
Wanita cantik yang sedang dicari Byan itu saat ini sedang berada di tepi pantai. Setelah selesai berkeliling di dermaga dan pasar ikan, juga pemukiman baru untuk warga lokal, ia memilih menepi dan menikmati pemandangan yang sayang untuk dilewatkan.
Semua keterangan yang disampaikan oleh kepala project tadi memang sudah sesuai kenyataan. warga lokal begitu menyukai tempat tinggal mereka yang baru dan di bangun dengan indah.
Di hadapan Maureen saat ini ada kelapa muda yang sudah ia habiskan setengahnya. Kakinya yang tercelup ia ayun-ayunkan di dalam air laut yang dingin. Ia duduk di atas bagunan yang terbuat dari kayu, tepat di atas permukaan air laut yang bening. Air yang jernih dan kebiruan itu membuat Maureen bisa melihat kakinya yang putih lagi jenjang di datangi ikan-ikan kecil yang berenang kesana kemari.
Sungguh ia tidak pernah menyangka kalau ia akan menikmati lagi ketenangan senyaman ini. Bebas dari udara yang berpolusi, suara bising kendaraan dan hiruk pikuk kota Jakarta.
Dari kejauhan, Dita berjalan dengan cepat menghampiri Maureen. Ia baru selesai bertelepon dengan tim pengembangan dan melaporkan apa yang menjadi temuannya. Mereka berjanji akan mengkonfirmasi hasil temuan Maureen dan Dita ke perusahaan kontraktor yang bekerja sama dengan mereka.
Baru akan menaiki anak tangga, tiba-tiba saja ponselnya hembali berdering. Nama Riswan yang saat ini muncul di layar ponselnya.
“Selamat siang pak Riswan,” sapa Dita.
“Siang mba Dita. Mohon maaf, apa mba Dita sudah sampai?” suara Riswan terdengar tergesa-gesa.
“Sampai mana nih pak?” Dita bingung sendiri.
“Sampai di lokasi project maksud saya.”
“Oh, kalau dari lokasi project kami udah kembali pak. Tadi saya baru laporan ke kepala departemen. Memangnya kenapa ya pak?”
__ADS_1
“Syukurlah. Mohon maaf, kalau nyonya Maureen, apa ada di dekat mba Dita?”
“Ada pak, lagi minum kelapa. bapak ada perlu?” Dita menoleh Maureen yang tampak menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya sambil memejamkan mata. Bibirnya tersenyum tenang. Tidak tega kalau mengusik ketenangannya.
“Oh tidak apa-apa. Tuan muda ada perlu dengan nyonya muda tapi sepertinya ponselnya tidak aktif.”
“Mungkin ponselnya habis baterai pak. Nanti saya coba ingatkan ya.”
“Baik mba Dita, terima kasih banyak.”
“Sama-sama pak.”
Riswan tersenyum lega di sebrang sana. Kalau Byan sudah “ngereog” seperti ini, pawangnya hanya satu yaitu Maureen.
“Udah selesai lapornya?” tanya Maureen. Sekali lalu menyeruput kembali kelapa muda yang ada di hadapannya.
“Udah kak. Bos bilang nanti mereka akan menghubungi perusahaan kontraktornya. Ketidaktersediaan bahan-bahan gak bisa jadi alasan karena itu kewajiban mereka untuk memenuhinya. Kita punya kontrak waktu sama mereka dan harus dipenuhi."
"Bosku bilang, mereka akan mendalami masalah ini, takutnya cuma akal-akalan mereka aja. Kalau itu terbukti pelanggaran, mereka bakal di kasih surat peringatan.” Dita menjelaskan dengan detail.
“Baguslah. Kita bisa maksimalkan waktu kita di sini buat memonitor pekerjaan mereka. Aku mau liat, mereka ada usaha gak dalam tiga hari ini.”
__ADS_1
“Aku setuju. Tapi kalau nanti mereka terbukti melanggar kerjasama, kita cut aja kan kak?” Dita begitu antusias.
“Itu bukan kita yang nentuin tapi Anggoro satu.” Merujuk kepada Byan.
“Tapi aku gemes loh kak kalau ada pelanggaran gitu, itu kan ngerugiin banget. Kakak kok tenang-tenang aja?” Dita bertanya dengan penasaran.
Maureen menoleh gadis yang menatapnya dengan bingung. “Ya emang harus gimana? Kita cukup tenang dan perhatiin apa yang terjadi. Belum tentu yang mereka lakuin itu bener-bener pelanggaran.”
“Kak Maureen terlalu baik. Bisa kita diakalin loh kak.” Dita bersidekap dengan kesal.
“Diakalin gimana? Kan ini kita lagi ngemonitor. Cuma maksud aku, kita jangan salah menyimpulkan. Gimana pun mereka rekanan perusahaan selama puluhan tahun. Kita juga harus menghormati mereka. Aku rasa mereka juga menghormati kita makanya mereka mau jemput kita dan ngajak kita keliling sini. Masalah nanti bener ada penyimpangan atau nggak, ya bukan kita juga yang nentuin,” urai Maureen dengan jelas.
“Iya juga sih kak, aku gak mikir sampe ke situ.” Dita menggaruh kepalanya yang tidak gatal, sementara Maureen hanya tersenyum kecil.
“Tapi ngomong-ngomong tadi pak Riswan nelpon aku, nanyain kakak. Katanya hape kaka gak aktif.” Ia baru teringat pada pesan Riswan beberapa saat lalu.
“Oh ya?” Maureen mengecek ponselnya yang ada di dalam saku.
“Iyaa. Kayaknya pak Riswan ketar ketir banget.” Dita berbisik-bisik tetangga.
Ada apa memangnya?
__ADS_1
****