Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Pulau baru


__ADS_3

Perjalanan menuju tempat project pembangunan resort, memang cukup jauh. Maureen dan Dita baru tiba di penginapan menjelang siang hari. Lalu dengan perahu kecil, mereka harus menempuh lagi perjalanan sekitar empat puluh lima menit lagi untuk sampai di pulau tempat resort di bangun.


Melihat langsung laut yang biru dengan air yang jernih juga sapuan angin yang lembut, membuat Maureen begitu menikmati perjalanan panjangnya bersama Dita. Dita bagian yang sibuk mengambil banyak dokumentasi kunjungan. Entah itu dokumentasi pemandangan alam, wajah Maureen yang terlihat cantik seperti dewi air atau hal lain yang bisa ia abadikan melalui kamera digitalnya.


“Kak Maureen liat sini,” panggil Dita yang sedang asyik merekam perjalanan mereka.


Maureen menoleh, menunjukkan wajah cantiknya di balik kacamata hitam dan floppy hats yang lebar dan teduh.


“Senyum lah kak,” pinta Dita dengan kamera yang fokus pada Maureen selama beberapa detik.


Maureen menurut dengan memberikan senyumnya pada Dita.


“Widiiihh cakep banget sih,” puji Dita sambil terkekeh.


“Sini, giliran kamu yang aku videoin,” tawar Maureen. Sedari tadi Dita saja yang asyik dengan kamera digitalnya sementara Maureen lebih suka melihat pemandangan di sekitar yang membuat pikirannya tenang.


Otaknya seperti di refresh dan diberi daya baru setelah melihat kemilau air di bawah cahaya matahari yang cerah.


“Kita wefie aja kak,” Dita berpindah duduk ke samping Maureen lalu mendekatkan wajahnya pada Maureen agar masuk terbingkai optic kamera. Mereka menunjukkan senyum yang merekah dan beberapa ekspresi yang menggemaskan.


“Aku mau liat dulu hasilnya.” Dita segera mengecek hasil video dan fotonya.


“Waahhh cakep kak. Kitanya cantik, background nya indah. Ini sih mantap banget. Aku upload sambil tag kakak ya....” Seru Dita dengan antusias.


"Ïya," Maureen tidak merasa keberatan dengan itu. Sudah lama juga ia tidak memperbaharui laman feed media sosialnya. Jangan sampai berjamur kan?


“Kalau semisal video kita aku jadiin bagian dari video promo kita, boleh gak kak? Soalnya di sini kak Maureen cantik banget, jadi kita gak usah sewa artis. Mending aku bikin mini vlog terus aku sisipin di video promosi.” Dita menatap Maureen penuh harap dukungan.


“Kamu yakin? Tampang aku gak menjual loh, mending sewa artis profesional.” Maureen tidak terlalu percaya diri.


“Siapa bilang tampang kakak gak menjual? Muka mirip aktris Korea gitu, aku aja kalau cowok, pasti naksir sama kakak.”


"Lebay, kamu. Mending pemandangannya aja yang diperbanyak biar wisatawan penasaran dengan perjalanan kita menuju resort nantinya."

__ADS_1


"Iyaa itu udah pasti kak. Aku tambahin tampilan kakak dikit kan biar keliatan kesan bahagia dan tenangnya, sisanya nanti aku banyakinnya shoot kakak tampak samping atau belakang dan lebih fokus ke objek yang mau kita promosikan. Gimana?"


"Boleh, tapi muka akunya dikit aja di tampilin di video."


“Iyaa, okey-okeey. Aku gak ngerti, kenapa sih yang mukanya cantik kayak kak Maureen malah jarang mau di foto sementara yang mukanya B aja kayak aku malah doyan banget pasang muka sendiri di banyak wall?”


“Ya wall facebook, wall Ig, story medsos. Yang enggak cuma wall polsek doang.” Dita berceloteh dengan lucu.


Maureen hanya terkekeh mendengar ucapan Dita yang belum terbukti kebenarannya.


“Aku gak paham. Yang jelas, aku lebih suka menikmati pemandangannya aja. Ini lebih menyenangkan.” Baru kali ini Maureen mengeluarkan ponselnya dan merekam banyak hal di sekitarnya. Termasuk nelayan yang melajukan perahu menuju pulau yang sudah terlihat di depan mata.


“Okeylah, aku lanjutin rekam yang lain.” Dita akhirnya menurut saja.


Tiba di pulau tempat project pembangunan dilaksanakan, Maureen di sambut oleh kepala project yang sedang menunggunya di tepi pantai. Dita dan Maureen di bantu turun dari perahu dengan memegangi tangan dua wanita itu.


“Terima kasih, Pak,” ucap Maureen yang mengangguk sopan pada laki-laki paruh baya yang membantunya turun.


Laki-laki itu hanya tersenyum dan mengangguk.


"Terima kasih. Gimana progress pembangunan? Sudah sampai berapa persen?" Maureen melihat ke sekeliling pulau yang luas dan sepi penghuni ini. Pulau ini hanya dihuni oleh tiga belas kepala keluarga saja dan sudah dilokalisasi di tempat yang lebih aman dan nyaman.


Pulau ini memang masih sangat asri. Hamparan pasir putih yang terhampar di tepi pantai, terlihat begitu berkilauan. Kumbang-kumbang laut yang mungil berjalan di pesisir pantai, ikan kecil berenang di garis pantai yang ditumbuhi sedikit terumbu karang. Juga pemandangannya yang indah dan angin yang sepoi-sepoi benar-benar menyegarkan penglihatan siapapun yang memandang.


"Mohon maaf nona Maureen, kami memang ada sedikit keterlambatan dalam progress pembangunan. Hal ini karena kami kesulitan mendatangkan material bangunan. Ketersediaan bahan material di sekitar sini, cukup terbatas sehingga kami harus menunggu pengiriman dari suplier terdekat," terang sang kepala proyek. Ia tertunduk malu di hadapan Maureen yang terlihat kecewa dengan pencapaian mereka.


"Lalu, bagaimana dengan lokalisasi penduduk setempat? Kalian sudah menempatkan mereka di tempat yang aman dan nyaman?"


"Sudah nona. Kami juga membangunkan dermaga, seperti yang nona minta. Kegiatan melaut mereka berjalan lancar. Perahu nelayan sudah kami sediakan yang lebih bagus dan kokoh. Suply bahan makanan mulai datang secara teratur sehingga penduduk lokal merasa sangat terfasilitasi."


Maureen melihat kesungguhan kepala project ini, ia hanya perlu membuktikan apakah ucapannya benar atau tidak. "Aku ingin meninjau lokasi lokasisasi setelah itu baru ke lokasi project dan daerah konservasi. Beri aku site plannya."


"Oh baik nona, mohon tunggu sebentar. Saya akan mengambil mobil dulu dan site plan yang sudah saya siapkan."

__ADS_1


Laki-laki itu bergegas pergi mengambil mobil yang terparkir.


Maureen tersenyum lega karena ia berhasil memegang kendali atas peroject ini.


"Waawww keren kak Maureen," ucap Dita yang tersenyum lebar melihat apa yang dilakukan Maureen.


"Keren apanya?" Maureen menoleh Dita yang memandanginya dengan rasa kagum.


"Ya keren, vibesnya itu loh. Badas! Macam CEO perempuan di film Korea aja. Kak Maureen gak liat kalau kepala project itu langsung tunduk di bawah kak Maureen tanpa banyak cingcong."


"Giiilaaa!!! Pantesan tuan Anggoro bangga banget sama kak Maureen. Kak Maureen pake lengkap. Ada brain, beauty and behavior. Mantaaaappp!!!" seru Dita seraya mengacungkan dua ibu jarinya pada Maureen.


"Lebay kamu! Udah, ayok siap-siap kita keliling." Maureen memilih meninggalkan Dita yang masih menatapnya penuh dengan kekaguman.


"Eh, keliling kemana? Kita gak ngaso dulu gitu kak? Minum kelapa muda atau es jeruk. Kayaknya enak." Dita berlari kecil menyusul Maureen. Ia sampai melepas wedgesnya karena kesulitan berjalan.


"Udah, ikut aja!" timpal Maureen dengan acuh.


"Aku mau di belakang aja, videoin kak Maureen."


"Jangan muka aku!" Maureen langsung mengulti. Menutup kamera dengan telapak tangannya.


"Okey, aku video gitar spanyolnya aja," ledek Dita sambil terkekeh.


"Awas kalau ngambil gambarnya yang aneh-aneh."


"Hahaha, nggak lah. Aku kan jagonya bikin video aestetic. Lama-lama aku pindah ke departemen promosi juga dah."


"Terserah, asal laporan kita nanti jangan kamu bikin video aestetic. Nanti direksi bingung liatnya."


"Hahahahaha... siap kak."


Kamera di tangan Dita sudah siap, ia mengikuti langkah Maureen di belakangnya dan memvideo yang teknik yang maksimal. Dita memang bisa diandalkan.

__ADS_1


*****



__ADS_2