Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Night cap


__ADS_3

“Kak Maureeeennnn!!!!” sebuah teriakan terdengar jelas dari dalam rumah. Adalah suara Dita yang memanggil Maureen dengan penuh ketakutan.


“Ya, aku di sini,” timpal Maureen dengan cepat.


“Kak, sini. Aku takut,” Dita merengek manja. Gadis itu memang takut dengan gelap.


“Iyaa, tunggu aku akan ke situ.” Maureen segera menyalakan senter di ponselnya. Berdo’a saja senternya bisa bertahan lama karena baterai ponselnya hanya tersisa dua puluh dua persen lagi.


Berjalan masuk ke dalam rumah yang gelap gulita, langkah Maureen begitu berhati-hati. Ia menyenteri setiap titik yang akan ia pijak. Benar kata kepala project kalau listrik di sini belum stabil sehingga bisa mati kapan saja. Sepertinya ini akan menjadi peer Maureen dan Anggoro corp berikutnya.


“Kak,” suara Dita terdengar lemah saat melihat Maureen tiba di hadapannya. Gadis itu sudah gemetaran berkeringat dingin, ia  terduduk di salah satu sudut ranjang sambil memeluk kedua kakinya yang terlipat.


“Tenang, aku ada di sini.” Maureen segera menghampiri Dita dan memeluk gadis yang berwajah pucat itu.


“Aku takut gelap kak,” suaranya terdengar terbata-bata di telinga Maureen.


“Aku ada senter, tenanglah. Walaupun lampunya mati tapi kita ada di tempat yang aman Ta, jadi tenanglah.” Maureen mengusap-usap punggung Dita untuk menenangkannya. Beruntung ia sudah terbiasa dengan rengekan adik-adiknya di panti sehingga ia bisa memberikan ketenangan yang cukup untuk Dita.


“Iya kak. Kak Maureen jangan kemana-mana ya. Aku gak mau sendirian.”


“Iyaa, emang aku mau kemana? Ya pasti di sinilah. Kita istirahat, kita udah capek seharian ini. Okey?” bujuk Maureen.


Dita mengangguk kecil dan melepaskan pelukannya dari Maureen. Berkat senter di ponsel ia bisa melihat wajah Maureen yang ada di hadapannya.


“Sekarang kita baringan. Kita tidur supaya besok pagi badan kita segar.” Maureen membantu Dita berbaring lantas ia menyusul. Menaikkan selimut ke atas tubuhnya dan berusaha menenangkan perasaan takut masing-masing.


“Kak, aku gak bisa tidur.” Dita memegangi tangan Maureen dengan erat. Rasa takunya terlalu besar. Belum lagi ada suara-suara yang terdengar dari luar rumah dan membuat bulu kuduknya meremang.


“Em, kalau kamu takut, gimana kalau kita cerita-cerita aja?” tawar Maureen berusaha mengalihkan perhatian Dita.


“Cerita apa kak?”


“Apa aja, terserah kamu. Misalnya, gimana perasaan kamu sekama bekerja di Anggoro corp? Apa yang kamu sukai dan gak kamu sukai kerja di Anggoro corp?” Maureen memberi contoh. Ia menoleh Dita yang membalik tubuhnya menghadap Maureen.


“Aku udah lebih dari dua tahun kerja di Anggoro.” Dita langsung menyahuti sepertinya ia memang membutuhkan pengalihan untuk rasa takutnya.

__ADS_1


“Ehem, lalu?” Maureen dengan tenang mendengarkan.


“Em, aku suka kerja di Anggoro corp. Walaupun kerjaannya banyak dam berat tapi aku jadi berasa tambah pinter karena diajari banyak hal. Belum lagi gajinya yang gede. Tahun pertama kerja, aku udah bisa bayar depe rumah, biayain dua adekku kuliah, ngajak mamah jalan-jalan ke universal studio. Akh pokoknya banyak.”


“Aku betah banget kerja di Anggoro corp karena aku ngerasa bertumbuh. Kakak gitu juga gak sih?” Dita balik bertanya.


Maureen tersenyum kecil mendengar celotehan Dita. Ia mengangguk menyetujui kalau ucapan Dita benar adanya.


Tanpa sadar, ucapan Dita membawa ingatannya kembali pada alasan mengapa dulu ia ingin bekerja di tempat ini. Ada hal pribadi yang membuat ia ingin menghancurkan perusahaan ini dari dalam. Sampai beberapa jam lalu, pikiran itu masih muncul di pikiran Maureen sebagai salah satu prioritasnya. Tapi entah mengapa, ucapan Dita malah membuatnya berpikir ulang soal rencananya.


Ada berapa banyak karyawan yang merasakan hal yang dialami Dita? Tidak mungkin satu orang kan? Kalau Anggoro corp hancur, bukankah akan banyak orang yang malang karena kehilangan pekerjaannya?


Pikiran itu yang saat ini mengisi benak Maureen.


“Kak Maureen kok diem aja? Terharu yaa, sama ucapan aku? Ini honest review aku loh kak, soal Anggoo corp. Sekalipun aku harus ngerjain segala kerjaan tapi timpal baliknya sangat setimpal.” Suara Dita yang kembali terdengar.


“Aku masih menyimak.” Maureen balas menoleh Dita yang memandanginya dari samping.


“Ya, perasaan sayang kak Maureen ke perusahaan ini pasti lebih besar di banding aku. Kontribusi kak Maureen sama Anggoro corp sangat besar. Aku bisa ngeliat hasil kerja keras kak Maureen di perusahaan ini. Aku salut banget sama semua pencapaian kak Maureen di usia semuda ini. Aku rasa, aku paham kenapa dulu tuan besar begitu mempercayai dan menyayangi kakak. Aku mau belajar banyak dari kakak. Syukur-syukur kalau bisa menjadi wanita hebat seperti kakak.”


Andai Dita tahu apa tujuan Maureen menunjukkan kemampuannya di perusahaan ini, apa gadis ini masih akan berpikir hal yang sama?


****


Kepanikan itu tidak hanya menjadi milik Dita tapi juga milik Tuan muda Anggoro. Dengan terpincang-pincang, Byan berjalan cepat dari satu sudut kamar ke sudut kamar lainnya. Mengumpulkan barang apa saja yang bisa ia bawa untuk menyusul Maureen.


Seorang laki-laki tua juga menghampirinya dan memandangi Byan penuh tanya akan keputusan tuan mudanya beberapa saat lalu.


“Tuan, apa tuan yakin akan menyusul nyonya muda? Ini sudah malam tuan.” Riswan mengulang kata-kata perintah yang tadi Byan titahkan melalui sambungan telepon.


Ya, beberapa saat lalu, laki-laki muda ini menghubunginya dan meminta menyiapkan banyak hal untuk keberangkatannya ke lokasi project. Di malam larut seperti ini di saat Riswan nyaris bermimpi tentang gadis-gadis cantik di alam khayalannya.


“Aku harus berangkat sekarang. Aku kehilangan jejak Maureen. Panggilannya tiba-tiba terputus dan sekarang gak bisa di hubungi. Yang aku lihat terakhir semuanya gelap lalu Maureen tiba-tiba menghilang.”


“Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi sama dia? Dia seorang wanita dan berada di pulau terpencil yang hanya di huni oleh beberapa gelintir orang saja. Bagaimana kalau ada orang jahat atau binatang buas yang-,”

__ADS_1


Byan tidak kuasa melanjutkan kalimatnya.


“Akh sial! Aku benar-benar harus segera ke sana,” dengusnya dengan wajah panik.


“Ta-tapi tuan, ini malam hari. Tidak ada jadwal penerbangan untuk ke sana. Dalam satu hari, hanya ada dua jadwal penerbangan yaitu pagi jam setengah tujuh dan jam sebelas menjelang siang.” Riswan berusaha menjelaskan.


“Apa kamu bilang? Maksud kamu saya harus menunggu? Bagaimana kalau kita terlambat?!” seru Byan, menatap Riswan tidak percaya. Mata tajamnya menayalak marah, tidak bisa lagi menyembunyikan kecemasannya.


“Lihat, kamu bahkan masih pake piyama dan nightcap.” Byan mengusap wajahnya kasar saat melihat penampilan lak-laki tua itu yang masih menggunakan piyama bermotif polkadot lengkap dengan topi tidurnya yang berwarna senada.


“Sa-saya minta maaf tuan. Tadi saya tergesa-ges. Tapi saya bersungguh-sungguh dengan ucapan saya kalau tidak ada penerbangan di malam hari untuk perjalanan ke sana,” ucap Riswan menyesalkan. Ia baru sadar kalau penampilannya sekacau ini.


Byan tidak lagi berkata-kata, tubuhnya terasa lemah. Ia terduduk di tepian tempat tidur, menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil memikirkan apa yang harus ia lakukan kemudian. Matanya sudah merah dan berkaca-kaca membayangkan kalau sesuatu yang buruk mungkin terjadi pada Maureen.


Akh tidak, bayangan kaki Maureen terpeleset saja sudah membuat Byan ketar-ketir, apalagi kalau lebih buruk dari itu. Harusnya ia lebih kukuh saat melarang Maureen pergi ke lokasi proyek.


“Tuan, saya akan memesan tiket penerbangan pertama. Saya juga akan mencoba menghubungi kepala proyek di sana. Saya mohon tuan tetap tenang, karena kondisi tuan pun sedang sakit. Harapan saya sama dengan tuan, berharap nyonya muda baik-baik saja di sana,” urai Riswan berusaha menenangkan Byan yang sedang putus asa.


Baru kali ini Riswan melihat Byan sangat terpuruk. Ia sedikit bingung karena bukankah mereka bermusuhan, tapi kenapa pria muda ini bisa begitu peduli padaibu tirinya?


Apa ada hal lain yang disembunyikan tuan mudanya?


“Terus kenapa kamu masih di sini?!” bentak Byan saat melihat Riswan yang masih mematung di tempatnya.


“I-iya tuan. Saya akan segera Bersiap.” Riswan terhenyak kaget. Sepertinya ia tidak bisa membiarkan Byan melihatnya berpangku tangan. Tuan mudanya sedang sangat sensitive.


Riswan pun segera pergi ke kamarnya, ia harus mengganti piyamanya yang bermotif polkadot ini. Sementara itu Byan masih terduduk di tempatnya. Saat ini baru jam setengah satu dini hari. Masih ada beberapa jam lagi waktu yang akan menyiksa pikiran dan perasaannya. Apa ia bisa bertahan selama lima jam ke depan?


“Astaga Maureen, kamu harus baik-baik saja,” gumam Byan dengan penuh kecemasan.


****


Di tunggu like komen dan votenya loh... Mau ngasih gift juga boleh, hehehehe...


Makasih semua yang masih setia baca novel ini, sayang kalian banyak-banyak.

__ADS_1


__ADS_2