
Byan tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya saat Maureen muncul di depan pintu untuk membantunya bersiap. Tanpa di duga, pria itu memeluk Maureen dengan erat hingga ibu tirinya kaget.
“Syukurlah kamu udah kembali.” Ucap Byan dengan penuh rasa syukur. Tubuhnya yang jangkung, sampai melengkung, mengungkung tubuh Maureen yang tidak lebih tinggi darinya.
“Kamu cuti sehari saja rasanya lama sekali. Riswan dan PA penggantimu itu tidak bisa mengurusku dengan baik. Mereka selalu membuatku kesal. Pekerjaanku mereka buat berantakan. Kamu PA ku yang terbaik, tidak ada yang bisa menggantikan seorang Maureen dengan dua atau tiga orang lainnya.”
Belum apa-apa sudah keluhan yang diceritakan Byan pada Maureen. Maureen sampai terpaku, bingung merespon sikap anak tirinya.
“Kamu berlebihan Byan.” Maureen berusaha melepaskan pelukan Byan yang terasa menyesakkannya.
Pelukan Byan pun terlepas dan pria itu menatap Maureen dengan tidak mengerti.
“Apa yang berlebihan? Aku mengatakan yang sebenarnya.” Byan bersikukuh dengan ucapannya.
Maureen menatap Byan beberapa saat, lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar.
“Bersiap-siaplah. Kamu ada meeting dengan manajemen pagi ini.” Maureen mendorong tubuh Byan agar tidak menghalangi jalannya. Ia masuk ke dalam kamar dan menyiapkan pakaian Byan.
“Hey Maureen, aku belum selesai cerita masalahku,” protes Byan. Ia masih butuh waktu Maureen untuk mendengarkan ceritanya.
“Ini sudah jam enam pagi Byan, yang berarti pekerjaanku sudah dimulai sebagai seorang PA. tolong jangan menjelekkan PA lain di depanku, bersikaplah professional. Kalau menurutmu ada yang kurang dari mereka, kamu arahkan mereka secara langsung agar mereka memperbaiki sikap mereka. Bukan malah curhat seperti tadi.” Maureen menimpali sambil tetap menyiapkan pakaian Byan.
Byan menghampiri Maureen dan berdiri di hadapan wanita itu.
“Maksudmu aku gak boleh curhat dan mengeluh tentang Riswan dan PA itu?” Byan menatap ibu tirinya dengan tidak mengerti.
“Boleh, hanya saja sekarang bukan waktunya. Kamu harus bergegas menyiapkan semuanya. Dan lagi, aku bukan teman curhat yang baik. Aku tidak terlalu suka mendengarkan hal yang berbau drama. Jadi, kamu curhat sama orang yang salah.” Maureen tersenyum kecut. Ia mengukurkan kemeja ke tubuh Byan. Rasanya cocok.
“Pakai yang ini. Tapi sebelum itu, pergilah bercukur. Jenggotmu sudah tebal dan tidak rapi,” titah Maureen kemudian.
__ADS_1
Byan tidak menimpali. Ia hanya menghembuskan nafasnya kasar mendengar titah Maureen yang menurutnya menyebalkan. Ia pergi ke kamar mandi dan mulai mencukur rambut halus di rahang dan dagu serta kumisnya.
“Sulit sekali hidupku, tidak ada yang mau mendengar keluhanku. Padahal yang aku tau, PA pun harus bisa menjadi teman yang baik untuk direkturnya.” Dengar, toddler mulai berkicau lagi.
Maureen hanya tersenyum di tempatnya, telinganya selalu geli setiap kali mendengar ocehan Byan yang seharian kemarin tidak di dengarnya. Sebentar, kenapa ia mulai merasa kalau ocehan Byan itu lucu ya?
“Mau kopi atau teh?” Maureen lebih memilih bertanya minuman yang ingin diminum Byan.
“Susu.” Byan menyahuti asal.
“Coklat atau vanila?” eh ibu tirinya menganggapnya serius.
“Akh sial!” dengus Byan. Harusnya ia mendengar ocehan Maureen kan? Bukan malah diberi pilihan untuk melanjutkan memilih minuman yang tidak ia sukai.
“Vanila.” Terpaksa ia memilih.
“Nasi padang.” Byan sengaja menantangnya.
Maureen terdiam, membuat Byan tersenyum kecil. Byan yakin sebentar lagi ibu tirinya akan mengoceh.
“Perutmu tidak terlalu sehat, sebaiknya hindari makanan bersantan dan berbumbu kental. Mau aku buatkan roti isi?” tawar Maureen.
“Roti isi tidak cocok dengan susu vanila.”
“Akan aku buatkan jus buah. Kamu suka buah apa?”
“BUAH HAHAHAHAHAHA… Apa ada?" Byan pura-pura tertawa tapi sedetik kemudian mukanya kembali ke setelan pabrik, dingin.
"Byan!"
__ADS_1
"Apa?"
“Aku tidak sedang bercanda.”
“Aku sedang serius. Aku juga tidak suka dengan nada suaramu yang kaku dan membosankan itu.”
Dua orang itu saling bertatapan dari cermin yang ada di kamar mandi. Seperti ada sinar laser dari mata keduanya dan berusaha melumpuhkan satu sama lain.
“Baik, karena kamu gak punya pilihan, aku akan membuat jus yang aku pikir cocok untukmu,” ancam Maureen.
“Silakan. Aku percaya pilihanmu selalu menjadi pilihan yang terbaik untukku.”
“BYAN!!!”
“Ya Maureen. Kenapa selalu memanggil namaku? Kamu merindukanku?” tantang Byan dengan senyum tipis tersungging.
“Gila! Mana mungkin aku merindukan orang gila sepertimu?” decik Maureen dengan sebal.
Wanita itu segera pergi dari kamar Byan sementara Byan hanya terkekeh karena berhasil membuat ibu tirinya kesal. Usahanya untuk mencari perhatian Maureen telah berhasil. Ia melanjutkan untuk mencukur rambut halus di dagunya sambil senyum-senyum dan,
“AKH!! SIAL!!” ia berseru keras saat ternyata pisau cukurnya melukai dagunya.
“Maureennn, daguku luka!!” seru Byan.
Maureen masih mendengar suara Byan samar-samar, namun ia hanya tersenyum dan tetap melanjutkan langkahnya menuju dapur.
"Emanng gue pikirin!"
****
__ADS_1