
Malam yang panjang dilalui Byan dalam rasa sepi. Pagi ini, saat ia terbangun tubuhnya tidak dalam keadaan segar. Badannya terasa pegal, mungkin karena semalam ia terlalu lama berdiam diri di taman belakang.
Sambil mengancingkan bajunya, Byan memandangi bayangan dirinya di cermin. Biasanya jam segini ada Maureen yang datang dan membantunya bersiap. Ia sadar benar kalau Maureen sedang berada di luar kota tapi tetap saja ia menoleh ke pintu dan berharap Maureen datang dari pintu itu.
“Äku mulai gila. Dia kan hanya pergi untuk tiga hari kenapa rasanya lama sekali?”
Byan bergumam sendiri. Ia melirik ponselnya berharap benda pipih itu menyala dan menunjukkan notifikasi pesan dari Maureen. Tapi sejak semalam, Maureen tidak membalas pesannya, tanpa bisa ia perkirakan apa alasannya.
“Selamat pagi, Tuan muda.” Suara Riswan terdengar dari pintu.
“Pagi, masuklah.” Byan terlihat tidak bersemangat. Berbeda dengan Riswan yang melangkah dengan gegap gempita walau usianya sudah tidak muda lagi.
“Tuan muda sudah mandi?” Riswan membantu Byan mengambilkan jasnya.
“Udah. Aku bosan meminta bantuan hanya untuk sekedar mandi. Itu membuatku terlihat semakin payah,” keluh Byan.
Riswan tersenyum tipis mendengar keluhan tuan mudanya. Ia membantu Byan memakai jas ke tubuh tuan mudanya yang tegap dan gagah.
“Apa anda yakin akan ke kantor hari ini?”
“Iya, aku bosan diam di rumah. Lebih baik aku bekerja di kantor.”
__ADS_1
“Baik, Tuan.” Riswan terpaksa mengikuti keinginan Byan. Tuan mudanya memang terlihat lebih lemah saat berada di rumah. Mungkin akan lebih baik kalau ia menyibukkan dirinya di kantor.
“Di bawah ada tuan Wisnu, beliau sengaja datang untuk Anda. Beliau membawakan Anda bunga lili dan sekotak hadiah,” ujar Riswan.
“Pagi sekali dia datang.” Byan tersenyum miring. Sudah pasti hadiah itu bukan untuk dirinya melainkan untuk Maureen. Rupanya laki-laki itu benar-benar merealisasikan niatnya untuk membawakan Maureen bunga dan coklat. Padahal Maureen sedang di luar kota.
Selesai merapikan dirinya, Byan segera turun bersam Riswan.
“Selamat pagi, Tuan.” Melda sudah ada di ruang makan dan menggangguk sopan saat melihat kedatangan Byan.
Byan hanya melirik, tidak berniat balas menyapanya. Ia hanya memperhatikan dengan sudut matanya kalau penampilan Melda sudah lebih baik. Tidak kusam seperti kemarin.
“Gimana kabar lo bro?” Wisnu langsung menyapa saat melihat sahabatnya.
“Syukurlah. Cepet-cepet sembuhlah supaya kita bisa main bola lagi.” Wisnu merangkul Byan seraya menepuk punggungnya.
“Ngomong-ngomong Maureen kemana, kok gak ada turun?” ada bonus bisikan maut di telinga Byan.
Sudah Byan duga kalau Wisnu akan bertanya.
“Dia lagi ada pekerjaan di luar kota. Selama kurang lebih seminggu.” Dengan puas Byan menjawab.
__ADS_1
“Apa?” Wisnu segera melepaskan pelukannya karena kaget. Byan ingin tertawa melihat wajah kagetnya yang terlihat bodoh itu.
“Kok lo gak bilang?” Ia mendekat lagi untuk berbisik lalu menatap Byan dengan kecewa sementara Byan hanya mengendikkan bahunya.
“Sarapan dulu aja, realita itu berat,” sindir Byan seraya melajukan kursi rodanya mendekati meja makan.
Ia tidak memperdulikan kekecewaan Wisnu karena isi kepala sahabatnya itu memang hanya pasal 378, modus semua isinya. Kedatangannya pun bukan murni ingin menengok Byan melainkan ingin bertemu Maureen. Hah, menyebalkan. Tapi Byan puas karena sudah membuat Wisnu kecewa.
"Ngomong-ngomong, bunganya bagus tapi sayang gue gak suka bunga. Lo kasih aja sama dia," ucap Byan yang menoleh beberapa saat pada Wisnu.
"Dia?" Wisnu menunjuk Melda. Gadis itu tersipu malu.
"Mau di kasih ke Riswanpun boleh?" timpal Byan lagi.
Riswan refleks tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"Dih, lo kira gue B x B? Kagak lah. Nih , buat kamu aja." dengan terpaksa Wisnu memberikan bunga itu pada Melda.
"Makasih," Melda tersipu di buatnya. Wisnu hanya menghembuskan nafasnya kasar, usahanya untuk bertemu Maureen benar-benar gagal total.
****
__ADS_1