Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Keresahan dua laki-laki


__ADS_3

Sebuah video di kirimkan Wisnu melalui aplikasi chat pada Byan, video ia sedang berkaraoke lagu sedih dengan penyanyi asli dari negeri jiran sana. Suara musik yang mendayu di tambah suara Wisnu yang nestapa, membuat Byan mengernyitkan dahinya.


“Lo kenapa?” balas Byan.


“Gue patah hati. Jill nolak gue.” Wisnu kembali membalas.


“Emangnya, lo nembak dia? Bukannya mau nunggu satu bulan?” Byan pura-pura tidak tahu. Padahal ia mendengar semua pembicaraan Maureen dengan Wisnu.


“Iyaaa, gue gak sabar nunggu satu bulan. Terus kemaren gue tembak dia, eh gue di tolak. Sakit banget gue By, seumur-umur baru kali ini gue di tolak cewek. Biasanya gue yang nolakin cewek.”


“Emh rasain.  Kebiasaan lo merendah untuk terbang. Tau-taunya Maureen kagak mau jadi landasan lo.” Batin Byan yang terkekeh membaca pesan terakhir Wisnu. Sempat-sempatnya ia sombong, pamer biasa di kejar perempuan padahal ibu tiri Byan baru menolaknya.


“Ya udah sih sabar. Namanya juga perempuan. Kan gue udah bilang kalau emak tiri gue itu rada beda.” Pesan itu yang Byan kirimkan sebagai balasan.


“Iya, tapi gue gak bisa terima. Lo bantuin gue dong, buat dapetin hati Jill.” Wisnu memberi banyak emot menangis di ujung pesannya.


“Dih si saraf, kan gue yang minta bantuan dia, kenapa sekarang jadi gue yang di suruh bantuin dia?” Byan menatap tidak mengerti pada pesan yang dikirim oleh Wisnu.


“Lo gak salah ngomong? Sekarang siapa yang minta tolong siapa?” Byan berdecik kesal. Entah mengapa ia jadi kesal mendengar Wisnu sebersungguh-sungguh seperti ini.


“Gak salah gue. Gak apa-apa lah gue gak dapet apapun dari lo, yang penting gue bisa dapetin Jill. Ayolah Byan, hati gue patah, hidup gue udah hancur ini, tolong bantuin gue.” Lagi Wisnu merengek.


“Beneran saraf nih anak. Kenapa jadi gue yang harus deketin mereka. Kebanyakan minum ini bocah prik!” Byan berbicara dengan mendekatkan ponselnya seolah sedang memaki benda pipih itu. Sebal rasanya melihat Wisnu memanggil Maureen dengan panggilan Jill.


Dadanya mendadak panas membaca pesan yang dikirim Wisnu padanya. Ia merasa, sekarang Wisnu sudah tidak bisa ia andalkan. Kelakuan Wisnu malah membuatnya pusing.


“Gimana By, lo mau bantu gue kan? Kan kalau gue berhasil jadian sama Jill, lo juga yang diuntungin.” Wisnu mengirim kembali pesan permohonan pada Byan, membuat Byan kesal saja.

__ADS_1


“Iyaa, gue emang di untungin. Tapi gak begini konsepnya mahmudin!” Byan sudah mengetik pesan itu, tapi kemudian ia pandangi beberapa saat lalu ia hapus lagi.


Ia merasa ada yang mengganjal di hatinya saat ini. Tapi apa?


“Gue kasih lima ratus jetong kalau lo berhasil dapetin sendiri hati Maureen. Gue gak mau ikut campur sama romansa kalian berdua.” Pesan itu yang kemudian di kirim Byan.


“Gue gak butuh duit, gue butuhnya Jill. Jill doang, Jill selamanya. Hati gue udah di bawa pergi sama Jill. Gue bener-bener sedih. Tolong minta dia balikin hati gue.” Balas Wisnu dengan cepat.


Kali ini Byan memutuskan untuk tidak membalas. Ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan mematikan layar ponselnya. Pembahasan tentang Maureen membuat hatinya tidak karuan. Ia hanya memandangi langit-langit kamarnya, tapi kemudian yang tergambar adalah wajah cantik Maureen.


“Astaga, mata gue kenapa ini?” Byan mengucek-ngucek matanya sendiri. Padahal ia masih kesal pada Maureen karena menyinggung ibunya tapi ia malah senang karena Wisnu gagal mendapatkan hati Maureen.


“Aaakkk otak gue kenapa ini?” Byan menggunakan bantal untuk menutup wajahnya sendiri. Lantas ia berguling-guling berusaha menghapus pikirannya tentang Maureen.


“Tring!” sebuah pesan kembali masuk.


Malas sebenarnya memeriksa pesan dari Wisnu, tapi ia takut Wisnu melakukan hal bodoh yang dapat membahayakannya dirinya. Ia tahu persis, Wisnu tidak pernah mengeluh soal perempuan dan baru Maureen yang membuatnya segalau ini.


“Haaa huf! Haaa huf! Haaaa huf!” tiga kali tarikan nafas dan tiga kali hembusan dilakukan Byan untuk menetralisir perasaannya.


“Tenang Byan. Baca dulu aja, jangan terpancing sama kesedihannya Wisnu. Paling sehari doang dia begini, besok juga dia lupa.” Byan mempersiapkan dirinya terlebih dahulu.


Setelah merasa siap, ia menyalakan layar ponsel. Tapi bukan Wisnu yang mengiriminya pesan melainkan nomor baru.


Cepat-cepat Byan membacanya.


“Saya minta maaf karena menyinggung ibumu. Saya tau itu tidak pantas.” Begitu bunyi pesan tersebut.

__ADS_1


“Hah? Siapa ini?” Byan segera mengecek username pengguna aplikasi chat tersebut.


“Hah, Jill Mo?” Mata Byan membulat sampai hampir copot. Dalam satu gerakan ia segera bangkit dari baringannya, menatap tidak percaya pada pesan yang diterimanya. Tentu saja ia sadar siapa pengirim pesan ini.


“Tenang Byan, cool… stay cool… lo lamain aja balas pesannya, biar dia nungguin. Santaaiii, kayak dipantai … slow, kayak di pulau….” Byan berbicara pada dirinya sendiri. Ia sampai memejamkan mata untuk menetralisir perasaannya.


“Tapi gue penasaran anjir!” kali ini hatinya yang tidak sabaran. “Gue keburu pengen ngerjain dia. Gak bisa di biarin ini.” Cepat sekali ia berubah pikiran.


Akhirnya ia memutuskan untuk membalas pesan Maureen.


“Sorry, ini siapa?” ia menulis pesan sambil mengucapkannya. Gayanya berkirim pesannya ia buat sedingin dan sekeren mungkin.


Ia kirim pesan itu dan menunggu beberapa saat.


“Tring!” suara pesan itu menjadi suara yang paling di nanti Byan saat ini.


“Maureen.” Satu kata saja balasannya.


“Hah, gini doang balasannya?” Byan menatap layar ponselnya tidak percaya. Ia menunggu beberapa saat, merefresh ulang aplikasi mesangernya barangkali Maureen masih mengetik pesan lainnya. Satu menit, dua menit sampai tiga menit, tidak ada pesan lanjutan dari Maureen.


“Ni cewek kagak tau cara minta maaf apa gimana? Gini doang cara dia minta maaf?” Byan jadi mengomeli ponselnya. Padahal ia berharap Maureen mengirim pesan lebih panjang dari sekedar memperkenalkan dirinya.


“Apa gue samperin aja?” Byan sudah beranjak hendak membuka pintu. Tapi langkahnya kembali terhenti saat sadar mengapa ia harus sesemangat ini mendengar kalimat yang lebih panjang dari Maureen.


Ia berpikir, apa yang sebenarnya ia tunggu, pesan permintaan maaf atau basa basi yang membuat hatinya seperti di aduk-aduk? Bukankah permintaan maaf sudah cukup diucapkan dalam satu kalimat tadi? Kenapa harus sampai bertemu?


Akhirnya Byan hanya mematung, bersamaan dengan Maureen yang juga mematung di depan pintu kamarnya. Ia masih berpikir, kenapa Byan tidak membalas pesannya? Apa putra tirinya sangat marah?

__ADS_1


*****


__ADS_2