
Pagi penuh kejutan kembali terulang. Jam setengah enam hari ini, bukan hanya Byan yang berdiri di depan kamar Maureen melainkan juga Riswan. Mereka sudah tampil rapi tapi raut mukanya tidak terlalu enak untuk dilihat.
“Astaga! Ada apa dengan kalian?” Maureen begitu kaget melihat dua orang ini ada di depan pintu kamarnya.
Ia menatap Byan dan Riswan bergantian namun dua laki-laki itu tidak menjawab sedikit pun. Hanya wajahnya saja yang terlihat begitu tegang.
“Kalian berdua mimpi buruk?” Maureen kembali bertanya dan dua orang ini menggeleng.
“Kita bertiga mimpi buruk.” Byan akhinya menimpali.
“Mimpi buruk apa?” Maureen mengernyitkan dahinya tidak mengerti. Ia tidak mimpi buruk sama sekali. Ia malah mimpi indah bersama kedua orang tuanya. Mungkin karena Maureen akan mengajukan pelaporan kasus Malik sehingga mereka hadir di mimpi Maureen.
“Kita bicara di sana.” Byan mengajak Maureen untuk duduk di balkon.
Maureen tidak protes. Ia mengikuti begitu saja Byan dan Riswan yang berjalan lebih dulu. Tiga orang itu duduk bersamaan di kursi balkon.
“Jadi ada apa?” Maureen kembali bertanya.
Byan menetap Riswan dan laki-laki itu seperti paham. Riswan mengeluarkan tabletnya dan menunjukkan sebuah halaman berita online.
“Silakan anda lihat, nyonya,” ucap Riswan dengan penuh rasa sesal.
Maureen tidak banyak berkomentar, melainkan segera membaca artikel online yang ada di tangannya. Mata membulat lebar tapi reaksinya tampak tenang saja. Artikel tersebut adalah artikel yang membahas gossip hubungan terlarang antara seorang wanita dengan anak tirinya. Di artikel ini di sebutkan inisial M dan B, dua orang yang menjalin hubungan terlarang, lengkap dengan nama perusahaan yang disebutkan dengan inisial juga.
Semuanya masih disamarkan tapi yang tidak disamarkan adalah, wajah Maureen dan Byan di beberapa foto yang disertakan di laman online tersebut.
Maureen menahan nafasnya beberapa saat, untuk mencerna gossip yang beredar ini. Benar dugaannya kalau kedekatan ia dengan Byan akan memancing hal seperti ini. Tapi ia tidak menyangka kalau akan secepat ini. Foto-foto yang di tampilkan pun tampak begitu exclusive dan tidak mungkin didapatkan oleh sembarangan orang.
“Sudah ketauan sumber berita ini dari mana?” Maureen dengan sikapnya yang berusaha tenang. Ia memberikan kembali tablet itu pada Riswan.
“Belum pasti. Aku sudah meminta tim IT untuk memeriksa asal berita ini. Menurut mereka, ada enam media online yang mengupload berita yang bersamaan dari enam tempat yang berbeda. Dua di antaranya media asing, walau bukan media besar." Byan yang memberikan penjelasan terhadap dugaan pelaku penyebaran.
"Minta tim IT untuk take down berita ini. Jangan sampai menyebar lebih jauh," pinta Maureen.
“Ya, aku paham. Tapi bagaimana kita memberikan penjelasan pada dewan direksi? Kalau kita mengakui hubungan kita, mungkin mereka akan mempermasalahkan posisimu. Pengacara Anggoro juga mungkin akan mempertanyakan hal ini. Tapi kalau kita tidak mengakuinya, itupun tidak mungkin. Semua foto itu terlalu jelas.” Byan dengan keresahannya sendiri.
“Jangan lakukan klarifikasi apapun untuk saat ini. Tunggu aku menyelesaikan sesuatu,” pinta Maureen dengan sungguh.
“Maksudmu, menyelesaikan kasus tuntutanmu?” Byan mencoba memperjelas maksud Maureen.
“Ya. Setelah itu, kita urus yang lainnya.” Maureen berujar dengan santai.
__ADS_1
“Tapi nyonya, gossip ini seperti bola panas yang akan segera menyebar dan merusak banyak hal. Semakin dibiarkan, akan semakin nanyak orang yang tau, termasuk kolega kita.” Riswan dengan keresahannya tersendiri. Ia sedang berusaha melindungi Anggoro corp dan tidak bisa membiarkan gossip ini terus meluas dan megerucutkan pandangan buruk kolega pada Anggoro corp.
“Aku tau Riswan, aku tau itu. Tapi kamu jangan lupa, kalau aku juga bagian dari Anggoro corp. Aku juga memikirkan masalah ini. Terlebih, gossip ini menyangkut namaku. Tapi kita harus menghadapinya dengan tenang dan membuat strategi yang tepat. Toh kita juga gak bisa melakukan apapun untuk menyelesaikan ini.”
“Kalau kita berreaksi sekarang, memangnya apa yang sudah kalian siapkan? Memangnya ada jalan lain selain menunggu dulu semua bukti terkumpul? Bukankah masalah ini tidak akan berhenti hanya karena kita menghapus sumber berita?” Maureen menantang balik Riswan dan laki-laki itu hanya bisa terdiam.
Maureen hanya tersenyum kecil dan membiarkan Riswan berpikir. Setelah memastikan tidak ada yang menyahutinya, Maureen turun ke bawah dan pergi ke ruang makan.
“Maureen, kamu mau kemana?” Byan segera menjeda langkah Maureen.
“Jangan memperdulikanku. Kamu Bersiap-siap sajalah Byan, aku harus memeriksa sesuatu,” tegas Maureen tanpa menghentikan langkah kakinya.
“Dia mau kemana?” Byan bertanya pada Riswan.
“Entahlah tuan. Perlu saya ikuti?”
“Nggak perlu. Kamu bantu aku bbersiap saja.” Byan berlalu menuju kamarnya dengan diekori Riswan. Dibenaknya ia masih berpikir, apa yang akan dilakukan Maureen kemudian.
“Selamat pagi nyonya,” sapa seorang pelayan.
“Selamat pagi. Tolong kumpulkan semua pelayan dan orang-orang yang bekerja di rumah ini. Aku ingin bicara dengan kalian,” pinta Maureen tiba-tiba.
“Dengan kami nyonya?” pelayan itu tampak kaget.
“Baik nyonya.” Pelayan itu hanya bisa patuh. Ia segera undur diri dan memanggil teman-temannya.
Sambil menunggu para pelayan berkumpul, Maureen membuka link berita yang tadi diperlihatkan Riswan. Link berita itu juga sudah menyebar di group staf dan beberapa orang bertanya tentang kebenaran gossip itu. Maureen tidak memberikan jawaban apa pun. Ia perlu menyelediki beberapa hal terlebih dahulu.
Ia pergi ke taman belakang, melihat sekeliling taman dan ia mencoba mencocokan satu foto yang ia yakini berasal dari rumah ini. Ia mencari sudut pandang mana yang tepat untuk mengambil foto tersebut. Ia juga kembali ke atas, ke balkon dan memperhatikan semuanya dari sana. Terakhir, ia pergi ke ruang CCTV, melihat arah pandang semua CCTV dan rasanya, ia menemukan sesuatu.
“Berapa lama CCTV ini menyimpan rekaman kejadian yang terrekam?” Maureen bertanya dengan penasaran pada salah seorang security yang bertugas. Belum reda rasa kagetnya karena Maureen datang ke ruang kerjanya, ditambah dengan pertanyaan yang sangat menyelidik.
“Satu minggu nyonya. Apa ada yang anda perlukan?” security itu tampak tegang.
“Siapa saja yang pernah menemuimu dan meminta rekaman CCTV?” pertanyaan Maureen terdengar tegas.
“I-itu,” laki-laki tersebut tidak bisa menjawabnya. Ia berpikir, bagaimana mungkin Maureen mengetahui kalau seseorang meminta rekaman CCTV rumah ini.
“Kenapa? Sepertinya kamu sedang menyembunyikan sesuatu?” Maureen menatap pria itu dengan penuh intimidasi.
“Maafkan saya nyonya.” Lak-laki itu tertunduk lesu. Entah apa yang harus ia lakukan. Mengatakan sebenarnya atau tidak? Mengingat ia sudah berjanji pada orang tersebut, tidak akan membocorkan masalah ini.
__ADS_1
“Aku punya dua pilihan. Kamu jujur dan berkerja sama denganku, maka aku akan memberimu satu kali kesempatan lagi. Atau kamu berbohong dan tidak bekerja sama denganku, dan aku akan menuntutmu karena menyebarkan rekaman CCTV tanpa izin. Kamu pilih yang mana?” pertanyaan Maureen seperti dua sisi mata uang yang kalau salah pilih maka satu keberuntungan akan hilang.
Security itu tidak punya pilihan lain selain jujur. Ia menyebutkan sebuah nama yang menurut Maureen cukup asing.
“Ikut denganku sekarang!” titah Maureen. Ia berjalan dengan tegas di depan security yang terhuyung penuh ketakutan.
Semua pelayan dan pekerja di rumah ini sudah berkumpul di teras belakang. Begitupun Byan dan Riswan yang baru turun dan tampak bingung.
“Ada apa ini?” tanya Byan yang segera menghadang langkah Maureen.
“Duduk manislah, kamu akan melihatnya sendiri.” Maureen menunjuk salah satu kursi dengan sudut matanya.
Byan menurut saja, sepertinya ada sesuatu yang penting.
Maureen berdiri di hadapan para pelayan. Menatap semua orang satu per satu. Mereka hanya bisa menunduk tidak ada air muka yang di tunjukkan selain rasa takut.
“Ada yang mengenali foto ini?” tanya Maureen seraya menunjukkan satu halaman berita yang memuat foto ia dan Byan.
Dari sepuluh foto yang ditampilkan, foto ini sangat mencuri perhatian Maureen. Tentu saja karena foto ini di ambil di dalam rumah ini. Dan tidak ada yang bisa melakukannya selain orang-orang di dalam rumah ini.
Semua orang menatap foto yang di tunjukkan oleh Maureen. Beberapa orang saling berbisik dan beberapa lainnya hanya menunjukkan wajah takutnya.
“Silakan, ada yang mau mengaku? Sebelum aku mencari tahu sendiri dan menyeret orang itu ke dalam penjara karena menyebarkan fotoku tanpa izin. Aku tidak segan menuntutnya dengan hukuman seumur hidup juga menghancurkan semua keluarganya. Jadi, selagi aku bertanya baik-baik, silakan mengaku.” Maureen mengancam dengan sadis. Ia tahu persis, ancamannya akan membuat sang pelaku ketar ketir. Walau sebenarnya ini murni hanya ancaman dan Maureen tidak akan bertindak sejauh ini.
Semuanya hening, tidak ada yang berani menjawab. Ekspresi penuh ketakutan terlihat jelas di wajah mereka. Byan dan Riswan ikut tegang. Mereka tidak sadar kalau salah satu foto yang ditampilkan memang berasal dari rumah ini. Yang berarti ada kaki tangan pelaku di rumah ini. Pantas saja Maureen begitu percaya diri untuk menyelesaikan kasus ini.
“Baik, kalau tidak ada yang mengaku, aku akan menunjuknya langsung. Dan saat itu juga, Riswan akan mengurus berkas tuntutan untuk orang tersebut. Dia akan mendekam di penjara untuk waktu yang lama. Tentang keluarganya, aku akan-“
“Ampun nyonya, ampun….” Seorang pelayan tiba-tiba bersimpuh dihadapan Maureen. Sepertinya ancaman Maureen berhasil menjatuhkan mental wanita ini. Ia menangis sesegukan di tempatnya, tubuhnya sampai gemetaran.
Maureen tersenyum dalam hati. Ternyata taktiknya berhasil.
“Kamu melakukannya? Kamu menyebarkan foto itu?” Riswan yang emosi lebih dulu.
“Cukup Riswan.” Maureen menghentikannya. Ia sadar penghakiman pada wanita ini bukan di sini tempatnya.
Riswan hanya bisa mengeram kesal pada wanita ini. Rasanya ia ingin menghardik pelayan yang belum lama bekerja di rumah ini.
“Temui aku di tuang kerja tuan Anggoro. Kalau kamu merasa ada orang lain yang membantumu, bawa juga dia,” ucap Maureen dengan tenang namun penuh penekanan.
Pelayan itu hanya bisa mengangguk dan patuh pada Maureen. Sepertinya tidak ada pilihan lain selain mengakui semuanya.
__ADS_1
****