Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Mengungkap rahasia


__ADS_3

Mendapat kabar kalau Wisnu melihat Maureen di gerbang toll Bandung, membuat Byan berpikir dengan serius. Ia berusaha menebak, dari mana Maureen sebenarnya.


Lembang dan Bandung, dua tempat yang rasanya tidak asing dan pernah Byan dengar sebelumnya.


“Ah iya, amplop coklat!” Byan langsung teringat pada amplop coklat yang pernah diberikan Wisnu beberapa waktu lalu. Tepatnya saat Ia meminta Wisnu untuk mencari tahu siapa Maureen.


Cepat-cepat Byan masuk ke kamarnya dan memeriksa amplop yang ia simpan di dalam laci. Ia membuka isinya dan benar saja, ada sebuah alamat yang berlokasi di Lembang Bandung.


Byan mengecek alamat itu melalui ponselnya.


“Panti asuhan dan masih beroperasi. Apa Maureen ke sana?” Byan bertanya pada dirinya sendiri.


Karena tidak yakin, Byan menghubungi Riswan melalui pesan singkat.


“Ke kamarku sekarang!” titahnya.


Riswan yang baru selesai mandipun segera memakai pakaiannya dan bergegas pergi ke kamar Byan.


“Anda perlu  sesuatu, Tuan?” Ia menghadap Byan dengan sigap.


Byan tidak lantas menjawab, ia menunjukkan data Maureen yang ia dapatkan dari Wisnu. Riswan mengambilnya dan sepertinya ia cukup terkejut.


“Apa Maureen pernah tinggal di panti asuhan?” pertanyaan itu Byan tanyakan langsung pada Riswan.


“Sa-saya kurang tau, Tuan.” Laki-laki tua itu terlihat tidak yakin.


“Apa saat menikah dengan Anggoro keluarga Maureen juga hadir?” pertanyaan ini tidak diduga oleh Riswan.


“Saya juga tidak yakin, Tuan. Hanya Tuan besar yang tau.” Riswan tertunduk di hadapan Byan, membuat Byan semakin penasaran.


“Lalu bagaimana kamu mengatur pernikahan Maureen dan Anggoro?”


Byan beranjak dari tempatnya, duduk di tepian tempat tidur dan menatap Riswan penuh atensi.

__ADS_1


“Itu, di atur langsung oleh tuan besar, Tuan.”


“Angkat wajahmu Riswan,” titah Byan dan laki-laki itu menurut. Jawaban Riswan membuat Byan geram saja.


“Kamu serius?” imbuh Byan.


“Serius, Tuan.” Riswan terlihat yakin walau belum bisa meyakinkan Byan sepenuhnya.


“Okey, kalau kamu merasa tidak tahu apa-apa. Hanya saja aku merasa sedikit aneh. Bagaimana mungkin seseorang yang begitu dipercaya oleh Anggoro, tidak dilibatkan sedikitpun dalam pernikahannya dengan Maureen.” Byan masih memandangi Riswan, mencoba membaca air mukanya. Tapi Riswan tidak bergeming sedikitpun. Hanya sudut mata kirinya saja yang berkedut.


Byan memasukkan kembali beberapa dokumen itu ke dalam amplop lalu memberikannya pada Riswan.


“Cari tahu kebenarannya,” titah Byan berikutnya.


“Baik, Tuan!” dengan patuh Riswan menerima titah itu lalu bergegas pergi.


“Tunggu!" masih ada yang mengganjal di pikiran Byan.


"Iya, Tuan." Riswan kembali berbalik. Byan bisa melihat kalau laki-laki itu tampak gelisah. Lihat saja tangannya yang menggenggam amplop coklat dengan erat.


“Tidak, Tuan.” Riswan semakin gelisah karena sadar kalau ia sedang berbohong.


“Baguslah. Pokoknya, jangan lakukan apapun yang Om Edwin sarankan. Aku takut itu hanya akan memperburuk masalah ini.”


“Lagi pula, aku rasa aku setuju dengan saran Maureen. Kita tidak boleh bertindak gegabah. Keluarga korban sedang dalam kondisi berkabung dan kemungkinan sangat sensitive, aku tidak mau mereka sampai tersinggung dan malah memperburuk keadaan.”


“Baik, Tuan.” Lagi Riswan mengangguk patuh.


Byan terdiam beberapa saat, tidak melanjutkan kalimatnya. Ia tampak sedang berpikir dengan serius.


“Riswan, sudah berapa lama kamu bekerja di sini?” Byan penasaran untuk bertanya.


“Lebih dari dua puluh tahun, Tuan.” Riswan menjawab dengan bangga.

__ADS_1


“Lalu, apa pernah ada kejadian seperti ini sebelumnya?” Byan teringat dengan kalimat Maureen yang mengatakan,


“Kenapa mereka selalu menganggap mudah masalah seperti ini?”


Bukankah itu berarti kejadian ini pernah terjadi sebelumnya?


Riswan bungkam, ia bingung untuk menjawab.


“Kenapa diam? Apa sebelumnya memang pernah terjadi?” Byan semakin memperjelas pertanyaannya.


Riswan semakin tersudut, ia sadar tuan mudanya sedang mencari tahu sesuatu.


“Pernah, Tuan.” Kali ini Riswan tidak bisa berbohong karena ia yakin Byan pasti akan mencari tahu sendiri.


“Kapan?” Byan bersidekap menunggu jawaban.


“Sekitar sembilan tahun lalu.”


"Sembilan tahun. Apa mereka juga mengajukan tuntutan?”


Byan ingat kalau sembilan tahun lalu adalah saat Anggoro membuatnya pergi dari rumah ini. Saat dimana ibunya mengalami kecelakaan dan meninggal dunia.


“Tidak, Tuan.” Entah jujur atau tidak, tapi tangan Riswan mengepal begitu erat. Seperti sedang menahan sesuatu.


Byan berpikir beberapa saat, kejadian itu sudah terjadi sembilan tahun lalu sementara Maureen baru bekerja di perusahaan ini sekitar dua tahun saja. Bagaimana ibu tirinya tahu kalau ada kejadian serupa di perusahaan ini?


“Carikan berkasnya, aku ingin memeriksanya.” Rasa penasaran Byan sudah sampai di ubun-ubun.


“Saya tidak tahu, Tuan. Tuan besar yang menyelesaikanya secara langsung.”


“JANGAN BERBOHONG!!!” gertak Byan, hingga membuat Riswan terhenyak.


“Jangan karena kamu ingin melindungi Anggoro, kamu menutupi semuanya. Aku punya banyak cara untuk mencarinya tapi, aku masih memberimu kesempatan untuk membuktikan kalau kamu masih bisa bekerja sama denganku. Apa kamu mau menyia-nyiakan kesempatan ini?” tantang Byan.

__ADS_1


Riswan tercenung. Tubuhnya membeku dan mulutnya membisu. Ia kehabisan kata-kata dan tersudut. Apa yang harus ia lakukan sekarang?


****


__ADS_2