
Ada satu kebenaran yang harus diakui dari ucapan Ruwina semalam. Yaitu, sakitnya Byan, membuat Maureen harus mengambil alih beberapa pekerjaan di perusahaan dan melakukannya seorang diri. Bukan untuk mendominasi tapi karena sang pasien tidak bisa ke kantor
Byan masih disarankan tetap berada di atas tempat tidur, turun hanya untuk sekedar ke kamar mandi dan sisanya ia lakukan di atas tempat tidur.
Baru satu kali Maureen menemuinya pagi ini, yaitu saat ia mengatakan akan pergi ke kantor untuk memeriksa beberapa berkas yang mungkin harus disetujui oleh Byan.
“Kamu udah sarapan?” tanya Byan yang sedang menggigiti sendoknya. Ia pikir ia akan sarapan bersama dengan Maureen di kamarnya tapi hanya menu makanan untuknya yang disajikan pelayan.
“Udah.” Pembacaan agenda Maureen terjeda karena pertanyaan itu.
“Okey, lanjutkan.” Ucap laki-laki berhidung bangir itu. Ia melanjutkan lagi sarapannya sambil memandangi Maureen yang sedang memegangi tab hendak melanjutkan membacakan agendanya. Entahlah, ia merasa ada yang berbeda dari Maureen pagi ini.
“Siang ini, saya akan menghubungi manager pengembangan yang memegang pembangunan pulau, kita perlu tahu progress terakhir sebelum kita memulai kerja sama dengan kontraktor yang baru.”
“Jam empat belas siang nanti, akan ada rapat dengan departemen humas. Mereka akan memulai promosi untuk cluster ruko yang sudah sampai pada tahap finishing. Saya akan menjadwalkannya secara virtual agar anda bisa mengikuti rapat tersebut.”
“Walaupun anda sedang kurang sehat, mohon maaf saya tidak bisa menggeser jadwalnya karena tim humas sudah membuat POA untuk rencana promo mereka yang akan mereka mulai di minggu ini.” Urai Maureen, sekali lalu menceklist satu agenda kegiatan berikutnya yang sudah ia sampaikan pada direktur utamanya.
“Tunggu sebentar,” Byan lebih dulu menjeda kalimat Maureen sebelum ibu tirinya melanjutkan agenda yang lain.
“Iya?”
“Bisakah kita menggunakan kata panggilan aku dan kamu seperti biasanya? Aku aku gak nyaman dengan panggilan anda dan saya.” Protes Byan sambil menggaruk telinganya.
Maureen terdiam beberapa saat, seperti sedang berpikir. Padahal ia sengaja menggunakan kata pengganti panggilan itu agar lebih formal.
“Baik.” Jawaban itu yang kemudian ia ucapkan.
Byan menatap Maureen dengan lekat, sebuah senyuman berusaha ia tahan. Ia tidak menyangka kalau Maureen akan menurut begitu saja padahal ia ingin mendengar Maureen mendebatnya pagi ini.
“Berapa lama kamu akan pergi ke kantor?” ia beralih pada pertanyaan lain. Mungkin ada kesempatan lain untuk berdebat dengan Maureen.
“Aku belum menentukan. Mungkin siang ini sebelum pertemuan virtual. Riswan aku minta standby di sini, kalau kamu perlu sesuatu, dia bisa membantu.”
__ADS_1
“Pulanglah sebelum jam makan siang. Aku mau makan mie ayam.” Pancingan mulai dilakukan toddler.
“Aku akan meminta Riswan membelinya nanti siang, sebelum jam makan siang.” Solusi selalu ada dari ibu tirinya.
“Aku mau kamu yang beli. Bukan Riswan.” Toddler ini benar-benar bertingkah seperti bocah yang harus dituruti semua keinginannya.
“Baik, aku akan mengirimkannya lewat pesan antar.”
“Nggak, aku mau kamu yang bawa langsung ke sini dan kita makan bersama di sini.” Lihat, dia sengaja bertingkah keras kepala.
“Byan, ….” Maureen sudah terlihat kesal dan Byan benar-benar menunggu Maureen mendebatnya.
"Kenapa? Kamu keberatan? Kalau mau aku cepat sembuh, aku kan harus banyak makan. Sementara selera makanku lagi pengen mie ayam. Daripada aku gak makan? Aku kan harus minum obat." Sahut Byan dengan acuh.
“Ya udah, nanti aku beliin.” Eh malah menyerah. Tidak seru pikir Byan. Ada apa sebenarnya dengan ibu tirinya, kenapa tidak mencak-mencak seperti biasanya?
“Sawinya jangan terlalu banyak.”
“Sampe di sini jangan sampe keburu ngembang. Aku gak suka mie yang ngembang.” Byan benar-benar menguji kesabaran.
“Iya, aku usahakan cepat.”
“Mangkuknya pinjem punya abangnya aja, biar ada gambar ayamnya.”
“KENAPA GAK MAKAN SEKALIAN DI SANA AJA?!” Emosi Maureen akhirnya meluap.
Ia melotot kesal pada Byan yang benar-benar menguji kesabarannya pagi ini.
Byan sampai terhenyak, tidak menyangka respon Maureen akan sekeras itu.
“Aku kan sakit kaki.” Dengan mudah toddler itu menunjuk kakinya yang di gips. Lihat wajahnya yang pucat karena kaget dan pura-pura bersedih.
“Astaga.”
__ADS_1
Maureen hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Ia juga mengguyar rambutnya dengan kesal. Byan benar-benar membuatnya lepas kendali. Padahal ia sudah menahan kekesalannya sejak tadi tapi Byan malah seolah menguji kesabaran Maureen yang hanya setipis tissue di bagi dua itu.
Beberapa detik waktu ia biarkan berlalu, ia perlu waktu untuk menenangkan dirinya sendiri.
“Iya, nanti aku beli mangkuk gambar ayam.” Maureen akhirnya menyerah.
“Jangan beli, pinjem aja. Kan cuma sekali pake.” Dia belum mau berhenti. Memang begini kalau tongkat polisi di kasih nyawa, banyak aturannya.
“Iya, ya aku akan meminjamnya. Sekarang diamlah dan habiskan sarapanmu. Perdebatan soal mie ayamnya kita sudahi dulu. Aku mau berangkat!” Maureen dengan kedewasaannya berusaha mengalah. Katanya kan yang waras yang ngalah. Ia mengambil tasnya dan menentengnya.
“Maureen, ingat jangan terlalu siang. Aku harus makan siang tepat jam dua belas siang karena aku harus minum obat.” Masih sempat-sempatnya Byan berbicara dengan Maureen yang sudah sampai di pintu.
“Baik, tuan.” Maureen mengangguk paham.
“BRUK!” disusul dengan suara pintu yang ia tutup dengan kasar.
“Astaga, dia benar-benar tidak sabaran.” Ucap Byan yang kemudian menyandarkan tubuhnya pada sandaran tempat tidurnya.
Ia terkekeh sendiri mengingat wajah Maureen yang kesal padanya. Lantas ia mengambil ponsel dan mengirimkan pesan pada Maureen, “Hati-hati di jalan. Pulanglah tepat waktu.” Tulisnya dengan sepenuh hati.
Kalian tahu apa balasan Maureen? Emot acungan jari tengah berwarna hitam untuk Byan.
“Hahahahahaha ….” Byan malah tertawa terbahak-bahak.
Ternyata menyenangkan menjahili Maureen seperti ini. Ini lebih baik dibanding melihat Maureen banyak diam dengan rasa bersalah yang sebenarnya tidak perlu ia tunjukkan. Apalagi kalau sudah mendengar Maureen berbicara dengan formal, telinganya langsung gatal.
“Kamu memang unik, ibu tiri.” Gumam Byan seraya memandangi foto profil Maureen yang berupa bunga mawar merah yang sudah layu.
Seperti inikah perasaannya saat ini?
*****
__ADS_1