
Seperti sidang, itu perasaan yang dirasakan Byan dan Wisnu saat ini. Mereka duduk di sofa yang menghadap Maureen yang enggan menatap dua orang ini.
“Jadi kalian saling kenal? Apa kalian juga pasangan?” selidik Maureen yang tetap melihat ke arah lain. Rasanya menjijikan menangkap basah dua orang berjenis kelamin sama berada di kasur yang sama dan bertelajang dada.
Apa coba yang mereka lakukan?
“Aku yang sebenarnya kaget karena ternyata kamu mengenal Byan.” Wisnu memilih berpura-pura.
Ia tersenyum kaku pada sosok Maureen yang sudah terlihat cantik dan bersinar mengalahkan sang surya yang menyingsing.
Sementara penampilannya? Jangan kalian bayangkan, ini terlalu memalukan.
Maureen tidak menimpali. Ia mengeluarkan baju Byan yang ia bawa lalu memberikan masing-masing satu kaos oblong. Untungnya Maureen sudah persiapan karena ia berpikir mungkin Byan akan tinggal beberapa hari di tempat ini.
“Terima kasih.” Wisnu menerimanya dengan senang hati.
“Aku mau mandi, tolong siapkan.” Sementara Byan malah memilih pergi.
“Eh si anj,” Wisnu yang emosi melihat tingkah sahabatnya. Berani sekali laki-laki itu memerintah Maureen yang sangat ia puja.
Tapi kalimat itu tidak ia lanjutkan saat melihat Maureen yang menatapnya dengan penuh rasa curiga.
“Hehehehe… aku masih normal kok. Yang kamu liat antara aku sama Byan, murni sebuah kesalahpahaman yang tidak perlu kamu pikirkan.” Wisnu berusaha menjelaskan.
“Pikirmu aku peduli pada tingkah kalian?” sinis Maureen seraya berlalu meninggalkan Wisnu. Ia harus menyiapkan air mandi untuk bosnya.
“Akh, Maureen kamu membuat hatiku cenat cenut pedih,” cicit Wisnu dengan penuh rasa sakit sambil mengusap dadanya yang masih terekspose.
Sementara itu Maureen masuk ke dalam kamar dan menuju kamar mandi. Ia menyiapkan handuk dan alat mandi yang ia bawa untuk Byan. Ia juga menyiapkan air hangat untuk Byan.
Tiba-tiba saja, Byan menghampirinya dan masuk ke kamar mandi.
“Hey, aku belum selesai!” protes Maureen.
“Aku mau pipis,” timpal Byan acuh.
“Byan, kamu jangan keterlaluan. Kamu perempuan dan aku laki-laki.”
“Em ralat, maksudku aku perempuan dan kamu laki-laki, kita tidak boleh berada di kamar mandi yang sama.” Kalimat Maureen mendadak belibet gara-gara gugup.
“Memangnya kenapa? Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak menganggap penting satu sama lain?” Byan bersikukuh diam di kamar mandi. Ia berbalik dan mendekat pada Maureen.
“Atau kamu sudah berubah pikiran?” ia berbicara dengan jarak yang sangat dekat.
“TIDAK!” cepat-cepat Maureen memalingkan wajahnya.
“Baguslah!”
__ADS_1
Byan mengendikkan bahunya dengan acuh. Ia masuk ke dalam ruangan kaca lalu menutup tirainya. Perlahan ia menurunkan celananya dan terlihat oleh Maureen dari bayangan hitam yang tampak jelas.
“GILAK! Brengsek kamu Byan!” dengus Maureen seraya melangkah keluar dari kamar mandi. Ia tidak peduli lagi pada tingkah Byan yang selalu menyebalkan belakangan ini.
“Astaga, kenapa aku semakin gila saja? Kenapa aku mempermalukan diriku sendiri di hadapan Maureen?” Byan tercenung beberapa saat. Niatnya untuk mengerjai Maureen malah membuatnya malu sendiri.
“Sial, aku malah membuat suasana semakin menyebalkan!” dengusnya lagi yang akhirnya benar-benar melucuti semua bajunya lalu mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Ia sengaja tidak menggunakan air yang disiapkan Maureen karena ia ingin menghapus semua pikiran akan tingkah konyol yang dilakukannya di sepan Maureen.
****
Selesai mandi, Byan segera keluar dari kamar mandi. Ia mendapati kamarnya sudah rapi dan satu stel baju sudah disiapkan Maureen. Wanita itu tidak ada di kamar, hanya suara Wisnu saja yang terdengar berbicara dengan Maureen.
"Ini ketorak paling enak. Aku sengaja beliin yang versi premium buat kamu. Liat, potongan tahunya aja rapi, ukurannya sama semua," celoteh Wisnu yang sedang menyiapkan sarapan untuk Maureen, Byan dan dirinya.
Ia bersedia keluar pagi-pagi dan belum mandi sampai di pandangi aneh oleh para gadis demi melakukan penebusan dosa pada Maureen.
Tapi setibanya di galeri, Maureen membiarkan Wisnu sibuk sendiri menyiapkan sarapannya. Ia lebih memilih membuat secangkir teh untuk dirinya dan secangkir kopi untuk Byan.
"Aku kopi aja gak apa-apa," cicit Wisnu dengan percaya diri.
"Buatlah sendiri." Maureen dengan keenganannya membuat kopi untuk Wisnu. Menurutnya, kewajibannya hanya melayani Byan, itupun karena pria ini adalah bosnya.
"Padahal aku berharap bisa mencicipi kopi buatan kamu. Sekali aja seumur hidupku." Wajah Wisnu terlihat memelas.
Maureen pura-pura tidak mendengar. Ia duduk dengan elegan di meja makan dan menunggu bosnya keluar.
Maureen segera beranjak dan menghampiri Byan. "Kenapa?" Ia mematung di depan pintu dan tidak berani masuk. Takut Byan masih melakukan hal bodoh di dalam sana.
"Kancing kemejanya copot. Periksalah." Suara pria itu terdengar lantang.
Terpaksa Maureen masuk ke kamar itu. Benar saja, Byan sudah berpakaian, hanya kemejanya saja yang belum ia kancingkan seluruhnya. Di tangan kirinya ia memegangi kancing baju yang terlepas.
"Bagaimana bisa lepas? Aku sudah memastikan bajunya rapi, wangi dan lengkap." Maureen menggerutu tidak mengerti.
"Tanyakan saja pada kancing ini!" Byan menyodorkan kancingnya pada Maureen.
Maureen mendelik sebal mendengar timpalan Byan. Ia mengambil alih kancing di tangan Byan.
"Ada alat jahit gak di sini?"
"Pikirmu ini rumah jahit?" Byan menjawab dengan acuh.
Laki-laki ini benar-benar menguji kesabaran Maureen. Malas berdebat lagi, Maureen melepas bros kecil berwarna merah muda dengan bentuk kelopak bunga. Ia memasangkan bros itu di kemeja Byan.
"Masa aku didandani begini?" protes Byan tidak suka.
"Jangan banyak protes, brosnya tidak akan terlihat setelah kamu memakai dasi." Sekalian saja Maureen memakaikan dasi Byan dan menarik dasi itu hingga Byan terpaksa menunduk. Maureen tersenyum puas melihat Byan yang terhenyak dan kesal.
__ADS_1
"Aduh! Leherku hampir patah."
Sekalian juga Byan sengaja merunduk hingga wajahnya berjarak begitu dekat dengan wajah Maureen. Lihat, sekarang berganti Maureen yang melotot kaget saat wajah Byan ternyata sangat dekat dengan wajahnya. Hidung mereka bahkan nyaris bersinggungan.
Byan tersenyum kecil melihat mata Maureen yang membulat dengan wajah yang merona. Ia sampai bisa melihat pantulan dirinya di netra pekat milik wanita cantik ini.
"Sarapan woy! Udah siang!" seru Wisnu dari luar sana.
"Sial!" dengan jelas Maureen mendengar Byan mendengus. Kesal pada panggilan Wisnu.
"Tegakkan kepalamu!" menggunakan ujung telunjuknya, Maureen mendorong dahi Byan menjauh.
"Kenapa? Apa jantungmu tidak aman?" Byan inisiatif mengangkap telunjuk Maureen dan memegangnya.
"Dih! Kenapa harus tidak aman?" Maureen mengibaskan tangannya yang digenggam Byan. Ia juga mempercepat gerakan tangannya untuk mengikatkan dasi di leher Byan.
"Akh, terlalu kencang!" seru Byan.
"Gak usah pura-pura, aku bisa melihat kalau ini tidak kencang." Maureen menimpali dengan cepat.
Byan hanya tersenyum dalam hati sambil memandangi wajah Maureen yang memerah. Tidak bisa ia pungkiri kalau memandangi Maureen sedekat ini sangatlah menyenangkan.
Jalinan dasi sudah dirapikan dan Byan sudah terlihat gagah. Maureen juga memakaikan jas di tubuh jangkung pria itu. Satu usapan terakhir diberikan Maureen untuk merapikan pakaian Byan. Lagi, jantungnya berdesir dengan bulu kuduk yang meremang.
"Pergilah sarapan, kita sudah terlambat," ucap Maureen yang berlalu lebih dulu meninggalkan Byan yang masih mematung.
Ketoprak menjadi sarapan Byan pagi ini. Ia tampak menikmati sarapannya sambil sesekali memperhatikan Maureen yang hanya menikmati tehnya sambil mengecek ponselnya.
"Ya, Mel." Kali ini Melda yang meneleponnya.
"Kapan?" Mata Maureen membulat sempurna, setelah mendengar satu kabar buruk dari Melda.
"Iya, aku ke sana sekarang. Makasih infonya." Cepat-cepat Maureen menutup panggilannya dan menaruh cangkirnya begitu saja.
"Ada apa?" Byan ikut terkejut.
"Selesaikan sarapanmu, ada kontraktor yang menunggu kita di kantor," ujar Maureen dengan tergesa-gesa.
"Aku sudah kenyang. Kita berangkat sekarang." Byan menaruh sendoknya dan meneguk air mineral miliknya.
Dalam beberapa saat mereka segera berangkat.
"Kalian ninggalin gue?" Wisnu kebingungan sendiri.
Baik Byan ataupun Maureen tidak menjawab. Mereka memilih segera berangkat karena ada hal yang lebih penting.
*****
__ADS_1
Sorry Wisnu, kamu bukan prioritas mereka.