Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Waspadanya tuan bucin


__ADS_3

“Kamu gak ke kantor?” tanya Ruwina saat melihat Edwin masih malas-malasan di ruang keluarga. Ia masih dengan pakaian santainya dan sedang main game di ponselnya.


“Gak.” Jawaban singkat saja yang diberikan Edwin tanpa mengalihkan perhatiannya dari benda pipih yang ada di tangannya.


Permainan perang-perangan itu jauh lebih menarik untuknya di banding membahas masalah pekerjaan.


“Kamu gimana bisa nyaingin Byan kalau kelakuan kamu masih kayak gini? Kamu niat gak sih mimpin Anggoro corp?” Ruwina merebut benda pipih itu dari tangan putranya.


“Mah!” Edwin segera bangun dengan wajah kesal.


“APA? Berani kamu bentak Mamah? Anggoro aja walaupun anak tiri, gak pernah tuh bentak mamah. Terus kamu, berani bentak Mamah?” Ruwina mulai meradang.


“Anggoro, Anggoro dan Anggoro terus! Sejak kemarin Mamah terus menyebut nama itu dan itu yang bikin aku sial!” Edwin berdiri dengan kesal. Ia mengacak rambutnya yang pusing dan penat.


“Sial apanya?! Kenapa, kamu ngerasa tersaingi sama orang yang udah gak ada? Harusnya kamu jadiin motivasi dan peluang. Bukan Anggoro yang bikin kamu sial tapi tingkah malas-malasan kamu sendiri.” Ruwina balas menyalak.


“Tau akh!” Edwin mendengus kesal. Setiap kali Ruwina menyebut nama Anggoro, darahnya selalu mendidih. Mendengar nama Anggoro seperti mengingatkannya pada banyak ancaman.


“Aku malas ke kantor. Lagi pula, kalau aku ke kantor, gak ada untungnya. Byan udah tau kejadian sembilan tahun lalu dan mungkin saja dia akan segera membongkar kejadian itu di depan direksi. Tamatlah riwayatku. Aku gak akan dapet apa-apa Mah! Gak ada bedanya dengan aku diam-diam saja di rumah kan?” Edwin berujar dengan kesal. Ia terlihat frustasi.


“Kamu memang bodoh! Susah sekali diandalkan!” Ruwina memukul lengan Edwin dengan tangannya. Edwin tidak mengaduh, hanya mengusap-usap saja tangannya yang terasa sakit.


“Ya terus menurut Mamah, aku harus apa? Aku juga gak bisa memperbaiki kejadian di masa lalu. Tidak akan ada artinya. Aku juga gak tau apa yang masih bisa aku perbaiki. Gak ada kan?” Edwin benar-benar sudah terpojok.


“Ya paling tidak, kamu tunjukinlah penyesalan kamu karena telah melakukan kesalahan di masa lalu. Bersikaplah sebagai pendukung Byan, bukan malah terus memusuhinya.”


“Mamah udah bilang, kalau Byan itu persis Anggoro, walau tidak menunjukkan rasa bencinya tapi dia akan waspada pada orang-orang yang dia curigai. Ubah sikap kamu, jangan bersikap seolah kamu pembangkang dan musuh buat dia.” Bukannya mendapat pembelaan, Edwin malah mendapat omelan dari ibunya. Orang yang ia harapkan akan mendukungnya.


“Terserah Mamah lah, mau ngomong apa. Aku udah capek. Lagian, aku gak bisa diem di bawah telunjuk anak ingusan macam Byan. Udah paling bener dia jadi pelukis, bukan penerus Anggoro corp.”


“Mamah liat aja, aku bisa mencapai tujuanku dengan caraku sendiri. Selalu ada jalan pintas yang bisa aku pakai.” Edwin tersenyum puas di ujung kalimatnya. Ada banyak rencana yang ia susun di benaknya.


“Jalan pintas apa yang kamu maksud Edwin?” Ruwina malah semakin khawatir. Tingkah putranya yang serampangan, membuat wanita paruh baya itu tidak bisa percaya begitu saja.


“Tentu saja dengan merebut satu-satunya hal yang Mas Anggoro tinggalkan dan aku menginginkannya. Tidak sulit, karena tujuan kami sama yaitu menguasai Anggoro corp.” Edwin dengan rasa penuh percaya dirinya, tersenyum lebar pada Ruwina.


Ruwina hanya memandangi putranya dengan pikiran yang tidak menentu. Apa maksud Edwin dengan satu-satunya hal yang Anggoro tinggalkan dan ia pun menginginkannya?


“Tring!” sebuah pesan masuk dan menyadarkan Edwin dari rasa terpukau pada idenya yang brilliant.


Dahinya mendadak berkerut saat ia menerima satu pesan dari nomor baru.


“Hay, tampan! Apa kabar? Masih inget sama aku?” begitu bunyi pesan yang diterima Edwin. Ada tiga buat foto Wanita cantik dengan pakaian seksi yang membalut tubuhnya yang putih dan tinggi semampai. Belum lagi ekspresinya yang sangat menggoda.


Edwin tersenyum kecil, tentu saja ia ingat pada wanita ini. Wanita yang menemaninya berpesta di hari pernikahan Maureen dan Anggoro. Wanita yang mengambil uangnya dalam jumlah besar.


“Mau bertemu denganku?” balas Edwin. Ia juga menyertakan foto dirinya yang sedang bertelanjang dada.

__ADS_1


“Ternyata bukan hanya aku yang merindukanmu. Apartemen Greenleave, nomor 621. Jam tujuh malam. Aku akan menjamumu,” balas wanita itu.


Edwin tidak lagi membalas. Ia hanya tersenyum kecil seraya mengusap dagunya yang ditumbuhi rambut tipis. Sepertinya ia harus segera bercukur.


“Mau kemana kamu?!” panggil Ruwina saat melihat Edwin pergi begitu saja dari hadapannya.


“Mengurus pekerjaanku, seperti yang mamah mau.” Edwin menimpali dari kejauhan. Ia tetap pergi untuk bersiap menemui wanita itu.


“Hah, anak ini selalu membuatku pusing.” Ruwina hanya bisa memijat kepalanya yang berdenyut pusing. Ia sudah kehabisan akal untuk meluruskan jalan Edwin.


****


Pembukaan sebuah restoran dengan konsep fast casual dining menjadi acara pertama yang dihadiri berdua oleh Byan dan Maureen. Byan dan Maureen datang ke acara itu sebagai tamu undangan yang telah membangun restoran tersebut.


Restoran dengan konsep penggabungan antara pelayanan di mana pelanggan bisa duduk di restoran untuk menikmati suasana restoran, tapi juga diiringi dengan cepatnya penyajian makanan ke meja pelanggan.


Meskipun makanan dapat dihidangkan dengan cepat, namun jenis restoran fast casual ini berbeda dengan restoran cepat saji. Restoran fast casual menawarkan pilihan yang lebih sehat dan bahan makanan yang digunakan merupakan produk segar.


Pelanggan memang diharuskan untuk memesan makanan di counter, tetapi pelayan akan mengantar makanan ke meja pelanggan. Interior restorannya pun sangat nyaman, sehingga dapat membuat para pelanggan bersantai dan menikmati makanan. Pilihan menu yang ditawarkan biasanya juga jauh lebih beragam daripada jenis restoran fast food.


Maureen begitu menikmati suasana hingar di tempat ini. Beragam jenis makanan tersaji sebagai hidangan jamuan untuk para tetamu. Ia berjalan dari satu meja ke meja lain dengan membawa segelas jus segar di tangannya. Ia ingin melihat, makanan apa yang dapat menarik selera makannya.


Ia terpisah beberapa saat dari Byan karena pria itu sedang berbincang dengan beberapa kolega tentang rencana pembangunan cabang di beberapa titik, baik dalam maupun luar kota.


“Nona Maureen,” sapa seorang lak-laki yang menghampiri Maureen.


“Senang bisa bertemu lagi dengan Anda. Terima kasih telah memenuhi undangan kami, maaf karena saya baru menyapa Anda sekarang.” Laki-laki itu mengulurkan tangannya pada Maureen.


“Ya, terima kasih. Saya juga senang bisa menghadiri acara ini. Anda menata restoran ini dengan sangat baik dan aesthetic. Hebat.” Maureen balas menjabat tangan laki-laki itu.


Mereka berjabatan tangan untuk beberapa saat dengan tatapan lekat yang laki-laki itu tujukan pada Maureen.


Maureen berusaha melepaskan genggaman tangan laki-laki itu yang menurutnya terlalu erat.


“Oh, maaf. Saya terlalu antusias.” Laki-laki itupun melepaskan genggamannya seraya tersenyum pada Maureen.


Maureen tidak menimpali, hanya tersenyum kecil saja.


“Apa restorannya daily open?” Maureen berusaha mengalihkan pembicaraan. Tatapan lekat laki-laki ini terlalu menakutkan untuknya.


“Ya, kami buka setiap hari. Dari jam sepuluh pagi sampai jam sebelas malam. Yaa, untuk akhir pekan mungkin bisa lebih dari jam itu, tergantung animo pelanggan.”


“Restoran seperti ini memang akan menjadi tempat tujuan banyak orang, untuk sekedar bersantai di akhir pekan. Saya yakin akan laris manis.” Maureen menimpali dengan santai.


“Betul sekali. Untuk itu kami akan segera melakukan soft opening mulai besok, untuk mengukur sejauh mana minat pelanggan untuk datang ke restoran kami.


“Ya, semoga sukses ya.”

__ADS_1


“Terima kasih.” Laki-laki itu tersenyum lega, ternyata ia bisa dengan mudah berbincang akrab dengan seorang Maureen yang sejak awal menarik perhatiannya.


“Ngomong-ngomong, kalau Anda tidak keberatan, saya ingin mengundang Anda untuk makan malam di sini, akhir pekan ini. Kami akan meluncurkan menu makanan baru. Apa Anda bisa hadir?” tepat saja, laki-laki ini langsung melancarkan aksi pendekatannya.


“Akhir pekan ini, kami ada acara. Family gathering.” Bukan Maureen yang menimpali, melainkan Byan.


Laki-laki ini sengaja mendekat saat melihat Maureen ditatap dengan lekat oleh lelaki lain.


“Oh, tuan Byan.” Lelaki itu tampak kikuk, ia mengangguk sopan pada Byan. Ia tidak menyangka kalau bosnya Maureen akan mendekat.


“Rencananya saya juga ingin mengundang Anda, tapi rupanya Anda berdua memiliki acara yang sama ya?” lelaki itu segera beralasan agar rencananya tidak terbaca oleh Byan.


“Iya, kami punya acara yang sama, karena itu kami namai family gathering. Benar Maureen?” Byan kukuh dengan jawabannya dan mengambil tempat di samping Maureen dan menatap wanita itu dengan dingin. Ada api yang menyala di sekam matanya yang tajam.


“Iya. Mohon maaf, mungkin lain waktu kami akan datang ke sini.” Maureen terpaksa mengamini ucapan Byan. Padahal ia belum ada janji apapun dengan pria di sampingnya.


“Baik kalau begitu, kamu tunggu kunjungan Anda berdua. Silakan lanjutkan menikmati pestanya.” Laki-laki itu pun terpaksa mundur. Ia bisa melihat kalau Byan tidak memberinya sedikitpun kesempatan untuk mendekat pada Maureen.


Byan dan Maureen kompak mengangguk, mengiyakan ucapan laki-laki itu yang kemudian pergi dengan penuh rasa kecewa.


Sepeninggal laki-laki itu, Byan meneguk minumannya hingga habis lalu menaruh gelasnya dengan kasar.


“Ayo kita pulang,” bisik Byan dengan tegas.


“Pulang? Acaranya belum selesai Byan.” Maureen menatap laki-laki ini dengan tidak mengerti.


“Iya, aku tau. Tapi aku ingin pulang sekarang. Aku tidak suka dengan tatapan semua laki-laki yang ada di ruangan ini. Baik yang menggadeng pasangan ataupun yang datang sendiri, semuanya melirikmu. Apa coba maksud mereka?” Byan berujar dengan kesal.


“Astaga Byan, ya mana aku tau. Lagi pula, itu mata mereka, hak mereka mau melihat kemana. Kenapa kamu yang heboh?” Maureen berujar dengan tidak habis pikir.


“Ya, aku tau itu hak mereka. Itu mata mereka. Yang aku masalahkan bukan mata itu milik siapa tapi arah pandang mereka yang tertuju sama kamu. Rasanya aku ingin memukul mereka semua yang melirik apalagi menatapmu. Menyebalkan!” ucap laki-laki itu dengan penuh kekesalan.


“Astaga, kamu gak masuk akal. Masa kamu marah dengan apa yang ingin mereka lihat. Kamu aneh Byan.” Maureen terpaksa meneguk minumannya hingga habis karena sepertinya suasana memang sudah tidak kondusif bagi Byan.


“Apanya yang gak masuk akal. Sudah jelas aku cemburu. Masa kamu gak ngerti?” Byan akhirnya mengakui perasaannya membuat Maureen menahan tawanya dalam hati.


“Gak masuk akal. Masa cemburu sama orang-orang yang ngelirik aku. Mungkin saja yang mereka liat bukan aku melainkan model pakaianku, sepatu yang aku pakai atau hal lain yang melekat di tubuhku. Kamu terlalu paranoid sama mereka. Ckckckck,” timpal Maureen seraya melangkahkan kakinya meninggalkan Byan.


“Maureen, mau kemana?” Byan segera menyusul.


“Kemana lagi kalau bukan pamit sama yang punya acara. Masa kita main pergi gitu aja? Gak sopan tau!” sahut Maureen dengan santai.


“Astagaaa, kamu benar-benar menguji kesabaranku,” gerutu Byan saat Maureen malah menghampiri pemilik resto yang sejak tadipun tampak memperhatikan Maureen.


Terpaksa ia mengekori Maureen daripada ada laki-laki lain yang meminta jadwal temu dengan Maureen. Itu akan makin mengganggunya.


Sabar ya Maureen, tuan Bucin ini memang sedikit merepotkan. Aku paham itu.

__ADS_1


*****


__ADS_2