Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Menemui yang harus di jaga


__ADS_3

Setengah berlari, Byan keluar dari ruangannya. Ia meninggalkan Riswan seorang diri di ruangan yang luas itu. Entah apa yang akan dilakukan pria itu kemudian, yang jelas Byan bergegas bukan untuk menemui dan menghajar Edwin atau meminta keterangannya melainkan untuk pulang dan menemui Maureen. Ya, hanya Maureen yang ada dipikirannya saat ini.


Ia masih tidak bisa membayangkan, seperti apa hancurnya perasaan Maureen saat ini. Sakit, sudah pasti. Kecewa, tentu saja. Entah berapa banyak lagi jenis perasaan lain yang Maureen rasakan tanpa bisa Byan gambarkan.


Dokumen di tangannya, ia genggam erat-erat. Ia berlari menuju lift dan dengan tidak sabar menunggu pintu lift terbuka. Satu menit menjadi waktu yang sangat lama bagi Byan yang sedang tergesa-gesa.


“Cepat terbuka brengsek!” seru Byan sambil memukul pintu lift dengan bogem mentahnya.


Ia menunggu dengan gelisah sambil mengigiti jarinya dan sesekali mengguyar rambutnya kasar. Kancing kemeja ia lepas sebagian karena rasanya sangat sesak dan gerah.


“Ding!”


Pintu lift terbuka dan Byan segera masuk. Ia menekan-nekan tombol lift dengan cepat agar segera menutup dan langsung menuju lantai satu. Selama dalam perjalanan turun, ia memandangi wajahnya yang terpantul di dinding lift. Menyebalkan, ya sangat menyebalkan.


“BUK!!” ia memukul bayangan dirinya yang begitu lemah dan tidak bisa diandalkan. Harusnya ia tahu lebih cepat. Harusnya ia tidak meninggalkan Maureen seorang diri. Harusnya ia melindungi wanita yang ia cintai dan harusnya, ia lebih cepat dari ini.


Byan segera berlari saat pintu lift terbuka. Ia mencari mobilnya yang sudah terparkir lalu masuk ke dalam mobil yang masih terasa panas karena terjemur matahari.


Sungguh, ia tidak peduli dengan rasa nyaman. Perasaan Maureen jelas jauh lebih tidak nyaman dari ini. Ia segela menyalakan mesin mobil lalu menginjak pedal gas dengan serakah dan melajukan mobil menuju jalanan.


Di jalanan yang ramai itu, Byan bertingkah layaknya seorang pembalap. Ia melajukan mobilnya tidak tentu arah. Sekecil apapun peluang yang ada di depan mata ia pakai. Suara klakson tidak pernah berhenti, menunjukkan kalau ia sangat agresif pada pemilik kendaraan-kendaraan di depannya.


“Minggir brengsek!” Byan berteriak sendiri karena kesal. Sulit sekali membuat orang-orang menyingkir dari jalanan yang sedang ia gunakan.


“Tett!! Tet!! Tett!!”


Lagi ia membunyikan klakson beberapa kali dengan agresif. Lampu hazard terus ia nyalakan. Ia tidak peduli pada beberapa orang yang memakinya. Ia sungguh bersyukur karena beberapa orang bersedia memberinya jalan.


Perjalanan setengah jam terasa seperti ia telah menghabiskan separuh putaran usianya untuk mengejar kesempatan demi bisa segera menemui Maureen.


Beruntung tidak ada kemacetan yang berarti hingga ia bisa sampai rumah dengan selamat.


“Mana Maureen?” tanya Byan saat seorang pelayan menghampirinya.


“Nyo-nyonya di kamar tuan. Seharian ini nyinya belum keluar kamar sama sekali,” jawab sang pelayan. Pelayan itu segera menyingkir saat melihat langkah Byan yang tegas dan terburu-buru.


Byan tidak lagi menimpali. Ia berlari menuju kamar Maureen, melangkahi dua anak tangga sekaligus hingga kakinya begitu lebar.

__ADS_1


Tiba di depan kamar maureen, Byan terdiam beberapa saat. Ia perlu menenangkan dirinya sebelum menemui wanita itu. Kenapa ia jadi ragu? Kenapa ia jadi takut? Apa maureen baik-baik saja? Apa yang akan ia lihat nanti saat pintu ini terbuka? Maureen baik-baik saja kan?


Semua pertanyaan itu muncul serentak di benak Byan dan membuat hatinya semakin tidak tenang.


“Maureen,” akhirnya ia memutuskan untuk mengetuk pintu kamar Maureen. Ketakutannya kalau terjadi sesuatu yang buruk pada Maureen, jauh lebih besar di banding rasa takut lainnya.


“Maureen, tolong buka pintunya. Aku perlu menemuimu.” Lagi Byan mengetuk pintu kamar Maureen dan membuat gadis cantik itu tersadar dari lamunannya.


Ia nyaris tenggelam dalam sensasi mabuk yang ia ciptakan sendiri dari minuman yang sudah ia habiskan hampir satu botol penuh. Kepalanya pusing dan ia tidak bisa beranjak sedikitpun.


“Maureen, aku mohon. Aku perlu menemuimu. Buka pintunya sebentar saja,” susah payah Byan menahan air matanya. Semakin hening saja suasana kamar Maureen dan itu semakin menakutkan.


Apakah maureen akan menemui titik putus asanya seperti yang terjadi pada ibunya?


“Akh, sial! Itu tidak boleh terjadi!” dengus Byan yang ketar ketir seorang diri.


“Mauureeenn, aku tidak sedang bercanda! Tolong buka pintunya.” Suara Byan terdengar bergetar. Ia kalut.


Maureen yang mulai menyadarkan dirinya, berusaha untuk bangkit. Ia berpegangan pada tiang kelambu ranjangnya, namun belum satu langkahpun ia ambil, kakinya sudah lebih dulu ambruk. Ia sangat lemah. Tenaganya terkuras habis oleh rasa sedih dan kehilangan. Mungkin seperti ini yang Renita rasakan saat itu. Tidak punya pondasi yang kokoh dan sandaran yang kuat.


“Maureen! Tolong buka pintunya. Kalau tidak, aku tidak segan untuk mendobrak kamarmu!” kali ini suara Byan terdengar meninggi. Ia sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi.


“Brug!” ia kembali terjatuh. Tenaganya benar-benar habis. Ia terkulai lemah di lantai. Matanya merah hendak menangis tapi air matanya sudah terlampau kering.


“Byan,” suaranya bahkan tidak terdengar. Ia hanya bisa menatap pintu itu dengan tatapan nanar. Tubuhnya tidak bisa bergerak.


Byan yang mendengar suara benda jatuh, segera menjauh dari pintu kamar Maureen.


“BAK!” satu kali dobrakan ia lakukan. Tapi pintu kamar Maureen terlalu kokoh. Byan tidak menyerah, ia mengulang untuk kedua, ketiga, keempat, kelima hingga ke sembilan kali barulah pintu itu terbuka.


“MAUREEN!!” teriak Byan saat pintu terbuka dan yang pertama dilihatnya adalah Maureen yang tergeletak di lantai.


Ia segera berlari menghampiri Maureen, meraih tubuh lemah itu lalu memeluk.


“Maureen, hey, Maureen....” Byan menepuk-nepuk wajah maureen agar wanita itu membuka matanya. Tapi Maureen tetap memejamkan matanya. Hanya satu titik air mata yang kemudian menetes di sudut matanya.


“Byan, aku sakit.” Kalimat Maureen terbata-bata dan nyaris tidak terdengar.

__ADS_1


“Aku di sini. Ada aku di sini. Kamu akan baik-baik saja Maureen!” Byan memeluk Maureen dengan erat. Ia takut sekali kalau harus kehilangan wanita ini.


Tanpa menunggu lama, Byan membawa Maureen ke kamarnya karena kamar Maureen sangat berantakan. Ia tidak ada waktu untuk membereskannya.


“PELAYAN!” teriak Byan dari lantai dua.


Ia segera membaringkan tubuh Maureen di kasurnya.


“PELAYAN!” lagi Byan berteriak dan tidak lama enam orang pelayan kompak menghampirinya.


“Iya tuan. Astaga nyonya!” mereka kompak berseru, menutup mulut mereka karena kaget.


“Cepat telepon dokter Faisal. Dan bawakan saya air hangat. Cepat!” titah Byan sambil mengusap-usap tangan Maureen yang sangat dingin.


Keenam pelayan itu kompak keluar dari kamar Byan. Rupanya buka hanya Byan yang ketar-ketir melainkan mereka juga.


“Satu orang tinggal di sini bodoh! Bawakan baju maureen.” Byan mulai kesal dengan tingkah para pelayan yang bergerak ke sana sini bersamaan seperti anak ikan.


“Baik tuan. Baju yang mana tuan?” di bentak Byan membuat mereka semakin ketar-ketir dan kehilangan fokus.


“Astaga! Ambil saja kemeja dari lemariku. Ganti baju maureen. Dan dua orang bereskan kamar Maureen. Jangan ada benda tajam apapun di kamarnya.”


“Baik tuan!” sepertinya mereka mulai sadar dari kepanikannya. Mereka bubar jalan. Masing-masing mengambil tugas sesuai petunjuk Byan.


“Ini tuan, baju untuk nyonya.” Satu pelayan memberikan kemeja pada Byan.


“Kamu yang gantikan. Aku tunggu di luar. Ingat, hati-hati dan jangan lama.”


“Baik tuan.” Pelayan itu memanggil temannya yang ada di pintu agar segera mendekat. Ia butuh bantuan.


“Maureen, aku tunggu di luar. Tenanglah, aku tidak akan lama,” ucap Byan seraya mengusap dahi Maureen lalu mengecup keningnya.


Dua pelayan itu saling melirik dan bisa-bisanya mereka menahan senyum karena melihat sikap Byan yang manis.


Tidak lama, Byanpun keluar kamarnya. Ia menunggu dengan gelisah pelayan itu mengganti baju Maureen.


“Hah, kenapa lama sekali? Masa harus aku yang mengganti bajunya.” Byan bergumam sendiri seraya memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.

__ADS_1


Kapan sih waktu bisa berjalan sesuai dengan yang ia minta?


*****


__ADS_2