Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Pemandangan Pagi


__ADS_3

Pagi menjelang, mata Maureen sudah terbuka sedikit demi sedikit. Tangannya meraba-raba, mencari gelas yang biasa ia taruh di meja dekat sofanya. Tenggorokannya sangat kering dan ia butuh minum.


“Gelasnya kemana?” tanya Maureen, saat ia tidak menemukan benda berbahan dasar kaca itu. Ia terpaksa membuka matanya lebih lebar untuk mencari keberadaan gelasnya.


“Akh, sial!” dengusnya saat ia melihat gelasnya jatuh di atas karpet dan airnya tumpah semua. Padahal ia sudah sangat haus.


“PELAYAN!!!” teriak Maureen dengan suaranya yang besar dan serak khas bangun tidur.


“PELAYAN!!!” lagi ia berteriak, tapi tidak ada satu orangpun yang datang menghampiri.


“Akh, kemana perginya orang-orang itu?” Maureen bertanya pada dirinya sendiri. Ia terpaksa beranjak dari atas sofa, duduk beberapa saat untuk mengumpulkan kesadarannya.


Ia mengucek matanya yang masih terasa rapat. Entah mengapa tubuhnya malah terasa lemah padahal ia sudah tidur semalaman. Lehernya pun pegal. Mungkin ini akumulasi dari kebiasaan Maureen yang tidur di sofa, bukan di atas ranjang.


Beberapa saat ia memandangi ranjang di hadapannya, entah mengapa ia tidak pernah memiliki keinginan untuk menempati tempat itu. Auranya terlalu dingin dan membuat perasaannya tidak nyaman.


Akhirnya ia memutuskan untuk beranjak. Menalikan outer baju tidurnya lantas mencepol rambutnya tinggi-tinggi. Ia beranjak keluar dari kamarnya dengan membawa gelas kosong di tangannya.


“Selamat pagi nyonya.” Seorang pelayan terlihat terkejut melihat Maureen turun dan membawa gelasnya sendiri.


“Darimana kalian, aku panggil tidak ada yang menyauti.” Maureen menatap pelayan itu dengan kesal.


“Mohon maaf nyonya, kami baru selesai memajang lukisan yang dibawa tuan muda.” Terang pelayan itu.


“Lukisan?” perhatian Maureen beralih pada dinding di rumah ini.


“Dimana kalian memasangnya?” tidak ada lukisan baru yang ia lihat.


“Satu lukisan di ruang tamu nyonya dan dua lainnya masih di kamar tuan muda.” Terang pelayan.

__ADS_1


Maureen segera menuju ruang tamu dan benar saja, ada lukisan baru di sana. Lukisan seorang wanita bermata sipit mirip Byan. Maureen tersenyum kecil, rasanya ia tahu wajah siapa yang di Lukis Byan.


“Biarkan saja.”


Ia membiarkan begitu saja lukisan Andini terpajang di ruang tamu. Tidak ada masalah untuknya karena lukisan orang yang sudah meninggal, tidak akan membuat rumah ini menjadi milik orang itu lagi. Ia yang masih hidup yang akan mempertahankannya.


Pelayan itu mengangguk patuh.


Tapi sesuatu cukup mengganggu pikirannya. Pikiran tentang ucapannya pada Byan kemarin. Ia melihat Byan yang emosional saat Maureen menyebut ibunya.


"Äkh sial, harusnya aku tidak membahas itu. Aku malah terlihat tidak sopan dan tidak tau diri." Maureen membatin, merutuki ucapannya kemarin. Haruskah ia meminta maaf pada Byan?


“Mau saya ambilkan minum nyonya?” tawar pelayan yang membuyarkan pikiran Maureen.


“Jangan terlalu dingin.” Maureen memberikan gelasnya pada pelayan.


"Baik nyonya."


“Kondisimu sudah membaik?” suara Byan tiba-tiba terdengar.


Maureen segera menoleh dan benar saja anak tirinya ada di belakangnya. Masih berkeringat sehabis berolahraga.


Maureen bisa melihat mata beberapa pelayan yang lewat tampak membulat dan senyumnya yang tertahan saat melihat sosok Byan yang terlihat hot saat berkeringat begini.


“Membaik.” Maureen memilih memalingkan wajahnya. Apa pedulinya, bertanya kabar segala, pikir Maureen.


“Minta pelayan buatkan sup supaya kondisimu semakin membaik.” Komentar Byan. Ia berjalan melewati Maureen yang sudah berada di anak tangga kedua hendak menuju kamarnya.


Maureen tersenyum kecut mendengar ujaran anak tirinya. Apa dia benar-benar peduli pada Maureen?

__ADS_1


Merasa Maureen tidak menimpali ucapannya, Byanpun menghentikan langkahnya. Ia menoleh lagi pada Maureen yang mematung di tempatnya, mencoba membaca siasat apa yang akan dilakukan anak tirinya sekarang. Tidak wajar bukan memberinya saran agar makan sup padahal mereka dua orang yang sedang saling menjatuhkan?


“Meskipun aku tidak menyukaimu, aku tidak pernah berniat untuk meracuni seseorang, seperti yang pernah kamu lakukan.” Ucap Byan yang tersenyum sinis pada Maureen.


“Apa maksudmu? Aku tidak pernah berniat meracunimu?” Maureen langsung terhenyak dan meradang.


“Memangnya aku menyebut namamu? Aku hanya mengatakan ‘seseorang’.” Byan memberi tanda kutip pada kata seseorang. Ia tersenyum sinis melihat ekspresi Maureen yang tampak tidak terima.


“Atau ibu tiri pernah berniat meracuniku?” kali ini Byan benar-benar bertanya.


“Tidak. Untuk apa aku meracunimu? Kamu memang sainganku dan persaingan kita bukan tentang siapa yang harus hidup dan siapa yang harus mati. Untuk apa aku mengotori tanganku dengan membunuh anak tiri?” tegas Maureen penuh keyakinan. Matanya yang membulat sungguh membuat gemas.


Byan hanya tersenyum kecil, ia memang bisa melihat kesungguhan Maureen.


“Mandilah, penampilan berantakan tidak cocok untukmu.” Timpal Byan kemudian. Ia tidak menimpali perdebatan mereka lagi. Lantas ia memilih pergi meninggalkan Maureen.


“Hey Byan, jangan pernah berpikir kalau aku ibu tiri yang jahat sampai membunuh seseorang.” Maureen masih belum puas.


“Ya, kamu hanya ibu tiri yang malang.” Timpal Byan tanpa menoleh pada Maureen. Di balik itu, ia tersenyum kecil lalu masuk ke kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat.


Ia duduk di tepian tempat tidurnya dan menatap canvas kosong yang baru akan ia Lukis. Lukisan siapa yang kemudian akan ia buat nantinya?


Di tempat berbeda, Maureen terlihat gelisah. Ia mondar-mandir di kamarnya sambil mencoba menghubungi Tifani. Ia sangat yakin kalau Byan mengetahui sesuatu hingga berani berkata seperti itu.


“Tifani, angkat dong … kamu ngomong apa sama Byan?” gumam Maureen sambil mengigiti kuku jarinya.


“Akh sial!” dengusnya saat ternyata Tifani malah mereject panggilannya. Panggilan berikutnya ia coba lagi dan nomornya sudah di blok.


“Brengsek! Kamu nyembunyiin apa dariku, Fan?” gumam Maureen seraya menatap layar ponselnya dengan kesal. Tifani benar-benar menguji kesabarannya dan Maureen harus segera mencarinya. Ia butuh penjelasan.

__ADS_1


****


__ADS_2