Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Keisengan pagi hari


__ADS_3

“Selamat pagi,” sapa Byan yang sudah berdiri di depan pintu kamar Maureen.


“Pagi. Sedang apa kamu di sini? Aku belum selesai bersiap.” Maureen menatap Byan tidak mengerti. Ia bahkan masih memakai kimono mandinya walau wajahnya sudah ia rias agar tidak terlihat terlalu sembab.


Maureen melihat jam di tangannya, baru jam enam kurang sepuluh menit tapi Byan sudah mengetuk pintu kamarnya.


Byan menutup jam tangan yang sedang dipandangi Maureen, “Mulai hari ini, aku yang akan datang ke sini untuk memintamu mendandaniku. Jadi kamu gak perlu capek-capek datang ke kamarku. Gimana?” Byan mencolek hidung Maureen yang bangir.


“Gak salah? Beneran tuan muda yang datang ke tempat PA nya?” Maureen tersenyum kecut seraya bersidekap dan menyandarkan tubuhnya di pintu.


“Bukan PA, tapi kekasih hati,” bisik Byan yang mencondongkan tubuhnya pada Maureen lalu mengedipkan matanya, genit.


“Ish, apaan sih! Kamu mau yang lain denger apa.” Maureen menjewer telinga Byan yang asal bicara.


“Aduu du duh. Sakit tau.” Byan meringis kesakitan.


“Makanya jangan aneh-aneh. Tunggu di sini, aku mau berpakaian dulu!” titah Maureen seraya menunjuk lantai yang mereka pijak, agar Byan diam di tempatnya.


“Iyaa-iyaaa, aku diem di sini.” Byan bersandar pasrah pada dinding dan membiarkan Maureen masuk lalu menutup pintu.


Maureen segera berpakaian. Mengenakan pakaian terbaik yang ia punya.


“Maureen, kenapa lama sekali. Kita sudah kesiangan.” Suara toddler sudah terdengar dari luar pintu.


“Masih lima menit lagi sampai waktunya aku menyiapkan keperluanmu,” sahut Maureen dari dalam kamarnya. Ia merapikan rambutnya yang belum selesai ia sisir juga lipsticknya yang belum rata.


“Iyaa, tapi aku sudah pegal. Bisa cepat sedikit gak?” si bucin mulai merajuk. Menunggu waktu lima menit untuk bertemu Maureen, jelas sangat menyiksa bagi Byan.


“Sabar Byan, jangan merengek seperti anak kecil.” Maureen mulai kesal. Rengekan Byan membuat ia tergesa-gesa menyemprotkan parfum ke tubuhnya.


“Kakiku kesemutan dan sekarang kebas. Gimana kalau aku gak bisa jalan.” Byan memasang ekspresi nelangsanya sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Maureen.


“Halah, alasan!” decik Maureen yang hanya bisa ia dengar sendiri. Ada saja tingkah Byan yang membuatnya geli sendiri.


“Muka aja udah jenggotan tapi kelakuan mirip bocah. Ckckckck.” Maureen menggeleng tidak mengerti.


“Maureen,….” Lagi Byan memanggil nama kekasih hatinya.


Ia bergelayut manja di pintu tapi saat ada pelayan yang naik ke lantai dua, ia segera menegakkan tubuhnya.


“Kamu lama sekali. Kita bisa terlambat Maureen!” ia mengubah mode suaranya menjadi tegas, membuat Maureen tertawa kecil di dalam kamarnya. Dari nada suaranya, Ia bisa menduga pasti Byan malu karena ada yang melihat tingkahnya.

__ADS_1


Pelayan itu hanya mengangguk sopan,


“Mau apa kamu ke sini?” Byan bersikap skeptis pada pelayannya.


“Saya, mau mengambil gelas kotor tuan.” Pelayan itu menunjuk gelas kotor yang ada di meja balkon, bekas Byan semalam.


“Ya sudah, ambil. Untuk apa berlama-lama?” tuan muda ini mulai kesal.


“Baik tuan, permisi.” Pelayan itu segera lewat dengan langkahnya yang cepat. Ia menghindari tatapan sinis Byan yang merasa terganggu dengan keberadaannya.


Setelah pelayan itu pergi, Byan kembali bersandar di pintu kamar Maureen.


“Maureen, apa masih lama?” Eh lagi-lagi Byan merengek.


Pintu kamar Maureen terbuka begitu saja dan hampir saja Byan jatuh terjengkang.


“Astaga, kamu gak bunyiin dulu klakson, main buka pintu aja.” Mata Byan sampai membulat karena kaget.


“Suruh siapa sandaran di pintu.” Maureen dengan sikapnya yang acuh. Ia membuka pintu lebar-lebar dan Byan segera menyusul.


“Jadi, harusnya aku bersandar di mana? Apa di sini?”


“Astaga Byan!” Maureen sampai terlonjak kaget saat Byan tiba-tiba memeluknya dari belakang lalu membungkuk untuk menyandarkan kepalanya di punggung Maureen.


“Byan, bajuku kusut. Kemeja kamu juga jadi kusut.” Maureen tidak lagi bergerak karena ia tahu tidak ada untungnya. Byan tetap tidak melepaskan pelukannya.


“Iyaa gak apa-apa, nanti ganti lagi aja bajunya. Daripada hati aku yang kusut, nanti kamu yang repot.” Bisa saja bayi besar itu beralasan.


Maureen hanya tersenyum kecil mendengar alasan Byan. Laki-laki itu memeluknya semakin erat.


“Semalam aku sangat merindukanmu sampai aku mimpi buruk, di kejar-kejar ular. Ngeri banget, ularnya ular kobra lagi.” Byan menggerutu kesal.


“Makanya, bersih-bersih dulu sebelum tidur, jangan main lep aja.” Maureen memperingatkan.


“Apanya yang main lep aja? Orang aku ngelamunin kamu dulu. Kamu wangi Maureen,” Byan mengecup punggung Maureen beberapa kali.


“Ngelamunin apa? Jangan yang aneh-aneh ya!” Maureen menyikut perut Byan yang rata dan berotot tapi Byan hanya terkekeh dan mencium lagi punggung Maureen.


“Heh, ngelamunin apa kamu? Lepas!” Maureen segera berontak.


“Mau tau aja. Itu kesenangan aku, jangan di rusak.” Byan dengan gayanya yang cengengesan.

__ADS_1


“Ish, lepas Byan. Kamu menakutkan!” Maureen benar-benar berusaha melepaskan dirinya dari Byan.


“Gak mau. Aku gak mau lepasin. Kita nikah aja yuk!” ajak Byan tba-tiba.


“Kapan?” tantang Maureen.


“Hah, serius?” Byan sekarang menegakkan tubuhnya. Ia juga membalik tubuh Maureen agar menghadapnya.


“Serius?” lagi Byan bertanya.


“Iya. Kapan? Kapan kamu bangun dari mimpi kamu?” sahut Maureen dengan kesal. Dicubitnya pinggang Byan hingga memberikan sensasi panas dan perih.


“Astgaaaa!!! Sakit Maureennn….” Byan meringis kesakitan, memegangi pinggangnya sambil diusap-usap.


“Makanya, jangan suka ngomong yang aneh-aneh. Udah sini, aku pasangin dulu dasinya.” Maureen tidak memperdulikan Byan yang meringis kesakitan. Sesekali ia memang harus mengerjainya.


Byan menghadap Maureen dengan bibir mengerucut. Ia juga tidak bisa menegakkan kepalanya dan malah bersandar di bahu Maureen.


“Tuan, jam sembilan kita ada undangan pembukaan resto seorang kolega kita. Bisakah anda berdiri lebih tegak agar saya bisa segera menyelesaikan pemasangan dasi Anda?” Maureen berbicara dengan mode serius.


“Heemm, kamu menyebalkan. Tapi juga menggemaskan.” Byan terpaksa menegakkan tubuhnya, menurut pada Maureen.


Maureen tersenyum kecil, ia melanjutkan memasang dasi milik Byan. Sementara Byan terus memandangi wajah cantik wanita yang dicintainya. Ia bersyukur bisa melihat wajah Maureen yang tidak lagi pucat seperti semalam.


“Maureen yang sesungguhnya itu perfecsionis Byan. Moodnya gampang berubah dan ia suka melakukan hal-hal yang random yang kadang tidak terpikirkan orang lain.” Maureen tiba-tiba berbicara. Ia mengingat ucapan Byan semalam.


“Contohnya apa? Ngelapin emasnya monas?” ledek Byan.


“Ish, ya nggak sampe segitunya.” Maureen mencubit pipi Byan kesal.


“Kalau gitu masih aman. Asal hal random itu tidak membahayakanmu, aku tidak masalah.” Byan berujar dengan sungguh.


“Benarkah?” Maureen menatap Byan dengan penasaran.


“Tentu saja. Kenapa aku harus mempermasalahkan kekurangan orang yang aku cintai sementara kelebihannya jauh lebih banyak?” Byan bertanya dengan sungguh.


Maureen tidak menimpali, ia hanya tersenyum lalu mengecup pipi Byan.


“Akh sial, aku tidak bisa tinggal diam!" Dengus byan. Tanpa aba-aba ia membalas kecupan Maureen sayangnya tidak di pipinya, melainkan di bibirnya. Byan yang oportunis tidak akan membiarkan kesempatan pergi begity saja.


Well, Selamat memakai lipstsik lagi Maureen.

__ADS_1


🤭🤭


****


__ADS_2