
Beberapa hal di periksa Maureen dalam ponselnya, mulai dari panggilan terakhir sampai kotak masuk. Tidak ada panggilan ataupun pesan yang masuk. Sampai kemudian ia tersadar,
“Astaga, Aku lupa matiin mode pesawat,” ucap Maureen sambil menepuk jidatnya.
“Astagaa kak... pantesan dari tadi hape kakak gak bunyi. Padahal biasanya udah kayak burung beo, bunyiii mulu,” cicit Dita.
Maureen hanya tersenyum, menertawakan kebodohannya sendiri. Pantas saja dunianya hening beberapa saat. Tidak ada pesan atau panggilan dari anak tirinya karena ternyata jaringan ponselnya tidak aktif. Dengan segera Maureen mengaktifkannya kembali.
Jaringan di ponsel sudah muncul dan dalam hitungan detik beberapa pesan masuk ke ponselnya.
Melda, Riswan, obrolan group dan tentu saja yang paling atas adalah pesan dari Byan.
“Nah, dunia kak Maureen kembali berdering. Selamat bersibuk ria....” ledek Dita sambil berlalu pergi. Kalau sudah seperti ini sebaiknya ia meninggalkan Maureen seorang diri.
Maureen tersenyum kecil mendengar ledekan Dita. Dalam beberapa saat, ia mulai fokus dengan ponselnya. Pesan pertama yang ia cek adalah dari bosnya.
“Udah sampe?”
“Gimana perjalanannya?”
“Kamu dimana?”
“Kenapa hp kamu gak aktif?”
“Maureeeennn, ibuu tirrriiii, kamu dimanaaa?”
Itu adalah beberapa pesan yang dikirim Byan bersama pesan spam lainnya. Ada apa dengan anak ini, kenapa heboh sekali? Padahal ia baru pergi beberapa jam saja.
“Aku di lokasi project.” Kalimat itu yang menjadi pesan balasan Maureen pada anak tirinya.
Byan langsung membacanya dan mengetik pesan baru yang sepertinya akan sangat panjang.
Meninggalkan pesan Byan, pesan kedua yang di baca Maureen adalah dari Melda.
“Kaaaakkk, aku nyeraahhh. Aku capeekkk, pak bos ternyata nyebelin banget! Kerjaanku salah semua. Huhuhu....” kalimat keluhan itu yang di kirimkan Melda.
Baru maureen akan membalasnya, tapi Melda sudah lebih dulu menghubungi.
“Ya Me-“
“Kaaakkkk....” sapaan Maureen belum selesai diucapkan tapi Melda sudah lebih dulu merengek.
“Hem,” akhirnya Maureen hanya menyahuti seperti itu.
“Kak, aku depresi. Pak bos bikin aku streesss!!! Bendera putih kaaakkkk... bendera putiiihhh....” Melda benar-benar merengek.
“Emang kenapa? Dia biasanya baik-baik aja?” tanya Maureen. Mohon maaf kali ini Maureen sedikit berbohong. Ia pikir Byan tidak akan bersikap kolokan pada Melda.
__ADS_1
“Baik-baik apanya? Bentakannya kenceng banget. Tatapan matanya tajem banget bikin horor. Belum lagi auranya dingin banget, nyebeliiinnn. Aku pikir dia bakal baik sama aku tapi kayaknya dia cuma baik sama kak Maureen doang. Nyesel aku mau jadi PA nya.” Melda berkeluh kesah dengan panjang.
“Iyaaa sabar yaaa... kita kan emang gak bisa milih atasan,” hibur Maureen. Ia merasakan benar apa yang Melda rasakan.
“Iyaa tapi aku pikir dia gak segalak itu kak. Aku sampe gak selera makan gara-gara kena omel mulu. Mana aku gak sengaja numpahin kopi lagi ke celananya dia. Di usir aku kak, dari ruangannya dia.” suara Melda sampai terbata-bata karena menahan tangis.
Maureen bisa membayangkan bagaimana kejadian itu terjadi. Haduh, kasihan juga mendengar penderitaan Melda.
“Sabar yaa, aku cuma pergi tiga hari kok. Tolong kuat-kuatin dulu selama tiga hari itu. Minta bantuan pak Riswan kalau kamu udah pusing banget.” Maureen mencoba menenangkan.
“Iya kak, tapi,”
“Mel bentar, dia nelpon aku.” Belum selesai kalimat Melda, terpaksa harus di jeda dulu.
“Ya udah, kakak jawab dulu lah. Nanti malem aja aku curhatnya. Sekalian bilangin jangan galak-galak sama aku,” pesan Melda.
“Okey, udah dulu yaaa. Nanti kita sambung lagi.” Maureen terpaksa memutus panggilannya dengan Melda. Ia segera menjawab panggilan Byan yang sudah beberapa kali berdering.
“Halo,“
“Kenapa hapenya baru aktif? Kamu ada di mana sih?”
Baru satu kata sapaan dari Maureen tapi kalimat Byan sudah lebih panjang. Sepertinya anak ini sudah tidak bisa menunggu lagi.
“Aku kan udah balas pesan kamu, kalau aku udah di lokasi project.” Maureen menimpali dengan santai.
“Aku lupa matiin mode pesawat. Sekarang kan udah nyala. Emang ada apa sih nelponin? Kan udah ada Riswan sama Melda di situ.”
“Orang suruhan kamu gak becus kerja! Masa dia numpahin kopi ke kakiku. Gips kakiku ikut basah kena kopi, mau gimana coba bersihinnya? Belum lagi dia malah mesen restoran seafood buat pertemuan padahal udah jelas aku alergi seafood. Dia bisanya apa sih sebenernya?” keluhan Byan langsung berderet masuk ke telinga Maureen. Ia sampai terengah-engah menahan kesal.
“Udah ngomelnya?” Maureen bertanya dengan tenang.
“Belum! Aku juga masih kesal karena kamu susah dihubungi. Padahal aku kan udah bilang kalau hpmu harus selalu aktif. Kenapa kamu gak patuh?”
“Halo, Maureen!” seru Byan, saat merasa omelannya tidak di tanggapi.
“Ya, aku di sini. Lanjutkan omelannya kalau belum puas.” Maureen menjauhkan ponselnya dari telinga karena tanpa loud speaker pun suara Byan terdengar sangat nyaring.
“Nggak, udah cukup. Giliran kamu yang ngomong, aku butuh penjelasan yang masuk akal.” Nada suara Byan mulai turun sepertinya ia sudah capek sendiri.
“Penjelasan apa lagi, aku kan udah bilang kalau aku lupa matiin mode pesawat. Cuma itu penjelasannya.” Maureen menjawab dengan santai.
“Kamu tau gak kalau itu kebiasaan yang buruk?” Byan masih belum terima.
“Nggak. Aku malah ngerasa kalau itu kebiasaan yang baik. Sesekali aku harus mematikan jaringanku supaya gak ada yang nelpon cuma buat ngomel-ngomel dan berisik kayak sekarang.”
“Maksud kamu apa? Kamu ngerasa terganggu?”
__ADS_1
“Iya!” sahutan Maureen dengan kesal.
“Kenapa ngerasa terganggu? Aku kan cuma cemas sama kamu. Salah kamu gak aktifin hape, aku jadi kelepasan ngomel.” Byan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Menyesal karena malah menyalahkan Maureen.
“Kamu pikir, aku harus mengaktifkan ponselku selama perjalanan? Kamu mau aku diturunin dari pesawat di ketinggian 3800 kaki?” timpal Maureen.
“Ya enggak juga.”
“Ya terus?” Maureen balas mendesak hingga Byan kehabisan kata-kata.
“Aku udah ngasih kamu salah satu PA terbaik yang dimiliki Anggoro corp. Harusnya kamu gak usah cemas, dia akan mengurus kamu dengan baik.” Maureen melanjutkan kalimatnya.
“Tapi dia gak ngurus aku sebaik kamu.” Suara Byan terdengar pelan namun cukup jelas.
"Apa kamu juga memperlakukan dia dengan baik?" Maureen balik bertanya.
"Ingat Byan, jangan bikin bawahan kamu menyerah bukan karena beban pekerjaab tapi karena memiliki atasan yang menyebalkan."
"Kalau sudah seperti itu, kamu gak akan punya karyawan yang loyal."
“Jadi, berhenti bersikap kekanakan. Udah aku bilang kan jangan bersikap kayak gitu sama Melda. Kamu harus belajar terbiasa sama orang-orang baru karena belum tentu aku akan jadi PA kamu selamanya.”
Maureen berujar dengan bijak tapi itu malah membuat Byan ketar-ketir.
“Emangnya kamu mau kemana?” suara Byan semakin lemah, jantungnya sudah berdegub kencang.
“Ya mana aku tau, mungkin aja suatu waktu aku juga gak tahan sama sikap kekanakan kamu, terus aku pergi deh.”
“Tapi kan kita lagi sama-sama mempertahankan Anggoro corp agar baik-baik aja, kenapa kamu malah mau pergi?” Byan semakin ketakutan. Bayangan kalau Maureen kelak pergi setelah mendapatkan semuanya malah semakin jelas terbayang di benaknya. Sungguh, ia tidak siap untuk itu.
Maureen tidak lantas menimpali, ia terdiam beberapa saat untuk menenangkan dirinya sendiri. Ia juga memikirkan perkataannya sendiri kalau suatu saat ia memang akan pergi dari sisi Byan dan memulai hidupnya yang baru setelah berhasil membalaskan dendamnya. Tapi kapankah waktu itu tiba?
“Maureen?” Byan memanggil nama Maureen dengan lembut namun cukup membuat Maureen terhenyak.
“Intinya, kamu jangan terlalu bergantung pada siapapun termasuk aku. Karena suatu saat orang-orang akan pergi meninggalkan kamu entah bagaimanapun caranya,” tegas Maureen.
Berganti Byan yang terdiam, dadanya berdebar kencang mendengar ucapan Maureen yang terdengar bersungguh-sungguh. Mengapa wanita ini begitu yakin dengan ucapannya? Apa sejak semula ia memang berniat untuk pergi?
“Byan, aku harus melanjutkan pekerjaanku. Tolong bersikap baiklah pada Melda. Dia gadis yang baik dan pintar hanya saja dia mudah gugup. Jangan membuatnya panik karena itu akan membuat dia melupakan banyak hal yang penting. Apa bisa?” kalimat Maureen terdengar seperti pesan terakhir untuk Byan.
Byan tidak menjawab begitupun Maureen yang hanya terdiam. Tidak ada suara yang terdengar sampai kemudian entah siapa yang mengakhiri panggilan lebih dulu. Mungkin karena signal yang menghilang bersama hembusan angin yang kencang.
Kenapa ada rasa ketir yang sangat di hati Byan?
****
__ADS_1