Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Kejutan terbesar


__ADS_3

Menjelang malam, Maureen sudah bersiap dengan penampilannya yang sederhana namun berkelas. Dress berwarna hijau botol membuat penampilan Maureen terlihat memukau. Kulitnya yang putih tampak begitu kontras dengan warna pakaiannya. Rambut panjangnya ia gerai begitu saja. Sangat sederhana, tapi tidak menutupi kesan elegan dari aura yang dimiliki wanita cantik ini.


"By, aku pergi dulu sama ibu, ada undangan ke rumah kenalannya ibu." Sebaris pesan itu Maureen kirimkan pada sang kekasih. Dilengkapi dengan foto selfie dirinya yang tersenyum cantik untuk Byan. Sejak menjalani hubungan jarak juah, hal ini sepakat dilakukan oleh Byan dan Maureen, saling mengabari satu sama lain. Dengan begini, mereka tetap merasa ada untuk satu sama lain.


"Cantik banget nyonya pacar. Hati-hati di jalan ya," balas Byan.


"Dih, tumben gak kirim foto, padahal katanya lagi di luar kota. Liat aja kalau dia macem-macem," gumam Maureen kesal. Padahal biasanya Byan mengirimkan foto random dirinya dengan berbagai ekspresi tapi kali ini hanya kalimat pendek saja yang di terima Maureen.


"Mo, udah siap?" panggil Widya yang sudah menunggu di teras.


"Iya, Bu. Aku udah siap." Maureen segera keluar dari kamarnya. Baru sampai di pintu ia sudah mendapatkan tatapan kagum dari wanita paruh baya yang memandanginya.


"Cantik banget anak ibu." Widya mengusap punggung Maureen dengan lembut.


"Ibu bisa aja. Ibu juga cantik banget, mirip mojang Bandung." Maureen balas memuji.


"Hahahaha... maksud kamu mojang Bandung jama kolonial Belanda?" Widya malah terkekeh.


"Ya nggak dong Bu, asli, Ibu beneran cantik."


"Ahh, kamu pinter banget bikin ibu seneng. Udah ah, nanti hidung ibu terbang lagi." Widya memegangi hidungnya yang minimalis.


"Lain kali di kasih kurungan ya Bu."


"Hahahaha...." Widya tergelak. Bisa saja Maureen menggodanya.


Menuju tempat acara berlangsung, Maureen pergi dengan menggunakan mobilnya. Jalanan malam itu sedikit lenggang dengan jalanan yang meliuk-liuk khas pegunungan. Maureen memacu kendaraannya dengan kecepatan normal, ia ingin menikmati perjalanan malam yang tampak indah di bawah cahaya lampu kekuningan dan bintang-bintang yang bersinar terang. Tidak ada pembicaraan berarti di antara dua wanita itu, hanya sesekali saling menoleh dan melempar senyum. Keduanya begitu menikmati perjalanan ini.


Tiba di tempat yang di tuju, mereka disambut oleh sang pemilik acara. Wanita usia pertengahan yang tampak cantik dengan balutan kebaya berwarna cream.


"Waah ibu Widya sudah datang. Ayo silakan Bu," sambut wanita itu dengan ramah.

__ADS_1


Sambil menyimak perbincangan dua wanita itu, Maureen memperhatikan lingkungan sekitarnya. Cukup banyak tetamu yang hadir di acara sederhana yang di gelar di sebuah resort terkenal di Lembang. Lampu-lampu kecil menyala terang saling berkerlipan memberi cahaya kekuningan. Kesannya sangat hangat.


"Terima kasih Bu Lastri. O iya, perkenalkan, ini anak saya, Maureen. Mo, ini Bu Lastri, yang tadi ibu ceritakan.” Widya memperkenalkan dua wanita itu satu sama lain.


“Selamat malam, Bu. Selamat atas pertunangan putrinya,” ucap Maureen seraya mengulurkan tangannya. Ia merasa melihat wajah yang tidak terlalu asing bagi Maureen. Garis wajahnya seperti sering ia lihat tapi entah dimana.


“Aduuhh terima kasih loh… Saya seneng banget Dek Maureen bisa hadir di acara kami.” Wanita itu bersikap akrab pada Maureen, seolah cukup mengenal Maureen.


“Iya Bu, saya juga seneng bisa hadir di sini.” Maureen menimpali alakadarnya.


Wanita itu memandangi Maureen dengan lekat lalu mengusap punggung Maureen dengan lembut, layaknya seorang ibu pada umumnya.


“Saya sampe gak percaya, kalau ternyata Dek Maureen sudah tumbuh dewasa dan secantik ini. Saya kira cuma di foto aja cantiknya," cicit wanita itu sambil mengusap lengan Maureen.


“Oh, ibu pernah liat foto saya? Dari mana?” Maureen mulai penasaran.


“Pernah, di album foto kakak saya. Katanya kalian berdua saling mengenal dengan baik.”


“Itu orangnya.” Lastri menunjuk ke salah satu sudut dan Maureen ikut menoleh. Mata Maureen langsung membulat saat ternyata yang di tunjuk Lastri adalah seseorang yang memang sangat ia kenal.


“Pak Riswan?” Maureen menatap pria tua yang sedang berjalan ke arahnya, dengan tidak percaya.


“Iya, beliau kakak saya.” Aku Lastri dengan bangga.


"Oh ya?" Maureen sampai melongo kaget. Ia benar-benar tidak menyangka kalau dunianya sesempit ini. Wanita itu mengannguk dengan yakin.


“Selamat malam, Nona muda,” sapa Riswan sambil mengangguk sopan pada Maureen.


“Malam,” Maureen masih sangat terkejut, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia mulai berpikir, apa mungkin kalau yang selama ini menjadi donatur di Panti mereka adalah keluarga Riswan?


“Bu, tante, saya permisi sebentar.” Maureen yng sudah sangat penasaran, segera memberi isyarat pada Riswan untuk ikut dengannya. Ada hal yang perlu ia tanyakan lebih lanjut.

__ADS_1


"Iya, Nak." Widya membiarkan Maureen pergi bersama Riswan.


Mereka pergi ke salah satu sudut tempat ini untuk berbicara.


"Apa yang Anda ingin bicarakan, Nona?" tanya Riswan dengan tenang.


"Gak usah basa-basi. Aku mau tanya, apa keluargamu yang menjadi donatur panti?" Maureen menatap Riswan dengan penuh tanya.


"Harusnya seorang donatur tidak perlu dikenal, Nona." Bisa saja laki-laki itu menjawab.


"Jangan mengalihkan pembicaraan Riswan. Aku ingin bertanya dengan sungguh-sungguh, apa selama ini kamu jadi donatur panti?" Maureen mengulang pertanyaannya dan pria tua itu mengangguk pelan seraya tersenyum.


"Kenapa? Apa karena kamu tahu kalau selama ini aku tinggal di Panti itu?” tanya Maureen langsung pada intinya.


Riswan mengangguk, “Benar, Nona,” sahutnya tanpa ragu.


“Astaga? Kenapa gak bilang?” Maureen masih tidak habis pikir. Ia selalu berharap suatu hari ia bisa bertemu dengan seseorang yang menjadi donatur Panti dan sering mengiriminya buku-buku pelajaran exclusive.


“Karena saya tidak memiliki keberanian, Nona. Hanya itu alasannya.”


“Astaga….” Maureen mengguyar rambutnya dengan kasar, tidak percaya dengan jawaban Riswan.


“Setelah mendiang nyonya Renita meninggal, saya selalu mengikuti Nona kemanapun. Saya selalu ingin memastikan kalau kondisi Nona baik-baik saja. Hanya saja, saya tidak berani menemui Nona karena saya merasa sangat malu dan bersalah,” ujar Riswan tanpa di minta. Namun ujarannya itu membuat Maureen bisa paham dan tidak lagi bertanya-tanya.


“Bener-bener ya kamu,” Maureen sampai kehabisan kata-kata.


Lelaki tuan itu hanya tersenyum kecil. Memang seperti itulah yang Riswan lakukan selama ini, memastikan anak yang ia buat hidup sebagai yatim piatu, akan selalu baik-baik saja di bawah pengawasannya.


Maureen memandangi Riswan dengan tidak habis pikir. Ia kira Riswan laki-laki yang tidak bertanggung jawab tapi nyatanya sejak dulu laki-laki ini ada di sekitarnya. Melihat Riswan, membuat wanita ini teringat pada seseorang.


****

__ADS_1


__ADS_2