
Dita sudah bergabung dengan penungunjung lainnya di tepi pantai. Ia meliukkan tubuhnya dengan gemulai seirama alunan musik. Pria bule yang tadi jadi targetnya pun sudah ia dapatkan.
Sesekali ia menoleh Maureen dan mengajak Maureen untuk turun tapi gadis itu lebih suka berdiam diri di tempatnya sambil menikmati minuman di gelasnya yang tidak juga habis. Padahal biasanya segelas anggur bisa ia habiskan sekali teguk. Tapi kali ini begitu lama karena diselingi melamun.
“Permisi, boleh aku duduk di sini?” tanya seorang pria eropa berkulit kecoklatan yang duduk di hadapan Maureen. Ia berbicara dalam Bahasa Inggris dengan aksen Brazil yang kental.
Pakaian putih tipis yang melekat di tubuhnya, menunjukkan barisan otot dadanya yang tertata rapi.
“Silakan, ini tempat umum.” Maureen menimpali dengan santai.
“Mateo.” Pria bertubuh seksi itu mengulurkan tangannya pada Maureen.
“Maureen,” sahut si janda cantik.
“Nama yang indah, Mateo, Maureen,” ujar Mateo yang masih menjabat tangan Maureen.
Maureen tidak menimpali, ia menaruh gelasnya dan mulai menikmati kudapan yang tadi ia pesan.
“Kamu wisatawan atau penduduk asli?” Mateo tertarik untuk mengenal sosok Maureen lebih jauh.
“Wisatawan.” Maureen menjawab dengan singkat.
Mateo mengangguk paham. “Aku tinggal di sana, barangkali kamu mau mampir.” Pria itu menunjuk sebuah hotel bernintang yang tidak jauh dari pantai. Hotel yang selalu penuh dan membuat Maureen urung menginap di sana.
“Tidak, dia tidak akan kemana-mana karena dia datang bersamaku.” Seorang laki-laki dengan kruk di tangannya, yang menimpali. Siapa lagi kalau bukan sang anak tiri, Byan.
“Oowwhh… benar-benar kejutan. Kalian datang bersama-sama?" Mateo menunjuk Byan dan Maureen bergantian.
"Ya, ada masalah?" Byan dengan tingkah tengilnya yang menyebalkan, Maureen tidak mau turut campur.
"Aku pikir wanita secantik ini akan memilih laki-laki yang lebih normal,” ledek Mateo.
__ADS_1
“Apa maksudmu?!” emosi Byan langsung tersulut. Tanpa segan ia menarik kerah baju Mateo dengan kasar.
“Tenang bung, aku hanya bercanda. Tapi kalau kamu ingin serius, aku tidak segan meladenimu.” Mateo mengibaskan tangan Byan yang ada di kerah bajunya. Sentakannya yang kuat membuat kruk Byan jatuh.
Pengunjung yang sedang bersenang-senang pun mulai memperhatikan Maureen dan dua pria itu. Terpaksa Maureen bangkit untuk melerai agar tidak terjadi perkelahian.
“Cukup! Kita berkenalan dengan baik, tolong jangan membuat kesan pertama yang buruk.” Maureen berdiri di antara Byan dan Mateo.
“No, aku minta maaf. Aku tidak berniat bersikap seperti itu. Semuanya karena pria ini. Apa benar dia pasanganmu?” Mateo tidak terima.
“Itu bukan urusan Anda. Kalau Anda ingin bersenang-senang, silakan. Tapi saya tidak bisa ikut serta. Selamat malam,” tandas Maureen yang kemudian memilih pergi setelah mengambilkan kruk milik Byan.
“Shit!” dengus Mateo dengan kesal.
Ia menatap Byan penuh kemarahan sementara Byan tersenyum puas melihat reaksi laki-laki itu atas sikap Maureen yang tegas.
Byan memutuskan untuk menyusul Maureen yang sudah meninggalkannya.
“Kenapa kamu meninggalkanku? Kita perlu bicara!” lanjut Byan.
Terpaksa Maureen menghentikan langkahnya karena sepertinya ia dan Byan memang harus bicara.
Byan mendekat, menghampiri Maureen yang masih membelakanginya.
“Kamu menghindariku tapi kamu juga memancingku. Apa maksudmu sebenarnya?” tanya Byan yang masih kesal dengan cara Maureen yang sembarangan berkenalan dengan laki-laki.
“Siapa yang memancingmu Byan? Aku tidak pernah melakukannya!" Timpal Maureen seraya berbalik. Sepertinya ada yang harus ia perjelas pada Byan.
“Sejak dulu, sikapku seperti ini. Kelakuanku dan cara berpakaianku juga seperti ini. Dan ini adalah hakku, tidak ada urusannya denganmu.” Mauren mulai meradang.
“Tapi laki-laki itu bisa dengan mudah melecehkanmu! Kamu gak liat cara dia memandangi tubuhmu dari atas sampai bawah? Dia seperti sedang menelanjangimu. Kamu tidak memikirkan apa yang ada dikepala laki-laki itu?”
__ADS_1
“Aku bisa menjaga diriku sendiri, Byan! Aku tidak perlu bantuan siapapun termasuk kamu.” Maureen menimpali dengan cepat.
“Sekalipun aku ibu tirimu, aku bisa menjaga kehormatanku dan menjaga kehormatan keluarga Anggoro. Jadi tidak perlu ikut campur dengan urusan pribadiku.” Suara Maureen naik satu oktaf.
“Kamu salah Maureen, aku bukan mencemaskan kehormatan keluarga Anggoro atau posisimu sebagai mantan istri Anggoro.” Byan memberi penekanan yang jelas pada kata Mantan yang di ucapkannya.
“Aku mencemaskanmu, sebagai seorang-“
“Cukup Byan, jangan bercanda lagi.” Maureen sudah enggan mendengar kalimat-kalimat penuh cinta dari Byan. Karena itu membuat perasaannya semakin berantakan.
“Aku adalah ibu tirimu dan kamu adalah anak tiriku. Jadi, cukup akui itu saja. Tidak perlu ada penambahan ataupun pengurangan. Dan ingat, sampai kapanpun kita adalah saingan. Jangan lengah, karena aku bisa merebut Anggoro corp dari tanganmu.” Maureen berbicara dengan sangat tegas walau ia tidak bisa menutupi rasa sesak dan mata yang berkaca-kaca saat mengatakan kalimat itu.
“Apa keputusanmu sudah bulat? Tolong pikirkan lagi Maureen,” pinta Byan dengan sungguh. Ia merasa hatinya dipatahkan begitu saja oleh Maureen.
“Tentu, keputusanku sejak awal sudah sangat bulat. Dan tidak akan berubah sampai kapanpun.” Maureen berujar dengan penuh percaya diri. Baru kali ini ia menatap wajah Byan dengan lekat dan ucapannya yang begitu tegas. Ia merasa kalau ia harus melakukan ini untuk Byan dan untuk dirinya sendiri. Karena untuk selamanya, keluarga Anggoro adalah keluarga yang ia benci.
Tidak mendapat timpalan dari Byan membuat Maureen yakin kalau anak tirinya sudah menerima semua ucapannya. Maureen memastikan kalau Byan sudah mendengar apa yang seharusnya ia tegaskan sejak awal. Maka ia memutuskan untuk meninggalkan Byan seorang diri tanpa perlu merasa bersalah atas apapun.
Sepeninggal Maureen, Byan hanya terdiam di tempatnya. Sepertinya Maureen benar-benar sudah menutup pintu kesempatan untuk mereka berdua. Tapi mengapa saat Byan menciumnya seolaah Maureen menunjukkan perasaannya yang sebenarnya? Mengapa ia merasa kalau Maureen merasakan hal yang sama dengan dirinya?
Tanpa Byan ketahui, ada tiga pasang mata yang menyaksikan perdebatan dua orang itu sejak awal. Mereka menyimak benar setiap kalimat yang bergantian diucapkan oleh Byan dan Maureen.
“Apa kalian memikirkan hal yang sama denganku?” tanya Dita yang menoleh Riswan dan Wiki.
“Ya,” jawab dua laki-laki yang ada di sisi kiri dan kanan Dita.
“Kenapa aku yang sesek ya?” tanya Dita kemudian.
Riswan dan Wiki hanya menggeleng karena merekapun merasakan hal yang sama.
****
__ADS_1