menepuk-nepuk pipi Maureen yang pucat pasi tapi Maureen tidak bergeming.


Byan segera mengecek pernafasannya dan tidak terdengar suara nafas ataupun hembusannya yang keluar dari mulut dan hidung Maureen.


“SIAL!!” dengus byan yang semakin panik.


Ia segera melakukan resusitasi, menekan dada Maureen berulang kali lalu memberikan nafas buatan. Beberapa kali ini mengulang hal itu dan menunggu respon Maureen. Pelayan dan Riswan yang melihat hal itu ikut tegang dan cemas.


“UHUK! Uhuk!” Maureen terbatuk, ia memuntahkan semua air yang ada di mulutnya dan terdorong dari jalan nafasnya.


“Hah, syukurlah.” Tubuh Byan rasanya lemas setelah berhasil memberikan pertolongan pertama pada Maureen yang nyaris tenggelam. Perlahan wanita itu membuka matanya dan Byan segera membangunkannya lalu memeluknya.


“Syukurlah kamu baik-baik saja, Maureen.” Byan berbisik dengan lirih di telinga Maureen. Tapi wanita itu tidak menimpali. Tubuhnya menggigil dan lemas. Napasnya belum sepenuhnya lancar


“Tuan, sebaiknya nyonya muda segera di bawa ke kamarnya,” ucap Riswan yang baru bisa menghela napasnya lega setelah ketegangan tadi.


“Tolong siapkan bajunya,” pinta Byan. Ia menggendong tubuh Maureen dengan kedua tangannya lantas berjalan dengan cepat menuju kamar Maureen.


Tubuh mereka basah, namun Byan tidak memperdulikan itu. Ia hanya tahu kalau Maureen harus segera dipindahkan ke tempat yang lebih aman.


Maureen di baringkan di atas tempat tidurnya, ranjang dingin yang tidak pernah Maureen tempati selama ini. Byan memandangi wanita itu beberapa saat.


“Syukurlah, syukurlah, aku tidak terlambat.” Tanpa sadar Byan mencium kening Maureen dan menempatkan dahinya di dahi Maureen. Ia ingin merasakan hembusan napas Maureen yang menerpa wajahnya. Ia ingin memastikan kalau wanita ini masih bisa bertahan.


Riswan dan pelayan hanya memalingkan wajahnya saat melihat kejadian itu tepat di depan matanya. Mereka tidak bisa komentar, ralat, tidak berani komentar atas perasaan khawatir yang dirasakan tuan mudanya.


Satu pelayan membawakan pakaian Maureen, “Apa bajunya akan diganti sekarang Tuan?” tanya pelayan itu dengan polos membuat ia mendapat dua sikutan gratis dari Riswan dan kepala pelayan.

__ADS_1


“Iya, tolong ganti bajunya.” Rupanya Byan sudah tersadar kalau di kamar ini tidak hanya ada ia dan Maureen.


Byan beranjak dari tempatnya, membiarkan pelayan mengganti baju Maureen.


“Anda juga harus mengganti baju Anda, Tuan.” Riswan mengingatkan.


Byan tidak menjawab. Sambil keluar dari kamar Maureen, ia tetap memandangi wanita itu. Kecemasannya masih terlalu besar dan rasa penasarannya sangat tinggi. Maureen bisa berenang tapi mengapa ia bisa terjatuh ke kolam dalam kondisi tidak sadarkan diri?


“Periksa sekujur tubuhnya, pastikan apa ada yang terluka atau tidak.” Byan memberi perintah pada dua pelayan yang sudah bersiap membantu nyonya mudanya berganti pakaian.


“Baik, Tuan,” sahut keduanya patuh.


Pintu kamar pun di tutup setelah Byan keluar dari kamar Maureen. Ia sampai tidak sadar kalau ia masih mengenakan pakaian lengkap dengan sepatu yang masih terikat kuat. Sekujur tubuhnya basah dan setiap kali melangkah, butiran air jatuh dari tubuhnya.


Ia masuk ke dalam kamar, lalu mengganti bajunya dengan cepat. Setelah itu ia melampun di atas tempat tidurnya.


“Menurutmu, ada apa dengan Maureen? Kenapa emosinya tidak stabil belakangan ini?” Byan bertanya pada Riswan yang masih memegangi handuknya. Perasaannya benar-benar gundah melihat Maureen yang sangat berbeda dengan yang awal ia lihat.


Riswan terdiam, tidak berani berkomentar. Tentu ia tahu apa yang terjadi pada Maureen tapi ia tidak berani mengatakan apapun.


“Apa dia sedih? Putus asa? Atau apa? Kenapa dia begitu rapuh belakangan ini? Aku tidak lagi melihat Maureen yang rasional tapi emosional.” Byan masih dengan pertanyaan yang berkumpul di kepalanya.


“Sebaiknya, Tuan bertanya langsung. Mungkin saja nyonya muda pun perlu teman bicara.” Riswan hanya bisa menyarankan hal itu. Entahlah apa yang akan terjadi kemudian, ia tidak pernah tahu.


Byan tidak mengiyakan atau menolak ucapan Riswan, ia hanya perlu berpikir beberapa saat.


“Baik, Tuan.” Riswan mengangguk patuh pada permintaan tuan mudanya.


****


Di samping ranjang Maureen saat ini Byan berada. Sudah satu jam berlalu, Maureen belum juga bangun. Byan tidak lepas memegangi tangan Maureen yang masih dingin. Sambil memandangi wajah polos yang terlihat lebih cantik saat tanpa mengenakan make up. Ia seperti melihat Maureen yang sesungguhnya tanpa topeng apa pun.


Sesekali Byan meniupi tangan Maureen, memberikan hawa hangat ke telapak tangan yang dingin itu. Ia juga mengusap kepala Maureen dengan lembut. Ia merasakan kalau rambut Maureen masih basah. Maka ia berinisiatif untuk mengambil handuk kecil dan mengeringkan rambut Maureen pelan-pelan.


“Kamu bisa sakit kepala kalau rambutmu basah begini,” Byan bergumam sendiri.


Maureen tidak merespon, membuat Byan mendekatkan wajahnya untuk merasakan hembusan napas Maureen. Sebenarnya ia bisa menggunakan telujuknya untuk ia dekatkan ke hidung Maureen. Tapi merasakan napas Maureen yang berhembus hangat menerpa wajahnya, jauh lebih menyenangkan dan menenangkan.


“Kamu seperti sleeping beauty. Tidak apa, tidurlah selama kamu mau tapi nanti kamu harus bangun dalam keadaan yang lebih baik. Jangan membuatku cemas seperti ini.” Byan berbicara sendiri, seolah tengah menghibur hatinya yang kacau balau.


“Permisi Tuan, ini minuman hangat Anda.” Suara pelayan terdengar di mulut pintu.


“Ya, masuklah. Taruh di sini saja.” Byan menunjuk meja di samping rannjang Maureen.

__ADS_1


Pelayan itupun menuruti perintah Byan, sesekali ia melirik tangan Byan yang tidak lepas menggenggam tangan Maureen. Ia tersenyum dalam hati melihat perhatian besar yang Byan berikan pada Maureen.


“Kenapa?” tanya Byan, saat sadar pelayan itu terlalu lama di dekatnya.


“Oh, tidak Tuan. Saya hanya khawatir pada Nyonya muda, karena beliau belum juga bangun.” Pelayan itu tertunduk malu. Jantungnya ikut berdebar melihat genggaman erat Byan untuk nyonya mudanya.


“Dia akan bangun, kalian jangan khawatir. Kalian istirahat saja, aku yang akan merawatnya.” Byan berujar dengan sungguh.


“Baik, Tuan.” Pelayan itupun segera pergi.


Dia luar kamar sudah menunggu pelayan lain yang penasaran dengan cerita teman mereka.


“Gimana?” bisik satu pelayan yang penasaran.


“Iihhh gemess. Tuan muda megangin terus tangan Nyonya muda. Aku sampe deg-degan waktu beliau bilang, ‘Aku yang akan merawatnya.’” Pelayan itu mencontohkan sepenggal kalimat lengkap dengan suaranya yang dalam dan berat.


“Aahh ya ampunnn… kok aku yang baper yaa?” wajah pelayan lain sampai bersemu kemerahan mendengar cerita temannya.


“Iyaa, apalagi aku yang liat langsung. Udah kayak nonton serial romantis live loh. Bikin deg-degan.” Pelayan itu dengan ekspesif mengungkapkan perasaannya.


“EHEM!” suara Riswan terdengar dikejauhan. Mereka segera bubar dan kembali ke tempatnya masing-masing.


Tanpa mereka tahu, Riswan memang tidak berada jauh dari mereka. Ia mendengar semua semua obrolan berlebihan para pelayan. Rupanya diam-diam mereka memperhatikan. Benar adanya, ada dua hal yang tidak pernah bisa ditahan dan disembunyikan yaitu, bersin dan perasaan cinta. Seperti yang Byan tunjukkan saat ini.


Karena penasaran, Riswan pun ikut mengintip dari celah pintu. Ia melihat tuan mudanya mengambil minuman hangat lalu meneguknya. Akan tetapi, minuman itu tidak ia telan sepenuhnya melainkan ia merunduk, mendekat pada Maureen lalu mencium wanita cantik itu dan memberikan minuman melalui mulutnya pada Maureen.


Riswan sampai kaget dan menutup wajahnya beberapa saat. Ada saja tingkah tuan mudanya. Apa maksudnya coba, melakukan hal itu? Supaya Maureen tidak tersedak 'kah?


Benar saja, Maureen menelannya dengan mulus. Tidak kesulitan sama sekali. Byan melakukannya beberapa kali sampai ia merasa cukup.


Setelah itu, ia berpindah duduk ke atas ranjang persis di samping Maureen. Ia sedikit mengangkat tubuh Maureen lalu menyandarkannya di dadanya yang bidang. Lantas ia memeluk wanita itu dengan cukup erat.


Mungkin harapannya agar tubuh Maureen hangat.


“Astaga, sepertinya aku tidak akan bisa tidur malam ini. Aku harus berjaga di pintu ini.” Riswan berbicara sendiri. Ia khawatir tuan mudanya melewati batas.


Benar saja, Riswan mengambil kursi lalu terduduk di depan pintu kamar Maureen. Dari tempatnya, ia masih bisa melihat Byan dan Maureen. Ini salah satu pekerjaan beratnya malam ini, yaitu memperhatikan Byan dan Maureen.


Selamat ‘ngeronda’ Riswan, hati-hati darah tingginya kambuh lagi.


****


Aku ngebayangin kalau yang baca novel ini semuanya ngasih like, komen, subscribe apalagi gift dan vote, pasti rame banget, hehehhe...

__ADS_1


Yang setia baca dan ngasih dukungan, makasih banyakk 😘😘😘


Sehat selalu ya teman onlineku semuanyaaa, laaff yuuu ❤❤❤


__ADS_2