Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Uring-uringan


__ADS_3

Jakarta


Byan masih mengecek-ngecek ponselnya karena sampai menjelang makan siang Maureen belum memberinya kabar. Padahal harusnya ia sudah mendapat kabar terbaru karena jam tibanya Maureen sudah berlalu beberapa jam lalu.


Pesan yang ia kirimpun belum terkirim pada Maureen. Entah kemana perginya wanita ini karena masih belum ada kabar apapun pada Byan.


“Silakan tuan, ini agenda tuan besok siang.” Melda yang saat ini menjadi PA pengganti Maureen, menyerahkan selembar kertas catatan pada Byan. Ia sudah menuliskan rundown acara pertemuan dengan salah satu perusahaan.


Perhatian Byan pun teralihkan pada pekerjaan. Padahal ia masih belum bisa berpikir fokus karena belum mendapat kabar terbaru dari Maureen.


“Siapa yang besok akan hadir, apa direkturnya langsung?” terpaksa Byan menyisihkan ponselnya agar tidak mengganggu fokusnya.


“Iya tuan, direkturnya langsung yang akan datang.”


Byan berpikir beberapa saat. Ini kerjasama penting antara Anggoro group dengan perusahaan travel besar maka ia harus memastikan kerjasama pertama ini akan berhasil dengan baik.


“Seperti apa direkturnya?” Byan bertanya dengan penasaran.


Dari Maureen, biasanya ia akan langsung mendapat informasi mendetail tentang perusahaan hingga profil petinggi yang akan bekerjasama dengan perusahaannya. Tapi dari Melda, ia hanya mendapatkan uraian singkat berupa rundown acara.


“Oh, beliau badannya tinggi dan berkumis tipis. Bicaranya cepat dan penuh semangat. Padahal usianya sudah kepala lima, Tuan,” urai Melda dengan penuh keyakinan.


“Bukan itu yang aku maksudkan. Aku perlu informasi mendetail tentang pribadi rekanan kita karena kita akan melakukan negosiasi yang cukup alot dengan mereka. Jangan sampai kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan pribadinya. Kamu paham gak?” suara Byan terdengar cukup ketus.


“Apa harus sedetail itu, Tuan?” Melda balik bertanya. Pertanyaan Byan malah membuatnya pusing.


“Memangnya selama ini kamu seperti apa mengenali calon rekanan kita? Bagaimana kita bernegosiasi dengan baik saat kita bahkan gak tau apa yang rekanan kita sukai atau tidak.” Byan mulai meradang. Ternyata sulit berbicara dengan pengganti Maureen yang satu ini.


“Mohon maaf Tuan, pemikiran saya tidak sampai ke sana.” Melda tertunduk lesu penuh sesal.


“Hah, kamu ini.” Byan melempar ballpointnya dengan kasar, Melda ternyata mengecewakan. Ia tidak selihai Maureen dalam mengurus hal kecil seperti ini.


“Sekarang saya tanya, dimana tempat yang kamu siapkan untuk kita menjamu calon rekanan kita?” Byan bertanya dengan malas. Ia tidak yakin Melda akan menyiapkan tempat yang bagus.


“Oh, kalau itu saya sudah mem-booking restoran yang bagus, Tuan. Menu utamanya adalah olahan seafood. Restoran ini sedang hype dan rating-nya bagus. Saya,”

__ADS_1


“Saya alergi seafood!” Byan mematahkan kalimat Melda.


“Hah? Alergi?” Melda melongo tidak percaya. Padahal ia sudah memesan beragam menu makanan yang paling rekomen dan paling disukai.


“Maureen gak bilang sama kamu kalau saya alergi?” Byan menatap Melda dengan kesal.


Melda menggeleng, entahlah ia tidak ingat. “Saya periksa dulu catatan yang kak Maureen kirimkan pada saya. Rasanya beliau tidak menyebutkan kalau Tuan,” kalimat Melda terjeda beberapa saat karena ia harus mengecek catatannya. Matanya langsung membulat saat ia membaca pesan Maureen yang di cetak tebal,


“Tuan muda alergi seafood.” Begitu isi tulisan Maureen.


“Astagaaa... bagaimana bisa saya melewatkan satu kalimat penting ini?” gumam Melda yang menatap Byan dengan penuh sesal. Matanya sudah berkaca-kaca ingin menangis karena sejak pagi, semua yang ia lakukan selalu salah.


Byan sudah tidak bisa berkata-kata. Permaklumannya sudah cukup besar untuk Melda.


“Sebaiknya kamu keluar dari sini. Saya mau istirahat.” Byan menunjuk pintu keluar untuk Melda.


“Ma-maafkan saya, Tuan.” Melda dengan wajahnya yang memelas.


Byan tidak menimpali, melainkan memalingkan wajahnya dari Melda. Ia sudah sangat kesal.


“Kalau begitu saya permisi, Tuan. Kalau Tuan perlu sesuatu, saya ada di luar,” pesan Melda seraya mengambil dokumen yang ada di atas meja.


“Astaga!” Byan refleks berdiri karena kopinya masih panas.


"Akh!" ia juga mengaduh saat sadar kalau kakinya sedang sakit.


“Ya ampun, Tuan! Saya tidak sengaja.” Mata Melda melotot karena kaget.


“Apa sih yang bisa kamu kerjakan dengan benar?!” Byan melotot seraya mengangkat kakinya.


“Sa-saya juga tidak tahu apa yang bisa saya lakukan. Kenapa salah semua?” Melda benar-benar menangis penuh sesal.


“Keluar kamu, dan panggil Riswan kemari.” Byan berseru dengan keras. Ia mengibaskan tangan Melda yang hendak menyentuh kakinya dan menjatuhka tubuhnya di atas kursi.


“Ba-baik, Tuan. Saya permisi. Sekali lagi saya minta maaf.” Melda sampai menangkupkan tangannya di depan dada. Tapi Byan hanya mendengus kesal.

__ADS_1


“Akh, sial! Sial! Sial!” Byan memukul mejanya sendiri penuh amarah. Nafasnya terdengar cepat dan memburu antara marah dan menahan sakit. Andai saja Maureen tidak pergi, ia yakin semuanya tidak akan seperti ini.


“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” Riswan segera menghampiri dengan panik setelah mendengar aduan Melda.


“Bersihkan ini lalu suruh Maureen pulang!” seru Byan emosi menggebu.


“Ta-tapi Tuan, nyonya muda sedang perjalanan dinas luar. Bagaimana mungkin saya memintanya kembali?” sahut Riswan seraya mengambil beberapa lembar tisue untuk melap celana Byan.


“Saya tidak mau tau. Semuanya berantakan karena Maureen memilih orang yang tidak becus. Sangat mengecewakan!” dengus Byan.


“Baik, Tuan.” Hanya itu sahutan Riswan. Ia tidak ingin mendebat Byan lagi walau ia tahu persis kalau Melda adalah PA terbaik kedua setelah Maureen. Walau kemampuannya tidak sebanding dengan Maureen. Tapi kali ini, entah apa yang membuat gadis itu terlihat begitu buruk dihadapan Byan.


“Tuan mau saya ambilkan celana ganti?”


“Tentu saja! Mana mungkin saya pake celana basah begini?!” suara Byan tetap meninggi.


“Ba-baik, Tuan. Mohon tunggu sebentar.”


Riswan sampai gemetaran mendengar suara Byan yang meninggi. Ia segera pergi meninggalkan tuan mudanya untuk mengambil baju ganti.


Sepeninggal Riswan, Byan mengeram kesal sendiri. Belum satu hari kepergian Maureen, perasaannya sudah tidak karuan. Hingga tengah hari ini, entah sudah berapa bentakan yang diterima Melda dari bosnya. Riswan yang biasanya kompak menemaninya, juga tidak lepas dari kemarahan Byan.


Pokoknya, semua orang di rumah ini melakukan kesalahan di depan Byan. Termasuk pelayan yang mengurus taman belakang pun terkena marah karena lupa mengganti air kolam renang.


Hah, ia sungguh-sungguh kesal seharian ini.


“Kamu kapan pulang sih? Kok lama banget!”


Byan memandangi foto Maureen yang ada di media sosialnya. Foto saat wanita itu menghadiri sebuah acara penting di Surabaya. Latar jembatan Suramadu di malam hari menjadi latar yang tepat untuk membingkai sosok Maureen yang cantik saat terkena cahaya lampu kamera.


Ekspresinya datar saja, beberapa helai rambut yang tertiup angin menutupi sebagaian wajahnya. Tapi kecantikannya malah semakin jelas terlihat dan harus Byan akui kalau ia merindukan wanita ini.


“Akh sial!” dengus Byan yang mengusap wajahnya kasar. Ia juga membalik ponselnya untuk menutupi wajah Maureen. Ia sudah berjanji kalau ia tidak akan memikirkan perasaannya lagi pada Maureen tapi nyatanya, ia malah tersiksa karena merindukan ibu tirinya.


Apa yang salah dengan dirinya?

__ADS_1


****



__ADS_2