
Menerima, pada akhirnya hanya itu yang bisa Byan lakukan. Kenyataan kalau hari ini Maureen harus berangkat ke Finlandia, adalah sebuah keputusan yang memang harus ia terima. Sambil membiarkan Maureen membereskan barang-barang bawaannya, Byan masih tetap setia memeluki Maureen dari belakang.
Laki-laki itu tidak banyak bicara, hanya sesekali saja ia mengeratkan pelukannya dan mencium kepala Maureen lalu menempatkan kepalanya bersandar di kepala Maureen. Ia terlalu sedih dan merasa kehilangan atas keputusan besar yang sebenarnya sudah menjadi keputusan mereka berdua.
“By, aku ke toilet sebentar ya.” Wanita cantik itu menepuk tangan Byan yang melingar diperutnya, meminta untuk dilepaskan.
“Hem, jangan lama.” Jawaban laki-laki galau ini sangat lemah. Ia berikan sebuah kecupan terlebih dahulu di kepala Maureen sebelum melepaskannya beberapa saat.
“Okey.” Maureen menepuk pelan lengan kekasihnya sebelum ia pergi.
Selama kekasihnya pergi ke toilet, Byan terduduk di tepian tempat tidur. Mata bulat yang berkaca-kaca milik pria berwajah sendu itu, mengabsen setiap barang yang di bawa Maureen. Semuanya sudah sangat lengkap. Ia memandangi koper Maureen yang sudah penuh terisi barang-barang yang akan Maureen bawa. Ukurannya memang tidak terlalu besar, karena menurutnya beberapa barang mungkin bisa ia beli di sana.
Hah, perasaan Byan semakin sedih karena Maureen sudah bertekad untuk pergi meninggalkannya. Delapan bulan, delapan bulan lagi mereka baru akan bertemu. Byan mengeluarkan ponselnya lalu menyetel alarm di tanggal kepulangan Maureen delapan bulan mendatang.
“Kamu harus tepat waktu, gak boleh terlambat sedikitpun, karena mungkin aku hanya akan menahan diri sampai tanggal ini.” Mata sayu ini memandangi angka yang muncul di kalender ponselnya. Ia tetapkan nada dering yang indah agar saat alarm berbunyi, perasaan Byan semakin lega.
Maureen yang baru keluar dari kamar mandi, memandangi punggung pria yang membungkuk. Bahu yang selalu tegak itu sekarang terlihat begitu lemah. Sesungguhnya ini pun berat bagi Maureen tapi ia perlu untuk melakukan ini.
“Hey, sarapan dulu yuk.” Maureen berdiri di hadapan Byan yang sedang melamun.
__ADS_1
Byan tidak langsung mengiyakan, ia memeluk pinggang Maureen dan menempatkan kepalanya di perut wanita yang ia cintai.
“Delapan bulan itu lama Mo, tolong jangan pulang terlambat.” Suara Byan terdengar berat seperti hatinya yang masih sesak. Matanya berkaca-kaca dan Maureen bisa melihat itu.
Diusapnya kepala Byan dengan sayang. “Iyaa, aku janji gak akan terlambat. Lagi pula selama di sana juga kita kan gak putus komunikasi. Kita bisa tetep saling berkirim pesan, telponan, video call. Tidak ada yang berubah. Walaupun jauh, kamu akan selalu tau apa yang aku lakukan di sana. Aku juga berharap kamu akan selalu ngabarin aku ditengah kesibukan kamu. Okey?”
Pria muda itu mengangguk paham. “Udara di sana sangat dingin. Siang bisa sampai minus delapan belas derajat dan malam bisa sampai minus dua puluh derajat. Pakelah baju yang hangat. Jangan sampe sakit.” Usapan lembut diberikan Byan di punggung Maureen.
“Iyaa, pasti. Kamu juga harus jaga diri. Makan yang teratur, jangan begadang, jangan minum-minumn terlalu banyak dan sesekali berolahraga. Ajaklah Riswan untuk jogging supaya lemak ditubuh Riswan gak semakin menumpuk.” Maureen sedikit tersenyum membayangkan pria tua yang tubuhnya semakin gempal itu.
“Iya, aku akan melakukannya.”
“Bagaimana bisa aku begitu mencintaimu, Mo?” lelaki berkumis tipis itu bertanya dengan tidak paham pada Maureen.
Maureen tersenyum jahil, berpindah duduk ke sebelah Byan. “Mungkin karena aku cantik. Yang dilihat laki-laki untuk pertama kalinya kan memang itu. Iya kan?”
Byan ikut tersenyum, menyibak helaian rambut yang menutupi wajah Maureen. “Bisa jadi. Kamu terlalu mempesona. Bukan hanya wajahmu tapi semua yang kamu miliki.” Selalu ada banyak kekaguman dari tatapan yang ditunjukkan oleh pria berhidung mancung itu pada kekasihnya.
“Iyaaa, makanya jangan sampai kehilangan aku. Kamu bisa dapet yang lain yang mungkin lebih baik dari aku, tapi yang kayak aku gak ada duanya. Nanti kamu rugi.” Colekan iseng diberikan Maureen di hidung bangir sang kekasih, membuat laki-laki yang ia cintai itu tersenyum tipis. Ia mengakui benar ucapan Maureen sepenuhnya.
__ADS_1
“Mari saling menjaga untuk satu sama lain, sampai nanti, kita akan tetap seperti ini bahkan saling mencintai lebih dan lebih lagi.” Tekad Maureen sudah bulat.
“Tentu, aku akan menjaga semua yang ada dihubungan kita karena kamu adalah hal terbaik yang aku punya.”
“Wuuuhh, aku terharu. Laki-laki yang dulu begitu membenciku sekarang sangat pandai menyanjungku,” ledek Maureen sambil menangkup wajahnya sendiri yang memerah.
“Mooo….” Bayi besar itu merengak manja.
“Iya, Byyyyyy….” Maureen membalasnya.
“Hahahhaaha….” Layaknya remaja yang kasmaran, keduanya tertawa kecil.
Beberapa detik kemudian, mereka terdiam, saling memandangi dan saling mengagumi sosok yang ada dihadapan masing-masing.
Telapak tangan Byan yang lebar menangkup satu sisi wajah Maureen, lalu mengusapnya. Tidak lama Ia mendekatkan tubuhnya pada Maureen. Pelan-pelan ia mengecup bibir Maureen yang berwarna merah muda itu. Warna alami bibir sang kekasih yang terasa manis. Mengecupnya beberapa kali hingga Maureen membalasnya sambil melingkarkan tangannya di leher Byan.
Kecupan kecil itu berubah menjadi pagutan, masing-masing memberikan serangan yang seirama dan lembut, membuat jantung mereka berdebar kencang dengan rongga dada yang nyaris kehabisan nafas. Bibir kecil Maureen seperti habis dilahap Byan yang sedang begitu serakah. Semuanya baru berakhir saat mereka merasa butuh udara baru untuk mengisi rongga dada mereka.
Semuanya terhenti, keduanya menyatukan kepala mereka dan berusaha mengatur nafasnya yang terengah. Sesekali Byan masih memberikan serangan kecil ke bibir Maureen dan Maureen hanya tersenyum. Seperti halnya Byan, ia pun ingin melakukan semuanya lebih lama lagi.
__ADS_1
*****