Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Panggilan dari sahabat


__ADS_3

Sebuah panggilan masuk ke ponsel Byan tepat di saat Byan akan pergi untuk makan malam. Nama yang muncul di layar ponselnya adalah Wisnu, sahabatnya yang sempat galau oleh Maureen.


Bagaimana kabar pria ini sekarang? Apa sudah mulai bisa melupakan Maureen?


“Ya,” Byan menjawab panggilannya singkat.


“Bro, lo dimana?” suara Wisnu terdengar tergesa-gesa.


“Di rumah. Ada apa?”


“Gue denger lo sakit, sakit apaan?” Wisnu benar-benar mencemaskan Byan, sahabatnya.


“Lo tau dari mana gue sakit?” Byan penasaran. Karena rasanya tidak ada teman dekat yang ia beritahu kondisinya saat ini.


“Tadi gue mampir ke kantor lo, buat ngasihin kerja sama dari travel gue. Gue minta ketemu lo tapi katanya lo lagi sakit. Sakit apaan emang?”


“Oh ini, gue ngalamin kecelakaan kecil kemaren, jari kaki gue ada yang patah jadi gue di suruh istirahat dulu di rumah.”


“Gue ke sana ya,"


“Dih jangan, di sini ada Maureen. Lo mau cari mati?” Byan berreaksi dengan cepat.


“Gue bukan nyari mati tapi nyari yang gue kangenin." Wisnu malah terkekeh.


"Jangan gila lo!" Byan mulai panik.


“Ya gak apa-apa gue tetep ke sana. Gue bisa pura-pura kalau gue gak tau dia itu nyokap tiri lo. Lagian gue juga udah lama gak ketemu dia, kangen.” Wisnu tersenyum kecil di sebrang sana. Ia masih belum bisa melupakan sosok Maureen yang membuatnya jatuh cinta.


“Jangan lah! Kalau dia curiga gue sengaja ngenalin lo buat jebak dia gimana? Lo kan suka keceplosan.”


“Ya kagak kali. Gue bisa jaga omongan gue kok. Lagian gue kangen banget sama dia. Gara-gara dia, gue ngeliat semua cewek di dunia ini kayak jelek semua. Standar gue mulai naik anjir. Dia mesti tanggung jawab. Gue beneran mau ngejar dia dengan cara yang bener. Tentunya dengan bantuan lo juga.” Wisnu berujar dengan semangat membuat Byan semakin enggan meminta sahabatnya datang.


“Lo jangan cari gara-gara, mendingan lain waktu aja deh lo main ke sini. Besok deh besok, lo boleh main ke sini.”


“Wih, beneran besok gue boleh main ke tempat lo?” Wisnu terdengar begitu bersemangat.


“Iya, boleh. Lo mau nginep juga boleh. Ya semalem doang tapi.” Byan dengan siasat yang sudah tersusun di kepalanya.

__ADS_1


Ia tidak mempermasalahkan Wisnu datang besok karena Maureen tidak berada di rumah. Jadi mereka tidak akan bertemu.


“Okey lah, besok gue ke sana. Lo mau gue bawain apa?” Wisnu terdengar begitu riang.


“Gak usah bawa apa-apa. Kayak mau direpotin aja lo.”


“Hahahahaha … lo tau aja kalau gue gak suka basa-basi kayak gitu. Tapi boleh gak gue bawa bunga sama makanan? Atau apa deh makanan kesukaan Maureen, besok gue bawain. Ya kita buat kebetulan yang indah seolah feeling gue kuat banget buat dia.” Wisnu asyik berceloteh membuat Byan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Gue gak tau makanan favorit dia. Terserah dah lo mau bawa apa juga. Pasti ada yang makan kok.” Pasti ada yang makan tapi bukan Maureen, hahaha…. Byan tertawa jahat dalam hati.


“Okeylah, gue ke sana besok. Sampe ketemu bro.”


“Yo, sampe ketemu!”


Panggilan pun terputus dan Byan bisa menghembuskan nafasnya lega. Beruntung Wisnu akan datang besok jadi ia tidak perlu ketar ketir takut mereka bertemu.


Selesai bertelepon, Byan menaruh kembali ponsel di tempatnya. Tanpa sengaja ia melihat sosok bayangan di pintu.


“Siapa di sana?” tanya Byan.


“Saya, Tuan.” Suara itu bukan milik Maureen, ia bisa tenang.


“Makan malam sudah siap, Tuan.”


“Iya, aku akan ke sana.”


Byan merapikan dirinya sebelum keluar kamar. Menata rambutnya juga memastikan pakaiannya rapi karena akan bertemu dengan Maureen. Setelah merasa yakin, ia pun segera keluar kamar.


Sebuah makan malam sudah di siapkan. Seorang wanita sudah berada di sana dan terlihat cantik dengan pakaian sederhananya. Byan tersenyum kecil, melihat Maureen yang tampak manis tanpa riasan make up sedikitpun. Rambutnya ia ikat ekor kuda dengan beberapa helai rambut yang masih menjuntai. Sepertinya ia tidak terbiasa mengikat rambut seperti itu. Tapi sungguh, pemandangan itu membuat penglihatan Byan sangat segar.


“Kemarilah, kamu mau makan malam di balkon kan?” panggil Maureen yang sadar Byan hanya terdiam di tempatnya.


“Ya!” Byan begitu bersemangat.


Ia melajukan kursi rodanya mendekat pada Maureen.


Tangan Maureen yang cekatan, memindahkan satu kursi yang di taruh pelayan agar Byan bisa duduk di kursi roda saja.

__ADS_1


“Boleh gak aku duduk di kursi itu aja?” pinta Byan. Ia ingin duduk di kursi yang sama dengan Maureen.


“Oh, boleh.” Maureen celingukan mencari Riswan tapi sepertinya laki-laki itu ada di kamarnya.


Akhirnya Maureen memutuskan untuk memindahkan Byan seorang diri. Ia berdiri di belakag Byan. Mengunci kursi roda lalu menegakkan tubuh Byan. Hal tidak terduka dilakukan Maureen saat tiba-tiba tangannya masuk ke sela lengan dan tubuh Byan lalu merangkulnya dari belakang.


Astaga, jantung Byan seperti mau copot. Bulu kuduknya juga meremang. Antara geli dan senang bercampur menjadi satu.


“Gunakan satu kakimu yang sehat untuk berpijak.” Suara Maureen terdengar berbisik di telinganya dan membuat bulu kuduk Byan semakin meremang.


“I-iya.” Byan sampai gugup gemetaran.


Ia mengikuti permintaan Maureen untuk berpijak pada satu kaki. Rangkulan itu terjadi beberapa saat saja, tepatnya saat Maureen memindahkan tubuh Byan ke atas kursi makan. Byan tidak bisa berkata-kata, kakinya mendadak lemas dan tidak bertenaga.


“Okey, apa udah nyaman?” suara Maureen kembali bergema di pikirannya.


“Nyaman,” sahutnya lemah.


Sejujurnya rasa nyaman itu adalah saat Maureen merangkul tubuhnya.


Byan memperhatikan Maureen yang memindahkan kursi rodanya, lalu duduk di hadapannya.


“Mau makan pake apa?” Maureen memberikan kembali perhatiannya pada Byan. Pemikirannya siang tadi agar ia bersabar menghadapi tingkah Byan, benar-benar ia lakukan.


“Apa aja. Aku mau makan semuanya.” Selera makan Byan tiba-tiba muncul.


“Bagus kamu gak pilih-pilih makanan. Itu akan membuat kamu cepet sehat.” Maureen berujar dengan tenang. Ia juga tersenyum kecil pada Byan. Sungguh, Maureen beri racunpun Byan akan meminumnya karena pasti rasanya manis seperti senyuman Maureen.


Maureen memilihkan lauk untuk Byan. Empat sehat lima sempurna.


“Makanlah yang banyak,” pesannya setelah piring Byan terisi penuh.


Byan mengangguk dengan semangat. Ia mulai melahap makanannya sambil sesekali melirik Maureen. Ia juga melihat Maureen yang sesekali memperhatikannya. Sepertinya kemarahannya sudah hilang dan perasaannya sudah lebih baik. Mereka sempat bertatapan beberapa saat, saling melempar senyum dengan perasaan yang entah.


Akh sungguh, ini makan malam paling enak menurut Byan. Ada manis-manisnya gitu.


****

__ADS_1



__ADS_2