Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Pesan beruntun


__ADS_3

Melda, nama pengirim pesan yang membuat jantung Maureen tiba-tiba berdebar tidak beraturan. Wanita itu mengirimkan beberapa foto saat ia sedang mengobrak abrik semua lemari Edwin dan menuliskan pesan,


“Gak ada yang cocok kak.”


Begitu isi pesan akhir dari Melda disertai foto wajah Melda yang melas dan kelelahan. Sudah pasti wanita itu kelelahan karena mengecek semua baju yang dimiliki Edwin.


“Makasih Mel. Maaf udah bikin kamu sampe kecapean,” balas Maureen dengan penuh sesal.


“It’s okey Kak, yang penting aku udah menuhin janji aku. Kak Maureen juga tolong penuhin janji Kakak untuk bebasin aku dari laki-laki itu. Jangan sampe keluargaku tau kalau aku bukan hanya bekerja dengan kemampuanku tapi juga dengan tubuhku.”


“Ya Kak, tolongin aku….” Begitu bunyi pesan balasan dari Melda yang membuat bulu kuduk Maureen meremang.


“Iya, aku akan bantu kamu.” Maureen membalas dengan tegas. Ia memang sudah berniat untuk membebaskan Melda dari cengkraman Edwin. Ia sudah memiliki banyak bukti dan saksi. Mulai dari rekaman CCTV, foto yang ia ambil, bukti check in hotel hingga keterangan beberapa staf yang mengaku pernah melihat Edwin melecehkan Melda.


Beberapa anak PA memang sengaja menjauhi Melda bukan karena mereka ingin membully Melda atau tidak mau berteman dengan Melda. Mereka hanya menjaga diri mereka dari kemungkinan di jamah oleh atasannya Melda yang tidak pandang bulu.


“Makasih Kak….” Balas Melda dengan air mata berurai di sebrang sana. Dengan sisa tenaganya ia bergegas membereskan kembali baju-baju yang ia buat berantakan.


Di tempatnya, Maureen membaca pesan yang kedua, kali ini pesan itu masuk melalui email. Pesan ini merupakan pesan balasan dari sebuah brand fashion terkenal. Mereka mengklaim kalau kancing tersebut memang produk mereka. Kancing itu melekat pada baju yang mereka produksi secara terbatas. Di seluruh dunia baju itu hanya di buat tiga ribu potong. Mereka juga memberikan daftar nama pembeli baju mereka.


Setelah bersusah payah menghubungi manager pemasaran di Indonesia, akhirnya Maureen bisa mendapatkan daftar nama ini. Ia berharap kalau ini akan menjadi titik terang siapa pemilik kancing baju ini.

__ADS_1


Anggoro ‘kah?


Membayangkan nama itu membuat Maureen ngeri-ngeri sedap. Apa mungkin laki-laki itu yang benar-benar datang ke rumahnya dan menawarkan uang hingga ibunya merasa terpukul lalu bunuh diri? Apa itu juga yang menjadi alasan mengapa Anggoro memberinya sebuah perjanjian?


Akh, perasaan Maureen tidak karuan. Saat menunggu file lampiran berbentuk Pdf itu terbuka, ia benar-benar tidak sabar. Semakin mendebarkan saat melihat daftar nama yang ada di sana beserta asal negara pembelian.


Indonesia, nama negara yang lebih dulu Maureen cari. Walau tidak berurutan, ia tetap mencari nama Anggoro di daftar nama pembeli Indonesia.


Andai saja ia bisa menggunakan fungsi pencarain nama di file tersebut, mungkin pencariannya akan lebih cepat. Tapi sayangnya file ini hasil scan yang disatukan dari berbagai toko dan negara. Matanya sudah mulai berkunang-kunang hanya untuk mencari nama Anggoro, hingga saat memejamkan matapun bayangan huruf yang muncul di benaknya.


“Sial, aku sampai pusing!” dengus Maureen dengan kesal.


Sudah sampai list terakhir dan nama Anggoro tidak ada di daftar nama tersebut.


Terpaksa ia mencari ulang dari atas. Ia membuka matanya lebar-lebar untuk mencari nama Anggoro hingga pada nomor dua ribu enam ratus delapan puluh tujuh, ia menemukan nama yang tidak asing.


“Sir Riswan.” Begitu nama yang tertulis.


Deg!


Jantung Maureen seperti berhenti berdetak.

__ADS_1


“Riswan? Membeli coats ini?” Maureen bertanya pada dirinya sendiri.


Maureen memejamkan matanya beberapa saat, berusaha menyadarkan pikirannya dari kemungkinan yang ada di benaknya. Laki-laki itu, laki-laki yang begitu baik padanya, memperlakukannya layaknya putrinya sendiri, apa benar dia juga yang datang ke rumah Maureen di hari itu?


Tangan Maureen mulai gemetar, ia mengeluarkan kancing itu dari dalam sakunya lalu menatapnya lekat-lekat. Tubuhnya mendadak gemetar saat membayangkan kalau orang yang menyebabkan kematian ibunya sebenarnya selama ini ada di sekitarnya.


Bagaimana bisa laki-laki itu bersikap biasa saja seperti tidak pernah terjadi sesuatu?


Apa laki-laki itu tidak merasa bersalah sedikitpun?


“Selamat malam Nyonya?”


Suara itu membuat Maureen terhenyak. Darahnya seketika mendidih dan tangannya mengepal menggenggam kancing itu erat-erat.


“Nyonya, udara sangat dingin. Sebaiknya Anda mengenakan baju hangat.” Riswan mendekat, hendak menyampirkan kain lebar untuk membungkus tubuh Maureen.


“Berhenti!” Maureen bersuara dengan tegas. Ia menolak Riswan untuk mendekat.


“A-ada apa Nyonya?” laki-laki tua itu sampai kaget.


Maureen tidak lantas menjawab ataupun berbalik. Langkahnya yang tertatih-tatih, beranjak menuju kursi besi di tepi kolam renang lalu duduk di sana. Maureen menaruh ponselnya di atas meja.

__ADS_1


“Kamu mengenal benda ini?” tanya Maureen seraya menaruh kancing di atas meja.


******


__ADS_2