
Selesai makan malam, mereka bersantai bersama di balkon. Duduk di atas sofa yang sama dan memandangi langit malam yang cerah. Di tangan masing-masing memegang minuman untuk menghangatkan tubuh mereka. Menikmati waktu berdua sebelum mereka berpisah, itu yang dirasakan Byan saat ini.
“Apa kamu menyukai pekerjaanmu?” tanya Byan tiba-tiba.
Entah mengapa ia bertanya hal ini mungkin karena ia sadar kalau Maureen sering berhadapan dengan kepribadian atasan yang menyebalkan seperti Byan. Ia tahu persis, seorang Anggoro pun bukan seseorang yang mudah untuk dihadapi.
“Harus menyukainya, karena ini pekerjaanku saat ini.” Jawaban Maureen sederhana namun sangat berkesan.
Byan tidak lantas menimpali, ia mengarahkan cangkirnya pada Maureen dan mengajaknya bersulang. Maureen membalasnya dengan sedikit senyum tipis yang membuat hati Byan berbunga-bunga.
“Aku senang bisa bekerja sama denganmu. Aku merasa, aku banyak belajar karena kamu.” Byan memuji dan mengungkapkan perasaannya di waktu bersamaan.
“Ya, hubungan PA dengan bos itu, selain hubungan professional, sudah pasti melibatkan hubungan interpersonal. Memahami karakter masing-masing dan belajar membaca sudut pandang satu sama lain. Itu titik penting yang bisa membuat hubungan PA dan bosnya kompak, namun tidak jarang hal itu malah membuat orang lain salah paham,” timpal Maureen.
Byan terdiam sejenak, mencoba memahami ucapan Maureen beberapa detik lalu.
“Salah paham? Apa maksudmu?” Ia belum paham pemikiran Maureen yang satu ini.
“Ya, orang-orang selalu berpikir kalau hubungan PA dan bosnya itu selalu berakhir dengan hubungan asmara. Atau justru berakhir karena ada hubungan asmara. Labih parahnya hubungan asmara itu di anggap sebagai sebuah perselingkuhan."
__ADS_1
"Padahal, tidak semuanya seperti itu. Aku percaya kalau setiap PA dan bosnya selalu memegang komitmen masing-masing. Walaupun pada akhirnya ada PA yang memilih hidup bersama bos-nya, itupun pasti karena mereka memiliki komitmen sendiri untuk hubungan mereka.”
Maureen menjeda kalimatnya dengan meneguk muniman di tangannya dan Byan memandangi wanita itu dari samping. Ia mencoba memahami sudut pandang Maureen.
“Apa pilihanmu untuk menikah dengan Anggoro juga komitmen yang tiba-tiba kalian sepakati?” Byan penasaran jika tidak bertanya. Karena Maureen sedang membuka peluang itu.
Gadis itu mengangguk pelan, pandangannya jauh ke depan sana, entah apa yang dilihatnya. Yang jelas ia tersenyum kecil sebelum menoleh Byan.
“Aku gak pernah berniat menggantikan posisi siapapun di samping mas Anggoro. Aku menghormati setiap hubungannya dengan banyak wanita sekalipun. Termasuk, menghormati pernikahannya dengan ibumu,” ujar Maureen dengan tenang, tanpa menurunkan pandangannya dari Byan.
Byan tersenyum kecil mendengar ucapan Maureen, dari perkataannya seolah ingin menegaskan kalau Maureen tidak pernah berniat merebut posisi siapapun termasuk ibunya.
“Kamu pernah bertemu ibuku?” Byan kembali bertanya. Entah mengapa ia menikmati masa ini dengan Maureen.
“Oh ya? Dia bercerita?” Byan cukup terkejut. Ia membalik tubuhnya menghadap Maureen, dengan kepala yang tertopang tangan kirinya yang bersandar pada sofa.
“Dua hal yang pernah mas Anggoro katakan, satu, “Maureen menunjukkan telunjuknya yang lentik.
“Ibumu itu special, dia wanita yang istimewa. Lalu yang kedua, mas Anggoro menyesal pernah menyakitinya,” ucap Maureen seraya menatap wajah Byan lekat.
__ADS_1
Byan tersenyum kelu melihat sepasang netra bening yang menatapnya dengan lekat. Ia memalingkan wajahnya dari Maureen dengan hembusan nafas kasarnya.
Sementara Maureen, masih tetap memandangi wajah Byan yang terlihat gelisah.
“Seseorang bisa sangat menyesal dengan masa lalunya Byan dan aku rasa, mas Anggoro mengalami hal yang sama,” imbuh Maureen dengan penuh keyakinan.
Byan tidak menimpali, ia hanya meneguk minumannya hingga tandas lalu kembali menatap Maureen.
“Kalau dia menyesal, harusnya dia mencari cara untuk memperbaikinya. Bukan hanya diam dan membiarkan semuanya seperti bola panas yang menghancurkan semuanya.” Mata Byan menunjukkan kilatan penuh kemarahan yang masih tersimpan.
“Ya, kamu benar. Tapi tidak semua orang memiliki keberanian sebesar itu. Termasuk mas Anggoro,” tegas Maureen.
Byan tidak lagi menimpali, keduanya hanya saling berpandangan dengan pikiran masing-masing. Sekali waktu Maureen melihat Byan tersenyum kecil tapi matanya berkaca-kaca. Seolah ia tengah mengingat rasa perih atas semua kesalahan yang dilakukan Anggoro padanya dan pada ibunya.
Tanpa Byan duga, tiba-tiba Maureen mengangkat tangannya dan mengusap bahu Byan dengan lembut membuat Byan terpaku merasakan desiran empati yang sangat kuat dalam dadanya.
Sayangnya itu hanya beberapa saat, sebelum kemudian Maureen melepaskan usapannya dan memilih meneguk kembali minumannya.
Apa maksud perempuan itu? Bisakah Byan meminta Maureen mengulang semuanya?
__ADS_1
****