
Suara generator listrik terdengar nyaring dan memenuhi seluruh rongga telinga Maureen. Hari ini, adalah hari terakhir Maureen berada di lokasi pembangunan project resort. Harusnya, pagi tadi ia sudah berkemas dan pulang ke Jakarta dengan penerbangan siang ini. Tapi karena masalah kelistrikan, Maureen terpaksa harus tinggal lebih lama di pulau ini.
Jam sebelas siang, listrik baru menyala. Itupun setelah mendapat perbaikan yang cukup sulit dan lama dari teknisi. Masalah listrik sepertinya menjadi masalah berikutnya selain masalah pembangunan yang terasa lambat. Saat listrik mati, jaringan ponsel dan internet pun tidak ada sehingga ini akan menurunkan nilai jual dari tempat wisata ini.
Beruntung Maureen melihat langsung masalah ini sehingga ia bisa mencari solusi untuk perbaikan masalah ini.
“Apa setiap hari terjadi seperti ini? Genetaror mati dan lampu padam sampai siang hari?” Maureen yang penasaran, bertanya pada kepala proyek.
“Tidak nona. Hanya sesekali saja seperti ini, biasanya setelah ada angin kencang seperti semalam atau saat ada hujan badai. Mungkin karena generatornya yang terlalu kecil sehingga saat ada serangan alam seperti itu, mudah rusak,” terang kepala proyek.
“Dalam satu bulan, berapa kali hal seperti ini terjadi?”
“Tergantung musim nona. Saat musim angin kencang atau musim hujan, generator menjadi cepat rusak. Kami sudah mengajukan pergantian pada pihak berwenang tapi sepertinya belum terrealisasi.”
Maureen mencatat semua temuan dan penjelasan dari kepala proyek. Ia sudah bertekad, saat di Jakarta nanti, ia akan langsung berbicara dengan pihak berwenang.
“Bukankah hal itu juga berpengaruh pada kegiatan sehari-hari penduduk di sini?”
“Betul nona. Hal ini yang menjadi penghambat dan pengiriman barang-barang ke pulau ini. Karena pihak suplyer sering kali tidak bisa menghubungi perwakilan warga di sini.”
Maureen mengangguk paham. Ia merasa kalau masalah ini harus segera di selesaikan.
Setelah melihat kondisis genetaror, Maureen berkeliling sebentar ke lokasi pemukiman warga. Mereka terlihat ramah menyambut wanita cantik yang menyapa mereka. Beberapa orang menawarkan Maureen untuk mampir terlebih saat mereka tahu kalau Maureen bukan sekedar wisatawan di tempat ini melainkan orang yang telah membangun tempat tinggal yang layak untuk mereka.
Mereka berterima kasih dengan sungguh pada Maureen.
“Apa nona akan kembali ke Jakarta hari ini?” tanya kepala proyek, di sela perjalanan mereka menuju rumah singgah Maureen.
__ADS_1
“Besok kami akan kembali ke Jakarta, karena sudah pasti tidak ada pesawat yang bisa membawa kami pulang hari ini. Lagi pula, saya ingin menyelesaikan dulu semua pekerjaan di sini,” jawab Maureen dengan seadanya.
“Nona sangat totalitas dan keinginan anda sangat tinggi untuk menyelesaikan setiap masalah. Perusahaan Anda sangat beruntung memiliki karyawan seperti Anda.” Kepala proyek itu memuji kepiawaian Maureen dalam pekerjaannya. Ia melihat sosok wanita ini begitu istimewa dengan kemampuannya yang luar biasa.
“Terima kasih.”
Maureen tersenyum kecil. Lagi, usahanya untuk bertahan di perusahaan ini malah membuat ia terlihat terlalu bersemangat menyelesaikan semua masalah. Padahal di awal kedatangannya ke Anggoro corp, bukan hal seperti ini yang seharusnya ia lakukan.
“Aku gak salah liat kan?” tanya Dita yang tiba-tiba menghentikan langkahnya?
“Liat apa?” Maureen ikut penasaran.
Dita tidak menjawab melainkan hanya memandangi ke arah pantai. Tepatnya pada tiga orang yang sedang berjalan menghampiri mereka. Satu orang di antaranya berjalan tertatih-tatih dengan kruk di tangannya.
“Byan?!” mata Maureen sampai hampir copot melihat kedatangan Byan dan Riswan bersama seorang staf laki-laki.
Ia berdiri mematung beberapa saat seperti halnya Byan yang menatapnya penuh haru dari kejauhan sana.
Tapi Maureen tidak menjawab, ia juga tidak tahu alasan Byan datang ke tempat ini padahal kondisinya belum membaik sepenuhnya. Dengan tergesa-gesa Maureen segera menghampiri laki-laki itu.
“Kenapa kamu datang ke sini?” tanya Maureen saat sudah berada di hadapan Byan dengan jarak satu meter saja.
Bukan jawaban yang Byan berikan. Melainkan laki-laki itu berjalan dengan terpincang-pincang untuk menghampiri Maureen lalu memeluk Maureen dengan erat. Tentu saja di hadapan semua orang.
Maureen sampai kaget melihat tindakan Byan yang tiba-tiba dan tidak terduga.
“Apa kamu baik-baik aja?” Byan bertanya dengan penuh kecemasan. Sepertinya laki-laki ini begitu mencemaskan dan merindukan Maureen.
__ADS_1
“Tentu aku baik-baik aja. Kenapa kamu datang ke sini? Kamu kan lagi sakit.” Maureen dengan pertanyaan sederhana yang ada di kepalanya. Entah seperti apa perjalanan yang di tempuh Byan pagi ini hingga ia bisa sampai ke tempat yang tidak seharusnya ia berada.
“Kamu menghilang saat kita melakukan panggilan video, sampai pagi tadi aku gak bisa ngehubungin kamu. Mana mungkin aku duduk diam aja?” urai Byan dengan suara yang sedikit gemetar. Seperti ia menyimpan banyak kecemasan di hati dan pikirannya untuk Maureen.
“Kamu serius?” Maureen masih belum menyangka kalau Byan akan senekad ini demi menemuinya dan memastikan ia baik-baik saja.
“Apa aku terlihat bodoh?” Byan balik bertanya, ia masih enggan melepaskan pelukannya.
Maureen masih berpikir realistis. Ia sadar, di dunia ini tidak hanya ada mereka berdua. Lihatlah tiga orang yang terpaksa memalingkan wajahnya sambil menahan senyum dan kepala project yang pura-pura sibuk dengan ponselnya karena baru mendapat jaringan ponsel. Maka, ia melerai pelukannya dari Byan.
“Gila! Kamu lebih terlihat seperti orang gila!” sinis Maureen. Ia memandangi Byan dengan tidak habis pikir. Apa sebenarnya yang ada dipikiran laki-laki ini sampai memutuskan datang ke tempat ini?
Maureen mengambil kruk yang tadi dilepaskan Byan begitu saja lalu memberikannya pada sang empunya. Ia melihat, kaki Byan bahkan belum berpijak dengan sempurna.
Ia tidak lagi berbicara melainkan segera pergi setelah kruk itu berpindah ke tangan Byan.
“Maureen!” panggil Byan.
Tapi Maureen tidak menoleh, ia lebih memilih pergi lebh dulu menuju rumah singgah. Tingkah Byan membuat perasaannya tidak baik-baik saja. Rongga dadanya berguncang hebat, melihat apa yang Byan lakukan untuknya.
Kecemasannya, pelukannya yang penuh kerinduan dan perbuatan nekadnya yang membuat Maureen mulai menyadari hal itu bukan hal yang selayaknya dilakukan seorang anak tiri terhadap ibu tirinya. Sedekat apa sebenarnya meraka? Apa yang Byan lihat dari hubungan mereka?
“Biar saya bantu, Tuan." Riswan segera membantu Byan agar berdiri dengan ajeg. Ia mendampingi Byan berjalan menyusul Maureen yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah.
“Kenapa dia malah mengacuhkanku? Padahal aku sudah datang jauh-jauh dari Jakarta sambil menahan rasa sakit di kakiku. Tidak bisakah ia menunjukkan kepeduliannya kepadaku, sedikit saja?” Byan bergumam dan masih bisa di dengar oleh Riswan.
Laki-laki paruh baya itu hanya tersenyum kelu. Sepertinya Byan belum memahami apa yang Maureen rasakan saat ini.
__ADS_1
***