
Suara gemericik air terdengar dari kamar mandi yang berada tidak jauh dari ranjang yang Maureen tiduri. Suaranya yang semakin jelas membuat Maureen membuka matanya lebar-lebar.
“Jam berapa ini?” Maureen bergumam sendiri saat melihat cahaya matahari sudah menerobos masuk ke sela jendelanya yang memberi cahaya kekuningan.
“Astaga, aku kesiangan.” Maureen menepuk jidatnya sendiri saat melihat jam yang sudah menunjukkan jam setengah delapan pagi. Tubuhnya masih belum ingin beranjak dari ranjangnya setelah mendapat dua serangan bertubi-tubi dari Byan. Ia memilih masih membaringkan tubuhnya, menunggu kesadarannya penuh masuk ke dalam tubuh.
Tubuhnya yang masih polos, ia balut dengan selimut. Gaun tidur yang semalam ia kenakan sudah terlihat rapi di atas sofa. Maureen tersenyum sendiri karena sepertinya Byan lah yang merapikan semuanya.
Ia beranjak duduk bersandar di sandaran headboard sambil memandangi foto kedua orang tuanya yang mulai ia pajang sejak semalam.
“Memalukan, aku membuat mamah sama papah melihat semuanya.” Maureen menutup wajahnya yang memerah karena malu. Baru kali ini ia merasa malu pada dua orang yang ada di foto.
“Jangan khawatir Mah, Pah, aku menyerahkan diriku pada laki-laki yang tepat,” ucap Maureen dengan senyum tertahan. Ia masih mengingat bagaimana wajah Byan semalam. Benar-benar membuat perutnya berdesir.
“Kamu udah bangun?” Byan keluar dari kamar mandi. Rambutnya basah setelah ia membersihkan sekujur tubuhnya tanpa tersisa.
“Iya. Aku belum menyiapkan bajumu.” Maureen segera beranjak. Ia menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya.
“Astaga!” serunya saat ia melihat noda darah di atas sprei.
“Biar aku yang bereskan, kamu pergilah mandi. Aku juga sudah mengambil baju ganti. Jadi tenanglah,” ucap Byan beruntun.
“I-iya.” Maureen segera berlari menuju kamar mandi. Sulit sebenarnya karena ia menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya.
“Jangan berlari, aku gak akan nerkammu,” ledek Byan sambil terkekeh.
“Jangan berisik Byan! Segera pakai bajumu,” timpal Maureen yang kemudian menutup pintu kamar mandinya.
“Byan!! Kenapa nyimpen baju di sini?” lagi Maureen berteriak. Menatap kesal pakaian dalam yang Byan taruh di atas closet.
“Peermu untuk mengajariku delapan bulan ke depan,” sahut Byan dengan santai.
“Astaga, kamu menyebalkan.” Maureen hanya bisa mendengkus kesal. Ternyata ini kebiasaan buruk pertama yang Maureen tahu dari seorang Byan.
Byan hanya terkekeh. Ia segera memakai baju kerjanya. Menyisir rambutnya sambil bersiul-siul lalu membereskan sprei Maureen yang terkena banyak noda.
“Harusnya ini dimusiumkan.” Byan memandangi sprei yang ada di tangannya. Menurutnya ini noda pertama ia dan Maureen yang penuh kenangan.
“Tapi kalau gak diberesin nanti dia ngomel. Aku gak mau dia naik darah pagi-pagi begini. Kasian, dia udah capek semalaman.” Byan berbicara dengan pikirannya sendiri.
Terpaksa ia menaruh sprei itu di atas keranjang baju kotor lalu membereskan kamar Maureen sebisanya. Sambil menunggu Maureen keluar dari kamar mandi, Byan mencari gambar-gambar tempat yang sudah menjadi pilihannya untuk ditempati sementara oleh Maureen. Ia sangat yakin tempat ini cocok untuk Maureen.
“Aku harap kamu suka.” Byan menaruh tab nya di atas Kasur Maureen yang ia bereskan alakadarnya. Ia ingin Maureen melihat tempat itu. Setelah itu ia keluar kamar, karena harus menyiapkan beberapa hal di ruang kerjanya.
“Selamat pagi, tuan.”
“Astaga!” Byan sampai terhenyak saat melihat Riswan ada di depan kamar Maureen persis setelah ia membuka pintu.
Riswan hanya tersenyum tanpa berani menatap wajah tuan mudanya yang sangat segar dan berseri.
“Aku habis menemui Maureen untuk meminta bantuannya memasangkan dasi. Tapi sepertinya dia masih di kamar mandi. Jadi, aku mau menyiapkan beberapa hal di ruang kerjaku, supaya nanti siap berangkat tanpa ada yang tertinggal.” Byan tiba-tiba membuat alasan.
“Saya mengerti, tuan. Tidak masalah walaupun tuan tidak menjelaskan sedetail itu.” Riswan tetap dengan usahanya untuk terlihat tenang.
“Ya mana tau kamu butuh penjelasanku.” Byan menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
Riswan tidak lagi menimpali, hanya mengangguk-angguk saja.
__ADS_1
Mereka berjalan menuju ruang kerja Anggoro, menyiapkan beberapa dokumen yang akan di bawa ke kantor.
“Dokumen orang-orang yang terindikasi melakukan penyelewengan, sudah kamu siapkan?”
“Sudah tuan. Sudah saya cetak dan saya masukkan ke dalam mobil.”
“Baguslah. Aku ingin mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri kalau mereka sudah melakukan kesalahan yang fatal.” Byan bergumam dengan penuh kepuasan.
“Benar, tuan. Tuan, pagi ini saya mendapat telepon dari pengacara tuan Anggoro, mereka ingin bertemu dengan Anda dan nyonya muda.”
Byan berhenti untuk merapikan berkas dan sedikit berpikir cara menghadapi orang-orang itu.
“Ada yang membuat tuan tidak nyaman?” Riswan memang pandai memaca raut wajah tuannya.
“Maureen akan menemui mereka hari ini. Dia mau menyampaikan sesuatu. Dimana sebaiknya kita menemui mereka?”
“Bagaimana kalau kita menemui mereka di kantornya? Saya rasa itu akan lebih baik.” Riswan memberi saran.
“Hem, baiklah. Atur pertemuan dengan mereka.”
“Baik, tuan.”
*****
Dalam perjalanan menuju kantor, Maureen masih memandangi layar tabletnya. Ia melihat-lihat gambar tempat yang dipilih Byan dan sungguh di luar presiksinya.
“Kenapa harus Finlandia?” tanya Maureen dengan penasaran. Sejak tadi pagi ia memikirkan negara yang dipilihkan Byan untuknya. Letaknya sangat jauh, di Eropa utara sana.
“Karena daerah itu cocok untukmu.” Jawaban Byan sangat sederhana.
“Oh ya?” Maureen dibuat terkejut dengan jawaban kekasihnya.
“Kamu serius? Finlandia itu jauh loh, By. Jaraknya aja sekitar 10,148 km dari Jakarta. Perjalanannya aja bisa sampe dua puluh empat jam. Kamu yakin aku di suruh ke sana?” Maureen benar-benar tidak habis pikir.
“Kenapa, kamu takut kangen sama aku?” Byan malah menggoda Maureen sambil berusaha menggenggam tangannya. Dikecupnya tangan Maureen dengan penuh perasaan.
“Ya nggak juga. Tapi maksudku, kok kepikiran kamu milih tempat itu?” Maureen tetap tidak habis pikir.
Byan tidak lantas menjawab pertanyaan Maureen ia lebih memilih memasukkan dulu mobilnya ke area kantor agar bisa berbicara lebih tenang dengan Maureen.
“Kita bicara di ruanganku,” ajak Byan seraya mengulurkan tangannya setelah membukakan pintu untuk Maureen.
Maureen segera turun dan mengabaikan tangan Byan yang terulur. Alih-alih merasa dipilihkan tempat yang tepat, Maureen malah merasa seperti di buang. Ia berjalan cepat meninggalkan Byan yang terlihat bingung. Apa ia terlalu sadis?
Akh sudahlah, tanpa berlama-lama Byan segera menyusul Maureen yang menuju lift direktur. Ia menekankan tombol lift untuk Maureen dan Maureen tidak memperdulikannya. Selama di dalam lift juga Maureen malah lebih asyik dengan ponselnya dibanding berbicara dengan laki-laki yang berdiri persis disampingnya.
Pintu lift terbuka dan Maureen segera masuk ke ruangan Byan. Ia duduk di kursi kerjanya, yang ruangannya berada di dalam ruang kerja Byan. Hanya sekatan tipis yang memisahkan ruangan Maureen dari ruangan utama.
Byan menyusulnya. Duduk di kursi penghadap Maureen yang sedang sibuk membereskan berkas miliknya.
“Mau di bawa kemana berkasnya?” Byan menatap Maureen dengan bingung.
“Aku kasih Riswan lah. Kan aku mau pergi ke Findlandia!” Maureen menegaskan satu kata terakhir dikalimatnya.
“Mo, ayolah….” Byan mengambil alih dokumen itu dari tangan Maureen. Sepertinya wanita ini benar-benar marah.
“Apa sih! Udah sini, jangan di ambil. Aku mau buru-buru berangkat. Soalnya ada yang pengen aku buru-buru pergi dari sini.” Maureen tetap menunjukkan kekesalannya tanpa mau menatap Byan yang masih memandanginya.
__ADS_1
Maureen mau mengambil berkas di tangan Byan tapi Byan malah menghindar ke kiri. Mau di ambil ke kiri, Byan mengibaskannya ke kanan. Terus seperti itu sampai kemudian Maureen kesal sendiri dan tidak peduli lagi pada Byan. Ia memilih membereskan berkas lain yang menurutnya juga perlu dibereskan.
Melihat Maureen yang diam dan kesal, Byan menghampiri wanita itu. Ia berdiri di belakang Maureen, menaruh berkas itu di atas meja, lantas memeluk Maureen dari belakang. Maureen sampai kaget, tapi ia tidak berrespon sedikitpun, ia menganggap Byan tidak ada di dekatnya.
“Kamu bilang mau pergi aja, aku udah hancur Mo. Sangat hancur,” Byan berbisik lirih di telinga Maureen lalu menyandarkan kepalanya di kepala wanita yang sangat ia cintai.
“Apa lagi membiarkan kamu pergi sejauh itu.” Ia mengecupi kepala Maureen dengan penuh perasaan.
“Entah berapa lama aku gak bisa berpikir dengan benar saat membayangkan akan berjauhan sama kamu. Otakku mendadak kosong dan rasanya aku ingin ikut pergi sama kamu, kemanapun kamu mau pergi.” Ia mengeratkan pelukannya pada Maureen, hingga tubuhnya membungkuk dan melengkung mengungkung tubuh Maureen yang lebih pendek darinya.
“Tapi, alasan negara itu memiliki penduduk paling bahagia di dunia, menjadi alasan kuatku untuk merekomendasikan tempat itu buat kamu. Bukan tanpa alasan aku memilih jarak puluhan kilo yang memisahkan kita. Aku ingin kamu tidak mendengar apapun yang dikatakan orang-orang tentang kita. Aku gak mau kamu mendengar kicauan tidak penting dari orang-orang yang tidak tahu apa-apa.”
“Aku juga ingin kamu merasakan kehidupan bahagia itu di sana. Aku sadar, waktu delapan bulan di negara itu, tidak akan bisa menghapus waktu sembilan tahun yang membuat kamu sangat tersiksa. Tapi, aku harap waktu delapan bulan itu bisa memberi kamu ketenangan dan kebahagiaan tanpa perlu diganggu oleh hal apapun.”
“Kamu bebas melakukan apapun di sana. Mau berjalan-jalan seharian, boleh. Mau membuat gambar-gambar indah seperti yang sering kamu lakukan dulu, silakan. Itu hidup kamu sepenuhnya, kamu berhak menjalaninya sesuai keinginanmu. Tidak perlu bekerja di sana, anggap saja kamu lagi healing tapi tolong, jangan hilang. Karena delapan bulan kemudian, aku akan datang untuk menjemputmu.” Byan berujar dengan penuh kesungguhan. Ia memejamkan matanya beberapa saat, berharap Maureen bisa memahami perasaan dan maksudnya saat ini.
Maureen tidak menimpali, ia juga tidak bergerak. Hanya memandangi tumpukan dokumen yang sudah ia rapikan dan siap diberikan pada Riswan.
“Katakan sesuatu, bicaralah lebih banyak karena aku akan sangat merindukan suaramu. Apalagi waktu bilang, Ah… Byan,” bisik Byan dengan nafas menderu di telinga Maureen.
“Iihh Byan!” Maureen menyikut perut Byan dengan kesal.
“Hahahaha… marahpun gak apa-apa. Asal jangan diam.” Byan tetap dengan sikapnya yang santai.
Tidak lama, Maureen pun berbalik. Ia menatap lekat wajah Byan yang akan ia tinggalkan. Di tangkupnya satu sisi pipi Byan lalu ia usap perlahan. Byan menghela nafasnya dalam dan tersenyum manis pada Maureen. Walau tidak bisa ia pungkiri kalau matanya berkaca-kaca karena sedih.
“Kamu menyuruhku pergi bukan karena kamu mau mencari mangsa lain kan?” tanya Maureen yang terdengar bodoh.
“PPfftt! Hahahahha….” Byan sampai tidak tahan ingin tertawa.
“Iiihh malah ketawa! Bener ya dugaan aku?” Maureen menjewer telinga Byan dengan kesal.
“Aduduuduu….” Byan mengaduh tapi tetap tidak bisa menyembunyikan tawanya.
“Terserahlah!” Maureen akhirnya kesal. Bibirnya mengerucut tajam membuat Byan iseng mengecupnya.
“Cemburulah, jangan hanya aku yang selalu cemburu. Karena dengan begitu, aku merasa dicintai, diinginkan dan dikhawatirkan. Asal jangan berlebihan, karena sudah aku katakan kalau aku hanya milikmu.” Byan menatap lekat sepasang mata bulat itu dengan penuh perasaan. Ia juga mengguyar helaian anak rambut yang menutupi wajah cantik Maureen. Byan ingin melihat wajah wanita yang ia cintai, secara utuh.
“Apa kamu akan menjaga dirimu dengan baik?” Maureen bertanya dengan suaranya yang mulai serak. Sejujurnya ia memahami alasan Byan dengan sangat baik hanya satu sisi egonya terlalu takut kalau ia pergi terlalu jauh dari Byan.
“Tentu saja. Aku gak mau kelak kamu kecewa. Kita udah sepakat kalau nanti kita akan bersama lagi dalam versi terbaik kita. Aku akan memperbaiki banyak hal tapi kamu gak akan kehilangan Byan yang kamu cintai ini.” Byan meraih tangan Maureen dan menempatkannya di dadanya yang bidang.
Maureen tertunduk lesu, ia tidak bisa lagi berkata-kata. Byan menarik tubuh Maureen mendekat, membawanya ke dalam pelukannya.
“Hah, aku sangat suka setiap kali melihat kilatan cinta di matamu Mo. Andai aku bisa mengendalikan waktu, maka waktu delapan bulan itu satu detik setelah ini. Tapi, aku tau, jika itu terjadi, maka mungkin belum ada yang berubah dari diri kita. Kamu masih akan melihat Byan yang belum bisa melakukan apa-apa dengan kedua tangannya.”
“Aku akan sangat kehilangan kamu dan sangat merindukanmu. Jangan bosan dengan pesan-pesan yang aku kirim dan mungkin sesekali aku akan mengirim video tangisan saat aku sangat merindukanmu. Jangan menertawakannya, karena itu proses yang sedang aku lalui.”
Maureen mengangguk mengiyakan. Ia juga melingarkan tangannya di tubuh Byan dan mengeratkan pelukannya. Semua yang ia lakukan saat ini adalah bukti kalau ia pun takut kalau ia akan sangat merindukan Byan.
Beberapa saat mereka saling berpelukan, mengalirkan perasaan satu sama lain. Setelah puas, Byan melerainya. Ia menatap mata Maureen yang merah dan sedikit basah itu.
“Apa kamu setuju kalau ini akan menjadi pilihan kita?”
“Ya. Aku setuju. ini pilihan kita.” Maureen memberanikan diri untuk bersuara walau terdengar bergetar.
Byan tersenyum kecil. Diusapnya pipi Maureen lalu ia cubit hidung bangir milik wanita itu. Ia menatap wanita yang ia cintai beberapa saat sebelum kemudian ia mengecup kembali bibir manis Maureen dengan lembut. Sangat lembut dan berpagutan untuk waktu yang cukup lama.
__ADS_1
“Permisi, tuan.” Sampai kemudian suara itu yang membuat Byan dan Maureen mengakhiri semuanya.
****