
Bara kemarahan itu masih menyala. Maureen dengan langkah gontainya, menjauh dari Riswan. Pengakuan Riswan menjadi titik balik yang membuat semuanya terasa semakin hancur. Ia mendudukkan tubuhnya yang lemas di bangku besi yang menghadap kolam renang, dengan perasaan yang entah.
Satu per satu wajah muncul di pikirannya. Wajah Renita, Malik, Anggoro, Edwin dan orang-orang yang saat itu datang ke rumah duka dan hanya berfoto dengan karangan bunga yang mereka antarkan.
Miris, di saat seperti ini Maureen baru tahu kebenarannya. Ia berpikir selama ini, Anggoro lah yang membuat ibunya depresi. Mengintimidasi ibunya agar Renita putus asa.
Tapi ternyata yang membuat Renita hancur bukan sebuah intimidasi melainkan sikap abai dan tidak mau tahu dari pihak yang harusnya bertanggung jawab.
Sehancur itu saat Renita kehilangan laki-laki yang begitu dicintainya dan sikap orang-orang yang acuh oada kesedihannya membuat Renita gelap mata hingga memilih mengakhiri hidupnya.
Mengapa semuanya harus disampaikan oleh Riswan? Mengapa bukan Edwin sang direktur pengembangan yang datang? Pertanyaan itu masih belum terpecahkan oleh Maureen.
“Nyonya,” Riswan menghampiri Maureen yang terduduk dengan lemah. Ia sudah tidak punya tenaga lagi untuk memaki Riswan.
“Saya tahu kalau kesalahan saya sangat besar dan tidak bisa dimaafkan. Tapi sungguh, saya tidak pernah menduga kalau Nyonya Renita akan mengakhiri hidupnya karena sikap tidak empati kami. Saya sangat menyesalkan hal itu.” Riswan berujar dengan sesungguhnya.
“Lucu, kamu pikir ucapan seperti itu cukup untuk menghibur rasa sedih dan kehilanganku? Terlebih kamu telah menipuku selama ini Riswan. Kamu tidak pernah sekalipun menunjukkan itikad baik untuk mengakui kesalahanmu terhadapku. Kamu terus meyakinkan kalau Mas Anggoro tidak salah karena kamu tahu, kamulah yang bersalah dalam masalah ini.”
“Sekarang pun aku tidak yakin, kalau kamu benar-benar menyesal. Karena sejatinya, seekor ular bisa berganti kulit tapi sosoknya tetaplah ular.” Maureen berbalik menatap Riswan dengan senyuman sinis.
Riswan mengangguk paham. Maureen memang sangat pantas untuk marah dan murka terhadapnya. Andai ia bisa mengulang waktu dan tidak melakukan kebodohan itu, mungkin ia akan sangat beruntung bertemu dengan gadis ini.
__ADS_1
Sejujurnya, ia pun ingin mengakui bahwa ia sangat menyayangi Maureen. Tapi apa akan ada artinya pengakuan itu untuk Maureen?
Keputusan yang sulit sebenarnya ketika Riswan berjanji pada Anggoro akan menjaga Nyonya mudanya. Mau tidak mau, dengan berada di samping Maureen rasa sesalnya semakin jelas terasa dan tidak akan pernah bisa hilang. Tapi ia tidak punya pilihan lain, untuk menebus kesalahannya ia bertekad untuk selalu memastikan kalau Nyonya mudanya akan selalu baik-baik saja dan berada di bawah perlindungannya.
“Nyonya, Anda sangat pantas untuk marah dan murka pada saya. Anda mau memaki dan memukul saya pun silakan. Lakukan yang ingin Nyonya lakukan. Saya menerima semua kemarahan Nyonya. Tapi, izinkan saya melakukan sesuatu untuk Anda. Saya harap, ini bisa membuat beban perasaan Anda sedikit berkurang.”
Riswan berujar dengan sungguh. Tekadnya sudah bulat untuk membuka penuh semua tabir yang menyelimuti alasan kematian orang tua Maureen.
“Terserahlah. Aku bahkan sudah tidak menganggap benar setiap ucapanmu. Jadi, tidak perlu susah payah untuk berjanji apapun padaku. Karena aku tidak memerlukan itu lagi,” ucap Maureen dengan sungguh-sungguh.
Riswan tidak lagi berkata-kata, kepercayaan Maureen terhadapnya adalah hak mutlak wanita itu. Ia tidak bisa memaksanya. Ia hanya akan menunjukkan kalau ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
Langkah kaki tegas milik Riswan, membawa pria itu keluar dari rumah Anggoro. Dengan mobil sedan mewahnya ia pergi menuju Anggoro corp.
Ia benar-benar menyesal karena sudah menyia-nyiakan banyak waktu untuk menyembunyikan masalah ini. Harusnya ia tidak terlena dengan sikap Maureen yang mulai tenang dan tidak terlihat ingin menghancurkan Anggoro corp. Ia paham kalau rasa marah Maureen itu tidak akan pernah hilang. Tapi paling tidak, waktu bisa membuat Maureen menerima semuanya secara perlahan.
Sayangnya, prediksi Riswan salah. Kemarahan Maureen sama halnya dengan bom waktu, ia menunggu waktu yang tepat untuk meledak. Dan saat ini ia hanya bisa melakukan usaha terakhirnya untuk memperbaiki semuanya.
Setengah jam perjalanan, Riswan tiba di Anggoro corp. Ia membuka brangkas miliknya lalu mengambil satu berkas dokumen yang ia simpan beberapa lama ini. Ia memeriksanya dan mendapati beberapa bagian dokumen ini hilang.
“Sial, tuan Edwin pasti mengambil beberapa halaman penting dari sini!” dengus Riswan. Ia tahu persis isi dokumen ini seperti apa maka ia akan sangat hapal jika ada satu lembar saja yang hilang.
__ADS_1
“Aku akan memintanya. Aku tidak akan menundanya lagi. Sekalipun aku harus berhadapan dengan pria itu.” Tekad Riswan sudah benar-benar bulat dan ia tidak akan menundanya lagi.
****
Sepeninggal Riswan, Maureen membuka-buka scan dokumen peninggalan Renita. Ia menangisi setiap tulisan tangan yang ibunya buat. Begitu besar usaha Renita untuk membuktikan kalau Malik meninggal bukan karena kecelakaan melainkan karena kelalaian pihak kontraktor tempatnya bekerja.
Bertahun-tahun Maureen bekerja di Anggoro corp, ia mencoba memahami pola kerja setiap rekanan kontraktor di perusahaan ini. Tidak sedikit rekanan yang bekerja sesuai dengan SOP nya namun ada saja oknum yang curang dan lalai dalam pekerjaannya.
Malik adalah korban namun tidak ada pembelaan untuk pria itu. Hal ini yang Maureen yakini sangat menyakiti hati ibunya. Di saat ia membutuhkan dukungan dan pembelaan, tapi satu persatu orang pergi dan meninggalkannya dalam kedukaan dan keputus asaan. Sungguh Maureen bisa memahami kesedihan ibunya.
Dulu, saat Anggoro masih ada, Maureen pernah memeriksa semua dokumen project untuk mencari tahu kasus ayahnya. Ia menemukan sebuah dokumen yang tersembunyi walaupun tidak lengkap. Sayangnya, saat itu Anggoro mengetahui usaha Maureen untuk membongkar masalah ini. Laki-laki itu malah menawarkan sebuah kesepakatan pada Maureen.
Beberapa penggal kalimat Anggoro kemudian terngiang di telinga Maureen. Kalimat itu dikatakan persis setelah Anggoro melihat Maureen mengacak-ngacak dokumen untuk mencari bukti kesalahan Anggoro corp. Pria itu menangkap basah Maureen yang ingin menghancurkan Anggoro corp.
“Aku tidak bisa mengembalikan orang tuamu, aku juga tahu kalau penyesalan dan permintaan maafku tidak akan membuat perasaanmu membaik. Tapi aku mohon, jangan lakukan apapun pada Anggoro corp.”
“Perusahaan ini aku rintis sendirian dan dengan susah payah. Aku bisa memberimu apapun termasuk sebuah kekuasaan. Aku juga bisa memberimu kesempatan untuk menaklukan Anggoro corp, tapi tolong jangan menghancurkannya. Ada banyak orang yang menggantungkan hidupnya di sini.”
Kalimat-kalimat itu yang kemudian berdengung di kepala Maureen. Saat ini ia sadar, kalau Anggoro memang tidak tahu apa-apa.
“Astagaa….” Maureen melenguh kesal mengingat apa yang sudah ia katakan pada Anggoro kala itu. Kemarahannya tidak lebih kecil dari saat ini tapi sampai sekarang ia malah belum mendapatkan bukti yang sebenarnya.
__ADS_1
Apakah akan lebih baik kalau ia melihat apa yang akan dilakukan Riswan kemudian?
****