Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Kecelakaan


__ADS_3

Pertemuan di area pembangunan di sambut baik oleh kontraktor rekanan. Di sana masih banyak material yang bertumpuk karena pembangunan baru sekitar tiga puluh persen dari yang direncanakan.


Mereka berkeliling di sekitaran area pembangunan, melihat beberapa titik yang dianggap krusial oleh Byan dan Maureen hingga mengecek langsung bahan material yang digunakan.


“Pake topi pelindungmu, kita akan masuk ke salah satu unit yang sudah sampai ke tahap pemasangan atap.” Byan memberikan satu topi project pada ibu tirinya.


Maureen menurut saja untuk mengenakan topi itu walau tercium bau asam pemakai sebelumnya. Tapi keselamatan jauh lebih penting.


Mereka mengikuti seorang mandor yang menunjukkan area-area yang sedang di bangun.


“Ruangan yang ini akan menjadi ruang utama yang cukup luas. Kamu mendesainnya hemat energi, dalam artian, sebagian dinding akan kami ganti dengan kaca tebal dan trails besi pada bagian dalam.” Ucap sang mandor.


Maureen masuk ke ruangan itu, melihat luas ruangan dan memperbandingnyanya dengan denah. Ilmu hitungnya yang hebat membuat Maureen bisa memperkirakan kalau luas area ini sudah sama dengan yang ada di denah.


“Bentuk jendela kacanya seperti apa? Apa bisa dilepas atau tidak?” Maureen memperhatikan satu jendela yang sudah dipasangi kaca dan tralss besi.


“Bisa di lepas, karena ini salah satu sumber ventilasi ruangan. Sehingga ruangan tidak harus selalu menggunakan AC. Di sini juga ada pintu samping yang akan langsung terhubung dengan taman, sehingga suasananya akan sangat segar dan nyaman.” Terang mandor tersebut.


Ia berusaha membuka pintu, tapi sedikit kesulitan. Ia dorong dengan paksa, sampai kemudian seorang pekerja berteriak, “Pak, belum kami beri paku.” Seru laki-laki itu.


Terlambat, pintu sudah lebih dulu terdorong dan mengarah jatuh pada Maureen.


“Awass!!!” seru Byan yang segera menarik tangan Maureen dan melindungi tubuh Maureen dengan tubuhnya.


“Plang!” tidak hanya pintu yang copot dan mengenai tubuh Byan, melainkan juga sebilah besi yang menimpa kakinya.


“Akh!” Byan mengaduh kesakitan.


“Astaga!” Maureen terhenyak kaget.

__ADS_1


“Kenapa anda tidak hati-hati?!” seru Maureen dengan mata menyalak pada sang mandor.


“Maaf nyonya, maafkan saya.” Laki-laki bertubuh tambun itu ketar-ketir.


“Bantu aku membawanya ke tempat yang lebih aman.” Maureen segera mengalungkan tangan Byan di lehernya, membantunya berjalan dengan tertatih-tatih.


“Akh!” beberapa kali Byan mengaduh kesakitan karena hantaman keras di kakinya.


Pikiran Maureen sudah tidak menentu. Ia segera mendudukan Byan di bangku yang ada di dekatnya.


“Telepon ambulance!” titahnya pada mandor yang kebingungan.


“Ba-baik!” serunya dengan segera.


Maureen melepas sepatu Byan dengan tergesa-gesa.


“Akh,” Byan kembali mengaduh kesakitan.


Byan tidak banyak protes. Belum hilang rasa sakit di punggungnya karena terkena pintu kaca yang copot, sekarang kakinya malah lebih sakit. Ia hanya bisa meringis kesakitan sambil memegangi sandaran bangku dengan erat. Ia berusaha melampiaskan rasa sakitnya di sana.


Sepatu berhasil terlepas, begitupun dengan kaos kakinya. Maureen benar-benar kaget saat melihat tiga jari kaki Byan membiru juga tumitnya yang kemerahan dan bengkak.


“Kemarilah.” Maureen menaikkan kaki Byan ke atas pahanya untuk mengurangi kaki Byan yang terlalu menggantung.


“Akh, hati-hati.” Lagi Byan mengaduh karena kakinya memang sangat sakit.


“Maaf, aku akan berhati-hati.” Maureen dengan rasa bersalahnya memandangi luka lebam di kaki Byan. Tidak ada luka yang terbuka tapi ia tidak yakin kalau kaki Byan baik-baik saja.


Hah, andai saja Byan tidak berusaha melindunginya, mungkin Byan tidak akan terluka separah ini. Rasanya Maureen menyesal karena begitu ketus pada Byan pagi tadi.

__ADS_1


****


Rumah sakit menjadi tempat yang mereka tuju. Hasil pemeriksaan menyebutkan kalau tiga ruas jari kaki Byan mengalami patah. Dokter belum menyarakan untuk dilakuakn tindakan operatif melainkan sementara di pasang gips terlebih dahulu.


Dokter berpesan agar Byan meminimalisir pergerakan di area tersebut.


“Jari kaki terdiri dari tulang kecil. Tulang-tulang tersebut memang rapuh dan dapat patah ketika kita tersandung atau tertimpa sesuatu. Kami tidak menyarankan tindakan operasi dan cukup dengan gips seperti ini.”


“Biasanya, bengkak dan nyeri sudah mulai mereda dalam seminggu. Proses penyembuhan tergantung pada beratnya cedera yang terjadi. Pada umumnya, tulang jari kaki sudah mulai pulih dalam waktu enam minggu. Semoga tidak ada komplikasi yang memperberat kondisi ini.” Terang dokter yang di angguki Byan dan Maureen dengan paham.


Byan memang diperbolehkan untuk menjalani perawatan di rumah. Dokter Faisal yang akan memeriksa kondisinya secara rutin, tiga kali dalam sehari. Bagi Byan ini tidak masalah, karena ia memang idak suka berlama-lama tinggal di rumah sakit.


Menjelang malam, Byan sudah sampai di rumah. Ia dibaringkan dengan hati-hati dan satu kakinya di ganjal bantal agar selalu dalam posisi tinggi.


“Kamu mau makan?” tanya Maureen dengan tatapan penuh kekhawatiran.


“Nggak, aku belum selera. Pergilah membersihkan tubuhmu, aku tau kamu juga capek.” Ucap Byan dengan sesungguhnya.


“Iya, aku ke kamarku dulu ya. Kalau kamu perlu sesuatu, segera telepon aku.” Pinta Maureen. Ia mendekatkan ponsel pada pemiliknya


“Hem,” hanya itu sahutan Byan. Ia membiarkan Maureen pergi karena wanita itupun perlu mengurus dirinya sendiri.


Seharian ini Maureen hanya mengurus Byan. Byan melihat Maureen begitu merasa bersalah atas apa yang terjadi pada dirinya. Padahal, kecelakaan ini memang tidak pernah di sengaja. Ia pun refleks menarik tubuh Maureen untuk melindunginya dan mengorbankan tubuhnya terkena hantaman pintu.


Beruntung pintu kaca itu tidak pecah. Sehingga hanya rasa ngilu saja yang di rasakan Byan di sepanjang tulang punggungnya.


“Padahal baru kemarin aku merasa punggungku sangat nyaman setelah di pijat. Tapi sekarang malah sakit lagi.” Gumamnya tanpa di dengar Maureen.


****

__ADS_1



__ADS_2