
Kabar sakitnya Byan, ternyata sudah sampai ke telinga Ruwina dan Edwin. Sepertinya Melda sudah menyampaikan pada Edwin alasan Byan tidak bisa menemuinya hari ini. Tentunya bukan tanpa alasan melainkan karena pagi ini Byan mengalami kecelakaan di area konstruksi.
Malam ini, Ruwina langsung melakukan panggilan video untuk mengecek kondisi Byan secara langsung. Sepertinya ia mencemaskan penerus satu-satunya dari keluarga Anggoro.
“Kamu kok bisa sampe celaka begitu, emang kamu ngapain di sana sampe kaki kamu patah?!” mata Ruwina melotot di layar ponsel Byan, menunjukkan keterkejutan dari apa yang ia dengar.
”Bukan kaki aku yang patah oma, Cuma ruas jari kelingking dan jari manis aja. Itu harena tertimpa besi di area konstruksi. Tapi kondisinya gak parah, gak perlu operasi.” Terang Byan menenangkan sang nenek.
“Gak parah gimana, yang namanya patah tulang ya pasti parah. Apalagi jari kaki kamu kan pasti kecil-kecil. Gimana nyambunginnya coba kalau gak dioperasi.”
Byan hanya tersenyum kecil, memang sulit memberi pemahaman pada neneknya yang sudah memiliki sudut pandang sendiri tanpa mau mendengar orang lain.
“Minta pelayan buat bikinin kamu bubur, supaya kamu cepet sembuh.” Lanjut wanita itu.
“Ya ampun omaaa, Byan patah tulang, bukan sakit tifus, kenapa makannya harus bubur? Yang ada Byan malah lama sembuhnya karena tenaga Byan gak ada. Di perut Byan, bubur bertahannya paling sejam doang.” Baru kali ini Byan protes.
Pikirnya, kenapa semua penyakit makanannya harus bubur coba?
“Kan makannya harus yang gampang di cerna. Bubur itu gampang di cerna, jadi kamu cepet pulih.” Ruwina masih dengan pemahamannya sendiri. Byan ingin tertawa tapi takut dosa. Mungkin saat tua nanti ia pun akan punya pemikiran sendiri yang sulit untuk di ubah.
“Kamu harus cepet sembuh Byan, jangan lama-lama sakitnya. Kalau kamu lama sakitnya, nanti si janda itu jadi punya kesempatan buat ngerebut lagi perusahaan dari kamu. Kemalangan kamu itu keuntungan buat dia.”
Pada kalimat ini senyum Byan terhenti, tepatnya saat Ruwina membahas Maureen. Ada rasa tidak suka saat Maureen di labeli buruk oleh neneknya.
“Oma juga gak bisa dateng buat nengokin kamu. Bukan karena Oma gak peduli sama kamu tapi Oma males ketemu dia. Udah pasti dia bakal bersikap buruk sama Oma dan om kamu. Oma gak yakin dia juga bakal bukain pintu."
__ADS_1
"Padahal status dia saat ini tuh cuma mantan istri Anggoro. Tapi gayanya selangit seolah dia penguasa semuanya. Gedek Oma liatnya.”
Ruwina masih dengan ujaran kebenciannya tentang Maureen, membuat Byan hanya bisa menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
Tanpa Byan tahu, sosok ibu tiri yang sedang di bahas Ruwina itu, sedang berdiri di pintu kamarnya. Maureen yang sudah membawa obat untuk Byan minum, urung masuk ke kamar anak tirinya. Perbincangan Byan dan Ruwina sepertinya sangat penting, penting untuk Maureen hindari agar emosinya tetap terkendali.
Beberapa kali Maureen berusaha mengatur nafasnya untuk menenangkan dirinya. Ia turun mencari pelayan dan memberikan obat itu pada pelayan.
“Tolong berikan ini pada tuan muda.” Titah Maureen sambil memberikan baki berisi obat dan air minum pada pelayan. Ia memutuskan, biar pelayan saja yang mengantar obat untuk Byan. Ia tidak mau mengganggu komunikasi Byan dengan neneknya.
“Baik nyonya.” Pelayan itu mengangguk dengan patuh.
Setelah itu ia menghubungi Riswan, ada sesuatu yang harus ia katakan.
“Selamat malam nyonya muda.” Jawaban Riswan memang selalu cepat, tidak pernah lebih dari tiga deringan telepon.
“Ada yang bisa saya bantu nyonya?” laki-laki itu dari sebrang sana seperti paham dengan kegelisahan Maureen.
“Datanglah kemari dan menginaplah. Mana tau Byan membutuhkan bantuanmu untuk sekedar ke toilet.” Pinta Maureen.
“Baik nyonya, saya akan segera ke sana. Apa nyonya perlu yang lainnya?”
“Tidak, terima kasih. Cukup datanglah dengan cepat.” Tegas Maureen.
Laki-laki paruh baya itu mengiyakan perintah nyonya mudanya. Lantas Maureen memilih kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Di kamarnya, Byan menunggu kedatangan Maureen. Katanya sebelum tidur Byan harus meminum obatnya tapi sampai sekarang Maureen belum Kembali. Padahal dia bilang hanya mau mengambil air minum.
“Apa aku gak perlu minum obat?” Byan mengirim sebaris pesan pada Maureen.
Yang di sebrang sana memandangi pesan itu. Ia masih berdiam diri di balkon untuk menyegarkan pikirannya. Mungkin angin malam yang bertiup lembut bisa menguyar kepenatan yang ia rasakan setelah mendengar ucapan Ruwina tadi.
Ia merasa Ruwina selalu menyerangnya tapi saat ia membuat benteng pertahanan, tindakannya pun selalu di anggap salah dan membangkang. Maureen sadar benar, sebaik apapun usaha ia di hadapan orang yang membencinya, bagi Ruwina, Maureen tetap salah dan buruk. Tidak ada kebaikan sedikitpun yang Ruwina lihat dalam dirinya.
Sudahlah, apa pedulinya, toh ia bukan hidup untuk menyenangkan Ruwina, kan?
“Pelayan akan mengantarnya.” Balas Maureen pada Byan.
Tidak lama ia melihat pelayan mengetuk pintu kamar Byan dan masuk ke kamar itu. Sepertinya tidak ada masalah dengan itu, toh Maureen sudah menyiapkan obat dengan benar.
“Kamu udah mau istirahat?” Byan mengiriminya pesan lagi.
“Y.” Hanya satu huruf balasan Maureen.
Byan mengernyitkan dahinya, tumben pikirnya.
“Selamat malam Maureen, istirahatlah. Maaf karena hari ini aku banyak merepotkanmu.” Laki-laki itu mengirimkan pesan terakhirnya untuk Maureen.
Kali ini, Maureen hanya membacanya tidak membalasnya hingga satu jam berlalu.
Byan mematung di tempatnya. Begitupun dengan Maureen yang memilih berbaring di sofanya. Pikiran mereka sama-sama tertaut pada satu hal, kenapa hari ini terasa begitu berat? Tentunya dengan alasan mereka masing-masing.
__ADS_1
****