
Di ruang kerja Anggoro saat ini Maureen, Byan dan Riswan berada. Di hadapan mereka ada seoang wanita yang bersimpuh dan menangis tersedu-sedu memohon ampunan. Ia sangat ketakutan dengan ancaman Maureen. Ia tidak pernah membayangkan kalau ternyata nyonya mudanya setegas dan sekejam ini.
“Sudah berapa lama kamu bekerja di sini?” Maureen memulai proses introgasinya.
“Sebulan, nyonya.” Suaranya bergetar ketakutan.
“Oh, rupanya kamu baru mengenal rumah ini selama satu bulan.” Maureen tersenyum samar dengan nada suara yang mengecilkan posisi wanita itu.
“Harusnya kamu tau, kalau aku sangat mengenal rumah ini bahkan lubang semut di rumah ini pun aku tau letaknya. Setiap sudut sangat aku kenali termasuk sudut ruangan tempat rekaman CCTV di ambil. Aku penasaran, untuk siapa kamu mengambil rekaman CCTV rumah ini?” Maureen sedikit mencondongkan tubuhnya mendekat pada wanita itu.
"Ampun nyonya...." Wanita itu menangis tersedu-sedu penuh rasa takut.
“JAWAB AKU!” gertak Maureen tidak terduga. Tidak hanya wanita itu yang terhenyak, Byan dan Riswan pun ikut kaget.
“Untuk Tifani nyonya, untuk Tifani.” Wanita itu menjawab dengan gemetar. Sangat ketakutan.
“Tifani?” Byan ikut berrespon. Ia mengenal benar nama itu.
“Astaga.” Maureen mengusap wajahnya kasar. Ia baru ingat kalau Byan pasti mengenal nama itu. Tatapannya sudaah waspada pada Maureen, banyak hal yang ingin ia tanyakan.
“Tolong tunggu sebentar Byan, aku belum selesai. Kita bahas hal itu nanti.” Maureen terpaksa beralasan.
“Iya, tapi-“
“Byan, tolong nanti ya.” Maureen bersuara dengan lembut dan tatapannya yang sendu pada Byan.
“Ya sudah.” Kalau sudah begini, mana bisa Byan membantah.
“Okey, bagaimana kamu bisa mengenal Tifani?” Maureen kembali fokus pada wanita yang tenga ia introgasi.
“Dia adalah sepupu saya nyonya. Saya di masukkan ke rumah ini melalui sebuah perusahaan penyedia jasa ART yang pernah tuan Riswan datangi. Saya diminta memata-matai semua yang terjadi di rumah ini terutama memata-matai nyonya,” aku Wanita tersebut. Maureen bisa memahami itu.
“Lalu, dimana Tifani sekarang?”
“Dia tinggal di sebuah apartemen. Saya tidak ingat persis namanya tapi saya menyimpan pesan dia beberapa waktu lalu.” Pelayan itu secara sukarela memberikan ponselnya pada Maureen. Ia ingin segera terbebas dari kondisi mencekam ini.
Maureen pun segera mengecek ponsel itu dan ternyata nomor Tifani sudah ganti. Pantas saja Maureen tidak pernah bisa menghubungi teman lamanya. Maureen mengambil beberapa informasi penting dari ponsel itu dan menyimpannya baik-baik.
“Aku harap, kamu tidak pergi kemana pun sampai masalah ini selesai. Ingat, kalau berani macam-macam, aku tidak segan melakukan apa yang sudah aku katakan tadi.” Maureen mengambilkan ponsel itu pada wanita yang bertekuk lutut di hadapannya.
“Baik nyonya, terima kasih.” Perempuan itu pergi dari hadapan Maureen.
“Hubungi nomor ini. Aku akan bicara dengannya.” Maureen memberikan nomor Tifani pada Riswan. Ia tahu, kalau menghubunginya langsung dari ponselnya, maka Tifani tidak akan menjawabnya.
“Baik, nyonya.” Riswan mengangguk patuh. Ia sangat senang karena Maureen mulai memberinya kepercayaan untuk melakukan lagi ini dan itu.
Riswan segera menghubungi Tifani dan tidak lama kemudian tersambung. Riswa menyalakan mode loudspeaker agar semua orang bisa mendengarnya.
__ADS_1
“Ya, halo. Siapa ini?” suara Tifani terdengar serak dari sebrang sana. Kalau suaranya seperti ini, sudah pasti dia baru bangun.
“Hay Fan. Masih inget video ONS lo sama dosen kita?” Maureen langsung bertanya dengan ultimatum. Pertanyaan yang hanya ia dan Tifani yang tahu.
“Akh sial!” Tifani langsung tersadar kalau yang menghubunginya adalah Maureen. Rasa kantuknya mendadak hilang.
“Eit, jangan di tutup. Atau gue kasihin video itu ke bininya dosen. Mau?” Maureen tidak kehabisan akal.
Seperti halnya Tifani yang mengetahui rahasia Maureen, Maureen pun mengetahui rahasia terdalam Tifani.
“Sialan lo! Mau apa lo?” Tifani ketar-ketir. Wanita ini memang mudah ditebak.
“Hahahahaha… lo masih takut sama gue tapi lo berani nyenggol gue. Apa maksud lo nyuruh sepupu lo mata-matain gue?” Maureen bertanya dengan sinis.
“Ya jelaslah buat hancurin lo. Masa lo gak paham? Lo gak boleh ada di atas terus Maureen, sesekali lo turun dan merangkak. Belum aja gue bongkar ke anak tiri lo kalau sebenarnya lo mau ngehancurin Anggoro corp. Mau gue bongkar?” Tifani tidak kalah dalam hal mengancam.
“Basi! Dia udah tau semuanya. Gimana dong? Pake apa lagi lo ngancam gue?” Maureen berujar dengan santai.
“Hahahaha, tapi lo gak bakalan bisa jelasin apa-apa kan dengan kasus lo sekarang? Gue yakin, mas Edwin pasti udah lapor sama pengacara mantan laki lo kalau lo gak berhak dapet warisan. Lo selingkuh sama anaknya anjir! Sorry, kali ini lo belum beruntung. Hahahahha…. ” Tifani tertawa kencang menertawakan kemalangan Maureen.
“Mas Edwin? Lo sekongkol sama dia?” Maureen menggaris bawahi nama yang disebut Tifani. Tentu kalian tahu kan, secetek apa pikiran Tifani.
“Anj^^ng! Gue salah ngomong.” Tifani menggerutu sendiri dan membuat Maureen ingin tertawa.
“Makanya, ketawa lo jangan kekecengan. Nanti nangis lo juga gak kalah kenceng,” ledek Maureen.
“Lo emang brengsek ya Mo. Gue sumpahin lo gak dapet apa-apa dari mantan laki lo.”
“Okey, gue tungguin!” Tifani tidak kalah takut.
“Dimana lo biar gue samperin?! Temuin gue kalau berani, jangan bisanya cuma ngumpet aja!” tingkah bar-bar Maureen mulai keluar. Tidak ada lagi Maureen yang elegan saat berkelahi dengan Tifani.
“Saabaaar, saabaaarrr,” Byan berusaha menenangkan Maureen dengan mengusap punggung wanita itu. Ia bisa membayangkan kalau saja dua wanita ini berhadapan, mungkin sedang saling jambak.
“Gak sabar gue sama tingkah anak ini. Dimana lo Fan, temuin gue! Lo mau makan enak kan? Nanti gue traktir lo di restoran yang paling mahal! Lo makan sepuasnya sampe perut lo sekeras jidat lo yang susah dibilangin!” seru Maureen sambil mengibaskan tangan Byan. Ia benar-benar emosi menghadapi Tifani yang tidak pernah bisa ia baik-baiki.
“Males gue ketemu sama lo! Bukan gak berani yaa, lo catet, bukan gak berani, tapi gue males ketemu sama lo. Lo si paling oke yang hoby ngamambil semua perhatian orang-orang dan bikin gue keliatan timpang di depan orang lain. Lo selalu membuat gue ngerasa rendah Maureen!” Tifani akhirnya mengakui rasa irinya pada Maureen.
“Masih aja lo iri sama gue. Lo lupa kalau lo lebih berutung dari gue?! Lo emang gak punya rasa syukur. Lo brengsek Tifani. Gue benci sama lo!” Maureen menutup teleponnya lebih dulu.
Napasnya sampai terengah setelah berdebat panjang dengan Tifani di sebrang sana.
"Maureen brengsek!" Tifani berteriak histeris sampai melempar ponselnya. Ia mengacak rambutnya sambil mengacak kamarnya karena kesal, lagi-lagi gagal menjatuhkan Maureen. Sementara Maureen menitikkan air mata saat sadar kalau ternyata Tifani masih selalu merasa iri padanya.
“Mau,” Byan berusaha mendekat dan menyentuh pundak Maureen yang tegang. Rambutnya sudah berantakan sehabis bertengkar hebat dengan lawan bicaranya.
“APA?!” seru Maureen dengan mata menyalak.
__ADS_1
Byan sampai terhenyak tapi kemudian ia memeluk Maureen dengan erat. Sangat erat.
“Aku benci sama Tifani, aku bencii sama dia….” Maureen berbicara sambil menangis di pelukan Byan. Di cengkramnya kemeja Byan dengan kasar. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya pada teman yang sudah ia kenal sejak kuliah. Ia pikir Tifani adalah temannya. Yang selalu ia bantu dalam hal apapun. Di pesta pernikahannya pun hanya Tifani yang ia undang karena wanita itu sangat berharga untuk Maureen.
Tapi ternyata, Maureen tidak seberharga itu untuk Tifani.
“Sssttt… menangislah kalau mau menangis. Aku gak akan larang,” Byan berucap lirih sambil mengusap punggung Maureen. Untuk beberapa saat ia hanya ingin menemani Maureen yang baru saja kehilangan temannya.
*****
Maureen dan Byan serta Riswan, masih menikmati sarapan mereka. Sebelum menghadapi hari yang berat, mereka memang harus menyiapkan amunisi yang cukup. Walau tidak terlalu selera, tetap saja perut Maureen harus diisi.
“Wah, sepertinya keluarga kecil ini sedang menikmati sarapan yang lezat. Apa aku boleh bergabung?” ujar sebuah suara yang tidak lain adalah milik Edwin.
“Silakan tuan,” Riswan yang mempersilakan.
“Hah, tidak usah, aku jadi tidak selera setelah melihat kalian berdua. Kalian membuat muka Anggoro malu dengan kelakuan kalian.” Edwin berbicara dengan nada menyidir membuat Byan langsung waspada.
“Apa maksud Om? Bukannya Om yang ngehancurin muka Anggoro?” Byan balas menyindir tapi laki-laki itu malah tersenyum lebar. Sepertinya ia belum sadar dengan apa yang sudah ia lakukan dan akan ia hadapi.
“Memangnya Om ngehancurin apa? Muka Anggoro hancur dengan sendirinya dan itu karena ulah kalian. Kalian tau kan, kalau hubungan kalian itu terlarang? Dan kamu Maureen, daripada kamu memilih anak ingusan ini dan gak dapetin apa-apa, lebih baik kamu turun ranjang. Berbeda dengan Anggoro, aku masih bisa memuaskanmu dalam hal apapun.”
“Jaga mulut om!” Byan segera berreaksi. Ia tidak suka dengan sikap Edwin yang merendahkan Maureen.
“Byan, berhenti!” Maureen menatap Byan dengan tajam. Seperti ada maksud yang ingin ia sampaikan.
“Benar, lepaskan! Kamu tidak sopan merusak jas sebagus ini.” Edwin mengibaskan tangan Byan yang mencengkram jasnya.
Byan hanya bisa menatap Edwin dengan penuh kekesalan.
“Duduklah Mas, kita nikmati sarapannya bersama. Siapa tau ini menjadi sarapan bersama terakhir kita,” ucap Maureen seraya tersenyum tipis.
“Apa maksudmu?” Edwin menatap Maureen dengan waspada.
“Tidak maksud apa-apa. Hanya sedikit membalas perhatian mas terhadapku. Andai aku tau sejak awal kalau mas juga suka padaku, mungkin….” Maureen sengaja menggantung kalimatnya.
“Hah, terlihat sekali kalau kamu sangat opportunis, Maureen. Kamu bisa memanfaatkan kesempatan mana saja yang lebih menguntungkan untukmu. Itu licik, tapi seksi.” Edwin mengedipkan mata kanannya dengan menggoda pada Maureen.
Maureen tidak menimpali, ia hanya menggigit garpu di tangannya yang rasanya ingin ia tusukkan ke mata laki-laki brengsek dihadapannya. Tapi untuk saat ini ia harus menahan diri, sebentar lagi saja.
“Jadi, bagaimana nanti kalian akan menghadapi direksi dan pengacara?” pertanyaan Edwin seperti mengejek.
“Bukan urusan om.” Byan berbicara dengan ketus.
“Ya aku memang tidak peduli padamu. Tapi Maureen, apa kamu memerlukan bantuanku?” Edwin tetap fokus pada wanita cantik disampingnya.
“Tidak. Aku rasa, nanti itu mas yang akan lebih banyak membutuhkan bantuanku. Jadi tidak perlu mengkhawatirkanku,” tegas Maureen dengan senyum tipis.
__ADS_1
"Hah, kamu memang susah di baikin. Ya sudahlah, terserah.” Laki-laki itu mulai menikmati sarapannya. Andai ia tahu seberapa kuat Maureen menahan geramnya. Ia hanya bisa mengerutu dalam hati dan menunggu waktu yang tepat untuk tertawa.
****