
Hari ini, Maureen benar-benar cuti. Semua hal yang berhubungan dengan Byan dan pekerjaannya, ia serahkan sepenuhnya pada Riswan dan Melda.
Satu orang Maureen ternyata tidak sebanding dengan dua orang kepercayaannya. Dua orang itu tampak ketar-ketir karena pekerjaan ternyata sangat menumpuk. Mereka harus berbagi tugas satu sama lain.
Riswan sibuk mengecek jadwal pertemuan sementara Melda memeriksa pekerjaan lain yang sudah dialih tugaskan dari Maureen. Ia mencermati satu per satu info dari Maureen agar tidak ada yang terlewat apalagi sampai melakukan kesalahan yang sama seperti sebelumnya.
Mereka berkumpul di ruang kerja Byan, ruangan warisan Anggoro. Untuk memudahkan komunikasi, mereka memilih berkumpul di sinj sebelum berangkat ke kantor.
“Berkas perjanjian kerja sama udah kamu print belum? Itu harus diperiksa oleh Tuan muda pagi ini.” Sambil membereskan berkas, Riswan mengingatkan Melda.
Sampai saat ini, ia belum melihat draft Kerjasama yang sudah disusun oleh Maureen dan Byan.
“Filenya yang mana Pak?” Melda bingung sendiri.
“Yang di kirim semalam, oleh Nyonya muda. Kerjasama dengan CV baru untuk pengembangan rumah bersubsidi.” Riswan ikut mengecek berkas yang sudah Maureen titipkan padanya.
“Aku kok bingung ya? Soalnya ada banyak file yang kak Maureen kasih ke aku. Yang mana ini pak?” Melda menunjukkan tabletnya pada Riswan.
Riswan memandangi beberapa saat benda pipih itu. Satu per satu file yang sudah dinamai itu, ia periksa.
“Yang ini, udah di kasih judul loh sama Nyonya muda. Tolonglah lebih cermat sedikit.” Riswan menyerahkan kembali tablet itu pada Melda. Ia sedikit geram pada gadis muda itu.
“Oh iya Pak. Maaf tadi saya kurang teliti.” Melda tersenyum kelu, baru juga memulai pagi, ia sudah di buat bingung oleh pekerjaannya.
__ADS_1
Perbedaan ritme pekerjaan Edwin dan Byan memang sangat jauh berbeda. Edwin dengan pekerjaannya yang terlalu santai bahkan nyaris tanpa ada agenda pekerjaan yang jelas, sangat berbanding terbalik dengan Byan yang memiliki kesibukan berkali lipat lebih banyak. Mungkin hal itu yang membuat Melda kesulitan mengatur ritme pekerjaannya.
“Saya print dulu Pak, supaya tuan muda lebih mudah mengoreksinya.” Melda segera menyalakan printer.
“Buat rangkap tiga jadi kita bisa ikut membaca draft itu dan mencatat hasil koreksinya.”
“Baik Pak.” Melda mengikuti perintah Riswan.
Di tengah kesibukan itu, Byan sudah keluar dari kamarnya. Ia melihat dua orang itu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
“Ehm!” dia berdehem memberi kode saat masuk ke ruang kerja, ia juga sedikit melonggarkan tali dasinya yang tidak terasa nyaman.
“Selamat pagi, Tuan.” Melda dan Riswan langsung mengambil sikap sempurna.
“Apa ini? Kenapa banyak sekali berkas bertumpuk?” Byan membuka satu berkas yang ada di meja kerjanya, isinya adalah laporan keuangan yang harus ia periksa dan setujui.
“Mohon maaf Tuan, ini ada beberapa berkas yang harus Tuan periksa dan kami sedang memilahnya,” terang Riswan.
“Kenapa bisa seberantakan ini? Biasanya Maureen menatanya dengan rapi, jadi aku mudah memeriksanya,” protes Byan seraya menutup berkas dengan kasar. Melda sampai terhenyak dengan gertakan yang dibuat oleh Byan.
“Ba-baik Tuan. Akan kami susun ulang.” Melda sampai gelagapan.
“Mana kopiku?” Byan memperhatikan meja kerjanya. Belum ada minuman penyemangat untuk ia menjalani hari.
__ADS_1
“Hah, kopi?” Melda tercenung sendiri.
“Ya. Maureen biasanya menyiapkan secangkir kopi dan segelas air mineral untukku. Apa dia tidak memberitahumu?” Byan menatap Melda dengan kesal.
“I-iya Tuan, Kak Maureen memberitahu saya, tapi sepertinya saya lupa.” Melda memandangi tabletnya yang menunjukkan ceklist kebutuhan dan kegiatan Byan dari pagi hingga sore hari.
Byan tidak lagi berbicara, ia melonggarkan dasinya yang sangat tidak nyaman. Keteledoran Melda membuat lehernya terasa semakin tercekik.
“Bawa berkas yang harus aku cek hari ini ke kantor. Aku mau periksa di kantor saja,” titah Byan yang kemudian keluar dari ruangannya setelah melempar dasi yang membuatnya sesak.
“Ba-baik Tuan.” Riswan dan Melda sama-sama gelagapan. Padahal Byan sendiri yang menyuruh membawa dokumen pekerjaan ke rumah.
Mereka segera membereskan dokumen, memilahnya dengan cepat dan menyusul Byan keluar dari ruang kerjanya.
Beberapa saat pria itu mematung di depan tangga seraya memandangi pintu kamar Maureen yang tertutup rapat. Terdengar hembusan nafas kasar yang ia hembuskan dengan kesal lalu melanjutkan langkahnya untuk turun.
“Anda tidak sarapan dulu, Tuan?” takut-takut Riswan bertanya.
“Aku tidak selera!” sahutnya dengan kesal. Ia memilih berangkat sepagi ini daripada berbelok ke ruang makan. Selera makannya benar-benar sudah hilang.
Tidak ada Maureen di sisinya, mengapa selalu terasa sepi?
****
__ADS_1